
Tak jauh berbeda dengan Azzalea, Evan pun juga seperti orang gila. Sejak mendaratkan kakinya dirumah, ia terus saja tersenyum sendiri apalagi ketika mengingat wajah kesal Azzalea yang terlihat imut dan menggemaskan. Untung saja hari ini kedua orang tuanya sedang sibuk dirumah sakit sehingga tak akan ada yang menganggu kesenangan Evan.
Evan berlari dan menari seperti sedang berdansa dengan seseorang, sesekali mulutnya melantunkan lagu yang sangat merdu. Asisten rumah tangga yang sedang berada didapur pun tertawa sendiri melihat tingkah anak majikannya itu.
"Kau bidadari jatuh dari surga dihadapan ku eaaa!"
"Kau bidadari—"
Tiba-tiba saja Evan menghentikan tingkahnya karena melihat suara tertawa seseorang yang tak lain adalah asisten rumah tangganya, ia menjadi malu sendiri karena Evan pikir tidak ada orang.
Evan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu memasang senyum pepsodennya. Setelah itu ia langsung lari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
BRAK!
Suara pintur kamar itu terdengar hingga lantai bawah, sedangkan bibi yang ada dibawah terus terkekeh melihat tingkah Evan.
"Duh, kenapa gue sampai lupa kalau ada bibi dirumah!" gerutu Evan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Mau ditaruh dimana wajahku ini," gumamnya lagi.
Evan meletakkan tas sekolahnya ditempat biasa lalu ia segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama untuk Evan menyelesaikan semua rutinitasnya itu, kini ia sudah segar dengan balutan pakaian santai.
Saat Evan sedang berdiri didepan kaca ia langsung menghentikan gerakan menyugar rambutnya, karena ia melihat sosok Azzalea yang sedang berdiri dibelakangnya sambil melipatkan tangannya di depan dada.
"Lo, lo ngapain disini?" tanya Evan menatap pantulan dirinya didepan kaca yang disebelahnya ada Azzalea.
"Sejak kapan lo masuk ke kamar gue?" tanya Evan lagi.
Evan tak bisa berkata-kata karena ada Azzalea dikamarnya, rasa antara malu dan senang menjadi satu. Tapi sayangnya Azzalea hanya diam saja sambil menatap Evan.
"Kenapa lo natap nya kaya gitu? Lo gak suka rambut gue diginiin?" tanya Evan yang sedang menata rambutnya sehingga membentuk sebuah jambul.
"Oke-oke gue rubah!" Evan mengacak-acak rambutnya sehingga terlihat berantakan dan Evan melihat senyum Azzalea.
"Oh lo suka gaya bad boy gini, ya?" tanya Evan, "Cocok sih sama selera lo yang dingin tapi bar-bar hehe!"
"Jujur aja nih, gue kira orang pendiem kaya lo tuh kalem lemah lembut gitu... eh gak tau nya jago berantem mana panjat pager juga," kata Evan sambil mengingat kejadian waktu mereka berdua terlambat.
Hening, tak ada sautan satu pun dari Azzalea padahal Evan sudah bertanya panjang kali lebar. Gadis itu hanya menatap Evan sesekali tersenyum dan mengerucutkan bibirnya saja.
"Lo sariawan atau gimana sih, berasa ngomomg sama bayangan tau gak!" kesal Evan.
Evan yang sudah selesai merapikan rambutnya langsung berbalik untuk berbicara langsung dengan Azzalea tapi ia sangat terkejut saat tidak ada siapapun didalam kamarnya itu.
"Azza?" panggil Evan melihat sekeliling kamarnya.
"Gak usah main petak umpet deh sama gue, gue paling jago loh soal tangkap menangkap hehe!" Evan terus mencari keberadaan Azzalea sampai-sampai didalam almari pun ia cari tapi masih saja tak menemukan Azzalea.
"Hey! Es Ale-Ale seribuan dapet dua eh salah ya kan seribu cuma dapet satu," ucap Evan sambil terkekeh.
"Lo dimana sih? Keluar gak!"
