Evanzza

Evanzza
Permainan Baru Dimulai



Cakra membawa Azzalea pergi begitu saja tanpa sepatah kata kepada dua laki-laki yang masih berdiri mematap mereka berdua. Yang satunya syok karena melihat Cakra memeluk Azzalea, sedangkan satunya tersenyum penuh arti.


"Lo, lo jangan pernah ganggu cewek itu lagi!" laki-laki itu memperingatkan Marcel, yang masih tersenyum menatap pungung Azzalea.


"Siapa yang ganggu, bukannya lo?" tanya Marchel.


"Cih, gue gak ganggu dia... awas aja kalau lo sampai ganggu dia lagi!" ucapnya bergegas pergi.


"Gue gak bisa jamin, Van!" kata Marchel, lagi-lagi sudut bibirnya terangkat.


Mendengar itu membuat Evan mengentikan langkagnya, ia mengepalkan buku-buku tangannya sampai kemerahan. Entah kenapa ia begitu kesal mendengar jawaban dari Marchel, ingin sekali menonjok bibir manis Marchel. Tapi ia urungkan karena percuma saja orang seperti Marchel tidak akan menyerah begitu saja.


Evan memilih pergi begitu saja tanpa memperdulikan lagi ocehan Marchel.


"Permainan baru dimulai, Van!" ucap sinis Marchel.


Evan juga tidak tahu kenapa Marchel selalu saja ikut campur dalam kehidupannya, lebih tepatnya semenjak kejadian itu. Dimana perempuan yang ditembak Marchel menolaknya mentah-mentah, bahkan perempuan itu membandingkannya dengan Evan yang saat itu tidak sengaja lewat.


Flascback On


Suasana begitu ramai, bahkan hampir seluruh siswa itu berkerumun mengitari lapangan basket. Dan ditengah mereka ada dua orang yang berbeda jenis sedang mengutarakan isi hatinya.


"Lo tau gak, kenapa gue nyuruh lo kesini?" tanya Marchel.


Gadis itu menggeleng matanya menerawang setiap siswa yang ada dilapangan itu, tapi sayangnya orang yang ia cari tidak ada diantara siswa siswi itu.


"Put, sebenernya gue udah lama pengen ngomong ini sama lo... cuma gue berani ungkapin sekarang," kata Marchel.


Marchel menatap gadis yang bernama Puput itu dengan tatapan penuh kasih sayang, tapi lain halnya dengan Puput yang merasa risih.


"Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Marchel sambil memegang tangan Puput.


Mata sipit itu berhasil membulat saat mendengar ungkapan hati Marchel, ia tidak mengira Marchel akan melakukan hal ini kepadanya.


"Gue, gue," kata Puput ia bingung harus melakukan apa, karena dihati Puput sudah ada sesrorang yang spesial dihatinya. Tapi dia tidak berani berkata langsung didepan Marchel terlebih lagi saat ini Puput menjadi pusat perhatian anak-anak yang masih mengenakan seragam putih birunya itu.


"Udah terima aja, dia kelihatannya sayang banget sama lo!" celetuk salah satu siswa.


"Ia gak rugi juga, dia kan ganteng... kaya lagi!"


"Tunggu apa lagi? Terima aja!"


"Terima! Terima! Terima!" teriak mereka semua kompak.


Hal itu membuat senyum Machel mengembang, ia sengaja mengungkapkan perasaannya didepan semua orang agar mereka bisa menjadi saksi sekaligus menjadi provokator supaya Puput menerima perasaannya.


Sedangkan disisih lain ada Evan dan juga Vion yang tengah berjalan dikoridor kelas. Telinga mereka mendengar kegaduhan yang terjadi dilapangan, karena rasa penasaran Evan dan Vion memutuskan untuk melihatnya.


"Ada apa sih?" tanya Evan.


"Mana gue tau, lihat aja dari pada kepo!" saran Vion.


Kemudian mereka mendekati kerumunan itu dan menerobos beberapa siswa agar bisa melihat dengan jelas. Sedangkan Puput tersenyum bahagia saat melihat kedatangan Evan, karena ia berfikir Evan akan menggagalkan rencana Marchel. Namun tebakan Puput salah, Evan hanya diam sebagai penonton saja.


"Gimana?" tanya Marchel.


"Lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya lagi.


Puput masih menatap Evan ia benar-benar berharap Evan berjalan ke arahnya tapi sayangnya itu hanya angannya saja. Evan berjalan pergi setelah melihat pertunjukan itu, ia ingin cepat pulang setelah ujian kali ini. Tapi langkahnya terhenti begitu saja saat suara itu memanggil namanya.


"EVAN!"


