Evanzza

Evanzza
Jangan Nangis!



Tangis Azzalea semakin pecah saat mendengar perkataan Evan, bahkan hidungnya sampai memerah seperti tomat.


Tangan Evan bergerak menyingkirkan kaca mata yang sejak tadi menutupi mata hazel gadisnya itu. Terlihat mata sembab dan sayu membuat hati Evan semakin sakit.


"Jangan bilang semalam lo nangis?" tanya Evan.


"Huuaaa hiks hiks!"


Evan membawa Azzalea masuk kedalam dekapannya, sesekali ia nenepuk-nepuk punggung Azzalea.


"Aduh malah makin kenceng nangisnya, cup cup diem ya! Jangan ada suara kalau nangis, biar orang gak salah paham!"


"Mana bisa nangis tanpa suara!" kesal Azzalea sambil menjauhkan diri dari Evan, cairan bening itu terus saja menetes membasahi pipi putih Azzalea.


"Bisa coba aja!" saran Evan sambil menyunggingkan senyumnya.


"Hiks hiks hiks!"


"Jangan nangis lagi oke, gue beliin permen satu truk!" Evan berusaha keras menenangkan Azzalea.


Mendengar hal itu membuat Azzalea menangis sambil tertawa, bisa-bisanya Evan bercanda disaat seperti ini.


"Lo mau gue ompong gara-gara makan permen satu truk!" kesal Azzalea sambil memukul dada bidang Evan.


"Iya biar ompong kaya nenek-nenek, giginya tinggal dua!" seru Evan menghindari pukulan Azzalea.


"Ih jahat banget, gue gak mau ompong!" ketusnya.


"Kan yang suka permen lo, bukan gue! Jadi yang ompong pasti lo lah ... habis tuh gigi lo!" seru Evan sambil terkekeh.


"EVAN! GAK LUCU, YA!" beberapa kali Azzalea memukul badan Evan hingga membuatnya terduduk dikursi yang memiliki roda dibagian kakinya.


Azzalea tersenyum tipis, lalu mendekati Evan dan dalam hitungan detik Evan sudah meluncur kebelakang karena kursi itu didorong oleh Azzalea hingga menabrak dinding baru bisa berhenti.


"Aleeeeeeee!" teriak Evan panik.


"Hehe syukurin, emang enak! Wleee!"


"Awwhh!" rintih Evan membuat Azzalea panik dan menghampiri Evan.


"Mana yang sakit?" tanya Azzalea.


Evan menepuk dadanya beberapa kali dengan wajah kesakitan.


"Sini yang sakit, kalau lihat lo nangis kaya tadi!" celetuk Evan sambil menatap kedua bola mata hazel milik Azzalea.


Deg!


Deg!


Deg!


Detak jantung Azzalea terdengar dua kali lebih cepat dari biasanya, membuat kedua pipi Azzalea memanas. Apalagi saat wajah Evan semakin mendekat dan terasa hangat sapuan nafas Evan di wajah Azzalea.


Azzalea yang melihat itu pun membelalakkan matanya, pikirannya jadi traveling kemana-mana. Apalagi diruangan itu hanya ada mereka berdua saja.


Azzalea memejamkan matanya tak lupa ia juga menahan nafasnya beberapa detik hingga terdengar suara Evan yang membuatnya semakin kesal.


"Udah gak sedih lagi, kan?" bisik Evan disamping pipi Azzalea.


"Lo!" Azzalea mendorong tubuh Evan.


"Hahaa!" terdengar tawa renyah dari Evan mengisi seluruh ruangan itu.


"Sia lan! Gue mikir apa sih!" batin Azzalea sambil merutuki dirinya sendiri yang terlalu berfikir jauh, bahkan ia sampai memukul jidatnya sendiri.


Tapi memang benar apa yang dikatakan Evan, tangisnya sudah berhenti entah sejak kapan ia sampai tidak menyadarinya.


"Jangan ketawa!"


"Kenapa?" tanya Evan sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Gak! Siapa bilang, orang jelek gitu!" saut Azzalea cepat. Padahal kenyataannya Evan sangat-sangat tampan saat tertawa lepas.


"Jelek-jelek gini banyak yang antri lo!"


"Cih, muncul lagi kan buaya nya!" ketus Azzalea sambil melipatkan tangannya didepan dada, ia bersandar pada dinding sambil menatap tajam Evan.


Evan terkekeh melihat tingkah Azzalea yang terlihat jelas jika ia sedang cemburu, hal itu semakin membuat Evan bersemangat untuk menggoda Azzalea hingga Evan melupakan tujuan awalnya.


