
Lihatlah semua orang akan menjadi berbeda setelah mereka mengenal apa itu cinta, bahkan orang pintar sekali pun akan terlihat bodoh. Mereka akan sulit membedakan beberapa hal, karena semua akan dia anggap baik dan benar menurut versinya sendiri. Bahkan orang cenderung tidak mau mendengarkan nasehat orang lain, bisa dibilang kita akan sulit jika menasehati orang jatuh cinta.
Seperti pagi ini, seorang anak muda tengah menata rambutnya dengan berbagai gaya. Poni yang biasa ia biarkan menutupi jidatnya kini sudah tertata rapi membuat sebuah jambul katulistiwa, yang membuat jidat lebarnya terlihat jelas.
"Gak cocok!" keluhnya, lalu mengacak-acak rambutnya supaya jambulnya hilang.
Ia mengambil sisir kemudian menyisir rambutnya agar rapi, ia memilih tampilan seperti biasanya saja dengan poni yang sudah menutupi seluruh jidatnya.
"Hah gini aja udah oke!" sambil sediki mengacak rambut agar menghilangkan terkesan good boy.
Ia menatap lagi cermin itu, memastikan sekali lagi jika penampilannya sudah sempurna. Seragam putih abu-abu yang dibalut jas almamater berwarna merah maroon membuatnya semakin terlihat tampan, tak lupa ia semprotkan parfum disisi kanan dan kiri badannya. Bahkan bagian leher dan juga pangkal telapak tangan ia semprotkan parfum.
"Sempurna!"
Setelah dirasa semua beres ia langsung turun karena kedua orang tua nya sudah memunggu untuk sarapan.
"Pagi!" teriak nya yang tak lain adalah Evan. Senyum manis dengan deretan gigi putih itu terus saja terlihat sejak ia menuruni anak tangga.
"Pagi!"
"Jangan senyum terus, Van! Nanti kering loh!" canda sang mama.
"Gak akan kering mah, ada es ale-ale yang bisa segerin!" Evan langsung menyambar roti isi yang ribuat sang mama, lalu mencium pipi sang mama.
"Makan itu duduk, Van!" perintah sang papa.
"Evan udah telat pah," saut Evan sambil mencium sang papa juga, padahal sudah berkali-kali papa nya memberikan peringatan jika berani menciumnya.
"Ini masih pagi, Van! Telat dari mana nya?"
"Telat jemput pacar Evan, mah! Udah ya Evan berangkat dulu!" tak lupa ia menyalami kedua tangan orang tuanya lalu menyambar kunci mobil yang tergeletak diatas nakas.
"Anak mu, mah!" seru Papa Rayhan sambil menyeruput teh manisnya.
"Anak mu, lihat saja bucinnya gak ketulungan itu! Gak tau lagi kalau didepan pacarnya apa juga malu-maluin gitu," kata mama Raya.
"Seperti mu, kan?"
"Cukup, dia itu anak kita pasti mirip lah sama kita orang tuanya! Kalau mirip orang lain patut dicurigai!" kesal mama Raya sambil menatap tajam sang suami. sedangkan yang ditatap seolah tak merasa bersalah sama sekali.
Lain dengan mereka berdua, Evan sudah melesat menuju kediaman sang pacar. Ia ingin berangkat bersama Azzalea setelah resmi dengan status barunya.
Tak butuh waktu lama Evan sudah sampai dikediaman Azzalea, pak satpam yang sudah hapal dengan Evan pun langsung membukakan gerbang. Setelah menyapa pak satpam mobil itu masuk kehalaman rumah sang pacar. Evan mematikan mesin mobilnya, sebelum turun ia sempatkan sekali lagi melihat kaca untuk memastikan penampilannya sebelum ketemu camer.
Tok tok tok!
Ceklek!
Pintu bercat putih itu terbuka, memperlihatkan wajah pria dewasa namun sakin tampan diusia yang tak muda lagi. Ia menatap tajam anak remaja didepannya ini.
"Pagi om!" sapa Evan ramah.
"Kamu ngapain pagi-pagi udah sampai disini? Mau numpang sarapan?" tanya Papa Azka sedikit ketus.
"Boleh kalau om izinin kebetulan masih lapar, hehe! Tapi tujuan utama saya mau jemput Azzalea, om."
