Evanzza

Evanzza
Tua Nganbekan



Azka bersama Azkia sedang buru-buru menyusuri lorong rumah sakit, karena beberapa menit yang lalu ia mendapatkan kabar jika mama Lala sakit dan dibawa ke rumah sakit. Setelah mendengar itu ia langsung menghubungi Azkia untuk segera bersiap ke rumah sakit.


"Mama gak apa-apa kan, By?" tanya Azkia sambil mempererat genggamannya pada tangan Azka.


"Mama baik-baik aja, mungkin hanya kecapean!"


"Semoga saja!"


Hingga mereka berdua sampai didepan ruang rawat sang mama, tangan Azka menggantung karena pintu lebih dulu terbuka memeperlihatkan seorang suster keluar dari ruangan sang mama bersama seorang dokter yang masih berbibcang dengan Bima.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Bima.


"Istri anda baik-baik saja, walaupun sempat tekanan darahnya naik. Saya sudah berikan resep obat yang harus diminum agar kondisinya stabil," kata sang dokter sambil menoleh kedepan karena sejak tadi ia fokus pada Bima.


"Baiklah, terimakasih dok!"


"Sama-sama, kalau gitu saya permisi dulu ... semoga istri anda lekas sembuh," ucap sang dokter sambil tersenyum pada Bima.


Dokter itu tiba-tiba saja tak bergerak setelah berbalik badan, kedua bola matanya membulat sempurna. Namun dengan cepat ia bisa menguasai dirinya sendiri, sehingga tidak terlihat jika ia sedang terkejut.


Deg!


Tatapan mereka bertiga bertemu, ada perasaan yang sulit dijelaskan diantara tatapan itu. Setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing dan kali ini mereka dipertemukan kembali.


Azka terlihat jelas raut tidak bersahabat dari Azka. apalagi ketika melihat dokter itu menatap istrinya sambil tersenyum ramah seperti dulu. Ingin sekali ia memukul wajah itu agar tak bisa tersenyum lagi tapi sayangnya ini rumah sakit, Azka tak mungkin membuat keributan disini. Apalagi mama mertuanya sedang sakit, semua itu membuat kepala Azka sakit.


"Lama tidak bertemu, Ka!" sapa sang dokter sambil mengulurkan tangannya pada Azka, tapi Azka hanya menatapnya sekilas lalu menbuang wajah kearah lain.


Entahlah walaupun sudah bertahun-tahun lamanya dan mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Tapi tetap saja Azka tidak suka pada dokter itu yang tak lain adalah mantan ketua osis nya, Rayhan. Dan juga saingannya dulu.


Azkia yang melihat itu langsung menyambut tangan Rayhan, ia tak habis pikir kepada suaminya itu kenapa masih cemburu saja padahal mereka tidak ada hubungan apapun.


"Iya lama gak ketemu, kakak bagaimana kabarnya?" tanya Azkia.


"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja," kata Rayhan sambil menarik kembali tangannya.


"Kalian saling kenal?" tanya Bima.


Rayhan pun mengangguk sambil tersenyum manis.


"Kenal pah, dia senior Kia sama Azka dulu waktu SMA," jawab Azkia.


"Ohh, kalau gitu papa bisa tenang percayaain mama sama pak dokter ini," ucapnya sambil terkekeh.


"Terimakasih, atas kepercayaannya!" Rayhan sedikit menunduk dan tersenyum.


Terdengar beberapa kali deringan ponsel yang berasal dari saku celana Bima, kemudian Bima pamit untuk menerima panggilan telepon itu lebih dulu. Menyisahkan tiga orang yang saling diam dengan pikirannya masing-masing.


"Kak Rayya gimana kabar nya, kak?" tanya Azkia membuka obrolan.


"Dia baik kok, hanya sibuk saja banyak pasien yang harus ditangani!"


Azkia mengangguk-nganguk saja sebagai jawaban, sedangkan Azka diam tak tertarik dengan pembicaraan mereka.


"Anak kamu udah berapa, Ki?" tanya Rayhan.


"Dua kak, yang satu udah SMA satunya masih SMP, kalau kakak berapa?"


