Evanzza

Evanzza
Tengah Malam



Malam semakin larut memaksa sebagian orang segera beranjak dari tempatnya dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang nan empuk untuk melepas lelah dan menyongsong hari berikutnya. Ketika semua terlelap dalam mimpi, disebagian sudut kota masih terlihat begitu ramai bahkan dinginnya angin malas tak terasa lagi ditubuh.


Sebagian sedang mengobrol santai sambil menikmati secangkir kopi untuk menghangatkan badan. Sebagian lagi tengah bersiap untuk sebuah acara yang sudah dinantikan beberapa remaja itu.


Deru mesin mobil terdengar jelas memenuhi sunyinya malam, bersambut dengan teriakan histeris para penonton yang ada disekitar mobil. Mereka menyoraki nama jagoan mereka masing-masing, tak jarang dari mereka yang bertaruh siapa pemenangnya.


Sekitar empat mobil sport sudah berbaris rapi digaris star, mereka sudah siap untuk beradu kecepatan menembus jalanan yang sunyi. Seorang wanita cantik dengan pakaian yang kurang bahan tengah berdiri ditengah-tengah barisan mobil itu, wajah cantiknya mampu menghipnotis siapun yang melihatnya. Tangannya terulur kedepan dengan sebuah kain yang berada dalam gengamannya, beberapa kali gadis itu menggoyangkan tangannya. Lalu bersamaan tangan itu terangkat ketas terdengar suara deru mesin yang saling bersautan, mereka sudah mulai bersaing.


Brruummm bruuummmmmm!


"Huuuuuuuu yok semangat, semangat!"


"Ayoo Gilang lo pasti menang!"


"Evan go Evan go! Evan kalahin mereka semua!"


"Van, lo harus menang kalau gak uang gue melayang!"


"Sur, awas kalau lo sampai kalah... pacar lo taruhannya!"


"Kenapa gue dibawa-bawa! Gue bukan taruhan ya!" kesal seorang gadis yang tak lain adalah pacar Surya.


"Canda doang, biar Surya semangat!"


"Jo! Awas kalau lo kalah ayam jago lo, gue panggang!"


Begitulah banyaknya teriakan penyemangat dari para sahabat dan penonton dalam acara balap mobil kali ini, mereka bersorak bergembira bersama ditengah gelapnya malam.


Empat mobil itu terus saja saling menyalip satu dengan yang lainnya tak ada yang mau mengalah sama sekali. Mereka bukan karena kekurangan uang hingga melakukan balapan liar, hanya karena sebuah kesenangan saja mereka melakukan balapan walaupun terkadang ada hadiah yang menggiurkan disetiap balapan.


Gilang sudah berhasil menyalip Evan, dan sekrang ia sudah memimpin dalam balapan kali ini. Surya juga sangat berusaha menyalip Joko, namun sayangnya Joko terus menghalangi mobil Surya sehingga ia sedikit ke sulitan untuk menyalip.


Saat tikungan Evan menambah kecepan mobilnya sehingga ia bisa menyalip Gilang dengan mulusnya lalu meluncur didepan mobil Gilang. Evan tersenyum bangga saat sudah terlihat beberapa orang menyorakinya, karena Evan sudah sampai lebih dulu diikuti Gilang, Joko dan Surya.


Evan keluar dari dalam mobil disambut pelukan oleh Vion dan beberapa anak penundukung Evan. Mereka mengucapkan selamat pada Evan karena sudah memenangkan balapan malam ini. Terlihat wajah kusut dari tiga lawan Evan, hampir saja Gilang bisa menjadi pemenangnya tapu sayangnya Evan bisa merenut kembali posisinya.


"Nih!" Surya menyerahkan sebuah amplop coklat yang terlihat sangat tebal tepat didepan dada Evan.


Evan menerima amplop itu dengan senang hati karena memang dia lah pemenangnya, tak lupa ia memgucapkan terimakasih pada Surya.


"Makasih, Sur!" Evan menggoyangkan beberapa kali amplop coklat itu didepan wajah.


"Hmm!" saut Surya, ia sedikit kesal karena selalu kalah dengan Evan.


"Lo boleh menang hari ini tapi liat aja, lain kali gue pastiin gak akan ada lagi kesempatan buat lo jadi pemenangnya!" teriak Gilang yang duduk didepan mobilnya sendiri sambol melipat kedua tangannya.


"Oke, gue tunggu," kata Evan.


Terlihat seorang gadis yang tadi memimpin perlombaan mendekati Evan, ia bergelayut manja dilengan Evan. Evan yang merasa risih pun berusaha melepaskan tangan gadis itu.


"Jangan deket-deket, gue takut pacar gue ngamuk!"


"Pacar lo si—" belum selesai bicara Vion sudah mendapatkan tatapan tajam dari Evan yang memberikan isarat agar diam saja.


"Pacar lo juga gak akan tau," ucap gadis itu.


"Tapi gue tetep gak mau kecewain dia!" Evan sedikit mendorong tunuh gadis itu agar menjauh lalu ia mengajak Vion pulang karena urusannya disini sudah selesai.