Setiap sudut kamarnya sudah dicari tapi tak menemukam Azzalea dimana pun, sehingga Evan memutuskan untuk bertanya pada sang bibi yang sedang sibuk membuat makan malam.
"Bii bibi!" panggil Evan sambil menuruni anak tangga.
"Iya den ada yang bisa bibi bantu?"
"Bibi tadi lihat temen Evan gak turun dari lantai atas?" tanya Evan.
"Temen, temen yang mana ya den?" tanya bibi.
"Temen yang cantik bi, rambutnya panjang gitu... dia tadi ada dikamar Evan tapi kaya nya udah turun duluan deh!" jelas Evan.
"Apa den Evan bisa lihat hantu? Rambut panjang, perempuan, cantik? Jangan-jangan mak kun lagi?" batin bibi.
"Bi, bibi lihat gak? Kok malah bengong sih?" tanya Evan yang membuat bibi tersadar dari lamunannya.
"Eh, anu bibi gak lihat den.. mungkin udah pulang temennya," kata bibi.
"Masa sih? Orang tadi baru aja dari kamar Evan kok masa cepet banget pulangnya?" keluh Evan.
"Itu den, se-sebenarnya sejak tadi gak ada tamu... aden pulang sendiri dan dirumah cuma ada bibi sama pak satpam aja, orang tua den Evan kan masih piket dirumah sakit," jelas bibi sedikit takut.
"APA! Jadi temen Evan gak kesini? Terus tadi yang Evan lihat siapa bi?" tanya Evan tak percaya, sedangkan sang bibi hanya bisa menggeleng saja.
Evan mengusap wajahnya kasar, ia melihat dengan jelas jika tadi ada Azzalea dikamarnya dan apa ini? Sang bibi bilang jika tidak ada siapa pun yang masuk kedalam rumah selain Evan saja. Lalu Azzalea kemana? Semua pertanyaan itu terus memenuhi kepalanya hingga membuat Evan pusing.
"Diminum dulu den," kata bibi sambil memberilan segelas air putih.
"Makasih, bi!"
"Bibi lanjut masak dulu, ya... kalau butuh apa-apa panggil bibi saja," kata sang bibi setelah itu kembali ke dapur sedangkan Evan masih memikirkan keberadaan Azzalea.
"Apa tadi cuma ilusi gue aja?" gumam Evan lalu menenggak habis segelas air putih itu tanpa sisa.
"Tapi kenapa terlihat nyata banget sih, astaga! Gue ini kenapa sih?" monolog Evan.
Evan memilih kembali ke dalam kamarnya mungkin saja ia bisa bertemu dengan Azzalea lagi jika dia benar-benar bersembunyi didalam kamarnya.
Cklek!
Pintu kamar terbuka lebar dan lihat lah kosong, tak ada siapa pun. Bahkan suara nyamuk saja tidak terdengar ditelinga Evan.
"Hufftt!"
Evan lalu mengambil sebuah gitar yang berara disudut kamar, lalu ia berjalan menuju balkon kamarnya. Terlihat langit sore perlahan berubah warna menjadi sedikit lebih gelap, warna hangat jingga perlahan memudar berga ti dengan gelapnya malam.
Evan memetik senar gitarnya hingga terdengar lantunan melody nan merdu dan syahdu, membuat siapa saja yang mendengarnya akan ikut larut dalam alunan nada itu.
Pikiran Evan masih tak bisa lepas dari seorang gadis yang sudah mencuri hati dan pikirannya. Membuat Evan semakin bersungguh-sungguh untuk memenangkan hati Azzalea.
"Gue pastiin lo akan jadi pacar gue, dan satu-satunya calon istri gue!"
Setelah mengatakan itu Evan langsung bersenandung sesuai dengan isi hatinya.
"Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan
Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada
Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku
Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku
Aku jatuh cinta kepada dirinya
Sunguh-sungguh cinta, oh, apa adanya
Tak pernah kuragu namun tetap selalu menunggu
Sungguh aku jatuh cinta kepadanya"
(Aku jatuh Cinta - Roket)
...----------------...