"Masih satu, kali aja kita bisa besanan!" canda Rayhan sambil terkekeh.


"Apaan sih, By! Kak Rayhan juga cuma bercanda kali, iya kan kak?"


"Iya, lagian kota ini luas mana mungkin mereka bisa bertemu apalagi jadi pasangan," kata Rayhan.


"Tuh, By! Dengerin, gak mungkin mereka bisa ketemu apalagi sampau jadian .... Didunia ini banyak orang gak cuma anaknya kak Rayhan aja!"


"Belain aja terus!" gerutu Azka langsung masuk kedalam ruangan sang mama.


Azkia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami yang masih saja cemburan, padahal sudah jelas jika dirinya hanya mencintai Azka saja tak ada yang lain. Bahkan seorang dokter tampan dihadapnnya ini tak bisa membuatnya goyah, cinta mati sama Azka.


"Azka gak pernah berbuah, ya?" tanya Rayhan sambil terkekeh.


"Ya gitu kak, apalagi sama anak perempuannya itu posesif banget! Apa-apa harus lapor dulu, kemarin aja ada cowok yang berani minta izin buat pacaran sama anak gadis ku tapi langsung ditolak mentah-mentah kan kasian! Zaman sekarang mana ada yang berani minta izin pas mau pacaran," kata Azkia tanpa sadar.


"Bagus dong, dia ayah yang baik buat anak-anaknya! Lalu tetap gak dikasih izin?" tanya Rayhan penasaran.


"Dikasih kok, tiga lawan satu pasti kalah kan?" Azkia terkekeh sendiri saat ia ingat bagaimana Azka dengan terpaksa menyetujuii hubungan Azzalea.


"Iya, haha! Yaudah masuk sana, tante baik-baik aja tapi gak boleh mikir yang berat-berat dulu kalau gak mau tensinya naik lagi!" jelas Rayhan.


"Iya, sekali lagi makasih ya dok!"


Rayhan pun mengangguk sambil tersenyum manis kepada Azkia, lalu ia berjalan menjauh dari Azkia. Sedangkan Azkia sediri masuk kedalam ruangan sang mama dimana Azka sudah duduk manis disamping sang mama dengan tangan yang dilipatkan didepan dada.


"Udah kangen-kangenan nya?" tanya Azka ketus.


"Apaan sih, By? Siapa yang kangen-kangenan? Kita kan cuma ngobril biasa, kamu sendiri juga dengar kan?"


"Terserah!"


"Udah tua gak cocok kalau ngambek gitu!" Azkia terkekeh sendiri milihat tingkah sang suami yang mirip ABG itu.


"Biarin!" sentak Azka.


"Suutt jangan keras-keras mama lagi istirahat!"


"Hmmm!"


Kemudian Azka pindah duduk disamping sang istri, mau bagaimana pun ia tidak rela jika Azkia berdekatan dengan laki-laki mana pun. Bahkan Azka sempat cemburu pada kerabat Azkia, yang jelas-jelas mereka adalah keluarga.


Azka meraih tangan sang istri yang digunakan untuk bersalaman dengan Rayhan, lalu ia mengambil tissu basah yang ada didalan tas Azkia. Azka mengusapkan tissu basah itu pada telapak tangan Azkia beberapa kali hingga dirasa sudah bersih, sedangkan Azkia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami.


"Bocil!" ledek Azkia.


"Aku cuma gak mau kamu sakit gara-gara salaman sama ketos itu!" gerutu Azka.


"Bukan ketos lagi, By ... Tapi dokter!" ralat Azkia.


"Apapun itu, aku gak perduli!"


"Udah tua masih aja cemburuan, anak mu aja kalah By!" Azkia terkekeh melihat wajah kesal sang suami, entahlah melihat Azka cemburu membuat Azkia bersemangat untuk menjahilinya.


Azka yang malas menanggapi perkataan sang istri hanya bisa diam dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Azka berniat mengabari sang anak jika oma nya sedang dirawat dirumah sakit. Dan memintanya untuk segera datang jika sudah jam pulang sekolah.


...----------------...