Evanzza

Evanzza
Salah Apa?



Tiga orang itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang didalamnya ada nenek dan kakek Azzalea, tak lupa Mama Azkia juga ada disana. Hanya Azzam yang tidak kelihatan karena sedang mengikuti ekstrakurikuler disekolahnya.


Mereka semua menoleh ketika pintu ruangan itu terbuka, Azzalea yang melihat sang oma terbaring lemah langsung menghampirinya.


"Oma, oma kenapa bisa sakit?" tanya Azzalea khawatir.


"Oma baik-baik aja sayang!"


"Bohong, kalau baik-baik aja gak mungkin sampai tiduran disini!" protes Azzalea.


"Oma cuma cari suasana baru buat tidur," ucap Oma Lala sambil membelai ranbut Azzalea.


"Ada-ada aja sih, Oma! Jangan buat Azza khawatir lagi oke?" sang oma hanya bisa mengangguk sambil tersenyum menanggapi cucu manjanya ini.


"Ini siapa, temannya Azzalea?" tanya Kakek Bima menghampiri Evan yang hanya diam saja disamping Azka.


"Saya Evan, Kek!" Evan mengulurkan tangannya pada Kakek Bima yang disambut baik sang kakek.


"Ganteng banget siapa itu?" tanya Oma Lala pada cucunya itu.


"I-itu anu oma, dia—"


"Saya pacarnya Azza, oma!" Evan sudah berada disebelah bangkar Oma Lala, tak lupa Evan juga menyalami sang oma ramah.


"Waah ganteng banget, coba aja kalau oma masih cantik udah oma jadiin gebetan kamu!" canda Oma Lala membuat mereka semua tertawa kecuali Azka.


"Oma masih cantik kok, masih terlihat muda!" puji Evan membuat membuat Oma Lala tertawa senang.


"Tapi Oma cuma punya kakek, Evan gak boleh rebut oma dari kakek loh!" saut Kakek Bima sambil menggenggam jemari sang istri.


"Hehe! Evan paham kok, kek!"


"Lo pilih oma apa gue?" tanya Azzalea sedikit cemburu, membuat sang mama dan sang oma menjahilinya.


"Atau sama tante aja, Van? Kalau sama oma kan nanti dikira sama cucunya, kalau tante kan masih kelihatan muda," goda Mama Azkia sambil mengedipkan sebelah matanya, dia tidak tahu saja ada dua orang yang kesal melihat hal itu.


"Nah bener itu, sama tante Azkia aja, Van!" Oma semakin memanas-manasi suasana saja.


"Atau sama cucu kakek yang satunya aja, Van! Ya walaupun beda dua tahunan sama kamu tapi gak masalah lah," kata Kakek Bima, beliau tau jika sang menanantu dan cucunya sedang terbakar cemburu.


"Gimana, Van?" tanya Mama Azkia membuat Evan samakin canggung saja.


"Mamah! Omaa!" kesal Azzalea.


"Berani-beraninya genit sama laki-laki lain didepan suami!" geram Azka langsung merangkul penggang sang istri.


"Cuma ber—"


"Aku gak suka apapun itu alasannya, Nyun! Kamu itu miliki aku hanya boleh godain aku aja!" ketus Azka.


"Iya-iya, By! Udah tua juga masih cemburuan, malu tuh sama Evan ... Lagian dia kan pacarnya Azzalea mana mungkin mama rebut pacar anak sendiri, kamu ini pikirannya buruknya dibuang jauh-jauh!" Azkia menyentil jidat Azka pelan.


Semua itu tak lepas dari pantauan mereka semua, pantas saja Azzalea ingin memiliki pacar seperti sang papa yang selalu setia dan sayang pada istrinya walaupun usia sudah tak muda lagi.


"Eheem! Kalian ini jangan mesra-mesraan disini bisa? Kasian mereka berdua, nanti jadi pengen cepet-cepet minta dinikahin lagi!" sindir Kakek Bima pada anak dan mantunya itu.


"Saran yang bagus, Kek!" saut Evan dan langsung menutup mulutnya rapat.


"Sekolah dulu, masih kecil nikah mulu pikirannya!" ketus Azka pada Evan, sedangkan Evan hanya bisa mengangguk patuh.


Mereka semua hanya bida terkekeh melihat sikap Azka, dia tidak sadar saja siapa dulu yang pengen cepet nikah setelah lulus sekolah hanya agar Azkia boleh kuliah diluar negeri bersama dirinya. Tapi orang tua Azka sangat ketat sehingga selesai kuliah baru diperbolehkan menikah, apalagi saat itu Azkia tak diizinkan kuliah diluar negeri.


"Nak Evan, bapak kamu dokter ya?" tanya Kakek Bima, membuat Evan yang menunduk langsung mendongak dan menatap sang kakek.


"Kok tau?" tanya Evan.


