Evanzza

Evanzza
Beda Keyakinan



"Eheem! Gue cariin kemana-mana ternyata mojok disini!" kesal seseorang sambil melipatkan tangannya didepan dada.


Ia merasa kesal pasalnya sudah mencari Evan kemana pun tapi tak menemukannya dan ternyata yang dicari sedang berduaan di ruang osis. Sungguh terlalu kan?


"Kenapa nyariin gue, Vi?" tanya Evan yang sudah berdiri menghampiri Vion.


"Lo lupa? Lo itu ketua osis, tugas lo itu awasin dan hukum mereka yang melanggar!" jelas Vion.


"Kan ada lo sama yang lain, ayang gue lagi sedih tuh jadi gue harus hibur dia dulu!" Evan melirik Azzalea yang sedang menyembunyikan mata sembannya.


"Wah parah, lo apain anak orang sampe kaya gitu?" teriakan Vion mengundang beberapa anggota osis yang lain untuk mendekat, mereka penasaran apa yang dilihat Vion.


Namun secepat kilat Evan menutup pintu itu, ia tak ingin gadisnya dilihat orang lain saat sedih seperti ini.


"Kalian Ngapain? Bubar sana, selesain tugas kalian! Nanti gue nyusul!" perintah Evan dengan dingin, membuat mereka langsung pergi dari sana.


"Baik-baik anak perawan orang tuh!" celetuk Vion sebelum kabur.


"Lo kira gue ngapain!" kesalnya.


Dirasa sudah aman, Evan membuka kembali pintu ruang osis bertepatan dengan Azzalea yang sudah berdiri didekat pintu.


"Mau kemana?" tanya Evan.


"Ke kelas, gue gak enak kelamaan disini .... ganggu lo!"


"Lo gak ganggu gue, Al! Jangan dengerin omongan si Vion, gue anter lo ke UKS aja... istirahat disana!"


"Sutt! Gak ada penolakan apapun," ucap Evan sebelum mengizinkan Azzalea buka suara.


Evan menggandengan tangan Azzalea dengan sangat erat, ia tak memperdulikan tatapan siswa lainnya. Yang terpenting adalah gadisnya itu, bahkan Evan mengabaikan beberapa sapaan siswi lain yang biasanya selalu ia resopon.


"Lo istrirahat disini, ya! Gue urusin anak-anak yang bolos dulu, nanti gue suruh Ghea temenin lo!" Evan mendorong pelan tubuh Azzalea agar masuk ke dalam ruang UKS.


"Dek, nitip ayang gue ya! Jagain, awas kalau sampai lecet!" perintah Evan pada anak PMR yang sedang bertugas diruang UKS.


"Siap Kak Evan! Tenang aja, aman!" serunya sambil mengacungkan jempol tangan pada Evan.


"Baik-baik ya disini, mau apa-apa bilang sama dia aja!" Evan melirik gadis yang tadi diajak bicara sambil mengusap pucuk kepala Azzalea.


"Lah berasa jadi babu gue," gumam gadis PMR itu.


"Hmmm," saut Azzalea sambil mengangguk menatap kepergian Evan.


Kemudian Azzalea berjalan ke salah satu bankar untuk merebahkan dirinya, kepalanya sedikit pusing. Apalagi semalaman ia menangis hingga tak sadar kapan tertidur.


"Kakak lagi bintitan ya? Kok pake kaca mata hitam terus?" tanya gadis itu yang bernama Bela.


"Gak!" singkat Azzalea lalu membuka kacamatanya.


"Astaga kok sampai kaya gini? Sedih banget ya ceritanya!" Bela mengira Azzalea nangis karena menonton drama korea seperti dirinya yang selalu maraton drama.


"Emang ceritanya tentang apa?" lanjut Bela sambil memberikan segelas teh hangat pada Azzalea.


"Restu orang tua, Bel!" Azzalea menerima segelas teh itu.


Azzalea memejamkan matanya untuk menikmati arom melati dari teh itu membuat pikiran Azzalea rileks dan tenang.


"Wah berat itu kak, butuh perjuangan ekstra dan keyakinan," ucap Bela, ia bahkan tak mempertanyakan dari mana Azzalea tau namanya. Karena ia lebih tertarik pada cerita Azzalea.


"Jangan sampai kaya aku, kak!" lanjut Bela dengan wajah murungnya.


"Kenapa?"