"Gue itu bukan buaya ya! Pacar baru satu loh, dari mana buaya nya coba?"


"Baru satu? Jadi ada niatan buat nambah gitu?" kesal Azzalea.


"Emm gimana ya?" tanya balik Evan, ia bahkan meletakan jari telunjuknya dipelipis seakan-akan sedang berfikir.


"Lo berani!" Azzalea sudah berdiri didepan wajah Evan yang masih duduk dikursi.


Belum sempat menjawab Azzalea sudah memberikan pukulan pada tubuh Evan, dengan sigap Evan menahan semua pukulan itu tanpa mau membalasnya. Tak sampai disitu Azzalea juga menggelitiki tubuh Evan hingga ia memohon ampun.


"Haha stop, Al! Stop! Geli, sumpah geli!" rancaunya sambil menyingkirkan tangan Azzalea.


"Salah sendiri berani macam-macam!" tangannya terus saja bergerak menggelitiki Evan.


"Ampun, ampun! Gak berani gue gak berani, udah lepasin geli, Al! Hahaa geli!"


"Huh!" akhirnya Azzalea melepaskan Evan kemudian duduk disalah satu kursi yang ada didekat nya. Wajahnya kembali sedih lagi ketika terngiang perkataan sang papa.


Evan yang sudah membenarkan seragamnya yang berantakan, menatap bingung ke arah Azzalea yang kembali termenung.


Evan menarik kurri yang diduduki Azzalea agar mendekat dan berhadapan dengannya. Lalu ia menatap Azzalea lekat.


"Sekarang jujur sama gue, ada apa? Kenapa sampai bengkak gini, lo nangis sepanjang malam?" tanya Evan terlihat serius, tak lupa ia membelai lembut kelopak mata Azzalea yang sudah bengak.


Azzalea menatap Evan dengan berkaca-kaca.


"Papa," lirih Azzalea.


"Om Azka? Kenapa?"


"Papa nyuruh kita pu—"


"Suttt! Jangan diterusin, lo gak mau kan hal itu terjadi?" tanya Evan yang langsung mendapat gelengan kepala dari Azzalea.


"Lo denger gue baik-baik, apapun yang terjadi gue Evan Anggara Mahardika gak akan ninggalin lo kalau bukan dari mulut lo sendiri yang nyuruh gue buat pergi!" jelas Evan serius.


"Gue akan berusaha buat yakinin Om Azka kalau gue bener sayang sama lo, gue cinta sama lo! Gue akan buktiin sama Om Azka kalau gue itu emang pantes buat lo, supaya gak ada keraguan lagi dihatinya." lanjut Evan.


Azzalea pun mengangguk sambil mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Evan, terlihat senyum tipis disudut bibirnya.


Bolehkan ia percaya dengan perkataan Evan? Karena jujur saja Azzalea masih sedikit ragu mengingat sang papa sangat sulit dihadapi, Azzalea tau bagaimana keras kepalanya sang papa. Bolehkah Azzalea berharap pada Evan, jika semua yang di ucapkannya itu akan menjadi nyata? Entahlah, saat ini hanya Evan yang bisa menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.


Azzalea tak ingin dianggap sebagai anak pembangkang karena tidak menurut nasehat orang tua, namun disisih lain Azzalea tak bisa meninggalkan Evan yang bisa membuatnya tersenyum dan merasa nyaman didekatnya. Bahkan Azzalea merasa diperlakukan seperti ratu jika bersama Evan, ia sangat senang dan bersyukur bisa menjadi pacar Evan.


"Gue harus gimana?" gumam Azzalea.


"Kita cari tahu dulu, kenapa Om Azka tiba-tiba jadi menentang hubungan kita padahal beberapa hari lalu dia setuju kan?"


Azzalea mengangguk, "Gue udah nanya tapi papa gak mau jawab!"


"Coba nanti tanya Mama Azkia, eh Tante maksudnya! Hehe!" usul Evan.


"Oke, mungkin mama tau alasan papa!"


"Hmmm! Kita harus tetap bersama, oke? tanya Evan yang di angguki oleh Azzalea.


"Jadi lo jangan nangis, karena itu buat gue sedih! Kalau lo nangis jadi jelek, kan nanti gue jadi bingung ini pacar gue bukan," kata Evan sambil terkekeh, tak lupa ia mencubit pipi Azzalea.


"Jangan mulai deh! Cantik gini dibilang jelek mulu," gerutu Azzalea.


...----------------...