
Terlihat gerbang sekolah yang menjulang tinggi sudah tertutup rapat, namun tetap saja masih ada beberapa siswa yang datang terlabat. Terlihat siswa siswi itu sedang memohon kepada satpam sekolah untuk membuka kan pintu gerbang agar mereka bisa masuk. Namun sayangnya suara mereka tidak dihiraukan ataupun didengar oleh satpam, karena sebentar lagi akan ada guru piket bersama anggota osis lainnya yang datang untuk membuka gerbang.
Terlihat sebuah motor sport berwarna merah berhenti disamping sekolah, ia tengah mengamati keadaan didepan gerbang yang sudah ramai dengan beberapa siswa yang telat.
"Gara-gara papa nih, kan jadi telat!" gerutunya dibalik helm full face itu
Kemudian ia menyalakan mesin motornya menuju samping sekolah. Dan ternyata tak hanya dirinya saja karena ada satu motor yang mengikutinya dari belakang.
Motor sport merah itu menepi disebuah warung yang tak jauh dari lingkungan sekolah, setelah bercakap dan menitipkan motornya orang itu berjalan mendekati paggar sekolah yang cukup tinggi.
"Naik gak baik gak!" gumamnya beberapa kali hingga ia mendengar deru motor yang tak jauh darinya. Terlihat seorang cowok turun dari atas motor dengan menggunakan seragam sekolahnya, cowok itu terlihat mengamati motor sport merah yang ada didepannya.
"Ini motor kaya yang nolongin gue kemaren deh," monolog cowok itu.
Tak selang berapa lama cowok itu mendekati seseorang yang memakai hoody army tengah menatap pagar didepannya seoalah sedang memperkirakan bagaimana caranya ia melewati itu.
"Eh tunggu, hoody army?" gumam cowok yang tak lain adalah Evan.
"Bukannya hoody yang dipakai orang kemaren? Berarti kita satu sekolah dong!" pekiknya antusias.
Pluk!
Evan menepuk bahu kiri orang yang tengah menatap pagar sekolah yang cukup tinggi.
Evan menganati penanpilan seseorang yang ada disebelahnya itu, ia menutup kepalanya dengan tudung hoody lalu celana oalahraga melekat sempurna pada kedua kakinya. Tas yang digendong asal dibahu kanannya, bisa dipastikan dia seseorang yang sedikit nakal itulah yang terlintas dibenak Evan.
"Lo yang kemaren, ya? Ternyata kita satu sekolah!"
"Makasih buat kemaren, kalau gak ada lo mungkin gue udah dirumah sakit," kata Evan sambil terkekeh.
Hening.
Membuat Evan merasa canggung sendiri karena ia diabaikan, dengan memutar otaknya Evan berhasil mencari topik lagi agar tidak seperti orang yang bermusuhan hanya diam.
"Lo mau masuk juga kan?" tanya Evan.
"Hmm,"
"Yaudah bareng gue aja," ucap Evan sambil tersenyum manis. Lalu ia berjalan terlebih dahulu mencari posisi yang enak didekat pagar. Evan berjongkok menghadap tembok sehingga ia tak dapat melihat wajah seseorang itu.
"Naik!" kata Evan.
Orang itu masih diam karena ia tak paham maksud perkataan Evan.
"Naik ke punggung gue, gue bantuin lo naik dulu... habis itu lo bantu gue juga!" jelas Evan.
Sebenarnya orang itu tak mau berurusan dengan Evan. tapi melihat jam yang melingkar ditangan kirinya membuatnya terpaksa mengikuti perintah Evan.
Orang itu naik diatas punggung Evan, kemudian perlahan Evan berdiri sehingga orang itu mampu merah bibir panggar.
Hup!
Satu kali saja sudah bisa naik diatas dinding pagar yang lebarnya tak kurang dari sepuluh centi. Saat ia akan membantu Evan ternyata Evan sudah berada disebelahnya duduk dengan nyaman. Ya Evan memanjat pagar dengan mudahnya seoalah ia sudah terbiasa melakukan hal itu.
"Lo bisa turun sendiri kan?" tanya Evan.
"Hmmm," sautnya.
"Suaranya kok mirip seseorang ya.. tapi siapa?" batin Evan.
Tanpa aba-aba orang itu berhasil turun dengan mudahnya tanpa cedera atau luka sedikit pun, bahkan sekarang ia sudah berdiri dan segera pergi tapi sayangnya langkahnya terhenti saat mendengar suara anggota osis.
"Sial!" gumamnya sambil melangkah mundur bersamaan dengan Evan yang melompat turun.
"EH AWAS!" teriak Evan.
BRUK!
Mata Evan membulat dengan sempurna saat ia menyadari siapa yang ia bantu naik paggar tadi dan sekarang orang itu tengah tergeletak ditanah karena ulahnya yang turun secara tiba-tiba.
