Evanzza

Evanzza
Gak suka Buaya



Mereka berdua sedang menyusuri koridor sekolah yang terlihat cukup sepi, karena jam istirahat sudah selesai. Sejak tafi Evan selalu mengoceh tiada hentinga membuat Azzalea sakit kepala, entahlah apa pun yang Evan lihat selalu dikomentari seperti perempuan saja.


"Cuaca panas gini enak kali ya minum es ale-ale... gue paling suka rasa anggur, seger sekali!" Evan membayangkan bagaimana nikmatnya saat minum ale-ale dingin disaat cuaca panas seperti ini.


"Dih, gak jelas!" gumam Azzalea.


"Mampir yok!" ajak Evan.


"Kemana?" pasalnya kantin cukup jauh dari posisi mereka saat ini.


"Ke hati ku lah kemana lagi yang deket," goda Evan sambil menatap Azzalea dengan senyum manisnya.


"Hati lo banyak penghuni nya, gue gak mau!" Azzalea tak sadar apa yang sedang ia bicarakan itu karena terlalu fokus pada ponselnya.


Hap!


Evan berhenti tepat didepan Azzalea, membuat gadis cantik itu menabrak dada bidang Evan karena terlalu fokus dengan ponsel.


"Hati-hati, jalan itu jangan fokus sama hal lain bahaya," bisik Evan dengan tangan yang menahan punggung Azzalea agar tidak terhuyung kebelakang.


Deg!


Deg!


Deg!


Wangi yang membuat detak jantung Azzalea berpacu lebih cepat dari biasanya, apalagi posisi sekarang sangat membuat resah keduanya. Netra mereka berdua saling terkunci, entah apa yang mereka pikirkan yang jelas waktu seakan berhenti saat itu juga.


"Jangan-jangan bener kata Azzam kalau gue udah terinfeksi virus C itu?" batin Azzalea.


"Nanti gue harus minta Ghea temenin gue ke rumah sakit buat priksa," batinnya lagi.


"Ini cewek kenapa selalu bisa buat gue panas dingin sih?" batin Evan.


"Eheem!" tak ingin berlama-lama dalam posisi ini akhirnya Azzalea memutuskan kontak mata itu terlrbih dahulu.


Begitu juga dengan Evan sebisa mungkin ia menetralkan ekspresi menganggumi pada Azzalea. Lalu tangannya mengambil polsel yang sejak tadi Azzalea pegang.


"Balikin!" pinta Azzalea sambil mencoba meraih ponselnya, ia tak suka barangnya diambil begitu saja oleh orang lain. Apalagi ponsel yang bisa dibilang adalah privasinya.


"Tunggu, lihat bentar!" Evan melihat layar ponsel Azzalea yang ternyata sedang membuka aplikasi belanja. Terlihat sudah ada beberapa barang yang masuk kedalam keranjangnya. Evan yang penasaran pun membuka nya.


Terlihat beberapa sepatu dan juga jaket yang ada didalam keranjang belanjaan itu, setelah puas Evan lebih memilih keluar dari menu dan melihat pesan chat.


Evan penasaran kenapa pesan dia tidak dibalas oleh gadis itu, apakah dia salah nomer. Dan saat ua membuka pesan chat ia menemukan sesuatu yang menarik.


"Siniin gak, ponsel gue!" Azzalea berusaha mengambil alih ponselnya tapi sayang nya Evan begitu gesit sehingga ia bisa lolos dari tangan Azzalea yang akan mengambil ponsel.


"Tunggu bentar!"


"Kembaliin itu privasi, lo kepo banget sih sama urusan orang lain!" gerutu Azzalea.


"Salah sendiri lo gak balas pesan gue, sombong amat!" cibir Evan.


"Kipas Batu," gumam Evan saat membaca sebuah nama yang ada dengan profil foto dirinya. Lalu Evan menatap Azzalea dengan tatapan aneh.


"Apa?" tanya yang ditatap, "siniin ponsel gue!" dengan cepat Azzalea berhasil mengambilnya kembali. Tapi siapa yang menyangka jika tangan lincah Evan sudah mengganti nama julukan itu.


Senyum tengil yang berhasil Evan perlihatkan saat Azzalea langsung mengantongi ponselnya agar tidak diambil Evan lagi.


"Apaan sih gak jelas mulu lo kalau ngomong," kesal Azzalea, ia melepaskan rangkulan itu.


