Evanzza

Evanzza
Belum Rela



Disisih lain Azka terus saja uring-uringan tidak jelas, bahkan karyawan yang tidak salah apapun terkena imbasnya. Seperti saat ini, mereka sedang rapat dengan suasana mencekam bagai dirumah hantu, ah mungkin saja Azka lebih menakutkan dari hantu-hantu itu. Buktinya mereka hanya diam saja tanpa berani menatap Azka, karena kesalahan kecil saja sudah membuat Azka begitu emosi. Ia sampai melemparkan beberapa berkas itu ke atas meja tepat didepan karyawannya yang bertanggung jawab atas proyek yang sedang digarap.


"Kalian itu bisa kerja gak? Kalau gak bisa mending bilang sekarang, biar saya cepat cari pengganti kalian!"


"Padahal hanya beberapa kata saja yang salah ketik, apakah harus semarah ini!" batin sang asisten pribadi Azka.


Sedangkan karyawan lainnya hanya bisa menunduk karena takut, mereka tak berani menjawab atau pun memberikan pembelaan. Mereka tau semua itu akan percuma saja dimata Azka, karena saat marah semua akan dianggap salah padahal belum tentu itu salah.


"Saya tidak mau tau kalian harus segera perbaiki semua ini! Rapat selesai sampai disini!" tegas Azka lalu segera pergi dari ruang rapat itu.


Tatapan tajam nan dingin itu membuat siapa saja yang berpapasan menjadi diam dan menundukkan kepalanya, mereka tak ingin menyinggung sedikit pun atau pekerjaan mereka yang akan menjadi taruhannya.


"Siapa yang berani membangunkan singa ini!" batin Dandi sang asisten pribadi Azka. Dia juga hanya bisa diam sambil mengikuti langkah kaki bosnya, sesekali memberi kode pada karyawan lain agar tidak mendekat dulu.


Azka memilih kembali ke ruangannya bersama sang asisten, semua jadwal yang sudah disusun rapi untuk hari ini harus dibatalkan karena mood Azka yang jauh dari kata baik.


"Batalakan semua pertemuan hari ini!" perintah Azka langsung duduk disofa yang ada diruangannya.


"Tapi hari ini kita ada pertemuan yang sangat penting, tuan!" sang asisten mengingatkan.


"Urus semuanya, aku ingin hari ini free!" jelas Azka.


"Baiklah, saya akan hubungi client untuk memberitahu mundurnya pertemuan ini!" jelas Dandi.


"Hmmm!"


"Ada permintaan lain tuan?" tanya Dandi sambil mematap bosnya.


Azka tak menjawab pertanyaan sang asisten, ia hanya mengayunkan telapak tangannya menyuruh Dandi keluar dari ruangan.


Azka memijit pangkal hidungnya yang berdenyut sejak tadi. Bayangan beberapa jam lalu masih terngiang jelas dipikiran Azka, bagaimana tidak untuk pertama kalinya sang anak mendiamkannya bahkan seolah tak melihatnya padahal jelas-jelas Azzalea meliwatknya. Hal itu lah yang membuat Azka tidak bisa fokus pada pekerjaan, apalagi sang istri juga ikut-ikutan mendiamkannya.


"Huh! Ini semua pasti gara-gara, bocah tuyul itu! Bisa-bisanya istri sama anak gadisku nganbek seperti ini, sebenarnya mereka disogok apa sampai segitunya sama Evan?" monolog Azka menatap langit-langit ruangannya.


"Kenapa Ale harus jatuh cinta sama anaknya si ketos itu sih?" gumam Azka sambil menegakkan duduknya.


"Apa gak ada laki-laki lain gitu, kenapa harus anaknya Rayhan? Bahkan mama mertua juga ditangani Rayhan!"


"Hah, kenapa dunia yang seluas ini bahkan ada berjuta-juta manusia harus bertemu dengan mereka lagi?" monolog Azka.


Ya, Azka tak habis pikir kenapa ia harus selalu berhadapan dengan yang namanya Rayhan. Tidak dulu atau pun sekarang sama saja, membuat Azka kesal sendiri. Dulu istinya yang selalu membela Rayhan dan sekarang anaknya.


Azka berdiri melangkah menuju dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kendaraan berlalu-lalang dan beberapa bangunan pecakar langit lainnya. Azka mematap jauh kedepan, ia memikirkan perkataan sang istri semalam.


