Evanzza

Evanzza
Ada apa



Baru berapa menit yang lalu bel istirahat berbunyi tapi lihat lah kantin sudah dipenuhi manusia-manusia yang sedang kelaparan, asal kalian tahu berfikir juga menguras energi sehingga membuat kita cepat lapar.


Elena masih berdiri diambang pintu kantin, ia menajamkan pengelihatannya untuk mencari seseorang. Hampir seluruh kantin ia amati hingga netranya menemukan sosok yang sejak tadi dicari, Azzalea.


Gadis itu tengah menunggu makanannya bersama ke empat sahabatnya, entah dimana Evan ia belum kelihatan sama sekali. Padahal biasanya saat istirahat ia selalu lebih dulu mendatangi kelas Azzalea dan mengajaknya ke kantin, atau ia sudah ke kantin terlebih dahulu dan mencarikan bangku kosong untuk Azzalea.


"Cari siapa, Al?" tanya Dafa yang melihat sahabatnya itu sedang mengamati sekitar.


"Gak cari siapa-siapa tuh," jawab Azzalea.


"Masa sih, bohong ya? Paling juga lagi nyariin Ev awh!" kaki Ghea langsung ditendang oleh Azzalea saat sahabatnya itu akan mengatakan sebuah nama, Ghea tidak tahu saja keributan apa yang sudah dibuat orang itu.


"Sakit ihh, Al! Kasar amat jadi cewek, nanti yang suka pada kabur lo!" ledek Ghea sambil mengusap kakinya yang sakit.


"Biarin aja kabur, kan tenang gue!"


"Heleh, bilang tenang-tenang nanti nyesel loh... apalagi pas sayang-sayang nya dia pergi huuu!" goda Ghea sambil mencubit kedua pipi Azzalea.


"Heh, gak mempan lo liatin gue kaya gitu!" sambil mengusap wajah Azzalea yang membuat gadis itu semakin kesal.


"Nessa gak paham kalian lagi bahas apa," kata Nessa dengan polosnya.


"Sutt! Nessa masih kecil mending makan aja biar cepat besar oke!" Dafa menangkup kedua pipi Nessa karena memang gadis itu duduk bersebelahan dengan Dafa.


"Ih pipi Nessa sakit kalau diginiin," protesnya sedangkan yang lainnya hanya bisa menatap Nessa yang memang masih satu tahun lebih muda dari mereka.


Tak selang berapa lama pesanan mereka pun datang, mie ayam dan bakso. Entahlah kenapa mereka sangat suka makanan itu meskipun hampir tiap hari tapi tak pernah bosan.


Azzalea ingin menuangkan soas pedas pada mie ayamnya tapi sayang sejak tadi ia goyang-goyangkan botol saos itu tapi tidak ada yang keluar. Cakra yang duduk disamping Azzalea pun dengan sigap membantu Azzalea, ia mengambil alih botol saos dari tangan Azzalea. Lalu memukul pangkal botol saos itu agar keluar dan benar saja saos itu sudah bisa Azzalea nikmati.


"Makasih!"


"Sama-sama," jawab Cakra sambil meletakan saos itu kembali.


"Jangan uwu-uwuan lah, ngenes sendiri gue lihatnya.. lo sama Cakra, nih bocil satu sama Dafa! Terus gue sama siapa?" tanya Ghea dramatis.


"Sama yang mau lah, Ghe! Itu pun kalau ada haha," kata Azzalea sambil terkekeh.


"Wah songong mentang-mentang banyak yang suka," gerutu Ghea.


"Tuh, kang kebun gue jomblo, Ghe! Lo mau? Nanti gue kasih kontak nya," goda Dafa sambil menunjuk Ghea dengan garpu yang berisi bakso.


Hap!


Tanpa pikir panjang Ghea melahab bakso tersebut, bulan salah Ghea karena Dafa sendiri yang menyodorkan bakso itu kedepan mulut Ghea.


"Wah bakso gue tuh! Main makan aja," gerutu Dafa, tangannya sudah sigap menjauhkan mangkok baksonya agar tidak diambil Ghea.


"Salah sendiri dikasih, wleee!"


Mereka pun tertawa dengan tingkah receh dan bar-bar yang ditunjukkan teman mereka. Tak terkecuali Cakra yang terlihat sangat jelas jika ia begitu perhatian dengan Azzalea.


Namun disatu sisih terlihat Elena yang sedang terbakar emosinya sejak tadi, bagaimana tidak jika sudah ada seseorang yang menyayangi kenapa harus mencari orang lain apalagi orang itu yang Elena suka.


"Dasar cewek murahan! Kalau lo udah ada cowok kenapa harus caper sama gebetan orang lain?" gerutu Elena.


"Lo kekurangan cowok atau gimana sih? Sampai Evan pun juga lo godain!" kesal Elena.


