
Semilir angin menerpa wajah cantiknya, sesekali terlihat senyum tipis menghiasi sudut bibir. Kepalanya ia sandarkan pada punggung bidang yang saat ini tengah fokus menatap jalanan.
"Nyaman!" batinnya sambil mengeratkan jemarinya pada sisi jaket agar tak jatuh. Sesekali ia memejamkan matanya menikmati setiap menit yang ia lalui. Tak terasa ia larut dalam kenyamanan itu, hingga tertidur. Apalagi angin yang berhembus membuatnya semakin mengantuk.
"Al?" panggil Evan, karena sejak tadi ia tak mendengar suara gadis itu, walaupun biasanya pendiam tapi masih berbicara sepatah dua patah kata. Lalu ini hanya deru mesin dan suara tlakson kendaraannya lain yang terdengar.
"Ale! Ale-Ale?" ulang Evan, namun masih saja tak ada jawaban.
Evan melirik kaca spionnya berharap melihat wajah Azzalea, tapi sayang wajah gadis itu terbenam dipunggungnya.
"Tidur, Al?" tanya Evan sambil sedikit menggoyangkan punggungnya, agar gadis itu merespon tapi semuanya percuma.
"AZZALEA!" akhirnya Evan berteriak agak kencang agar gadisnya terbangun karena bisa dipastikan Azzalea sedang tertidur nyenyak dipunggungnya.
"Ck! Bangun, Alee! Jangan tidur, bahaya nanti jatuh!" ucap Evan sambil menarik tangan Azzalea kedepan.
Azzalea benar-benar tak terusik sama sekali, membuat Evan memperlambat laju motornya. Sesekali ia mengusap pelan punggung tangan Azzalea yang sudah melingkar erat diperutnya, Evan sengaja menautkan kedua tangan Azzalea agar tak terjatuh.
"Bisa-bisanya tidur!" gumam Evan sambil tersenyum.
Tak selang berapa lama sampailah didepan rumah Azzalea, Evan menepuk beberapa kali lengan Azzalea agar terbangun. Hal itu bertepatan dengan pintu rumah yang terbuka, dilihatnya wanita yang masih tetap cantik meski usianya tak lagi muda. Mama Azkia.
"Siang tante!" sapa Evan sambil sediki menundukkan kepalanya, tak lupa deretan gigi putihnya terlihat saat ia tersenyum.
Mama Azkia pun membalas dengan anggukan kecil, netranya langsung tertuju pada anak garisnya yang masih nyaman berada dipunggung Evan.
"Ale kenapa gak turun?" tanya Mama Azkia
"Ah! Itu anu tante ... Ale ketiduran!" saut Evan ragu-ragu.
Mama Azkia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak yang sangat mirip dengan dirinya dulu waktu muda. Diam-diam Mama Azkia tersenyum sambil mengingat kejadian yang sama dirinya bersama sang suami, Azka.
"Tan! Tante!" panggil Evan yang menyadarkan mama Azkia dari lamunannya.
"Eh! Iya kenapa, Van?"
"Ini Ale gimana ya, Tan?" tanya Evan ragu.
"Astaga! Maaf tante lupa!" seru mama Azkia sambil mengahampiri motor Evan.
Mama Azkia mengguncangkan tubuh Azzalea beberapa kali hingga ia terbangun.
"Al, Aleee! Bangun sayang, kamu gak malu tidur dipunggungnya Evan? Kasian pasti sakit punggungnya, kamu kan berat!" ucap mama Azkia sambil mencubit pipi Azzalea.
Perlahan mata Azzalea terbuka, beberapa kali ia mengerjabkan matanya. Wajahnya terlihat bingung apalagi ada sang mama disebelahnya.
"Kok ada mama?" tanyanya sambil sesekali mengusap kelopak matanya.
"Kok ada mama, kok ada mama! Kamu harap siapa? Cepat turun kasian Evan jadi pegal-pegal punggungnya!"
Deg!
Azzalea baru tersadar jika ia masih berada diatas motor lalu ia melirik kaca spion yang ternyata Evan sejak tadi mengamatinya sambil terkekeh.
