Evanzza

Evanzza
Ketos royal



Lelah dan capek terbayarkan sudah, setelah beberapa minggu mereka sibuk menyiapkan pemilihan ketua osis yang baru. Senyum lega dan bahagia tak pernah lepas dari wajahnya, akhirnya semua kerja keras selama ini tak terbuang sia-sia. Apalagi ia memiliki teman dan juga seseorang yang menjadi suport sistemnya. Azzalea selalu membantu dan mensuport Evan agar tetap semangat meski saingannya begitu berat.


"Selamat ya! Akhirnya lo yang jadi penerus gue," kata Gavin sambil memberikan selamat pada Evan, tak lupa mereka berpelukan ala cowok pada umumnya.


"Makasih, semua ini berkat dukungan kalian!" Evan pun membalas pelukan Gavin.


"Kalau gak ada kakian gue gak tau bisa sampai dititik ini atau gak!" lanjut Evan sedikit melow, kemudian mereka melepaskan pelukan itu.


"Akhirnya gak jones lagi!" ledek Vion.


"Buruan lah di tembak mumpung masih anget," celetuk Rafa.


"Hah? Apa nya yang masih anget, Raf?" tanya Gavin yang sudah sedikit traveling.


"Kata-kata lo buat gue anu!" celetuk Vion sambil terkekeh.


"Ketua osis kita lah, baru juga dilantik kan masih anget! Hoo, kalian mikirnya apaan? Dasar otaknya udah tercemar ya kaya lo pada, dikit-dikit traveling!" Rafa hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap heran sahabat sekaligus adik kelasnya itu.


"Kalau kata-kata lo selalu menjurus ambigu, ya kita gak traveling lah, Raf!" sela Gavin.


"Iya, lo butuh healing kaya nya Raf! Biar seger tuh hati sama pikiran," ledek Vion sambil terkekeh.


"Kaya nya lo butuh bertemu doi deh Raf, biar kalau ngomong tuh jelas!" Evan merangkul bahu Rafa.


"Dih, kenapa kalian jadi komentarin gue? Mending minta traktir sama Ketos baru kita ini!" Rafa mencoba mengalihkan pembicaran mereka.


"Lah ngles aja lo, kang LDR!" ledek Vion samnol terkekeh..


"Bodo amat!"


"Ngambek, uluh-uluh ayang Rafa ngambek," goda Gavin sambil mencibit pipi Rafa gemas.


"Apaan sih, Vin! Lo itu kelamaan jomblo jadi suka sama gue ya?" tanya Rafa kesal.


"Mending jomblo, Raf! Lah lo? Ngaku nya punya pacar tapi rasa jomblo gitu!" Gavin terkeheh dan diikuti yang lainnya.


"Udah-udah jadi traktir gak?" tanya Evan.


"Jadi!" seru mereka bertiga kompak.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat seorang perempuan datang menyapa mereka dengan membawa sebuah hadiah yang entah apa isinya.


"Van!" panggilnya, membuat mereka berempat menoleh secara bersamaan padahal hanya Evan saja yang dipanggil.


"Kenapa Len?"


"Selamatnya sudah jadi ketua osis!" dengan tangan yang menyodorkan hadiah itu didepan Evan.


Evan pun ragu untuk menerima hadia itu atau gak, bahkan ia sampai meminta persetujuan sahabatnya. Sedangkan mereka hanya menaikkan bahunya sebagai jawaban.


Disisih lain ada Azzalea yang berencana menghampiri Evan dan memberikan ucapan selamat tapi apa yang ia lihat saat ini pemandangan yang selalu membuat hatinya nyeri. Azzalea sadar jika Evan memang salah satu laki-laki yang banyak memiliki penggemar apalagi setelah dirinya menjadi ketua osis, mungkin Azzalea harus banyak bersabar karena pasti tak hanya satu dua yang mencoba mendekati Evan.


Azzalea masih diam ditempatnya, ia ingin taju apa yang akan dilakukan Evan.


"Apa ini, Len?" tanya Evan.


"Hadiah buat lo, karena udah jadi ketua osis," saut Elena dengan senyum manis.


"Gak usah, Len! Takut ngerpotin," kata Evan.


"Gak repot kok, Van! Gue cuma mau kasih lo hadiah atas pelantikan lo doang, diterima ya!" pinta Elena.


Dengan berat hati Evan mengulurkan tangannya untuk mengambil hadiah itu, tapi belum sampai menyentuh hadiah itu sudah melayang diudara. Membuat mereka semua heran karena ada orang yang mengambil hadiah itu lebih dulu.


"Makasih ya! Padahal gak perluh repot-repot loh!" terdengar suara nan dingin begitu menusuk telinga ditambah senyum tipis atau lebih tepat nya senyum mengejek pada Elena.