Haruskah ia berdamai dengan masa lalunya? Yang jelas saja selalu menguras emosi Azka saat mengingatnya. Apalagi saat sang istri selalu bisa tersenyum lebar saat didekat Rayhan, walaupun Azka sadar jika mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Namun, apa salahnya jika membatasi semuanya agar rasa yang sudah lama itu tak muncul lagi.


Azka masih asyik bergelut dengan pikirannya, ia masih bingung harus berdamai dengan perasaannya atau kekek melarang Azzalea bersama Evan. Yang pasti dua-duanya sangat berat untuk Azka, apalagi menyangkut kebahagiaan sang anak.


Tanpa disadari Attaya dan Devan sudah masuk kedalam ruangan Azka, mereka berdua menatap heran sahabatnya yang terlihat galau.


"Ehem, ada ABG yang lagi galau nih!" sindir Attaya yang membuat Devan terkekeh.


Azka yang mendengar deheman itu pun langsung menoleh, ia menghembuskan nafasnya kasar.


"Kalau masuk ketuk pintu dulu!" ketus Azka.


"Masa?" tanya Azka tak percaya.


"Maka nya punya kuping itu dipasang jangan buat pajangan aja, biar bermanfaat dikit gitu," celetuk Attaya mengejek Azka.


"Cih!" dengus Azka.


"Proyek gagal, wajah kusut gitu?" tanya Devan.


"Galau mulu mirip Nessa kalau lagi ngambek!" ledek Attaya.


Azka hanya diam, ia memilih duduk diantara Attaya dan Devan.


"Ini lebih dari proyek gagal, Van! Punya anak gadis bawaannya was-was mulu," kata Azka.


"Anak gue juga gadis yang pertama kalau kamu lupa," saut Devan.


"Tapi Ghea belum kenal cinta, kan? Ini si Ale udah bucin sama cowok!"


"Cakra?" tanya Attaya dan Devan bersamaan, Azka menggelengkan krpala karena memang bukan bersama Cakra.


"Anaknya Rayhan!" saut Azka malas.


"What! Lo jangan bercanda, Ka! Dunia kita luas kenapa bisa ketemu saa anaknya Rayhan?" tanya Devan.


Sedangkan Attaya tertawa terbahak-bahak, ia ingat jika Bobo pernah menanyakan hal ini pada Azka.


"Maka nya jangan terlalu benci sama orang, siapa tau dia jodohnya!" celetuk Attaya yang diangguki oleh Devan.


"Kok kalian malah belain anak tuyul itu dari pada aku sahabat kalian!" geram Azka.


"Lah waktu itu siapa yang bilang kalau semua terserah sama Azzalea yang penting anaknya bahagia, sekarang giliran anaknya mau bahagia dilarang!" Devan mengingatkan perkataan Azka saat reuni waktu itu.


"Bapak macam apa kau ini, Ka!" ledek Attaya.


"Waktu itu kan aku gak menyangka kalau dia anaknya Rayhan, pantas saja wajahnya mirip banget tapi kenapa aku bisa lupa!" gerutu Azka.


"Penyakit mu dari dulu gak pernah berubah, Ka! Selalu saja lupa sama wajah orang, untung gak lupa sama wajah istri mu!" puas sekali Devan bisa membuat Azka marah seperti ini.


Memang benar Azka cepat melupakan wajah orang-orang yang dianggap tidak penting untuknya. Dan ini lah hasilnya, dia lupa wajah Evan mirip dengan siapa.


"Terus aku harus gimana? Istri sama anak ngambek semua, Kia bilang kalau aku harus berdamai dengan masa lalu!" jelas Azka.


"Ya mau gimana lagi, Ka! Lo tau sendiri kan, jodoh sudah ada yang ngatur ... mau kamu larang seperti apa kalau mereka jodoh pasti akan bersama!" bijak Devan.


"Lagian apa salahnya sama anak Rayhan? Dia dokter kan?" tanya Attaya.


"Salah nya bapaknya itu ngejar-ngejar istri gue!" ketus Azka.


"Itu kan dulu, Ka! Lupa Siska kaya apa sama kamu? Bahkan sampai kalian udah nikah pun masih datangkan? Jangan egois lah!" nasehat Devan.


"Arrghh! Gak tau lah, Van! Rasanya belum rela aja kalau Ale manja dan perhatian sama laki-laki! Apalagi sama Evan, kaya gak ada orang lain aja," kata Azka.