
Azzalea tengah berjalan dilorong kelas sendirian, ia izin untuk pergi ke toilet. Tapi siapa yang menyangka jika sejak tadi ada yang mengikutinya, Azzalea yang sadar jika ia diikuti seseorang pun langsunh berbalik badan. Tapi sayangnya tidak ada diapapun saat ia menoleh kebelakang, lalu Azzalea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Bukan karena takut, ia mempercepat langkah kaki nya hingga sampai didepan toilet lagi-lagi Azzalea menoleh kebelakang.
"Siapa sih!" batin Azzalea.
Tanpa menunggu lama ia langsung masul ke dalam toilet dan disaat bersamaan orang yang sejak tadi mengikuti Azzalea pun muncul sambil tersenyum devil.
"Awalnya gue deketin lo cuma ingin lihat Evan menderita dengan kelemahannya, yaitu lo!"
"Tapi sayangnya gue jadi tertarik juga sama lo," monolognya sambil bersandar pada dinding yang tak jauh dari toilet perempuan.
Sedangkan Azzalea yang sedang berada didalam toilet dibuat was-was, karena ia tak tahu siapa lawannya saat ini. Bukan karena takut hanya saja ia tak ingin terlalu menunjukkan kelebihannya saja, ia tak ingin orang-orang jadi menyeganinya dengan kekuatannya itu. Azzalea tak menyukainya.
Setelah beberapa saat akhirnya dia keluar juga dari kakar mandi, ia melihat sekeliling nya. Sepi, itu lah yang ia lihat, dengan tenang ia mengakah kan kakinya kembali ke dalam kelas. Entahlah sejak mengenal Evan, Azzalea selalu masuk kelaa dan jarang sekali terlihat bolos kelas seperti sebelumnya.
Bruk!
Seseorang tengah menabrak Azzalea daei belakang membuatnya terjungkal kedepam, namun dengan sigap orang yang menabrak Azzalea pun langsung menarik tangan Azzalea dengan cepat sehingga ia tak jadi terjatuh.
"Sorry, gue sengaja!" bisiknya tepat ditelinga Azzalea, ia pun membulatkan kedua bola matanya lalu mendorong tubuh orang itu dengan kuat.
"Awas!" bentak Azzalea.
"Kenapa? Kenapa gak suka deket-deket sama gue? Sedangkan sama Evan lu nempel mulu kaya prangko sama amplop nya?" cibir nya.
"Bukan urusan lo!" ketus Azzalea.
"Emang bukan urusan gue, tapi gue mau ngurusin lo tuh gimana?" godanya sambil melangkah mendekati Azzalea sedangkan gadis itu semakin berjalan mundur.
"Ngomong yang jelas," kata Azzalea geram
"Lo mau gak jadi pacar gue? Dari pada lo digantungin terus sama Evan!"
"Gak! Dan satu hal lagi, lo gak usah ikut campur urusan gue," kata Azzalea
"Yakin nih gak mau jadi pacar gue? Nanti nyesel lo," ucapnya yang semakin dekat dengan Azzalea karena gadis itu sudah terperangkat oleh tubuh tegap depannya saat ini.
"Minggir gak!" sentak Azzalea.
"Jangan galak-galak, gue makin suka," godanya.
Azzalea yang geram pun sudah tak bisa menahan diri lagi, ia sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul orang yang ada didepannya saat ini tapi sayangnya Azzalea kalah cepat.
Bugh!
Bugh!
"Sat! Lo udah gue peringatin jangan deket-deket sama Azzalea, lo gak denger hah!" bentak Evan ya orang itu adalah Evan yang memukul dengan kencang wajah Marchel.
Marchel orang itu yang sudah tertunduk dilantai pun menyeringai mematap Evan dan juga Azzalea.
"Cih, kenapa kalian pasang tampang seperti itu? Gue cuma mau rebut dia dari lo doang, salah?" tanya Marchel.
"Si al an! Jangan coba-coba lo rebut dia dari gue, kalau lo masih ingin jalan sebaiknya denger nasehat gue baik-baik," ucap Evan dengan penuh keykinan.
"Cih, lo kira gue takut gitu sama lo?" Marchel menyeringai menatap Evan, lalu ia gunakan ibu jari untuk menyentuh luka disudut bibirnya.
"Gue gak perduli lo takut gak sama gue, yang jelas jangan sampai gue tahu lo sakitin temen gue, apapun yang berhubungan dengan Azzalea adalah urusan gue." tegas Evan sedangkan Marchel hanya terkekeh devil.
Deg!
"Temen, jadi selama ini gue cuma berharap doang sama orang yang jelas-jelas gak sayang sama gue! Ayolah Azzalea kenapa lo mikir ke jauhan sih, mana mungkin Evan suka sama lo," batin Azzalea sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri saat mendengar Evan memgakuinya sebagai teman.