Dengan langkah cepat Elena mendekati meja mereka, entah lah sudah berapa kali Elena memperingati Azzalea tapi tetap saja tak ada perumahan, justru dirinya yang merasa tertekan.


BRAK!


Suara itu membuat seisi kantin yang tadi nya ramai menjadi sunyi, mereka tengah mencari sumber suara yang mengagetkan orang.


"Eh banci si al an!" latah salah seorang siswa karena kaget.


"Ada apa sih?"


"Siapa sih yang bikin jantungan?"


"Yok liat drama ikan terbang!" begitulah suara bisikan yang bisa diengar Elena.


"Cih, kok panas sih tangan gue," batin Elena sambil menahan rasa sakit akibat dia menggebrak meja terlalu keras.


"Heh, lo jadi cewek jangan sok kecakepan deh! Lo gak denger apa peringatan gue waktu itu, kenapa Evan masih aja deketin lo?" cecar Elena.


"Apa sih bagusnya lo dari pada gue? Cantik juga masih cantik gue, body bagusan gue kemana-mana?" Elena mengamati penampilan Azzalea yang terlihat biasa saja karena ia tak suka berdandan terlalu mencolok.


"Atai jangan-jangan lo main anu ya! Jadi Evan ngejar-ngejar lo terus, ngaku lo!: bentak Elena sambil menggebrak meja lagi namun tidak sekencang tadi.


"Ganggu orang makan aja!" kesal Nessa.


"Kenapa diem aja? Bener kan yang gue bilang? Heh gak nyangka ya gue lo orang kaya gitu," kata Elena memanas-manasi Azzalea tapi sayang nya yang dipancing pun biasa saja. Karena Azzalea masih tetap menikmati mie ayamnya, tapi beda dengan para sahabatnya yang sudah kepanasan.


"Heh, lo kalau punya mulut itu dijaga, jangan asal jeplak aja! Disekolahin biar bener ini malah makin jadi!" Ghea menatap tajam Elena.


"Udah-udah, jangan ribut malu dilihatin orang-orang! Lo juga Len, kenapa sih lo gangguin orang mulu... kalau Evan gak suka sama lo harusnya lo perbaiki diri lo kali aja emang dari lo nya yang buat Evan gak suka," kata panjang lebar dari Dafa.


"Apalagi sikap lo yang kaya gini pasti bukan cowok males sama lo, termasuk gue!" lanjut Dafa lagi, dia bukan orang yang suka ikut campur masalah orang lain tapi sekalinya Dafa ngomong bisa bikin orang kagum sekaligus sakit hati.


"Cukup! Gue gak perluh pendapat lo!" Elena menatap tajam Dafa sambil berkacak pinggang.


"Balik aja, udah gak selera makan gue," ajak Cakra yang mulai bangkit dari duduknya.


"Iya, Nessa jadi males makan ada suara cempreng yang mencemari lingkungan," kata Nessa yang langsung disambut pelukan oleh Ghea.


"Bener banget Nessa gemoy!"


Elena yang merasa dipermalukan dan di acuhkan pun semakin kesal, dengan cepat ia menarik rambut Azzalea hingga membuatnya kesakitan.


"LEPAS!" teriak Azzalea yang membuat mereka melihat ke arah Azzalea.


"Gak, gue gak mau lepasin lo! Lo yang udah buat dia berpaling dari gue!"


Sret!


Tangan Elena mengambil gampur yang ada dimeja itu, garpu itu langsung di sodorkan pada wajah Azzalea membuat semua orang yang akan menolong menjadi berhenti.


"Kalau kalian sampai mendekat, gue gak tau lagi garpu ini bakal mendarat dimana!" kata Elena, sedangkan Azzalea masih memegangi rambutnya yang dijambak Elena.


Azzalea sudah tak bisa tinggal diam lagi, ia menepis tangan Elena yang berada dekat dengan pipinya itu. Tapi siapa yang menyangka disaat bersamaan munculkan seseorang yang ingin menghentikan aksi Elena.


Sreeettt!


Garpu itu mengenai wajah seseorang yang berada disebelah Elena, semua orang kaget dan berteriak.


"EVAN!"


"VAN!


"Aahh pasti sakit itu!"


"Perih, walaupun gue gak rasanya sih!"


Elena pun menoleh begitu juga dengan Azzalea, betapa kagetnya mereka saat melihat pipi Evan mengeluarkan darah.


"E-Evan," kata Elena kaget.


Tangan Elena terlihat bergetar saat mengetahui siapa yang ia lukai.


"Lepas!" kata Evan dingin sambil menatap tajam Elena.


Elena pun melepaskan tangannya yang masih menjambak rambut Azzalea, sebenarnya Azzalea sendiri bisa mengatasi Elena dan dia juga tidak menyangka jika Evan akan tiba-tiba datang membantunya padahal yang lain mengurungkan niat mereka.


"Ada apa ini?" suara bariton yang sudah tidak asing lagi semkin membuat sauasan mencengkam.


...----------------...