
Wajah cantik itu terlihat seperti langit sore ini, yang gelap karena awan mendung menyelimutinya. Seolah dalam hitungan menit akan terjadi hujan badai yang cukup deras. Sama seperti gadis itu yang menatap nanar kearah sang papa, ia tak menyangka jika kisah cintanya akan berakhir secepat ini.
Debaran dan perasaan aneh yang baru ia rasakan, harus terhenti begitu saja saat sang papa menyuruhnya untuk mengakhiri hubungan itu sebelum semakin dalam.
Udara sekitar seakan terkuras habis, karena ia merasakan sesak yang begitu menyakitkan. Beberapa kali ia menghirup udara dalam-dalam untuk menenangkan hati yang sedang bergejolak.
Tangannya bergerak meremas ujung rok sekolah yang masih melekat ditubuhnya. Ia tidak ingin mengakhiri kebahagian yang baru dimulai, bahkan bisa dihitung dengan jarinya.
Ada kebahagian tersendiri saat jatuh cinta pada orang yang tepat apalagi perasaan itu terbalas kan, tapi seakan semesta belum merestui mereka dan masih ingin menguji lagi seberapa kuat perasaan itu.
"Tapi kenapa, pah?" tanyanya dengan wajah yang sudah memerah, suaranya bahkan sudah bergetar namun ia masih bisa mengendalikan diri agar tidak menangis.
"Kamu gak perluh tau alasannya kenapa, pokoknya papa mau kamu putus sama Evan sekarang juga!" tegas sang papa sambil berdiri dari duduknya.
Mereka semua sudah berada dirumah, tepatnya diruang keluarga. Azka, sejak dirumah sakit ia sudah menahan amarahnya dan akhirnya meluap sudah.
"Ale gak mau! Ale gak mau putus!" tegas Azzalea sambil menatap netra sang papa.
"Papa gak suka kamu pacaran sama Evan, pokoknya harus putus!"
"GAK MAU!"
"Kamu mau jadi anak durhaka yang gak mau nurut sama omongan papa, iya!" bentak Azka sambil berkacak pinggang.
"Bukan gitu pah!" Azzalea terisak dalam tangis yang sejak tadi ia tahan, hati nya sakit. Ia tidak habis pikir kenapa kisah cintanya harus seperti ini padahal ia hanya ingin merasakan indahnya masa putih abu-abu dengan cinta monyetnya.
Azzalea sesegukan ia bahkan tak berani menatap sang papa, baru kali ini Azzalea melihat sang papa marah sampai seperti ini.
Azzalea tak tahu harus berbuat apa, jujur saja hatinya sangat menolak dengan keras jika harus memutuskan hubungan dengan Evan. Apalagi laki-laki itu yang mampu meluluhkan hatinya dan dengan sabar menghadapi semua sikap cuek, dingin, egois nya. Bahkan Azzalea bisa merasakan kehangatan Azka didalam diri Evan, tak banyak orang yang sanggup bertahan dengan dirinya yang terlalu cuek itu.
"Pokoknya kamu harus nurut sama papa, gak ada bantahan apa pun lagi!"
"Tapi, kenapa pah? Dia baik, bisa jagain Ale, dia juga gak aneh-aneh ... Tapi kenapa papa larang kita, pah?" tanya Azzalea dengan deraian air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Kamu gak perluh tau alasan papa, pokok nya sekali gak boleh tetap gak boleh!"
"PAPA JAHAT!" teriak Azzalea.
Mama Azkia yang mendengar teriakan sang suami dan anaknya itu langsung bergegas menuju ruang keluarga. Dilihatnya sang anak tengah menangis sesegukan sedangkan sang suami tengah berdiri sambil memijit pelipisnya yang dirasa begitu sakit.
"Ada apa ini?" tanya Mama Azkia sambil memeluk Azzalea erat.
"Papa jahat, mah! Jahat banget!" Azzalea menyembunyikan wajahnya didekapan sang mama.
Mama Azkia tau akan jadi seperti ini, ia sangat menyayangkan sikap sang suami yang seperti ini. Padahal kejadian itu sudah cukup lama sekali, tapi kenapa masih dipermasalahkan hingga saat ini. Toh, sekarang dirinya menjadi istri Azka bukan Rayhan.
