
Tak ada pembicaraan apapun lagi setelah pengakuan Evan tadi, mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali terdengar percakapan dimana Evan yang menanyakan alamat rumah Azzalea, sesudah itu hening kembali.
Hingga motor sport itu berhenti didepan gerbang yang menjulang tinggi, didalamnya terdapat bangunan rumah bercat putih abu-abu yang memberikan kesan bersih dan elegan.
"Udah sampai." kata Evan.
"Hmm," saut Azzalea sambil turun dari atas motor Evan. Ia langsung berjalan mendekati pintu gerbang yang biasa digunakan untuk masuk jika menggunakan sepeda motor atau sekedar jalan kaki.
"Makasih!" Azzalea berbalik badan sambil melepas helmnya, terlihat lah wajah cantik nan dingin itu.
"Sama-sama, gue gak disuruh mampir nih buat kenalan sama camer?" canda Evan.
"Gak!"
"Pelit banget sih, kan gue pengen selangkah lebih dekat gitu sama camer," celetuk Evan sambil terkekeh, terlihat jelas jika Azzalea sedang menahan kekesalnya.
"Iya-iya, belum saatnya tapi nanti pasti kenalan sama camer," celetuk Evan sambil melepaskan helmnya.
"Gak akan!"
Saat mereka tengah asik berdebat datang lah seorang wanita paruh bayah yang masih kelihatan muda dan cantik menghampiri gerbang itu.
"Jangan lama-lama natapnya, lebih dari lima menit visa jadi cinta loh?" goda wanita itu yang tak lain mama Azkia.
Azzalea sedikit terkejut dengan suara itu karena posisinya membelakangi rumah sedangkan Evan yabg melihat sekelebat orang pun hanya diam saja.
"Mana ada teori kaya gitu, mah!" ketus Azzalea.
"Ada loh, buktinya... loh ini siapa? Tadi mama kira Cakra, biasanya kan langsung masuk kalau nganterin Alea kok ini cuma didepan rumah," kata mama Azkia sambil menghampiri Evan.
"Orang mah!" Azzalea mencoba mencegah sang mama tapi sayangnya gagal.
Evan yang merasa didekatin pun langsung turun dari atas motornya, tangannya langsung mencium punggung tangan mama Azkia. Ya Evan sangat tau bagaimana cara bersikap dengan orang yang lebih tua.
"Siapa ini ganteng banget?" tanya mama Azkia.
"Saya Evan tante," jawab Evan.
"Temennya Alea, ya?" tanya mama Azkia lagi sambil menepuk lengan Evan.
"Pa—"
"BUKAN!" teriak Azzalea panik sambil bergrlayut ditangan sang mama.
"Bukan temen kamu, tapi seragamnya sama kaya punya mu?" Mama Azkia mengamati Evan dari atas hingga bawah yang memang masih menggunakan seragam putih abu-abu dibalut dengan jas almamater warna biru dongker.
Azzalea sudah panik sendiri ia bingung harus menjawab apa, pasalnya ia tahu apa yang akan dikatakan Evan tadi sehingga sekarang ia harus memikirkan cara agar Evan cepat pergi dan tidak berkata aneh-aneh kepada sang mama.
"Maksud Ale, bukan temen satu kelas mah ... dia, dia beda kelas sama Ale," jelas Azzalea sambil memberikan kode kepada Evan untuk tetap diam, sedangkan sang amma hanya manggut-manggut saja.
Evan terkekeh sendiri yang melihat tingkah Azzalea, ia terlihat begitu menggemaskan sekali. Jika ada karung mungkin Evan sudah mengarungi Azzalea dan membawanya pulang kerumah.
"Eh iya ayo masuk, tante buatin minum," ajak mama Azkia sambil menarik tangan Evan, sedangkan Evan pun hanya patuh saja ia merasa tidak enak jika menolak ajakan calon mertuanya itu.
"Mah! Dia udah mau pulang kan ya! Lo tadi bilang pengen cepet pulang soalnya sibuk, ya kan?" Azzalea menatap tajam Evan, bahakn ia sampai memelototkan netranya seolah tidak mengizinkan Evan masuk kedalam rumah.
"Bener itu, Evan?" tanya mama Azkia, ia sudah menatap Evan dengan perasaan tidak enak.
"Ah, itu gak terlalu sibuk kok tan... kalau sekedar mampir bentar gak masalah," ucap Evan sambil tersenyum manis yang ditunjukkan kepada mama Azkia agar tidak merasa bersalah.
Deg!
Mama Azkia yang melihat senyuman Evan pun merasa dejavu, ada perasaan familiar. Mama Azkia merasa jika senyuman itu sangat ia kenali tapi ia lupa senyuman milik siapa itu
"Senyumnya mirip seseorang tapi siapa, ya?" batin Mama Azkia.
"Mah!"
"Tan, kok jadi bengong? Evan salah, ya?" tanya Evan merasa tidak enak.
"Ah gak ayo masuk!" ajak mama Azkia yang sudah berjalan terlebih dahulu diikuti Azzalea setelah itu Evan. Sedangkan motor Evan pun sudah dimasukkan ke dalam halaman rumah oleh security.