"Beda keyakinan?" tanya Azzalea penasaran.


"Iya! Aku yakin dia nya gak yakin, udah kan berhenti sampai situ," jelas Bela sambil memberikan roti isi untuk Azzalea, dengan senang hati Azzalea menerimanya.


"Cari yang lain, Bel!" saran Azzalea.


"Gak semudah itu kak, apalagi Bela anaknya susah jatuh cinta ... kalau udah nemu yang nyaman gak mau ke lain hati lagi," ucap Bela sambil mengunyah roti isi nya.


"Hmm!" Azzalea pun mengangguk membenarkan perkataan Bela karena mereka berdua sama, susah jatuh cinta.


"Percaya deh kak, seberat apapun masalahnya pasti kita bisa lewatin! Dan yakin aja semua akan indah nanti," kata Bela.


"Boleh gak sih egois Bel, gue mau nya dia gak ada yang lain!"


Belum sempat menjawab, terdengar teriakan yang menggema diseluruh ruangan.


"ALEEEEEE!"


mereka berdua menoleh ke sumber suara, ternyata ada Ghea disana. Wajahnya terlihat panik, nafasnya tidak beraturan sehingga bisa dipastikan Ghea berlari untuk sampai di UKS.


"Mana yang sakit, perluh ke rumah sakit gak? Gue dari tadi nyariin lo, gue kira lo gak berangkat!" cerocos Ghea tiada henti, sedangkan kedua gadis itu hanya menatap Ghea tanpa berkedip.


"Alee, lo jangan diem aja! Lo kesurupan atau gimana sih?" tanya Ghea sambil mengguncang tubuh Azzalea.


"Tunggu mata lo kenapa? Lo habis nangis? Evan sakitin lo, ya? Bilang sama gue lo diapain sama Evan!"


Hap!


Azzalea menyuapi roti isi pada mulut Ghea yang sejak tadi berbicara tanpa henti membuat dirinya semakin pusing saja, Bela pun hanya terkekeh melihat intraksi mereka berdua.


"Berisik tau gak, Ghe!" ketus Azzalea.


Glek!


Akhrinya Ghea berhasil menelan roti isi itu, ia lalu menatap tajam Azzalea yang berani berbuat seperti itu.


"Gue itu khawatir, Ale sayang! Kalian berdua tuh bikin pusing aja, untung si Cakra udah berangkat tuh!" jelas Ghea.


"Sebenarnya lo kenapa?" tanya Ghea lagi.


Azzalea menyuru Bela untuk membelikan permen dikantin, padahal itu hanya alasan saja agar Azzalea bisa menceritakan semaunya pada Ghea.


Azzalea menarik nafasnya panjang, ia mulai bercerita dari mulai pulang sekolah kemarin ia ke rumah sakit untuk membesuk oma bersama Evan. Tapi entah kenapa suasana jadi terasa mencekam saat Evan memberitahu siapa orang tuanya, hal itu berhasil membuat Evan diusir oleh Azka.


Tak sampai disitu, dirumah Azka masih marah dan menyuruh Azzalea putus dengan Evan. Saat ditanya alasannya Azka tak mau menjawab dan tetap bersikukuh agar hubungan mereka berakhir sampai disini.


Azzalea kembali terisak dalam tangisnya saat menceritakan itu semua pada Ghea, Ghea pun langsung memeluk Azzalea.


"Semua akan baik-baik aja, Al! Gue yakin om Azka punya alasan tersendiri larang lo sama Evan!" Ghea mengusap punggung Azzalea.


"Tapi gue gak mau pisah sama Evan, Ghe! Gue gak mau, baru bayangin aja hati gue udah sakit apalagi beneran?"


"Terus gimana, Al?"


"Gue gak tau! Gue bingung, Ghe! Gue gak mau dicap sebagai anak pembangkang tapi disisih lain gue gak bisa jauh dari Evan, gue harus apa, Gheaa!" Azzalea kembali menangis tersedu-sedu.


"Udah-udah lo jangan nangis lagi, kita pikirin masalah ini dengan kepala dingin dulu!"


"Nanti kita cari tahu akar pemasalahannya apa, kenapa om Azka jadi gak setuju dan nanti kita cari sama-sama solusinya, okay?" bujuk Ghea, Azzalea hanya menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia sayang menyayangi kedua kaki-laki itu.


"Gue gak mau pisah, Ghe!"