
Elena sampai berlarian kecil menyusul langkah kaki Evan yang lebar, bahkan Evan sudah tak mendengarkan panggilan Elena karena mata dan pikirannya hanya fokus pada gadis yang beberapa meter ada didepannya. Evan semakin terlihat kesal saat Azzalea tersenyum dengan candaan yang diberikan Cakra, bahkan tak jarang Cakra mengacak-acak rambut Azzalea.
Para siswa siswi lainnya yang melihat itu pun juga berfikiran hal yang sama dengan Evan. Ya mereka berfikir jika Azzalea dan Cakra memiliki hubungan spesial, apalagi Azzalea terlihat sangat dekat denggan Cakra. Opini mereka terasa nyata dengan melihat tatapan dan perhatian Cakra yanf melebih dari sekedar teman saja.
"Apa gue bilang bener kan, Van?" tanya Elena setelah ia bisa mensejajarkan langkag kakinya dengan Evan.
"Apa?" tanya balik Evan.
"Dia itu cuma cewek murahan yang suka gonta-ganti pacar!" kata Elena, "Soalnya beberapa hari lalu gue liat dia sama cowok lain dam itu bukan cowok yang ada disebelahnya!"
"Jangan nyeberain berita yang gak bener, Len!" kata Evan dengan nada dingin.
"Gue gak bohong, Van... gue liat pake mata kepala gue sendiri," ucap Elena dengan sungguh-sungguh.
Evan hanya diam saja, kepalanya sudah pusing dengan visi dan misi yang harus ia susun matang-matang agar bisa terpilih sebagai kandidat ketua osis. Dan apa ini, ia sengaja berangkat sekolah pagi-pagi sekali hanya agar bisa bertemu dengan bidadari hatinya tapi ia mendapatkan pemandnagan yang membuat wajahnya semakin kusut saja.
"Mereka berdua kelihatan mesra banget ya gak, Van?" tanya Elena sambil menunjuk ke arah Azzalea dan Cakra.
"Cih!" Evan hanya bisa meneengus kesal saat melihat pemandangan itu, dimana Cakra sedang mencubit pipi Azzalea dengan gemasnya. Sedangkan dirinya saja tak dianggap saat mengajak kenalan, sedangkan Cakra ia bisa bebas menyentuh Azzalea.
"Mereka berdua itu cocok banget, kalau beneran pacaran bisa jadi best couple!" Elena menatap dua sejoli itu, jika diperhatikan lagi memang benar yang Elena katakan tapi hati Evan seolah menolak hal itu.
Dengan langkah cepat Evan menerobos kemesraan Azzalea bersama Cakra, ia bahkan sengaja menabakan bahunya pada bahu milik Cakra. Hingga membuat Cakra terhuyung kebelakang karena tidak siap.
"Kalau jalan liat-liat dong!" ketus Cakra yang merasa terganggu.
"Kalau pacaran liat-liat tempat dong!" sindir Evan sambil menatap tajam Cakra, dari tatapan mata Evan seolah sedang mengajak perangan dingin dengan Cakra.
"Bukan urusan lo!" Cakra tidak mau kalah dengan Evan.
Evan tak menanggapinya lagi, karena ia memilih mengajak bicara bidarari disebelahnya ini.
"Hai, Azzalea... kenalin gue Evan, seseorang yang akan menggantikan dia dihatimu," kata Evan sambil melitik Cakra sekilas.
"Oke gak Apa-apa lo gak mau kenalan sama gue, yang jelas cukup lo inget baik-baik nama gue... karena nama ini yang akan tercatat dibuku nikah lo!" kata Evan dengan percaya dirinya.
Sedangkan Azzalea tak habis pikir dengan laki-laki didepannya saat ini.
"Gila," gumam Azzalea.
"Iya gue gila karena terpesona dengan kecantikan lo," kata Evan.
"Heh, jaga tuh mulut! Gak usah ngomong hal yang gak penting kaya gitu!" bentak Cakra.
"Gak usah ikut campur," kata Evan.
"E V A N," ia sengaja mengeja namanya ditelinga Azzalea, "Jangan lupa ya, Azzalea Lestyana," lanjut Evan.
Perkataan itu berhasil membuat mata Azzalea terbelalak sempurna, ia heran dari mana laki-laki ameh didepannya ini bisa tahu namanya padahal ia masih menggunakan sweter yang menutupi seragamnya sehingga name taxtnya juga tak terlihat.