Evan pun sudah dipersilakan duduk disofa ruang tamu, sedangkan Azzalea terus saja melangkah menuju kamarnya. Azzalea ingin berganti pakaian karena sudah tidak nyaman lagi. Sedangkan mama Azkia sedang ke dapur untuk membuatkan Evan minuman.
Evan mengamati sekitar ruangan itu hingga matanya berhenti pada sebuah bingkai foto, terlihat seorang gadis kecil tengah tersenyum lebar bersama seorang anak laki-laki yang ia gandeng.
"Cantik!" gumam Evan.
"Ngapain?" suara dingin terdengar menusuk telinga itu membuat Evan sedikit terkejut. Lalu dengan cepat Evan meletakan kembali bingkai foto itu pada tempat semula.
"Eh Azza, udah cantik aja!" celetuk Evan saat ia melihat Azzalea yang beridiri tak jauh darinya.
"Gak usah banya omong, mendingan lo cepet pulang deh!"
"Tapi, mah ... dia itu—"
"Suutt, udah sini duduk masa ada tamu cuma dianggurin," kata mama Azkia sambil menepuk-nepuk sofa disebelahnya.
Dengan malas Azkia menurut saja apa kata sang mama, gadis yang menganjak dewasa itu sangat manja dan terlihat seperti anak kecil jika berada dirumah.
"Diminum, nak Evan."
"Oh, iya tante terimakasih!"
Mereka hanyut dalam obrolan yang tidak ada hentinya, namun hanya Evan dan juga mama Azkia yang mengobrol sedangkan Azzalea ia asik bermain dengan benda pipihnya itu.
"Oh iya motor kamu dimana, Al?" tanya mama Azkia.
"Mo—"
Belum sempat Azzalea menjawab sudah didahuli oleh Evan.
"Dibengkel tante, mogok tadi pas disekolah," jelas Evan.
"Oh, yaudah besok diambil biar gak ngerepotin nak Evan harus anterin Ale pulang," kata mama Azkia.
"Iya mah, nanti Ale ambil kok tenang aja," saut Azzalea.
"Gak ngerpotin kok tan, aku malah seneng bisa anterin pulang pacar eh calon pacar maksudnya," kata Evan sambil terkekeh.
"Ohh jadi ini pacar kamu Al?"
"Bukan mah! Mamah ih, jangan dengerin omong kosong dia... anak mama yang cantik ini masih jomblo oke!"
"Jadi yang bener yang mana? Pacar atau bukan?" tanya mama Azkia.
"Pacar!"
"BUKAN!
"Lucu sekali kalian berdua ini, jawan gitu aja sampai barengan jangan-jangan ..." ucapan mama Azkia terhenti sambil melihat ekspresi keduanya.
"Jodoh ya tan?" celetuk Evan dan diangguki oleh mama Azkia.
"Jodoh dari hongkong!" kesal Azzalea.
"Hahahaa!" mereka menertawakan Azzalea karena terlihat tidak suka dengan candaan itu.
Waktu terasa cepeat berlalu dan tak terasa sudah sore, jam dinding diruang tamu itu sudah menunjukkan pukul 16:30 yang artinya Evan harus segera pulang.
"Tan, Evan pamit pulang dulu, ya! Makasih udah diberi restu eh orange jus," pamit Evan sambil melirik Azzalea yang masih tak bergeming.
"Iya sama-sama, sering-sering mampir kesini ya! Supaya Ale gak dingin kaya papa nya," kata mama Azkia sambil menerima uluran tangan Evan.
"Siap mah, eh tante!" ralat Evan dengan cepat.
"Ale, anterin Evan gih dia mau pulang!" pinta sang mama.
"Kan pintunya masih sama mah, gak pindag juga kenapa harus dianter sih ... manja!"
"Azzalea!" jika sudah memanggil namanya langsung seperti ini Azzalea tak bisa berbuat apa-apa selain meneruti keinginan sang mama.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju teras rumah, dimana didepan teras itu sudah terparkir rapi motor sport milik Evan.
"Gue balik dulu ya," pamit Evan.
"Hmmm," saut Azzalea dingin.
"Kok hmm doang sih, dijawab dong 'iya sayang hati-hati dijalan ya' gitu!"
"Lo berani!" kesal Azzalea yang hampir memukul Evan.
"Oke-oke sans, cantik!"
"Dasar batu!" gumam Azzalea yang masih didengar oleh Evan.
Evan yang sudah melangkah pun terpaksa berbalik badan menatap Azzalea yang mengatainya 'batu'.
"Dasar Es, untung sayang!" setelah itu Evan menjulurkan lidahnya agar Azzalea semakin kesal, dengan cepat Evan segera menuju motornya dan melajukannya.
"Lo ya! Awas lo!" kesal Azzalea sambil menghentakkan kakinya beberapa kali melihat Evan yang sudah melesat.
"Cih, dasar es ale-ale! Tapi gemoy banget kalau lagi marah," gumam Evan tak lupa senyuman yang terus terlihat.
...----------------...