Evanzza

Evanzza
Ayang!!



Gavin tengah duduk santai menikmati secangkir kopi bersama Rafa, sang ketua osis itu mencuragkan isi hatinya kepada Rafa. Rafa pun hanya bisa menjadi pendengar yang baik disaat sahabatnya sedang galau.


"Menurut lo gue harus gimana, Raf?" tanya Gavin.


"Gimana apa? Ngomong yang jelas jangan pakai kode-kode kek cewek tau gak!" protes Rafa, karena ia memang tidak paham maksud perkataan Gavin.


"Orang yang gue suka udah punya pacar," saut Gavin malas.


"Siapa? Bella, Naya atau Diandra?" tanya Rafa, pasalnya perempuan-perempuan itulah yang saat ini dekat dengan Gavin tapi sayangnya cowok itu belum juga memberi kepastian kepada mereka.


"Bukan mereka, Raf! Cewek yang waktu itu gue hukum," jelas Gavin sambil menatap Rafa.


"Cewek dingin itu maksud lo?" tanya Rafa memastikan, Gavin pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Rafa.


"Wait, lo beneran suka apa cuma penasaran dong nih?" tanya Rafa lagi.


"Entah, gue gak tau Raf! Tapi sayang dia pacarnya Evan," ucap Gavin sedikit lesu mengingat kejadian tadi waktu disekolah.


"Evan? Jadi yang waktu itu kita ketemu di deket kantin mereka?" tanya Rafa.


"Pantes gak mau nunjukin wajahnya, emang bener takut lo tikung!" lanjut Rafa sambil terkekeh.


"Si al an, lo!" kesal Gavin.


"Saran gue mending lo sama cewek-cewek yang deket sama lo itu deh... dari pada sama dia, hati lo tuh cuma penasaran Aja, Vin!"


"Ibaratnya nih dicafe ini ada menu baru, nah lo penasaran doang sama menu baru itu... setelah lo tau udah biasa aja, nah itu bukan cinta kek gitu, Vin!" jelas Rafa.


"Sok tau banget sih lo, dasar pasangan ldr!" ledek Gavin.


Sahabatnya satu itu bukan jomblo atau suka baperin anak gadis orang seperti Gavin, Rafa beda. Dia sedang berjuang dengan jarak dan waktu, bahkan terkadang hubungan mereka terkendala oleh sinyal saat hujan lebat. Tapi siapa yang menyangka jika Rafa bisa bertahan dengan pacaran nya itu meski mereka terpisah oleh jarak. Bahkan Rafa selalu menjaga jarak dengan perempuan-perempuan yang mencoba mendekatinya, ia tak perduli jika dijuluki pacar Gavin karena kemana-mana selalu bersama Gavin.


Rafa tipe laki-laki bucin tapi juga setia, awalnya ia tak ingin hubungan jarak jauh. Karena ia takut jika pasangannya macam-macam disana, tapi ternyata gadis itu beda dari yang lain. Gadis itu mampu menyakinkan Rafa jika dia tidak akan mendua, bahkan gadis itu tak malu selalu memberi kabar terlebih dahulu dan bercerita apapun yang ia lewati seharian itu.


Terkadang Gavin pun merasa iri dengan hubungan Rafa dengan pacarnya, ia juga ingin seperti Rafa yang bisa setia pada seseorang yang tulus. Maka nya sampai sekarang ia belum memberikan kepastian pada perempuan yang dekat dengannya, karena ia ingin memilih seseorang yang benar-benar tulus dengannya.


"Biarin ldr yang penting ada ayang! Nah lo sendiri jomblo," sindir Rafa sambil menyesap kopinya.


"Wah songong mentang-mentang ada ayang! Gue juga ada ayang," kata Gavin antusias.


Rafa yang mendengar itu pun menjadi penasaran pasalnya Gavin belum memiliki pasangan sampai saat ini.


"Mana, coba lihat! Palingan lo halu in artis-artis korea," cibir Rafa.


"Lo gak percaya banget sih sama gue, Raf! Lihat nih!" Gavin pindah ke kursi yanh dekat dengan Rafa lalu menunjukkan ponselnya pada Rafa. Seketika itu wajah Rafa langsung membulat sempurna.