"Apa gue seburuk itu sih?" batin Azzalea.
"Le, lo kembali ke kelas dulu aja... biarin ini jadi rusan gue!" Evan menatap Azzalea yang ada dibelakang punggung nya.
"Gak usah banyak omong lo!" Evan memukul lagi wajah Marchel, kali ini tak hanya wajanya saja melainkan perutnya juga yanv menjadi sasaran Evan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Marchel tak tinggal diam ia juga membalas pukulan Evan, yang dapat Evan tangkis tapi sayang tak selang lama Evan pun terkena pukulan Marchel.
Azzalea yang sejak tadi hanya diam pun akhirnya turun tangan juga, ia merelai pertengkaran itu walaupun tak tahu apa yang dipermasalahkan oleh dua laki-laki itu.
"Stop! Kalau mau beramtem jangan didepan gue, nanti aja dilapangan sono luas " teriak Azzalea.
Untuk sesaat mereka mengentikan perkelahian itu, apalagi hampir saja Marchwl melayangkan tinjinya pada wajah cantik Azzalea tapi untung saja Evan dengan cepat menghadangnya sehingga tidak jadi mengenai wajah cantik Azzalea.
Mereka berdua masih terngehah-engah, memncari udara yang cukup banyak. perkalihan dilorong itu mengundang siswa lain untuk keluar kelas dan melihatnya.
"Kalian ngapain?" tanya salah seorang guru.
"Berantem? Ini sekolah bukan tempat untuk adu fisik!" gertaknya.
"Sekarang kaian bertiga hormat ditiang bendera sampai jam istirahat!"
"Tapi pah, dia yang mulai duluan!" protes Evan.
"Saya gak mau tahu, atau mau hukumannya saya tambah?" tanya salah seorang guru.
"Cukup pak!" ucap mereka serempak.
"Saya juga dihukum pak?" tanya Azzalea polosnya.
"Iya kalian bertiga, cepat berdiri dan hormat di tiang bendera!" teriaknya.
Dengan langkah malas mereka bertiga berjalan menuju tiang bendera, luka yan ada diwajah masih terlihat jelas. Tak ada niatan atau pun mengeluh sakit yang ada hanya tatapan saling membunuh diantara Evan dan Marchel.
Pak Slamet pun datang setelah menerima laporn dari siswa lainnya, beliau terlihat kesal.
"Evan!" panggil pak Slamet.
"Iya, pak!"
"Kamu ini asalah salah satu anggota osis, bukannya jadi contoh yang baik ini malah berantem di lingkungan sekolah! Mau jadi apa kamu? Jagoan iya?" tanya pak Slamet.
"Saya itu heran sama kamu, kenapa bisa berbeda dengan papa kamu... dia dulu gak pernah buat masalah sama sekali, bahkan dia selalu mengharumkan nama sekokah. Dan asal kamu tau dia adalah ketua osis disini, sedangkan kamu yang baru kaei anggota saja sudah berani berkrlahi disekolah!" tak henti-hentinya Pak slamet memberikan ceramahnya pada Evan, kemudian beralih pada Marchel dan juga Azzalea tentunya. Padahal ia tak salah apa pun hanya merelai saja bisa ikut dihukum.
"Maaf pak, saya gak akan ulangin lagi," kata Evan sambil menunduk. Ada sedikit rasa bersalah dan menyesal karena keinginan sang papa belum terwujud tapi dia selalu membuat masalah, Evan menunduk merenungi semua kesalahannya.
Azzalea pun merasa tidak enak hati pada Evan, jika bukan karena dirinya mungkin Evan tidak akan terlibat dalam hukuman ini. Dan ia tidak akan mendapatkan ceramah dari pak Slamet.
"Maaf!" lirik Azzalea.
Evan yang berada ditengah antara Marchel dan Azzalea pun menoleh, ia menunjukkan senyum manisnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo gak salah, sudah semestinya gue jagain lo!" dengan serius Evan mengatakan hal itu, membuat hati Azzalea semakin tidak enak.
"Cih, gak usah modus lo! Kalau lo beneran sayang sama Azzalea gak mungkin lo gantungin dia!" sela Marchel.
"Gue kaya gini soalnya gue belum bisa jadi yang terbaik, nanti kalau udah waktunya gue akan ungkapin semua tanpa lo suurh sekali pun! Dan satu hal lagi lo gak usah ikut campur urusab gue, lo urusin aja masalah lo itu!" kesal Evan.
"Sebenarnya apa yang lo sembunyiin dari gue, Van?" batin Azzalea.
"Gue gak janji!" celetuk Marchel sambil tersenyum meremehkan.
...----------------...