
Hari-hari sudah terlewati bersama, waktu terus berlalu begitu cepat tanpa terasa sudah berganti bulan dan sebentar lagi mereka akan naik kelas.Begitu juga dengan hubungan Azzalea dan Evan yang semakin dekat, bahkan Cakra pun sudah perlahan tergantikan dengan kehadiran Evan. Tapi diantara mereka belum ada ikatan yang pasti, Evan masih belum mengutarakan isi hatinya secara resmi kepada Azzalea. Tapi cowok itu menunjukkan perasaannya dengan semua tindakan.
Contohnya seperti pagi ini Evan sudah siap diparkiran menunggu kedatangan Azzalea, ia memang menuruti Azzalea yang menolaknya saat akan menjemput ke rumah. Sehingga Evan memilih memunggu Azzalea di parkiran saja.
Ditangannya sudah ada susu kotak dan juga permen lolipop kesukaan Azzalea, Evan pun sengaja membelinya sebelum berangkat sekolah.
"Tumben lo nyusu, Van?" tanya Vion yang baru saja datang dan melihat Evan duduk santai di motornya.
"Hah, apa sih kata-kata lo bikin gue traveling aja," celetuk Evan sambil menatap tajam Vion.
"Lah yang lo pegang susu kan? Tumben lo minum susu, maka nya gue bilang tumben lo nyusu," kata Vion yang kini sudah berdiri didepan Evan.
"Nah gitu kan jelas, gak ambigu!"
"Lo aja yang oleng," celetuk Vion sambil mengambil susu kotak yang ada ditangan Evan.
"Eitt! Mau apa lo? Ini tuh khusus buat ale-ale, lo kalau mau beli sendiri sana!" dengan cepat Evan mengamankan susu kotak itu bersama lolipop nya.
"Kalau udah ada ale-ale kenapa harus minum susu segala sih? Mending susu nya buat gue, lo minum ale-ale nya," kata Vion bingung.
"Bukan ale-ale yang itu, ini beda!"
"Beda nya apa?"
"Ini lebih nyegerin, lebih manis dan ada sensai asam nya saat marah tapi tetep manis," kata Evan antusias.
"Yang bener, gue mau dong! Rasa apel ya!" pinta Vion dengan wajah seriusnya.
"Heh ale-ale yang ini bukan minuman seribuan yang ada di kantin, tapi ale-ale ini tuh..." Evan sedikit menggantungkan pembicaraannya.
"Yang cuma ada satu didunia ini," lanjut Evan sambil menatap kedatangan Azzalea.
"Cih, bilang aja Ale-ale yang lo maksud itu Azzalea! Kalau dia mah emang cuma ada di dunia ini," kata Vion yang menggeleng melihat sahabatnya sudah di mabuk cinta.
Evan sudah tak menghiraukan Vion lagi, karena ia sudah fokus pada Azzalea. Evan pun langsung menyapa Azzalea dengan senyuman manisnya, tak lupa ia menyodorkan susu dan juga lolipop yang sejak tadi ia bawa.
Awalnya Azzalea menolak tapi ia tahu semakin menolak Evan, ia sendiri yang akan ke susahan. Karena Evan akan terus mengikuti Azzalea kemana pun sampai pemberiannya diterima oleh Azzalea.
"Makasih!"
"Sama-sama, sahabat lo yang lainnya mana?" tanya Evan sambil menengok kebelang karema tidak ada para pengikuti Azzalea.
"Cakra izin gak masuk, yang lain udah dikelas," jawab Azzalea sambil melangkah menuju kelasnya.
Evan lun dengan sigap langsung mengikutinya, begitu juga dengan Vion.
"Gimana tidurnya semalam, nyenyak?" tanya Evan.
"Hmm, lumayan!"
"Mimpiin gue gak?" tanya Evan.
"Ya gak lah, kalau Azzalea mimpiin lo yang ada dia gak bisa tidur!" saut Vion yang berjalan dibelakang mereka sesekali Vion terkekeh sendiri.
"Suutt! Ini anak ayam satu main nyamber aja kek kreta!" gerutu Evan.
Azzalea pun malah ternyum mendengar celotehan Vion, lucu baginya melihat Evan dibuly.
"Van, tuh fans lo udah nunggu!" Azzalea menunjuk seseorang dengan dagunya, sedangkan Evan yang tengah bergelut dengan Vion pun langsung menghentikan aktifitasnya dan melirik siapa yang Azzalea maksud.
