
"Aawhhh! Sakit Evan, lo gak bisa lembut sedikit?" tanya Elena sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit akibat dorongan Evan. Walaupun dorongan itu pelan tapi untuk Elena yang tidak siap pun menjadi terjatuh ditanah.
"Kata-kata lo ambigu banget sih!" ketus Evan melangkah pergi tanpa berniat membantu Elena berdiri.
"Van, bantuin dulu... lo kok tega banget sih sama gue!" teriak Elena.
Evan pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Elena, Elena yang melihat itu pun merasa bahagia karena ia mengira Evan akan membantunya berdiri tapi dugaannya itu salah besar. Karena Evan berbalik hanya untuk menegaskan sekali lagi pada Elena jika ia tidak menyukai nya.
"Gue tau kalau lo gak bakalan tega sama gue, Van!" batin Elena bahagia.
"Gue cuma mau tegasin sekali lagi sama lo dan gue harap lo paham! Gue gak bisa nerima perasaan yang lo berikan ke gue, mau seberapa keras lo berusaha hasilnya tetap sama," kata Evan.
"Karena nama lo tidak tertulis disini!" Evam menunjuk dadanya sendiri, Elena pun paham dengan maksud perkataan Evan.
Matanya mulai memanas seakan hujan akan turun dilangit yang cerah ini, bahkan tangannya sudah mencengkram kuat rerumputan yang berada didekatnya bersimpuh.
"Gue harap lo bisa bahagia walau pun itu bukan sama gue, gue cuma anggap lo sebagai teman saja... gak lebih sama sekali!" jelas Evan tanpa memebrikan kesempatan kepada Elena untuk bersuara.
Sakit? Sangat, itulah yang dirasakan Elena saat ini. Saat dimana ia sudah mengumpulkan keberanian dan membuat semua rasa malau dan ego nya. Tapo apa yang ia dapatkan? Sebuah penolakan dari Evan yang membuat dadanya terasa sesak, seolah ia sedang kehabisan oksigen padahal sudah tersedia gratis tanpa harus membayar.
"Van! EVAN, GUE BENERAN CINTA SAMA LO... BERI GUE SATU KESEMPATAN, VAN!" teriak Elena melihat punggung Evan yang sudah menjauh.
"BERI GUE KESEMPATAN, GUE BAKAL BUKTIIN KALAU GUE TULUS SAMA LO!" teriak Elena sambil terisak dalam tangisnya.
Elena sudah tak memperdulikan penampilannya lagi, beberapa kali Elena menepuk-nepuk dadanya yang terasa amat sakit hingga tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan sudah beberapa kali Elena menarik rambutnya sendiri karena sedikit frustasi.
"Gue be-beneran sayang sama lo, Van! Hiks hiks hiks, kenapa lo cuma nganggep gue temen, gue gak mau jadi temen gue maunya jadi pacar lo!" kesal Elena dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
Tanpa Elena duga ada seseorang yang mengulurkan tissu didepan wajah Elena, membuatnya mendongak dan melihat siapa yang membantunya karena Elena masih berharap itu Evan.
"Lo?" tanya Elena.
Orang itu tersenyum jenaka pada Elena, lalu berjongkok dihadapan Elena sambil merapikan anak rambut Elena yang berantakan itu. Elena sedikit takut pasalnya ia jarang sekali melihat orang yang ada didepannya saat ini.
"Usap tuh, ingus kemana-mana!" ejeknya yang membiat Elena tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat Elena memerima tissu itu lalu mengambil benerapa lembar yang akan gunakan untuk mengusap ingusnya.
"Makasih!" Elena memberikan tissu bekasnya apda orang itu.
"Cih, lo jadi cewek jorok banget sih! Pantes si Evan gak suka sama lo," cibir orang itu.
Elena membulatkan matanya sempurna, ia tak terima dituduh jorok oleh orang itu. Elena yang tadinya bersedih kini berubah menjadi seseorang yang sedang ditagih hutang.
