Evanzza

Evanzza
Diri sendiri dipuji



Semua tatapan tertuju pada Azzalea seolah mereka sedang meminta penjelasan pada gadis itu. Tapi sayangnya Azzalea hanya diam saja sambil melanjutkan makannya, sudah cukup lelah hari ini ditambah kedatang Evan membuat ia harus eksta sabar.


"Le?" panggil Cakra lembut, ia ingin mendengar kebenarannya dari mulut Azzalea sendiri.


Ada rasa tak terima saat mendengar apa yang dikatakan Evan, lagi-lagi hatinya terasa sakit. Makanan yang terlihat begitu enak pun terasa hambar apalagi dengan Azzalea yang diam seolah mengiyakan ucapan Evan.


"Sejak kapan kalian pacaran, kok gue gak tau?" tanya Ghea seperti wartwan yang sedang mewawancari artis yang lagi viral karena kasus asmara.


"Yah gagal dong, padahal gue pengen ungkapin perasaan gue sama lo, Le!" Dava terkekeh sendiri dengan perkataannya, Dava tak serat merta mengatakan itu karena dibalik perkataan itu ada niat untuk membuat seseorang semakin panas.


Siapa lagi kalau bukan Cakra, pasalnya mereka semua tahu jika Cakra menyayangi Azzalea lebih dari sekedar sahabat. Apalagi dengan cara Cakra yang memperlakukan Azzalea dengan sangat spesial. Kenapa sampai sekarang Cakra belum mengungkapkan perasaanya? Itu karena ia tak ingin persahabat mereka hancur gara-gara perasaan egoisnya saja. Cakra masih berjuang membuat Azzalea hanya bergatung padanya saja bukan orang lain, sehingga sebisa mungkin ia selalu ada disisih Azzalea.


Tapi lain dengan Azzalea yang hanya menganggapnya sebagai sahabat sekaligus kakak yang baik untuknya.


"Dava suka sama Ale?" tanya polos Nessa membuat Dava mencubit pipinya hingga merah.


Sedangkan Evan tersenyum puas melihat Azzalea yang tak merespon pertanyaan teman-temannya itu. Dan mereka masih setia menatap Azzalea yang sudah menghabiskan makannya. Merasa ditatap Azzalea langsung melihat meraka satu persatu.


"Apa?" tanya Azzalea sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Lo dengerin kita ngomong gak dari tadi?" kesal Ghea.


Azzalea menggeleng dengan polosnya, memang dia sangat lapar sehingga ia malas menanggapi mereka apalagi didepannya adalah salah satu makanan favoritnya.


"Asataga Ale! Jadi dari tadi lo diem gak dengerin apa yang kita tanyain!" ger Ghea.


"Lo ada hubungan apa sama bocah satu ini?" tanya Cakra.


"Gak ada!" jawab Azzalea serius.


Mendengar itu membuat Cakra dan Marchel bernafas lega, pasalnya apa yang mereka takutkan tidak benar terjadi. Marchel yang hanya memepermainkan Azzalea pun merasa senang saat gadis itu belum memiliki hubungan dengan Evan, sehingga ia masih bisa melanjutkan misinya.


"Gak ada gimana, kan tadi pagi kita udah ci— emmp!"


Dengan cepat Azzalea membekap mulut ember Evan, bahkan ia sudah memelototkan matanya seolah sedang melarang Evan mengatakan hal memalukan itu.


"Udah apa?" tanya Marchel yang sejak tadi diam.


Otak Azzalea mendakak harus berfikir keras, ia tidak mau jawabannya membuat semua orang salah paham dengannya. Termasuk pada Cakra, ada rasa tidak enak saat melihat raut wajah Cakra.


"Udah temenan," kata Azzalea cepat, "Iyakan, Van!" dibawah sana kaki Azzalea sudah menendang kaki Evan meminta untuk mengiyakan pernyataannya.


Evan yang paham pun langsung menagguk, karena mulutnya masih dibekap oleh Azzalea.


"Gak masalah sekarang lo akuin gue jadi temen, asal nanti bisa jadi temen hidup lo!" batin Evan.


"Hah, lo bikin kita jantungan aja, Le... gue kaget kalau sahabat kita yang udah kek patung es tiba-tiba punya pacar!" Ghea langsung menarik Azzalea masuk dalam pelukannya.


"Iya awas aja kalau punya pacar gak kasih tau kita!" kata Nessa merajuk seperti anak kecil.


"Iya," saut Azzalea.