Mama Azkia mengusap punggung sang anak untuk memberikan kekuatan, ia tak tega melihat sang anak seperti ini. Nanti jika suasana sudah tenang ia akan mencoba berbicara dengan sang suami untuk membahas masalah ini.
"Udah jangan nangis, nanti mama coba bicara sama papa ya!"
"Ale gak mau putus, mah! Ale udah terlanjur sayang sama Evan!" rengeknya sambil sesegukan.
"Kenapa papa tiba-tiba larang Ale sama Evan, mah?" tanya Azzalea sambil mendongak menatap sang mama, ia sangat penasaran karena sang papa berubah saat tahu siapa orang tua Evan.
Mama Azkia menghela nafasnya menatap punggung tegap itu menjauh dari mereka, Azka butuh waktu untuk meredakan emosinya. Lalu beralih menatap sang anak yang masih menangis bahkan bajunya sudah basah terkena air mata Azzalea.
"Mungkin ini waktunya aku ceritakan semua sama Ale, aku gak tega lihat anak gadisku seperti ini! Aku juga gak menyangka jika rasa cemburunya masih bertahan sampai sekarang ini, padahal sudah jelas aku hanya miliknya seorang!" batin Azkia.
"Ale mandi dulu ya, terus makan! Mama mau bujuk papa dulu, okay?"
"Ale gak laper mah!"
"Yaudah istirahat dulu nanti kalau mau makan bilang sama mama!" Mama Azkia membimbing Azzalea sampai didalam kamarnya. Setelah itu ia menuju kamarnya sendiri untuk bertemu sang suami.
Azzalea kembali terisak dalam tangisnya, dadanya terasa sesak. Sakit yang baru pertama kali ia rasakan, dan juga rasa tak rela jika harus berpisah dengan Evan padahal laki-laki itu tak berbuat salah apa pun padanya.
"Papa jahat!"
"Kenapa papa larang Ale, kenapa!"
"Papa larang Ale setelah Ale terlanjur jatuh cinta sama Evan, Ale udah nyaman sama dia!" rancaunya terus menerus sambil melemparkan semua barang-barangnya ke sembarangan arah.
Lalu tubuhnya merosot ke lantai sambil bersandarkan pinggiran ranjang, tatapannya kosong dan air mata terus mengalir dari sudut matanya.
Hawa dingin begitu terasa, beberapa kali terdegar suara gemuruh petir yang saling bersaut-sautan. Terlihat rintik hujan yang semakin lama semakin lebat membuat perasaan Azzalea semakin kalut. Seakan langit tahu apa yang sedang dirasakan Azzalea dan ikut bersedih bersamanya.
Ia tak menyangka jatuh cinta untuk pertama kalinya, tapi harus merasakan sakit karena orang tua tak merestui hubungan mereka.
Azzalea bingung harus berbuat apa, disatu sisih ia tak mungkin membangkang perintah orang tuanya tapi disisih lain ia tak mau jika harus putus dengan Evan.
"Gue harus gimana? Apa alasan papa tiba-tiba larang hubungan gue sama Evan?" monolog Azzalea sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"HAH!" lagi-lagi Azzalea meleparkan barang yang ada disekitarnya meluapkan segala emosinya.
Perlahan ia bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya dicermin. Hidung yang memerah, mata merah dan bengkak. Wajahnya terlihat sayu dan sedikit pucat, ia lupa kapan nasi masuk kedalam perutnya karena sampai saat ini ia tak merasa lapar sedikit pun.
Azzalea memutuskan untuk berendam air hangat untuk menenangkan hati dan pikirannya saat ini. Ia butuh ketenangan untuk berfikir jernih, hingga tak menyadari jika ponselnya terus berdering sejak tadi. Banyak pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab dari Evan. Laki-laki itu sangat khawatir dengan Azzalea meskipun ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas perasaan Evan saat ini sedang gundah apalagi gadis nya tak kunjung membalas pesan yang ia kirim, atau hanya sekedar memberinya kabar.
"Udah pulang belum?"
"Kenapa gak dibalas?"
"Lo baik-baik aja kan, Za? Jangan buat gue khawatir!"
"Kalau lo udah baca chat gue, segera balas, oke!"
"Hubungi gue segera, Zaa!"
Begitulah isi pesan singkat yang masuk pada ponsel Azzalea yang masih setia didalam tas nya.
...----------------...