"Gue gak bisa nerima lo, gue gak suka sama lo... gue sukanya sama Evan!" kata Puput sambil menunjuk ke arah Evan yang berada jauh dibelakang Marchel.


Marchel menoleh menatap Evan disana, tangannya terkepal kuat seakan ingin meninju wajah Evan.


"Lo gak bisa kaya gini, Put!" kata Marchel.


"Kenapa gak bisa? Lo itu gak ada apa-apanya dibanding Evan, dia lebih segelanya dari pada lo... dan yang gue suka dia, bukan lo!" tegas Puput.


Sedangkan Evan hanya bisa diam, pasalnya ia hanya menganggap Puput sebagai temannya saja tidak lebih.


Puput berlari kearah Evan, ia meraih jemari Evan. Lalu menggenggamnya erat, seoalah tidak membiarkan Evan lepas.


"Gu-gue suka sama lo, Van... lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Puput.


Semua orang disana diam menatap Puput dan juga Evan, sedangkan Evan ia menatap lurus kedepan. Tepat dimana Marchel berdiri, ia tahu jika Marchel sedang menyumpahinya dalam hati.


Evan sudah biasa dihadapan dengan hal seperti ini, tak hanya satu atau dua kali tapi sering. Ya dia sering menerima ungkapan perasaan dari para siswi, tapi semuanya ia tolak. Karena menurut Evan, laki-laki lah yang harusnya mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Walaupun ia tahu sekarang sudah zamannya emansipasi wanita, tapi tetap saja ia yang akan mengungkapkan perasaannya pada gadis yang ia sukai.


Evan melepaskan genggaman tangan Puput, lalu ia menatap gadis itu yang sudah berharap Evan akan menerimanya.


"Sorry, Put. Lo terlalu sempurna buat gue yang hanya remahan kerupuk ini. Gue gak bisa nerima lo, lebih baik lo terima cintanya Marchel," kata Evan sambil mematap Puput dan Marchel bergantian.


"Ta-tapi, Van—"


"Gue gak bisa, sorry!" Evan menepuk lengan Puput beberapa kali setelah itu ia pergi dari kerumunan orang-orang yang diikuti Vion dibelakangnya.


"EVAN! VAN, EVAAN!!" teriak Puput sambil memangis, bahkan ia sudah bersimpuh dilantai lapangan basket itu.


Marchel menghampiri gadis pujaannya itu, ia mencoba menenangkannya tapi apa yang Marchel dapatkan? Puput menyalahkan Marchel, karena ia beranggapan jika bukan karena Marchel, Evan akan menerimanya.


"Ini semua salah lo, kalau aja lo gak ungkapin perasaan lo didepan orang banyak semuanya gak akan seperti ini!" kesal Puput sambil menangis bahkan ia sudah memukul dada bidang Marchel berungkali.


"Bukan salah gue, harusnya lo bisa lihat siapa yang sayang sama lo!" bentak Marchel.


"Gue sayang sama lo. Put!" kata Marchel sambil menangkup pipi mulus Puput.


"Tapi gue sayang sama Evan dan ini semua salah lo! Harusnya lo tau gue deketin lo cuma buat manas-manas Evan doang, gak lebih dan jangan harap gue bisa suka sama lo. Ko itu masih jauh dibawah Evan!" jujur Puput.


Deg!


Hati siapa yang tidak sakit jika ia hanya menjadi bahan untuk membuat seseorang cemburu? Terlebih lagi ia sudah memiliki rasa suka kepada gadis itu, Marchel tidak habis pikir kenapa ia bisa menyukai gadis seperti Puput.


"Hahaa!" Marchel tertawa terbahak-bahak, tapi setelah itu ia mengumpat berkali-kali.


Hatinya remuk hancur begitu saja dan apa? Ia juga disalahkan karena jika bukan karena dirinya Evan akan menerima Puput. Padahal kenyatannya tidak seperti itu walaupun bukan karena Marchel, Evan tetap tidak akan menerima Puput. Terlebih lagi mereka baru saja selesai ujian nasional.


"Bagus banget lo mainin perasaan gue!" kesal Marchel sambil mendorong tubuh Puput hingga tersungkur. Marchel sudah tidak perduli lagi ia terlihat jahat atau apa karena hatinya sudah terlanjut sakit.


Dan sejak saat itu Marchel membenci Evan, ia bertekat akan membuat Evan malu dan sakit hati sama seperti apa yang ia rasakan.


Flascback Off


"Gue akan balas semua rasa sakit dan gue juga akan mempermalukan lo! Lo tunggu saja, haha!" Marchel tertawa jahat.


"Uhuuk uhuuk Uhuk! Si al an, gak estetik banget sih pakai acara batuh," gumam Marchel sambil menepuk pelan dadanya.


......................


Like coment votenya kak, biar semnagat!