Tapi sayangnya mereka tidak tahu siapa laki-laki yang sedang berbiacara dengan Elena di Cafe waktu itu.
"Lo harus hati-hati sama dia, atau siapa pun yang dekat dengan dia," bisik Evan.
"Termasuk lo dong?" tanya Azzalea sambil menaikkan alisnya.
"Gue gak lah, gue adalah orang yang berdiri dibaris terdepan saat lo membutuhkan bantuan!" jelas Evan dengan percaya diri.
"Percaya diri banget sih, sarapan apa tadi?" tanya Azzalea.
"Sarapan rindu, gak lihat lo sehari aja gue udah kelaparan," kata Evan.
"Cih, bucin! Nyatain dulu baru ngbucin!" sindir Vion sambil berjalan terlebih dahulu.
Sedangkan Azzale pun hanya tersenyum menanggapi ledekan Vion, sebenarnya ia juga mempertanyakan hubungannya dengan Evan itu sebenarnya apa? Kalau pacaran tapi belum ada kata suka yang keluar dari mulut Evan. Kalau cuma sahabat tapi perlakuannya lebih dari itu, hal itu lah yang membuat Azzalea bingung. Terkadang juga terbesit rasa ragu yang menghantuinya, apalagi Cakr selalu bilang jika Evan hanya mempermainkannya saja. Tapi sudahlah Azzalea tak ingin ambil pusing, biarkan semua mengalir begitu saja seperti air.
Elena yang melihat kedekatan Azzalea bersama Evan pun semakin geram, tangannya sudah mengepal kuat. Ia tak bisa bertindak jika ada Evan disebelah Azzalea, disamping tidak ingim citra nya jelek ia juga takut dengan Evan. Karena jika Evan marah sungguh sangat menakutkan sekali.
Sedangkan Evan yang sudah tahu rencana Elena pun pura-pura tidak tahu ia ingin mengimbangi permainan Elena terlebih dahulu karena ia tak ingin Azzalea terluka.
"Yuk ke kelas gue anterin!" ajak Evan langsung menggandeng tangan Azzalea.
"Jangan modus," kata Azzalea.
"Gue gak modus, cuma gue gak mau lo kenapa-kenapa... lagian kelas kita kan sebelahan," jelas Evan.
Azzalea berusaha keras melepaskannya tapi sayang gengaman Evan terlalu kuat. Dan saat melewati Elena mata mereka saling bertemu seolah tersirat sebuah peperangan.
Elena menghentakkan kakinya beberapa kali saat Evan mengabaikan nya. Sakit, apalagi diabaikan oleh orang yang kita anggap sangat penting.
Kemudian dia memdekati motor Azzalea, dengan gerakan cepat Elena menaruh benerapa paku didekat ban motor Azzalea. Setelah melakukan itu oa segera pergi akan tak dilihat orang lain.
Sedangkan Evan dan Azzalea terus bergandengan tangan hingga sampai didepan kelas, tak tahu saja bagaimana jantung Azzalea saat ini.
"Kalian mau nyebarang apa gimana gandengan mulu?" tanya Ghea yang sedang berdiri didepan pintu.
"Lepasin!" Azzalea terlihat malu saat ketahuan oleh Ghea.
"Iya gue mau nyebrang ke hati dia, tapi kok susah banget sih, Ghe!" canda Evan sambil megangkat tangan yang ia genggam.
"Ya lo harus berusaha lebih keras lagi, jangan nyerah gitu... emang susah kalau yang lo sukain itu es," jawab Ghea sambil terkeheh.
"Nessa mau es, apalagi kalau es cream!" Nessa yang baru datang pun langsung ikut nimbrung.
"Doain aja ya, moga cepet leleh jadi air tuh es nya," kata Evan sambil merilik Azzalea.
"Yang penting tuh jangan lupa traktiran buat kita-kita," seru Ghea semangat.
"Beres itu!"
...----------------...
"*Ternyata terlalu mencintai seseorang itu terlalu menyakitkan, apalagi saat kehadiran kita tak dianggap! Sakit yang tak terlihat oleh mata ternyata lebih menyakitikan dari pada luka yang terkena garam!" -Elena / E H-
...----------------...
Jika eps up nya sampai double harap dimaklumkan ya karena nt kadang eror.. jadi ke up dua, tapi tenang aja bakal author revisi kok* :)