Evanzza

Evanzza
Tak Selebar daun kelor



Bau obat terasa begitu menyengat di indra penciuman, samar-samar terdengar suara para suster dan dokter tengah sibuk mengurus pasien yang datang silih berganti. Dan seorang pelajar SMA yang masih menggunakan seragam lengkapnya tengah menenteng sebuah kantong kresek yang berisi beberapa makanan dan juga camilan. Tadi pagi karena bangun terlalu siang sehingga ia tak sempat sarapan dan sekarang perutnya sudah berontak minta diisi.


Siswa itu melangkah memasuki sebuah ruang rawat yang hanya ada seorang saja didalamnya, seorang anak laki-laki tengah bersadar pada kepala bankar dengan soror mata dinginnya.


"Gimana, masih ada yang sakit?" tanyanya yang tak lain adalah Evan.


Anak laki-laki itu terus menatap Evan dari atas hingga bawah, tadi ia tak terlalu mengamati orang yang sudah menolongnya itu. Terlihat seragam SMA yang sama dengan sang kakak sehingga ia bisa memastikan jika orang didepannya ini satu sekolah dengan kakaknya.


Evan duduk dikursi sebelah bankar lalu meletakan kantong kresek diatas nakas.


"Kalau masih ada yang sakit bilang aja, nanti kakak panggilin dokter buat cek keadaanmu," kata Evan.


Evan mengambil kotak nasi yang ia beli dikantin rumah sakit tadi.


"Kakak belum hubungi keluargamu, soalnya pas kakak buka ponselmu ada sandinya," jelas Evan ramah.


"Mau makan?" tawar Evan karena ia akan memakan nasi kotak itu, tapi lagi-lagi anak itu masih diam saja.


"Zam?" panggil Evan lagi.


"Jangan-jangan kepalanya nyium aspal duluan makanya jadi oleng gini!" gumam Evan.


"Gak usah bisik-bisik masih kedengeran juga!" celetuk anak laki-laki, Azzam.


Evan memasang senyum paksanya, rasa-rasa Azzam mirip seseorang yang di kenalinya. Lalu tanpa malu Evan menyantap nasi ayamnya tanpa malu, padahal Azzam sedang menatapnya.


"Kak, makasih!"


"Sama-sama," saut Evan disela-sela makannya.


Tak butuh waktu lama Evan sudah menyelesaikan makannya, dilihatnya Azzam yang tengah kesusahkan mengetik sesuatu dilayar ponselnya karena menggunakan tangan kiri sedangkan tangan kanannya sudah terbalut perban.


Huh!


Azzam mendengus kesal karena sang papa tak kunjung menerima panggilan teleponnya padahal sudah beberapa kali Azzam menghubunginya, lalu ia berganti menghubungi sang mama memberitahukan bahwa ia sedang berada dirumah sakit.


"Gimana?" tanya Evan.


"Papa susah dihubungin kak, untung mama ada dirumah... lagi mau otw kesini," jelas Azzam.


Evan hanya mengangguk paham dengan apa yang diucapkan Azzam, lalu ia melihat Azzam yang berusaha meraih gelas yang ada disebelahnya dengan tangan kirinya.


"Susah banget sih!" gerutu Azzam.


Hap!


Evan langsung mengambil alih gelas itu dan membantu meminumkannya pada Azzam.


"Lain kali kalau butuh apa-apa bilang aja, jangan dipaksain sendiri!" Evan mengacak rambut Azzam yang sedang menatapnya.


"Makasih, kak mau makan buah itu," tunjuk Azzam pada buah jeruk yang ada disebelah kantong kresek.


"Baiklah, kakak lagi baik sama kamu jadi apapun yang kamu mau bakal kakak turutin!" entah mengapa Evan merasa seperti sedang merawat adiknya sendiri, jujur saja ia sudah lama ingin memiliki seorang adik yang akan membuat ia tidak kesepian lagi. Tapi sayangnya sampai saat ini sang mama belum diberikan momomgan lagi, sehingga saat ia dekat dengan Azzam seperti ini serasa memiliki seorang adik.


"Nih, ayo aa kakak suapin!" perintah Evan.


"Azzam bisa makan sendiri kak, Azzam bukan anak kecil!" kesal Azzam seolah sedang mengeluarkan tanduknya.


"Nurut aja udah, kakak gak mau tangan kamu makin sakit terus lama sembuhnya... udah buruan aaa!" Evan menyuapkan buah jeruk yang sudah dikupas didepan mulut Azzam, dengan senang hati Azzam menerimanya.


"Oh iya, nama kakak siapa?"


"Evan Anggara, biasa dipanggil Evan!" Evan terus menyuapi Azzam hingga satu buah jeruk itu habis.


"Kak Evan, mau gak jadi kakaknya Azzam?" tanya Azzam berharap.


"Soalnya udah lama banget Azzam pengen punya kakak laki-laki," lanjut Azzam lagi.


Evan pun tersenyum manis sambil mengusap pucuk kepala Azzam.


"Boleh banget, kebetulan kakak juga pengen punya seorang adik," jawab Evan.


"Emangnya kakak gak punya adik?"


"Kakak anak tunggal," jawab Evan sambil menggelengkan kepalanya.


"Tenang aja, sekarang kan Azzam udah jadi adeknya kakak!" seru Azzam bersemangat seperti sudah mendapatkan mainan baru, Evan pun hanya terkekeh melihat tingkah Azzam.