"Gue gak jorok cuma hari ini aja gue kaya gini, lo mah gak tau rasanya gimana jadi gue!" ketus Elena.
"Gimana?" tanyanya.
"Bayangin aja lo udah suka sama orang dan berharap sama dia, tapi apa yang lo dapat? Saat dia lebih memilih orang lain dari pada lo yang jelas-jelas selalu ada didekatnya!" netra Elena berkaca-kaca saat mengatakan hal itu, kesal, perih, sakit dan kecewa itulah yang ia rasakan saat ini.
"Lo gak tau kan rasanya gimana?" tanya Elena menatap tajam orang didepannya ini yang seolah sedang meremehkannnya.
"Really?" menerima uluran tangan seseorang itu.
"Gue bahkan lebih sakit lagi saat gue tahu orang yang dia suka adalah sahabat gue sendiri, dan dia lebih milih pergi jauh dari pada menjelaskan semuanya sama gue.
"Miris ya?" gumam Elena, "Kenapa hati berlambuh pada orang yang salah, kenapa harus merasakan sakit yang teramat sakit seperti ini?"
Orang itu hanya diam saja, lalu menatap Elena serius, "Gue bisa bantu lo, buat daperin Evan,"
"Serius?" tanya Elena.
"Lebih dari serius, asal lo tau gue gak seneng lihat dia bahagia sedangkan gue? Gue masih terbayang pada seseorang dimasa lalu," katanya terd3ngar miris.
Elena mengusap air matanya yang masih lolos begitu saja di pipi Elena, ia tak merasa risih atau malu didepan orang itu. Lalu mengusapkan tangannya pada seragam yang ia pakai saat ini.
"Gue Elena," kata Elena.
Orang itu tersenyum tipis menyambut uluran tangan Elena, "Marchel!"
"Oke sekarang kita tim?" tanya Elena bersemangat seolah habis diisi daya hingga full. Marchel mengangguk saja.
"Jadi apa rencana lo buat pisahin mereka, gue udah gak sabar pengen banget lihat Azza itu menderita dan merasakan apa yang gue rasain saat ini," kata Elena jujur.
"Tunggu jangan terburu-buru, kita biarkan aja dulu untuk beberapa waktu ini!" jelas Marchel.
"Terus lo mau nunggu sampai mereka bener-bener punya perasaan gitu!" bentak Elena.
"Lo berani bentak gue?" tanya Marchel sambil berjalan mendekati Elena, sedangkan Elena refleks memundurkan langkahnya.
"Ma-maaf gue terbawa suasana," elak Elena.
"Awas aja kalau lo sampai berani macem-macem soal kerja sama kita, atau sampai lo beberin semuanya lo akan tanggung semua akibatnya!"
Elena yang mendengar itu hanya bisa diam menganguk beberapa kali sebagai tanpa mengerti.
"Lalu apa yang harus kita lakuin saat ini?" ranya Elena.
"Kita pantau aja dulu, biarkan mereka memiliki rasa terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka berpisah," kata Marchel sambil tertawa, namun tawa itu terdengar mengerikan.
"Baiklah!"
Setelah itu mereka pergi kembali ke kelas masing-masing tapi sebelum itu Elena pergi ke toilet terlebih dahulu untuk merapikan pakaian dan mencuci wajahnya agar terlihat segar kembali.
Sedangkan Marchel ia merasa sangat semang karena ada seseorang yang mau ia suruh-suruh untuk mencari tau kelemahan Evan. Ia bersungguh-sungguh ingin merebut semua yang Evan miliki. Walaupun ia tahu jika bukan gara-gara Evan gadis itu pergi, tapi Marchel tak perduli dan melimpahkan semuanya kepada Evan. Marchel bahkan tak menerima penjelasan Evan terlebih dahulu, karena ia hanya percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar.
"Permainan baru dimulai, Van... lo tunggu saja kejutannya! Hahahaa!" tawa Marchel menggema sepanjang koridor.
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak, Like Fav, Vote dan kaish hadiah oke!