Setelah mengatakan itu, Evan langsung pergi begitu saja meninggalkan Azzalea yang masih terheran. Elena yang sejak tadi berada agak jauh dari mereka pun langsung mengikuti Evan yang sudah berjalan ke kelasnya.
"Lo kenal, Le?" tanya Cakra.
Azzalea hanya menggelengkan kepalaya, karema memang benar ia tidak kenal dengan siapapun kecuali sahabatnya dan beberapa teman sekelasnya.
Tiba-tiba saja ada tangan yang merangkul bahu Azzalea dan juga Cakra kemudian terdengar suara yang sudah tidak asing lagi bagi untuk mereka berdua.
"Yoo, kalian tau gue masuk sekolah hari ini ya terus nungguin gue disini!" dengan percaya dirinya ia berkata seperti itu sambil menunjukan tawa renyahnya.
"DAVA!" teriak Cakra dan Azzalea bersamaan.
"Enak banget ya lo baru balik liburan, sedangkan sekolah udah mulai beberapa hari lalu!" protes Cakra sambil merangkul balik leher Dava.
"Sakit, woy!" kesal Dava sambil mencoba melepaskan diri dari Cakra.
"Bodo amat, salah sendiri lo gak setia kawan banget... lo niat sekolah apa gak?" tanya Cakran.
"Uhuuk uhuuk! Lepasin gue kehabisan napas!" protes Dava dengan wajah yang memerah sambil terbatuk-batuk.
Cakra yang melihat itu langsung melepaskan rangkulannya, ia tak ingin terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.
"Hah, gue baru balik bukannya disambut malah dianiaya," gerutu Dava sambil merapikan seragamnya yang terlihat lecek gara-gara ulah Cakra.
"Eh, dedek Lea makin cantik aja," kata Dava sambil mencolek pipi Azzalea.
"Cih, mana?" Azzalea menepis tangan Dava kemudian ia mengatungkan tangannya didepan wajah Dava.
"Mana apanya?" tanya Dava yang tak paham maksud Azzalea.
"Oh gue tau, lo kangen gue juga kan... mau peluk kan?" ucap Dava dengan penuh percaya diri dan sudah mendekat untuk memeluk Azzalea. Namun saat melihat wajah dingin Azzalea, Dava tidak jadi melakukannya.
Perlahan Azzalea mendorong tubuh Dava agar menjauhinya dengan jari telunjuknya.
"Oleh-oleh!" singkat Azzalea.
"Oh bilang yang jelas dong jangan setengah-setengah gitu kan gue bukan cenayang yang paham semuanya tanpa diucapkan," kata Dava panjang kali lebar.
"Dia kan copyan nya Om Azka jadi wajar kalau omongannya singkat jelas padat," ucap Cakra sambil terkekeh.
Sedangkan Azzalea hanya memutar kedua matanya dengan malas, karena ia sudah sering mendengar hal itu.
"DAVAAA! AKHIRNYA LO MASUK JUGA GUE KANGEN!" teriak Nessa sambil berlari menghampiri Dava, dibelakangnya ada Ghea yang berjalan santai mengikuti Nessa.
"Hai bocil!" sapa Dava sabil mengacak-acak rambut Nessa. Bahakan ia juga membiarkan Nessa memeluknya.
"Mana oleh-olehnya?" tanya Nessa dengan pupy eyes nya.
"Lo minta oleh-oleh, juga?" tanya Dava.
Nessa pun menganghuk penuh harap.
"Astaga, gue kira lo teriak-teriak terus meluk gue karena kangen... ternyata cuma mau oleh-olehnya aja!" geram Dava yang membuat mereka semua terkeheh.
"Ngapain kangen sama lo, mendingan kangen tuh sama yang ganteng-ganteng sekalian cuci mata," kata Nessa polos.
"Hast! Bocil ini tau yang ganteng juga yak!" Dava mencubit hidung Nessa karena gemas.
"Sakit, ih!" keluh Nessa.
"Hadiah kalian semua dirumah nanti pulanh sekolah mampir kerumah aja," kata Dava.
"Siap!" saut mereka terdengar bahagia.
Sejak tadi Azzalea merasa ada yang memperhatikannya tapi ia tak tahu siapa itu, karena tak ingin pusing Azzalea membiarkannya saja.
"Masuk kelas yuk, udah bel!" ajak Ghea.
Kemudian mereka semua masuk kedalam kelas untuk mengikui pelajaran.
...----------------...