PLAK!
Spontan saja Azzalea memukul punggung Evan yang membuat siempunya punggung mengaduh kesakitan.
"Awhh!"
"Kenapa gak dibangunin, kan malu!" seru Azzalea sambil turun dari atas motor Evan.
"Udah dibangunin sama Evan, kamu nya aja yang tidur kaya kebo!" saut sang mama.
"Aleeee!"
"Jangan teriak-teriak, mah! Sakit kuping Ale, mama mau Ale jadi gudek!"
Evan pun hanya diam saja melihat perseteruan kedua anak dan ibu itu. Baru kali ini, Evan melihat sisi lain Azzalea. Karena saat disekolah sikapnya akan berbuah sedingin es dikutup utara.
"Astaga kamu gak malu dilihatin Evan?" tanya sang mama.
Dengan cepat Azzalea menutup mulutnya, ia melupakan keberadaan Evan karena asik berdebat dengan sang mama.
"Ah! Dia liat gue yang absurd gini!" batin Azzalea sambil menunduk.
"Evan ayo masuk dulu!" tawar mama Azkia.
"Makasih tan, tapi Evan buru-buru masih ada urusan osis!" jawab Evan ramah.
"Kalau masih ada urusan osis kenapa nganterin pulang?" tanya Azzalea.
"Emangnya kenapa?" tanya balik Evan.
"Kok kenapa? Kan gue jadi ngrepotin!" serunya sedikir cemberut.
Evan maju beberapa langkah didepan Azzalea, ia sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan Azzalea. Matanya terus saja menatap wajah cantik gadis didepannya itu.
"Dia mau ngapain sih? Bikin jantung gue gak aman aja!" batin Azzalea.
Evan menyunggingkan sudut bibirnya membuat Azzalea semakin kelabakan.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh, lo gak pernah ngrepotin gue kok! Kalau pun mau repotin gue malah seneng," kata Evan sambil mengacak-acak rambut Azzalea karena gemas.
"Ta-tapi, gue kan jadi gak enak sama lo!" Azzalea tak berani menatap kedua manik mata Evan, ia sudah berusaha keras untuk menetralkan degup jantungnya. Bahkan kakinya sudah terasa lemas dengan jarak yang begitu dekat ini.
"Gue kan pacar lo, Al! Jadi lo gak perluh merasa seperti itu, atau lo mau gue perduli sama cewek lain?" tantang Evan.
"Gak! Gak boleh!" seru Azzalea sambil menatap Evan.
Evan pun tersenyum bahagia mendengar jawaban sang kekasih, lalu ia semakin mendekatkan wajahnya pada Azzalea membuat gadis itu spontan memejamkan matanya.
"Gue balik dulu, jangan kangen ya!" bisik Evan pada telinga Azzalea.
Azzalea langsung membuka matanya dan menatap kesal Evan yang sudah mempermainkannya. Ah! Bukan dipermainkan tapi Azzalea saja yang berharap lebih.
"Shitt! Lo mikir apa sih, Al! Ini dunia nyata bukan dunia halu lo, jadi jangan berharap Evan akan lakuon seperti di drama-drama yang lo liat, Al!" batin Azzalea sambil memukul jidatnya pelan.
"Salam ya, buat mama! Eh, tante!" kekeh Evan yang sudah memakai helm full face nya.
"Iyaaa!" teriak Azzalea sambil melambaikan tangannya pada Evan hingga tak terlihat lagi.
"Bodoh!" cibir Azzam yang sejak tadi berdiri bersandar pada tiang lampu yang tak jauh dari Azzalea.
"Jangan bilang lo liat semua nya?" tanya Azzalea. Azzam hanya mengendihkan bahunya saja melewati sang kakak.
"Lain kali jangan nonton cowok cantik, biar otaknya gak tercemar!" cibir Azzam sebelum masuk ke dalam rumah.
"AZZZAABB!" teriak Azzalea kesal, ia begitu malu karena Azam tahu apa yang ada didalam pikiran kotornya itu.
............................................................
Halo-halo apa kabar kalian semua :)
Kangen sama author EH gak?