Evanzza

Evanzza
Susah Dimengerti



Sebuah motor sport memasuki lingkungan sekolah yang nampak tenang tak seperti biasanya yang lebih mirip taman kanak-kanak, bayangkan saja diusia mereka yang sudah remaja masih saja ada yang berlarian kesana-kemari hanya karena persoalan sepele. Tapi kali ini mereka terlihat lebih kalem, buktinya mereka hanya menunduk sambil berjalan bukan karena ada uang jatuh melainkan mereka sibuk menghapalkan materi yang akan keluar saat ulangan.


Ya hari ini adalah hari dimana mereka akan melaksanakan ujian kenaikan kelas yang akan dilakukan selama dua minggu kedepan.


Evan membuka helm full facenya lalu menggelengkan kepalanya sedikit agar rambutnya terlihat lebih rapi lagi. Bahkan ia tak malu menyugar rambutnya dengan jari sambil menatap kaca spion, ia harus tampil keren didepan calon pacarnya, Azzalea.


Senyum tipis tersungging disudut bibirnya, saat wajah itu terlihat tampan menurut Evan. Evan tak menyadari jika sejak tadi ada yang memperhatikan dari balik kaca mobil, ia bahkan terkekeh sendiri dengan tingkah konyol Evan.


"Andai lo jadi milik gue, Van ... Gue pasti akan jadi orang paling bahagia didunia ini," gumamnya menatap punggung Evan yang semakin menjauh.


Tok tok tok!


Lamunannya buyar ketika terdengar suara orang mengetuk kaca mobilnya, lalu dengan malas ia menurunkan kaca mobil itu.


"Apa?" sewotnya yang tak lain adalah Elena.


"Sadis amat mbak, inget masih pagi jangan makan orang," ucapnya sambil terkekeh.


"Biarin!" Elena menutup pintu mobilnya dan menatap gadis yang tadi berani mengganggu ia menghalu.


"Pms mbak?" tanya Andini terkekeh.


"Btw lo udah belajar belum?" tanya Andini sambil merangkul lengan Elena berjalan menuju kelas mereka.


Elena menoleh ia manatap Andini dengan tatapan yang dapat dibaca oleh sahabatnya itu. Lalu secara bersamaan mereka mengeluarkan sebuah kertas yang sudah dilipat kecil hingga menyerupai kertas undian, mereka menatap sambil menaikan sebelah alisnya detik berikutnya terdengar mereka tertawa bersama.


"Kebiasaan!" celetuk Andini sambil memasukan kembali kertas kecil itu begitu juga dengan Elena.


"Kan kita sama bestie!"


"Semoga gak ketahuan aja, bisa dapet nol kalau ketahuan," kata Andini dengan wajah serius.


"Jangan sampai!"


Mereka bersama-sama berjalan menunu kelas tapi sayangnya saat berada di koridor dekat kelas Mipa mereka berdua melihat pemandangan yang sangat membuat hati Elena sakit.


Dilihatnya Evan tengah memamerkan deretan gigi putihnya kepada Azzalea, bahkan tangan cowok itu dengan mudahnya mengusap pucuk kepala Azzalea gemas. Sedangkan Azzalea sendiri terlihat mengerucutkan bibirnya dengan perlakuan Evan.


Lalu terlihat Evan sibuk menjelaskan sesuatu pada Azzalea, sedangkan Azzalea hanya mengangguk saja sesekali ia menatap wajah tampan Evan dalam diam.


"Jangan dilihatin terus, nanti lo gak fokus ulangannya!" Evan mengatakan hal itu tanpa mengalihkan tatapanya dari buku yang ada dalam pangkuan Azzalea.


Azzalea hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, sedangkan Cakra sudah berdecak kesal pada Evan. Lalu kembali sibuk dengan ponselnya padahal yang lain sedang berlajar.


"Sabar, Len! Lo itu gak boleh nunjukin kalau lo suka sama dia, apalagi lo pernah ditolak Evan kan? Nah lo harus mulai deketin Evan secara perlahan, buat hubungan kalian berdua baik dulu. Kalau udah cari kesempatan buat Evan bener-bener suka sama lo!" nasehat Andini yang tahu betul perasaan sahabatnya itu.


"Penolakannya juga jangan diperjelas gitu, bisa!" kesal Elena sambil menghentakkan kakinya.


"Hehe maaf, Len!"


"Huh!"


"Lo tau gak? Evan itu seperti mapel pertama ujian hari ini," kata Andini sambil mematap Evan.


"Bahasa Indonesia?" tanya Elena tak paham dengan apa yang di pikirkan sahabatnya itu.


Andini mengangguk sebagai jawaban, "Iya, butuh berulang kali memahami bacaan yang panjang itu sampai kita bener-bener yakin sama jawaban yang hampir sama itu!" jelas Andini.