"Oh iya, om gak mau nyuruh saya masuk dulu gitu? Gak enak loh om ngobrol didepan pintu gini," kata Evan yang lebih tepatnya menyindir Azka.
"Gak usah! Ale bentar lagi siap, kamu tunggu disini aja!" tegas Papa Azka karena memang benar anak perempuannya sudah selesai sarapan.
"Baiklah, om! Om udah rapi banget mau ngantor, ya?"
"Hmmm!"
"Pantes anaknya dingin, orang bapak nya frezer gini," gumam Evan sambil melirik Azka.
Tak selang berapa lama Azzalea sudah berdiri dibelakang sang papa, ia memakai sweter yang warnanya hampir sama dengan Evan.
Sedangkan Azzalea hanya bisa tersenyum sambil menyalami tangan sang papa.
"Ale berangkat dulu, pah!"
"Hmm, hati-hati! Kalau dia sampai macem-macem langsung bilang sama papa, ya!"
"Siap, pah!"
"Saya gak macem-macem kok om, saya itu cuma satu macam yang mencintai Azzalea apa adanya!"
"Sekolah yang benar, jangan cinta-cintaan mulu. Anak saya gak akan kenyang kalau makan cinta!" seru Azka ketus.
"Tapi dia bisa bahagia karena cinta, om!"
"KAMU!" geram Azka.
"Udah pah, kita betangkat dulu!" Azzalea langsung menarik lengan Evan, ia tak ingin pembicaraan dua laki-laki itu berlanjut dengan perbedapatan.
"Permisi om!" teriak Evan yang menurut saja saat ditarik oleh Azzalea.
"Lo suka banget sih ngajak papa gue debat!" gerutu Azzalea yang sudah duduk manis dikursi penumpang.
"Mau gimana lagi, kalau gak gitu berasa lagi didepan kulkas! Dingin, mana kaya gak rela gitu lo pacaran sama gue," kata Evan yang sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Biasa lah, papa kan sayang banget sama gue. Jadi takut kalau anaknya nanti disakitin sama buaya," jawab Azzalea.
"Buaya nya udah ada pawang kali, gak bakalan gigit pawangnya kok! Jadi santai aja," ucap Evan sambil terkekeh, sedangkan Azzalea hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Sekalinya buaya ya tetap buaya!"
"Dan baru lo yang bisa jinakin buaya ini," kata Evan sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Azzalea.
"Apaan sih? Gak jelas banget!"
"Iya, kan yang jelas cuma cinta gue ke lo!" dengan PD nya Evan mengatakan hal itu.
"Udah fokus kedepan, bahaya tau gak!" Azzalea memukul pelan lengan Evan karena sejak tadi cowok itu dengan sengaja menatap Azzalea.
"Gimana mau fokus, kalau ada lo disebelah gue? Fokus gue udah teralihkan semua sama lo," goda Evan lagi.
"Evan! Gue serius!"
"Gue juga serius, sayang!"
Akhirnya Azzalea lebih memilih diam karena tak akan pernah habis jika berdebat degan Evan. Sedangkan Evan terkekeh sendiri saat melihat wajah cemberut sang pacar.
Tangan kiri Evan berusaha menggapai jemari Azzalea lalu menautkan keduanya, Azzalea berusaha dengan keras menarik tangan itu tapi sayangnya percuma saja. Karena genggaman tangan Evan sangat kuat.
"Van!"
"Iya sayang, kenapa? Hmm?" tanya Evan tanpa dosa.
"Tangan lo, lepasin!"
"Kenapa? Nyaman ya?" goda Evan dengan suara lembut.
"Buat jantung gue gak nyaman, Van!" batin Azzalea.
"Gue akan selalu genggam tangan lo, mau hujan badai angin ribut gue gak perduli karena gue gak akan pernah lepasin lo sedikit pun!" bisik Evan sambil melepaskan seltbet pada tubuh Azzalea.
Pipi Azzalea mendadak panas bahkan ia tak berani menoleh ke arah Evan, karena ia tahu Evan sedang berada tepat disamping pipinya. Hembusan nafas Evan terasa hangat, bahkan indra penciuman Azzalea sudah dimabukan dengan wangi parfum Evan.
"Mau sampai kapan jadi patung? Ayo turun udah sampai!" ucapan Evan membuat Azzalea menyadari jika mereka sudah sampai di parkiran sekolah.