"Oh ini pacar lo yang waktu itu, Van?" tanya seseorang yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


Reflek saja Azzalea dan Evan berbalik dan ternyata ada Gavin dengan gaya coolnya berjalan mendekati Evan.


"Kok pacar lo orang yang mau gue jadiin gebetan sih, Van?" tanya Gavin.


"Maksud lo apa?" tanya Evan kesal.


"Lo tau sendiri kan waktu itu gue ngomong apa? Gue suka sama cewek yang bernama Azzalea itu," kata Gavin sambil menatap Azzalea dengan tatapan mendamba.


"Tapi dia pacar gue, lo jangan sekali-kali buat deketin dia," kata Evan sambil menggenggam jemari Azzalea, Azzalea sempat protes namun melihat tatapan Evan yang bersungguh-sungguh ia membiarkannya saja.


"Sebelum janur kuning melengkung, Van... dia berhak memilih siapa yang dia mau. Iya gak, Zza?" tanya Gavin meminta persetujuan.


Azzalea tak tahu harus berbuat apa, sudah cukup satu Evan yang membuat hari-hari semakin menyebalkan. Lalu ini tambah satu orang lagi, ah ingin rasanya ia pergi saja ke tempat yang lebih tenang lagi. Ia tidak menyangka sikapnya ini bisa membuat orang-orang tertarik padanya.


"Gue gak izinin!" tegas Evan.


"Terserah lo mau izinin atau gak, gue gak perduli! Gimana kalau kita tanya saja sama yang bersangkutan?" saran Gavin sambil menatap Azzalea.


"Gue gak suka sama buaya!"


"Gue bukan buaya!" saut Gavin dan Evan bersamaan.


Azzalea sudah tau siapa Evan dan Gavin, mereka adalah sekian dari banyak siswa populer yang ada disekolahnya itu. Dan pasti saja banyak kaum hawa yang mendambakan mereka berdua. Contohnya saja Elena, ia sampai nekad ingin melukai Azzalea hanya karena Evan. Apalagi jika ditambah Gavin, musuhnya akan bertambah mungkin tak hanya teman seangkatan tapi seniornya juga. Azzalea tak mau itu, ia tak suka keributan seperti itu.


"Lo harus jauhin, Azzalea!" perintah Evan.


"Harusnya lo yang jauhin dia, mana mau dia sama lo? Mendingan sama gue yang udah jelas kan, gue ketua osis, ganteng, pinter lagi!" dengan sombongnya Gavin mengatakan itu.


"Heh, lo tenang aja... jabatan ketua osis itu bakal gue rebut!" Evan tersenyum meremehkan.


"Silahkan saja kalau lo bisa, asal lo tau saingan lo bukan gue aja buat jadi ketua osis. So, gue tunggu kabar baik nya!" Gavin pun menepuk bahu Evan, sedangkan menepisnya dengan kasar.


"Stop! Jangan libatin gue dengan masalah kalian!" tegas Azzalea sambil menatap mereka satu per satu.


"Gue gak ada sangkut-pautnya sama kalian, dan soal pacar kalian gak usah berharap. Gue gak suka sama kalian berdua!" bentak Azzalea lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua yang masih terbengong dengan ucapan Azzalea yang begitu cepat dan tegas.


"Waow gue gak nyangka dia bisa terlihat garang seperti itu," kata Evan sambil menatap kagum.


"Sama gue juga gak nyangka, cewek pendiem itu kalau udah ngomong bikin hati gue deg deg ser," kata Gavin.


Lalu sesat kemudian mereka saling bertatatapan aneh, padahal beberapa detik lalu mereka terlihat dekat.


"Apa lo!" songong Evan setelah itu pergi menyusul Azzalea.


"Apa lo, gak jelas banget jadi orang... kaya gitu mau jadi ketua osis? Heh, mimpi aka terus!" cibir Gavin sambil menyugar rambutnya.


Setelah itu ia kembali ke kelasnya, niat hati ingin pergi ke toilet tapi siapa yang menyangka mendapatkan kejutan seperti ini. Gavin semakin penasaran dengan Azzalea dan dia berniat untuk mendekati Azzalea, padahal sebelumnya ia hanya bermain-main saja. Tapi saat melihat Evan yang begitu tertarik dengan Azzalea ia pun sama.


"Lo sungguh menarik, Azzalea!" gumam Gavin sambil tersenyum miring.


...----------------...