"Siapa yang mau gombalin?"


"Lah itu kakek nanya bapak kamu dokter, ya! Kan biasanya kata-kata gombal itu," kata Evan tanpa dosa yang membuat mereka tertawa.


"Astaga ini anak lucu banget! Kamu nemu dia dimana, Zaa?" tanya sang oma.


"Nemu dipinggir jalan oma, kasian gak ada yang rawat makanya Azza pungut!" canda nya yang membuat mereka terkekeh, ya begitulah Azzalea jika bersama orang-orang terdekat akan menjadi anak yang suka bercanda dan lucu.


Untung saja Evan tidak marah, ia juga ikut tertawa mendengar jawaban Azzalea. Evan senang bisa melihat sisi lain dari gadisnya itu.


"Kamu mau-mau aja dipungut, Van!" saut Mama Azkia.


"Dipungut sama bidadari secantik ini masa gak mau tan?"


"Oh iya, Evan berterimakasih banget sama tante karena sudah melahirkan wanita secantik ini untuk menemani Evan sampai tua!"


"Cih, masih kecil udah bucin!" sindir Azka.


"Gak nyadar situ lebih bucin!" bela Mama Azkia pada Evan yang membuat gelak tawa diantara mereka semua.


Kehadian Evan lebih membuat suasana menjadi hangat, padahal mereka baru pertama kali bertemu tapi bisa langsung akrab dengan kakek dan nenek Azzalea. Bahkan mereka tak mempermasalahkan hubungan Evan yang sudah menjadi pacar dari cucunya itu.


"Udah-udah balik lagi sama topik awal tadi, jadi bener bapak kamu dokter, Van?"


"Iya, Kek! Papa sama mama Evan dokter semua dan Evan masih anak tunggal," kata Evan sudah seperti meberikan penjelasan saat melamar seseorang saja.


"Pantas saja, wajah kamu mirip salah satu dokter yang ada disini! Kakek kira salah orang ternyata benar," jelas Kakek Bima.


"Papa sama mama memang bekerja di rumah sakit ini, kek! Ya mungkin kakek pernah bertemu dengan mereka!" Kakek Bima hanya mengangguk saja menyetujui ucapan Evan.


"Dokter yang ganteng itu, pah?" tanya Oma Lala pada suaminya, sedangkan Kakek Bima mengangguk sebagai jawabannya.


"Tunggu, siapa yang papa maksud?" tanya Azka pada Bima.


"Masa kamu gak ingat, Ka? Dokter yang tadi rawat Lala kan mirip banget sama Evan!" jelas Kakek Bima yang membuat Azka dan Azkia syok.


Bagaikan disambar petir disiang bolong, Azka sangat kaget dan seakan tidak mempercayainya. Pantas saja ia merasa tidak asing dengan wajah Evan, apalagi saat anak itu tersenyum sangat mirip dengan seseorang yang ternyata adalah saingan cintanya dulu, Rayhan.


Tak hanya Azka, karena sang istri Azkia pun sangat kaget dia juga baru sadar jika wajah Evan sangat mirip dengan Rayhan, seniornya itu. Azkia melihat raut wajah sang suaminya yang berubah dratis, semakin dingin dan mengerikan apalagi ia terlihat menahan amarahnya agar tidak meledak dihadapan sang mertua.


"Papa kamu namanya siapa, Van?" tanya Azkia memastikan.


"Rayhan Mahardika, tante! Emangnya ada apa, ya?" tanya Evan bingung begitu juga dengan Azzalea karena atmosfer disekitar mereka berubah mencekam.


"Gak ada apa-apa, kok!" Azkia berusaha tersenyum meski pikirannya melayang kemana-mana apalagi tentang bagaimana kelanjutan hubungan percintaan sang anak. Karena Azkia tau bagaimana sang suami tidak menyukai Rayhan, ia takut akan berpengaruh pada hubungan kedua anak remaja itu.


"Kamu pulang sana! Azzalea pulang sama saya!" perintah Azka dengan perasaan bergemuruh, andai tidak ada mertuanya entah apa yang akan dilakukannya pada Evan.


"Ta-tapi, om?"


"PULANG!" perintah Azka penuh penekanann, membuat nyali Evan menciut. Evan bisa melihat ketidak sukaan Azka pada dirinya padahal beberapa saat tadi masih baik-baik saja tapi sekarang berubah seperti ini, Evan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan apa kesalahannya sehingga membuat Azka begitu kesal padanya.


"Saya permisi dulu!" Evan sedikit menunduk sambil tersenyum lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dengan penuh tanda tanya besar.


"Gue salah, apa?" gumam Evan menyusuri lorong rumah sakit dengan pikiran yang berkelana kemana-mana.


...----------------...


Yok kasih dukungannya buat Evan, like coment vote juga ya kakak!


Evan lagi sedih tuh, bingung kenapa camernya berubah seketika...