Padahal beberapa anak lainnya memaksa Evan agar tinggal dulu bersama mereka, tapi ia menolak dengan halus. Malam ini Evan bisa ikut balapan karena sang papa masih sibuk dirumah sakit, jika tidak mungkin ia tidak bisa berada disini sekarang ini. Papa Rayhan tidak akan mengizinkan Evan keluar tengah malam apalagi balapan liar seperti ini yang memiliki resiko tinggi, belum lagi jika ada razia polisi mungkin mereka bisa terjaring dan tidak bisa pulang sebelum walinya yang menjamin.


Evan meyerahkan amplop coklat itu kepada Vion, biarkan Vion yang membawanya karena ia juga tidak tahu akan di apa kan uang itu. Selama ini Evan tidak pernah menera uang taruhan itu, semua uang itu diberikan kepada Vion lalu disumbanhkan ke orang yang membutuhkan.


Beberapa kali terlihat Evan sudah menguap tapi sayangnya ia belum sampai dirumah, badannya terasa pegal-pegal sehingga ingin cepat-cepat bertemu dengan kasur.


Bibir Evan tersenyum tipis, entah kenapa malas yang sunyi ini terasa begitu syahdu untuk mengingat seseorang. Wajah cantik yang terlihat imut dan menggemaskan saat kesal, menghilangkan wajah dinginnya.


"Lo kenapa selalu mengusik pikiran gue sih? Dasar es ale-ale," ucap Evan sambil terkekeh.


"Gue penasaran, lo pernah gak tiba-tiba inget sama gue?" monolog Evan.


"Hmmm, mungkin gak pernah ya? Atau akhir-akhir ini lo udah mulai mikirin gue juga?"


Evan terus saja berbicara sendiri seolah-olah Azzalea sedang berada disampingnya. Padahal nyatanya gadis itu tengah tertidur pulas tanpa terganggu sedikit pun.


Tak terasa saat ia sibuk memikirkan Azzalea, mobil hitam itu sudah memasuki pekarangan rumah. Untung saja satpam rumah itu belum tidur sehingga Evan tak perluh menunggu lama agar dibuka kan gerbang.


Setelah memarkirkan mobilnya digarasi, Evan membuka pintu utama dengan sangat pelan. Ia tak ingin mengganggu sang mama yang sudah tertidur lelap.


Terlihat sangat gelap hanya lampu-lampu kecil yang sengaja dinyalakan untuk penerangan agar tidak terlalu gelap. Belum jauh Evan berjalan dari pintu utama, terdengar suara seseorang yang membuat Evan terkejut.


"Masih ingat pulang?" tanyanya.


Glek!


"Aish, kenapa mama belum tidur," batin Evan.


Dengan perasaan bersalah Evan melihat sekeliling ruang tamu itu dengan pencahayaan yang minim. Terlihat seorang perempuan tengah duduk disofa ruang tamu sambil melipat kedua tangannya didepan dada, ia terlihat sangat marah.


"Ma-mama belum tidur?" tanya Evan.


"Bagaimana bisa mama tidur sedangkan anak mama diam-diam kabur ditengah malam?"


"Maaf mah!" Evan menunduk.


"Sudah berapa kali mama bilang, jangan keluyuran gak jelas seperti ini... kalau papa mu tau, mama gak bisa bantu lagi. Mungkin kamu akan dipindahkan ikut bersama nenek!" jelas sang mama.


"Evan gak mau pindah ke luar negeri mah!"


"Mama jangan bilang papa, ya! Please mah, masa mama tega mau jauh sama anak ganteng mama ini?" lanjut Evan memohon kepada sang mama.


"Mama cuma sedih aja, mama gak bisa jadi orang tua yang baik buat kamu... mama gak bisa didik kamu jadi anak yang bener," kata mama Rayya sedikit terisak.


"Maafin Evan mah!"


Rayya menggelengkan kepalanya, ini bukan salah Evan. Mungkin ini salahnya yang terkadang terlalu sibuk dirumah sakit hingga jarang memiliki waktu bersama sang anak, sehingga membuatnya selalu mencari kebahgian sendiri di luar rumah.


Rayya memeluk Evan hangat, beberapa kali ia menepuk punggung Evan mau bagaimana pun ia tidak bisa marah dengan Evan apalagi dia adalah anak semata wayangnya.


"Kamu gak salah, maafin mama sama papa yang terkadang terlalu sibuk menyelamatkan orang sampai lupa denganmu," kata Rayya sambil mengusap pipi Evan.


"Mah, mama gak perlu minta maaf! Evan senengku mama sama papa bisa bantuin orang-orang, maafin Evan yang nakal mah!"


Rayya mengangguk sambil tersenyum tipis ia tak menyangka sang anak bisa berfikir dewasa seperti ini.


"Kamu memang mirip papamu, tapi sayang sifatmu mirip mama yang bar-bar!" batin Rayya.


"Yaudah tidur sana, besok sekolah! Kali ini mama maafin jangan sampai ada lain kali, oke?"


"Oke!" Evan lalu mencium pipi sang mama setelah itu ia pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.


...----------------...