"Tau gak, Azzam juga punya kakak cantik tapi sayang galak banget, mana dingin kaya kulkas dua pintu! Azzam merasa sangat nyaman bersama Evan sehingga ia tanpa sadar lebih terbuka pada Evan.


"Serius kak, kalau lagi mode dingin ya gitu tapi aslinya mah penyayang banget!" jelas Azzam.


"Nanti, Azzam kenalin sama kakak... Azzam jamin kakak pasti langsung suka!" celetuk Azzam yang terlihat bersemangat.


"Tapi sayangnya kakak udah ada orang yang disuka tuh," jawab Evan santai.


Tanpa mereka sadari seorang ibu paruh baya sudah sampai didepan pintu ruangan Azzam, tapi ia urungkan masuk saat mendengar tawa seseorang. Beliau bisa melihat betapa akrabnya mereka berdua padahal Azzam bukan tipe orang uang mudah akrab dengan orang baru.


"Eheem!"


Deheman itu mampu mengalihkan pembicaraan dua laki-laki yang beda usia itu, mereka berdua kompak menoleh pada pintu masuk dan terlihatlah wanita yang mereka kenali.


"Mama!"


"Tante!" ucap Azzam dan Evan bersamaan.


Wanita itu adalah mama Azkia ia terlihat begitu panik namun berubah menjadi senang saat melihat putra nya baik-baik saja. Mama Azkia melangkah masuk dan mendekati Azzam.


"Azzam, Evan!" panggil mama Azkia tak percaya.


Sedangkan mereka berdua mengangguk bersamaan seolah seperti dua anak kembar saja.


"Gimana, gimana bisa seperti ini?" tanya mama Azkia melihat keadaan putranya yang sudah terbalut perban di kaki dan tangannya.


Kemudian Azzam menceritakan kejadian dari ia mulai turun dari mobil sang papa sampai bisa dirumah sakit. Mama Azkia sangat berterimakasih pada Evan yang sudah membantu putranya itu.


"Makasih banget ya, Van... kamu udah mau nolongin anak tante," ucap mama Azkia.


"Sama-sama tan, Evan juga kebetulan aja ada di lokasi," kata Evan ramah.


"Dunia ini memang tak selebar daun kelor ya," ucap mama Azkia sambil terkekeh.


"Mama udah kenal sama kak Evan?" tanya Azzam, sang mama pun mengangguk.


Mama Azkia mengamati Evan yang masih menggunakan seragam sekolah dengan jas almamaternya. Ia bisa menebak jika Evan bolos sekolah hari ini demi menolong Azzam.


Brak!


Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dengan sangat keras oleh seseorang membuat mereka bertiga terpelonjat kaget.


"Azzam! Azzam gimana keadaan kamu nak! Maafin papa telat datangnya papa tadi ada rapat, papa gak denger kalau kamu hubungin papa. Mana, mana yang sakit bilang sama papa... bagaimana kamu bisa sampai seperti ini? Siapa yang berani celakain anak papa, cepat bilang biar papa kasih pelajaran!" pertanyaan beruntun itu membuat mereka bertiga terbengong.


"By, satu-satunya nanya nya! Gimana Azzam mau jawab kalau sekali tanya sebanyak itu!" gerutu mama Azkia.


Ya orang itu adalah Azka, papanya Azzam yang langsung terburu-buru saat mendengar kabar bahwa Azzam kecelakaan. Bahkan ia sudah menunda beberapa pertemuan penting lainnya, karena tidak ada yang lebih penting dari keluarganya.


"Maaf, Nyun! Aku panik," jawab Azka.


Kemudian sang istri menjelaskan semuanya seperti apa yang Azzam ceritakan tadi, dengan seksama Azka mendengarkan penjelasan sang istri.


"Jadi pelakunya kabur?" tanya papa Azka.


Mereka bertiga mengangguk dengan kompak.


"Tenang aja papa akan suruh orang buat cari pelakunya, enak aja main kabur tanpa bertanggung jawab... apalagi udah buat anak papa masuk rumah sakit," kata papa Azka serius.


"Oh iya ini siapa?" tanya papa Azka setelah sadar jika ada orang lain diantara mereka.


"Saya, Evan om!" Evan pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Azka.


"Hmmm," saut Azka dingin.


"Jangan gitu pah, kak Evan ini yang udah nolongin Azzam!" Azzam tau papa nya akan selalu bersikap dingin pada orang luar.


"Terimakasih, kamu sudah nolongin anak om!" Azka pun menepuk bahu Evan dua kali.


"Sama-sama, om!"


Evan menjelaskan kondisi Azzam saat ini seperti yang dibilang dokter tadi tanpa terlewat sedikit pun. Lalu Evan berpamitan pulang karena kedua orang tua Azzam sudah datang tapi sayangnya Azzam yang sudah menganggap Evan seperti kakaknya sendiri tidak mengizinkannya pulang.


"Yaudah, Van... kamu disini dulu temani Azzam, nanti kalau kakaknya sudah pulang sekolah biar langsung kesini gantiin kamu," pinta Azka.


"Baiklah om!"


Azka memang meminta Azzam untuk dirawat dirumah sakit sampai besok agar mudah bagi dokter untuk memantau keadaannya, karena ia tidak ingin terjadi sesuat pada sang anak.


...----------------...