"Terus persamaannya apa sama Evan?" tanya Elena tak sabar.


"Sama-sama susah dimengerti," celetuk Andini sambil terkekeh tapi tidak dengan Elena.


"Gak jelas lo, Din!"


Treett teedd!


Bel sudah berbunyi dengan jelas diseluruh penjuru sekolah, lalu terlihat mereka bergegas masuk kedalam kelas yang akan digunakan sebagai tempat ulangan kenaikan kelas. Kali ini satu ruang hanya diisi oleh 20 siswa saja, untuk menghindari saling menyontek. Sehingga kelas dua belas masuk siang setelah kelas sepuluh dan sebelas selesai ulangan.


"Semangat ya ulangannya, jangan kecewain calon suami lo ini," ucap Evan sambil terkekeh.


Bugh!


Azzalea memukul perut Evan pelan, kata-kata Evan membuatnya kesal sekaligus senang.


"Semangat juga!" setelah mengatakan itu Azzalea masuk kedalam kelasnya sendiri sedangkan Evan masih berdiri didepan pintu mengamati Azzalea hingga duduk dikursinya baru setelahnya ia ke kelasnya sendiri.


Hanya sebuah ucapan dari Azzalea saja sudah membuat Evan terbang melayang ke angkasa. Bahkan ia tak hentinya tersenyum membuat mereka yang menatap Evan merinding.


"Paling habis dari kelas sebelah, jadi kaya gitu!" jawab Vion menatap aneh Evan.


"Heh, masa kelas sebelah kita angker?" tanya Dimas.


Vion membalik tububnya menatap Dimas dengan serius lalu dia menyuruh Dimas mendekat dan membisikan sesuatu.


"Angker banget, lo liat aja nanti setiap Evan dari kelas sebelah pasti dia senyum-senyum sendiri, ngomong sendiri, bengong, bahkan nih ya dia bakal marah-marah gak jelas juga!"


"Se-serius lo?" tanya Dimas yang mulai ketakutan.


"Ya gak lah! Penakut banget sih lo, Dim!" Vion tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Dimas yang sudah pucat dan ternyata ia hanya mengerjai Dimas saja.


"Lo bohongin gue? Gue udah panik beneran ogeb!" kesal Dimas sambil menendang kursi yang diduduki Vion, karena ia duduk tepat dibelakang Vion.


"Hahhaa lo sih penakut," ledek Vion.


"Gue bukan penakut ya! Cuma menghindari yang berbau mistis," kata Dimas serius.


"Iyelah tuh!"


"Kalian ngomongin gue ya?" tanya Evan yang sudah sadar.


"Iya!"


"Gak!"


Dimas dan Vion saling menatap tajam, Vion tak mengizinkan Dimas mengadu pada Evan.


"Yang bener siapa?" tanya Evan sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Gue!" kata Dimas dan Vion bersamaan.


"Vion bilang lo kesambet dikelas sebelah," ucap cepat Dimas yang lansung mendapat tatapan tajam dari Evan dan Vion.


"Maksud lo gue kerasukan gitu?" tanya Evan mematap Vion dan Dimas bergantian.


"Hehee!" Vion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tak bisa menjwab pertanyaan Evan karena takut salah paham. Sedangkan Dimas mengangguk beberapa kali.


"Vion?"


"Lo, lo kan emang udab kerasukan setan bucin!"


"Setan bucin?" tanya Evan.


"Iya, lo sekarang kan lagi bucin aama Azzalea dari kelas sebelah," kata Vion.


"Terus lo cemburu gitu, sampai bilang gue kerasukan?" tanya Evan.


"Lo cemburu?" lanjut Evan dengan wajah serius.


Sedangkan Dimas menatap Vion dan Evan secara bergantian lalu menutup mulutnya seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Senyum manis terlihat disudut bibir Dimas.


"Oh, gue paham sekarang!"


"Paham apa?" tanya Evan.


"Kalau kalian berdua uhuukk! Iya kan haha?" tanya Dimas sambil terkekeh.


"Uhuk apa?" tanya Evan kesal.


"Anu itu, kalian ada hubungan spesial kan?" tanya Dimas.


"WHAT! GUE NORMAL!" teriak Vion dan Evan bersamaan.


"Pikiran lo udah tercemar dari mana sih, Dim! Astaga bisa-bisanya mikir kaya gitu?" tanya Vion.


"Iya juga gak apa-apa kali, gue paham!"


"Gila!" ucap Evan dan Vion bersamaan, sedangkan Dimas pun tertawa lepas. Bahagia sekali dia melihat ekspresi wajah Evan dan Vion seperti itu.


...----------------...


Jangan lupa vote nya kakak, klik vote dipojok kanan ya! Like coment juga terimakasih.