Evanzza

Evanzza
Boleh absen aja?



Gelapnya malam sudah berganti dengan hangatnya sinar mentari pagi, cahaya nya sedang mengusik seorang gadis yang tengah terlelap. Bahkan suara gedoran pintu pun tak membuat bangun, apalagi gadis itu baru tertidur setelah dini hari. Semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan seseorang yang masih belum memberikannya kepastian hingga saat ini.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik selimutnya, tapi dengan cepat gadis itu menarik lagi selimutnya hingga menutupi hingga seluruh badannya.


"Bentar lagi masih, ngantuk!" terdengar suara tidak jelas dari balik selimut itu.


"Kak diajak papa joging tuh," ucapnya, Azzam.


"Lo aja, gue ngantuk!"


"Cih, gimana mau dapetin kak Evan, kalau bangun pagi aja malas!" cibir Azzam sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada, netranya terus menatap selimut yang pasti akan terbuka sebentar lagi.


Set!


Benar saja apa yang diperkirakan oleh Azzam, selut itu langsung terbuka lebar menunjukkan muka bantal Azzalea. Ia masih duduk diatas ranjang sambil mencoba mengumpulkan nyawanya. Beberapa kali ia menguap, tangan kirinya sibuk menggosok-gosok kelopak matanya.


"Bocil tau apa soal cinta!" sarkas Azzalea.


Azzam memutar kedua bola matanya dengan malas, ia masih pada posisinya semula.


"Mandi gih, buruan! Udah ditunghuin papa, iler tuh kemana-mana," ucap Azzam sambil melangkah menuju pintu kamar Azzalea.


Bruk!


Azzalea langsung melemparkan bantalnya pada wajah Azzam, ia merasa kesal dengan adiknya itu.


"Singanya ngamuk!" celetuk Azzam sambil menutup pintu kamar kakanya itu.


"AZZAM!" teriak Azzalea.


Sedangkan sang adik hanya terkekeh saja sambil menuruni anak tangga, ia sangat senang pagi ini sudah bisa membuat sang kakak emosi.


"Kak Ale mana, Zam?" tanya Mama Azkia.


"Masih mandi, mah! Baru bangun dia, kaya nya lagi galau!" jujur Azzam yang sudah duduk dikursi meja makan.


"Galau kenapa sayang?" tanya Mama Azkia penasaran, pasalnya putri sulungnya itu belum bercerita apapun pada dirinya.


"Biasa lah mah, anak muda!" Azzam terkekeh pasalnya ia tahu betul jika sang kakak suka dengan Evan.


"Kamu ini, bicaranya kaya orang tua aja," kata Mama Azkia sambil memberikan susu pada Azzam.


"Papa mana, mah?" tanya Azzalea yang sudah siap dengan pakaian olahraganya.


"Didepan kaya nya nungguin kalian tuh dari tadi," ucap Mama Azkia sambil mematap kedua anaknya.


"Yaudah, Ale nyusul papa dulu ya, Mah!" Azzalea masih menyimpan kekesalan sama Azzam.


"Azzam juga mah!" Azzam langaung menyusul sang kakak kedepan.


Kemudian mereka bertiga melakukan joging pagi disekitaran komplek perumahan yang mereka huni.


"Nanti sekitar jam sepuluh, kalian harus ikut papa reuni, oke!"


"Boleh absen aja gak sih, pah? Paling jga ketemu sama mereka, bosen tiap hari juga ketemu disekolah!" gerutu Azzalea.


"Azzam juga absen ya pah!" pinta Azzam.


"Gak boleh, mereka aja nanti bawa anak-anak nya masa papa cuma berdua aama mama? Nanti mereka kira papa lagi pacaran sama mama kamu," kata Azka dengan santai.


"Serah!" kompak Azzam dan Azzalea.


Mereka langsung berlari mendahului sang papa, rasanya malas jika menanggapi sang papa yang sudah bucin jika menyangkut mama mereka.


......................


Pukul 10:30 WIB Azka bersama keluarganya sudah sampai disebuah Cafe dimana tempat ia janjian bersama sahabatnya, hari ini mereka mengadakan reuni kecil-kecil. Hanya orang-orang terdekat Azka yang datang diacara reuni ini.