Sedangkan Marchel dan Cakra masih mematap tajam Evan, begitu juga dengan Evan yang membalas tatapan tajam mereka berdua. Dava? Dia asik makan sendiri sambil memperhatikan drama yang ada didepan nya terlihat begitu menarik bukan.


"Gue temen Azza berarti jadi temen kalian juga kan?" tanya Evan penuh harap, setidaknya ia harus mendapatkan dukungan dari para teman gadisnya terlebih dahulu.


"Gak!" saut Cakra tak menyetujuinya.


"Bayarin makanan kita selama seminggu, baru jadi temen!" saut Ghea yang disetujui oleh Dava.


"Beliin Nessa jajan dulu baru jadi temen," celetuk Nessa sambil menaik turunkan alisnya.


"DEAL!" kata Evan dengan penuh semangat.


"Ghe!" panggil Cakra tak suka, tapi gadis itu tak memeprdulikan Cakra. Lumayan uang jajanya utuh bisa buat beli sepatu yang Ghea inginkan.


Sedangkan Marchel sudah pergi sejak tadi karena malas dengan keberadaan Evan yang selalu merebut apa yang ia inginkan.


"Lo kenapa setuju sih, Ghe?" bisik Azzalea sambil menatap temannya itu.


"Lumayan makan gratis," celetuk Ghea sambil terkekeh.


"Lo malak anak orang, Ghe!" Dava pun ambil suara.


"Why not! Dia mau-mau aja tuh," kata Ghea sambil melirik Evan yang tengah mencari keberadaan seseorang.


"Cak! Mau kemana lo?" tanya Dava.


"Toilet!" saut Cakra tanpa menoleh.


"Cakra kenapa, Va?" tanya Nessa.


"Pasti mau cari pemadam dulu tuh anak," jawab Dava.


"Emang dimana keberakannya?" tanya Ghea.


"Disini!" Dava menunjuk dadanya sendiri.


"Mana apinya katanya kebakaran?" tanya Nessa polos.


Dava menepuk jidatnya sendiri ia sudah pasra dan harus sedikit menambah kesabarannya jika berbicara dengan Nessa yang sangat polos itu.


Sedangkan Ghea sudah tidak bisa menahan tawanya yang pecah begitu saja mendengar pertanyaan polos Nessa.


"Lo ya, Ness... jadi anak polos banget mirip banget kaya tante Nay!" Ghea mengusap matanya yang sampai mengeluarkan air karena menertawakan Nessa.


"Kan emang anaknya, gimana sih!" Nessa mengerucutkan bibirnya.


"Nah!" entah sejak kapan Evan pergi karena kini ia sudah berada didekat Azzalea lagi sambil membawa kantung kresek hitam.


"Apa?" tanya Azzalea.


"Buat lo sama temen-temen lo," kata Evan meletakan kantong kresek itu didepan Azzalea.


Sreet!


Tangan Ghea begitu cepat menyambar kanrung kresek itu, lalu matanya berbinar melihat isi nya.


"Serius ini buat kita?" tanya Ghea tak percaya.


Azzalea dan Nessa yang penasaran pun langsung ikut melihat apa isi kresek itu, mata mereka membulat sempurna karena kantung kresek itu berisi beberapa susu kotak beserta camilan ada snak, roti bahkan juga coklat.


"Makasih banget, eh gue belum tau nama lo?" kata Nessa sedikit manja.


"Biasa aja Nes kalau ngomong!" celetuk Dava yang meraaa tak suka.


"Ini juga biasa kok hehe,"


"Gue Evan Anggara, panggil aja Evan," kata Evan sambil mematap Nessa yang begitu lucu.


"Gue Ghea, ini—"


"Nessa! Panggil Nessa gemoy," celetuknya manja.


"Cih, gak usah genit Nes! Gue bilangin papa lo, loh!" geram Dava.


"Iya-iya!" wajah Nessa berubah masam.


"Lo?" tanya Evan.


"Gue Dava dan yang pergi tadi Cakra," saut Dava.


"Oke jadi kita temen kan ini, tapi gue juga ada sahabat satu namanya Vion... dia lagi sibuk!" jelas Evan.


Mereka semua mengangguk kecuali Azzalea yang merasa tak suka jika ada Evan.


"Ganteng ya gue?" celetuk Evan saat mendapati Azzalea terus menatapnya.


"Ganteng dilihat dari sedotan!" ketus Azzalea.


"Gak masalah yang penting tetep ganteng!" dengan percaya dirinya Evan mengatakan itu.


"Diri sendiri dipuji!" celetuk Dava sambil menggelengkan kepalanya.


...----------------...


Jangan lupa klik vote, like dan juga comentnya!