Evan tak menyangka jika orang yang sejak tadi ia ajak bicara adalah seseorang yang selalu mengisi pikirannya. Dan jika Evan tidak salah tebak gadis ini juga yang menolongnya kemarin.
"Minggir berat!" Azzalea memegangi kepalanya yang terasa berdenyut ditambah lagi beban tubuh Evan yang menimpa dirinya membuatnya semakin kesakitan.
"Sorry! Lo gak apa-apa kan?" tanya Evan sambil menyingkir dari tubuh Azzalea.
Azzalea hanya diam, ia memejamkan matanya sebentar untuk menghilangkan pusing akibat benturan kepalanya dengan tanah. Evan yang melihat itu merasa cemas, ia merasa bersalah karena tidak hati-hati.
"Ada yang sakit?" tanya Evan.
"Kepala gue," jawab Azzalea sekenanya.
Tanpa meminta persetujuan Azzalea, Evan langsung membantu gadis itu berdiri dan melihat apakah kepalanya baik-baik saja.
"Disini?" tanya Evan.
Azzalea mengangguk memang tepat yang dipegang Evan lah yang terasa sakit. Dengan telatennya Evan mengusapnya dengan lembut membuat Azzalea sedikit lebih baik. Lalu Evan merapikan anak rambut Azzalea yang terlihat berantakan itu.
"Gue minta maaf, gue gak sengaja." lirih Evan tangannya masih mengusap kepala Azzalea.
"Hmmm," saut Azzalea.
Azzalea mencoba berdiri dengan sigap Evan membantunya. Suara yang Azzalea dengar kita makin mendekat kearah meraka, ya saat ini anggota osis sedang berpatroli menyusuri setiap sudut sekolag jika ada yang bolos. Evan pun yang mendengar mereka semakin dekat langsung mendong tubuh Azzalea hingga menabrak dinding pagar.
"Lo apa—" Evan membukam mulut tipis Azzalea dengan tanggannya.
"Suuttt, ada anak osis lo gak mau nanti kita ketahuan terus dihukum kan?" bisik Evan.
Azzalea memukul tangan Evan beberapa kali agar dilepaskan bekapan itu yang membuatnya susah bernafas. Evan hanya tersenyum saat mata Azzalea menatapnya tajam.
"Aneh!" gumam Azzalea.
Sedangkan Evan sudah fokus memantau jika ada anggota osis yang mendekati mereka. Saat Azzalea akan mendorong tubuh Evan menjauh tiba-tiba ada suara yang membuat mereka kaget, sehingga mau tidak mau Evan menghimpit tubuh Azzalea untung saja tingginya hanya sebatas hidungnya.
"Lo ngapain, Van?" tanya Vion yang muncul dari balik tembok ruang kelas.
"Gue... gue lagi ada panggilan alam! Iya lagi ada panggilan alam gak bisa gue tahan," jawab Evan sekenanya.
Azzalea yang paham maksud Evan pun langsung membulatkan matanya dan memukul dada Evan beberapa kali hingga membuat Evan terbatuk.
"Uhuuk uhuuk!"
"Jorok banget sih, Van... panggilan alam harusnya ke toilet kenapa dipojokan gitu," ucap anggota osis yang lainnya.
"Udah gak tahan tadi, udah sono pergi apa lo mau lihat!" kesal Evan sambil menahan malunya.
"Cih, ogah banget mau lihat... sama juga gak ada bedanya!" celetuk Aldi yang membuat mereka semua terkekeh tapi tidak dengan gadis itu.
"Yaudah pergi sana, kenapa masih disini!" kesal Evan.
"Santai ngab, awas lo nanti ada yang ngikutin apalagi dipojokan sekolah... hiii serem!" Vion bergedik ngeri seolah sedang melihat hantu.
"Mana ada begituan, yang ada lo muka lo tuh serem!" Evan sudah tidak sabar lagi dengan sahabatnya itu, karena jantungnya sejak tadi sudah tidak bisa diajak berdamai apalagi hidungnya mencium wangi dari rambut Azzalea yang membuat Evan semakin tidak karuan.
"Wah enak aja muka ganteng gini kaya artis korea dibilang mirip setan." gerutu Vion sambil berlalu pergi.
Fyuuuhh
Evan bisa bernafas lega ketika anggota osis itu sudah pergi dan ia mencoba menjauhkan diri dari Azzalea tapi sayangnya ia harus kembali mendekati Azzalea agar tidak terlihat saat ada suara yang mengangetkannya.
"Jangan lama-lama nanti terbang!" teriak Aldi yang hanya menyembulkan kepalanya saja dibalik tembok sambil tertawa puas.
"Asem!" kesal Evan.
...----------------...