"Ale-ale!" pekik Evan tak menyangka dan bahagia, gadis yang ingin ia lihat setelah acara pelantikan selesai akhirnya muncul.


"Lo dari mana aja? Kenapa baru muncul?" tanya Evan yang tak menghiraukan orang lain lagi.


"Maaf, tadi habis dadi toilet dulu," saut Azzalea, kini ekspresi nya sudah berbuah hangat tak sedingin saat menatap Elena tadi.


Evan pun mengangguk, lalu mengajak sahabatnya ke kantin untuk melanjutkan acara traktiran.


"Van itu hadiah buat lo bukan buat dia!" kesal Elena.


"Sama aja, Len!" saut Evan kemudian meninggalkan Elena sendiri yang masih berdiri ditempatnya.


Sedangakn Azzalea ia menatap sinis ke arah Elena, dengan senyum devil yang terlihat jelas. Hal itu semkain membuat Elena kesal.


Kelima orang itu sudah berada dikakntin sekolah dan memilih meja yang sudah ada Ghea, Nessa, Dafa dan Cakra, hubungan mereka semua akhir-akhir ini semakin dekat. Meskipun tak dipungkiri ada banyak cinta dalam diam diantara persahabatan mereka.


Seperti Vion yang terlihat memendam perasaannya pada Nessa, gadis imut yang sedikit ke kanan-kanakan itu. Begitu juga dengan Gavin yang tanpa sadar memiliki perasaan pada Ghea, gadis cerewet dan pemberan itu mampu menarik perhatian Gavin. Sedangkan Cakra, walaupun mulutnya sudah mengatakan iklas melihat Azzalea bersama Evan tapi tidak dipungkiri masih ada rasa itu untuk Azzalea. Dan jika Evan berani menyakiti Azzalea, Cakra tak akan segan lagi dengan Evan tentunya.


"Cih, kenapa jadi patung semua?" tanya Dafa yang bingung dengan mereka semua.


"Eh, pesen makanan sana Daf! Gue traktir!" perintah Evan yang langsung disambut senang oleh Dafa.


"Ketos baru kita ini emang royal banget! Sering-sering ya pak ketos!"


"Heran gue sama lo, Daf! Bokap lo banyak uang tapi masih aja suka yang gartisan!"


"Hemat gue, Ghe! Buat modal nikahin lo!" seru Dafa asal membuat mereka tertawa dengan candaan Dafa yang entah serius atau tidak.


"Gue gak mau nikah sama orang pelit kaya lo! Mendingan gue sama Evan aja!"


"Uhuuk!" Gavin tersedak mendengar candaan Ghea.


"Makan aja belum udah keselek aja, Vin!" ledek Rafa, ia tahu jelas perasaan Gavin. Karena cara memandang Gavin terlihat sangat berbeda ketika menatap Ghea.


"Berisik!"


Sedangkan Azzalea sudah memelototkan matamya menatap kesal sahabatnya itu, bisa-bisannya bercanda menggunakan nama orang yang sudah mengisi hatinya.


"Ampun bu boss! Gue cuma bercanda, gak akan rebut Evan dari lo kok! Jadi matanya dikondisikan yee .... Udah hampir keluar itu," kata Ghea terkekeh.


"Apaan sih, Ghe! Gak jelas banget!" gerutu Azzalea.


"Cemburu?" tanya Evan sambil melirik Azzalea yang duduk disebelahnya.


"Gak, ngapain cemburu emang gue siapa nya lo!" elak Azzalea.


"Oh gak cemburu? Yaudah gue sama Ghea aja," goda Evan yang sudah bersiap berdiri.


"Jangan!" kata Gavin dan Azzalea bersamaan, sedangkan Evan pun tersenyum manis sambil mengacak-acak rambut Azzalea.


"Lo kenapa Vin? Jangan bilang lo juga suka sama Evan?" tanya Vion yang tidak peka.


"Lo gak tau, Vi? Si Gavin kan sukmp—" mulut Rafa sudah disuapi kerupuk oleh Gavin sehingga lanjutan perkataan Rafa tak terdengar jelas lagi.


"Gavin itu—"


"Kalau lo berani ngomong, gue gak akan bantuin rencana lo nanti, Van!" ancam Gavin yang sudah menyela perkataan Evan. Akhirnya mau tidak mau Evan menutup mulutnya rapat-rapat, sedangkan Rafa terkekeh geli melihat Gavin salah tingkah.


"Apaan sih? Gak jelas kalian!" seru Cakra.


"Ini satu sensi amat sih jadi orang?" ledek Dafa yang duduk disebelah Cakra.


"Bodo amat!" ketus Cakra.


...----------------...