Dengan posesif nya Azka melingkar kan tanggannya dipinggang sang istri, mereka berjalan masuk menuju meja yang sudah dipesan sebelumnya. Dibelakang nya ada Azzalea dan juga Azzam dengan wajah dingin mereka. Entah Azkia juga tak mengerti kenapa wajah kedua anaknya snagat mirip dengan Azka, apalagi Azzalea sampai sifatnya pun mirip Azka.


"Tiap malem udah buat tapi gak jadi-jadi," saut Azka sambil memeluk sahabatnya satu persatu.


PLAK!


Azkia yang mendengar itu pun langsung memukul punggung sang suami, bisa-bisanya terlalu jujur didepan anak-anak. Sedangkan Azka hanya memasang tampng tak berdosanya.


"Azkiaaaa kangen banget aku sama kamu!" Devira langsung memeluk erat Azkia begitu juga dengan Nayla.


Dengan kesibukan mereka masing-masing membuat sahabat itu jarang bertemu, jika mereka sudah bertemu sampai lupa waktu. Banyak hal yang mereka ceritakan seolah mereka memiliki segudang cerita.


Azzam dan Azzalea pun lebih memilih duduk bersama yang lainnya, disana juga ada Ghea, Nessa, Dafa dan Ciko pastinya. Karena reuni kali ini hanya pertemuan sahabat Azka dan Azkia saja.


"Lemes banget sih, Al?" tanya Ghea yang melihat Azzalea seperti tak bertenaga.


"Kalau tau gini mendingam tadi gue tidur dirumah aja," gerutu Azzalea sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Galau mulu, masih belum ada kepastian?" tanya Dafa.


Azzalea pun menggeleng lemah, Cakra hanya melihat itu sambil tersenyum tipis.


"Gue kan udah bilang berkali-kali sama lo, Al! Lo itu cuma dighosting doang sama si kipas angin itu!" seru Cakra.


"Ciee yang udah move on," goda Dafa samnil menoel dagu Cakra.


"Jangan colek-colek gue bukan sabun!" kesal Cakra.


"Gue lagi gak mau bahas, itu dulu! Nyeseg bawaannya," jelas Azzalea sendu.


"Mungkin Kak Evan punya asalan tersendiri kalau sampai sekarang belum juga ungkapin perasaannya!"


Mereka semua langsung menoleh, menatap Azzam dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Lalu beberapa detik kemudian mereka tertawa, Cakra memgusap pucuk kepala Azzam gemas.


"Azzam udah gede ya, udah pinter memahami orang lain!" goda Dafa.


"Tapi gue setuju sama ucapan Azzam, mungkin Evan punya alasan sendiri kenapa sampai saat ini belum juga ungkapin perasaannya," kata Ghea, sedangkan Nessa ia sibuk makan saja.


"Alasannya ya gak ada perasaan itu!" Cakra mengkopori Azzalea.


"Kalo menurut gue sesama cowok nih, Evan nyembunyiin sesuatu dari kita," saut Dafa.


"Apa?" tanya mereka semua.


"Ya mana gue tau apa nya, kan gue cuma ngungkapin pendapat gue doang!" jelas Dafa.


"Skip lah jangan bahas lagi, gue mau fokus sama ujian semester aja!"


"Gaya lo, kak! Belajar aja gak pernah fokus apanya, yang ada fokus nonton cowok cantik!" cibir Azzam membuat mereka semua tertawa.


"Hahahaa!"


Tuk!


Azzalea menyentil jidat sang adik, kenapania bisa memiliki adik yang hanya bisa menjelekan dirinya saja. Ingin sekali Azzalea memukar Azzam dengan adik perempuan saja agar bisa diajak curhat dan tak menjahilinya.


"Gue tuker tambah lo!" ancam Azzalea.


"Kalian kenapa gak makan sih, dari tadi ngomong terus?" tanya Nessa yang sejak tadi hanya sibuk makan saja.


Sedangka para orang tua tengah membahas sesuatu yang pening menyangkut hubungan mereka agar semakin dekat.


"Andai lo bisa menerima gue, Al! Gue gak akan gantungin perasaan lo kaya gini," batin Cakra.


.....


Terlalu memgharapkan sesuatu itu menyakitkan, ~Azzalea