"Ini ayang gue!" kata Gavin.


"Si al an! Gue masih normal!" kesal Rafa sambil menyingkirkan ponsel Gavin dari hadapannya.


Sedangkan Gavin terkek geli melihat ekspresi Rafa, ya Gavin tengah membuka ponselnya dan menekan menu camera sebelum menunjukkannya pada Rafa. Jadi saat Rafa penasaran dengan ayang yang dimaksud Gavin, ia langsung menunjukkan ponselnya yang sudah terlihat wajah Rafa disana.


"Kelamaan jomblo jadi oleng lo, Vin!" gerutu Rafa sambil menjaga jarak dengan Gavin.


"Ayang Rafa jangan jauh-jauh ih, sini deketan!" goda Gavin dengan nada manjanya.


"Jijik, Vin! Astaga, amit-amit gue pait! Jauh-jauh lo dari gue!" gerutu Rafa.


Sedangkan Gavin pun tertawa puas bisa menjahili sahabatnya itu. Namun tawanya perlahan memudar saat ia samar-samar mendengar seseorang membahas nama Evan, Gavin yang penasaran pun menajamkan pendengarannya.


"Kenapa Vin?" tanya Rafa penasaran.


"Entah ada yang bahas nama Evan," celetuk Gavin.


Sofa dicafe itu cukup tinggi sehingga bisa digunakan sebagai sekat juga.


"Gue gak mau tau ya, pokoknya lo harus buat mereka pisah!"


"Hmm!"


"Jangan hmm doang, gue serius! Mereka makin hari makin deket tau gak, gue gak mau kalau Evan sampai udah jatuh cinta sama cewek itu bisa susah pisahinnya,"


"Terus mau giamana? Habisin Evan?"


"Jangan lah, gue gak mau Evan kenapa-kenapa! Awas aja lo kalau sampai Evan lecet sedikit aja!" tegasnya.


"Ribet!" gerutu laki-laki itu.


"Lo deketin yang cewek buat dia suka sama lo, nanti gue yang bilang sama Evan kalau cewek nya selingkuh!"


"Yakin berhasil?" tanya nya.


"Ya coba dulu, kalau gak di coba man kita gak tau!"


"Cih, oke! Kalau gagal pakai rencana gue," ucapnya sambil tersenyum devil.


"Apa rencana lo?"


"Gue mau patahin salah satu tangannya biar kapok!"


"Jangan! Gue gak setuju!" protes gadis itu.


"Gue gak butuh persetujuan lo!" setelag mengatakan itu, cowok itu pergi begitu saja.


"Awas lo kalau sampai Evan kenapa-kenapa!" teriak gadis yang tak lain adalah Elena.


Gavin pun memandang Rafa dalam diam, seolah ada ikatan batin Rafa pun mengangguk sambil menggoyangkan ponselnya yang telrihat menyala dengan waktu yang masih berjalan.


Setelah mematikan rekaman itu, Rafa langsung meminta persetujuan Gavin.


"Terus gimana? Kita kasih tau Evan?" tanya Rafa.


"Kasih tau gak? Dia anggota osis kita dan gue sebagai ketua osis gak ingin ada yang terluka!"


"Yaudah besok kita kasih tau Evan, dia pasti akan percaya sama kita apalagi dengan bukti ini," kata Rafa yakin.


"Entahlah, Raf! Soalnya tadi pas disekolah gue bilang mau rebut pacar nya!" jujur Gavin merasa bersalah, ia hanya emosi sesaat saja sehingga mengatakn itu. Ia tak sejahat itu yang harus merusak kebahagiaan orang lain demi kebahagiannya sendiri.


"Lo sih, emosian mulu yang di duluin," gerutu Rafa.


"Khilaf, Raf!" celetuk Gavin sambil terkekeh.


Kemudin mereka berdua memutuskan untuk pulang karena langit terlihat mendung, mereka tak ingin sakit hanya karena kejuahan.


Selama perjalanan Gavib terus memikirkan perkataan Rafa, mungkin benar saja ia hanya penasaran bukan rasa suka seperti apa yang ia pikirkan. Apalagi saat ini ada orang yang ingin menghancurkan hubungan Evan dengan pacarnya, Gavin memutuskan untuk membantu Evan.


...----------------...