Evanzza

Evanzza
Apes Banget!



Sampai jam pulang sekolah Azzalea masih berada di ruang uks, ia terlalu nyenyak dalam tidurnya hingga tidak sadar jika ada seseorang yang mengunci pintu ruang uks dari luar. Orang itu sengaja melakukannya terlebih tidak ada orang lain selain Azzalea.


Setelah menoleh ke kanan dan kekiri orang itu langsung pergi begitu saja dari depan ruang uks, ia bersikap seolah tidak melakukan sesuatu.


"Rasain, siapa suruh lo caper sama Evan " ucapnya sambil tersenyum jahat.


Sedangkan Azzalea yang sudah puas tidur ia mengerjakan beberapa kali hingga nyawanya benar-benar pulih. Dilihatnya sepi tidak ada orang sama seperti saat ia masuk tadi.


Azzalea turun dari bankar yang ia gunakan untuk tidur, lalu berjalan menuju pintu. Tangan lentiknya memegang hendel pintu dan berniat membukanya. Tapi apa yang didapat pintu itu terkunci, beberapa kali ia mencoba tetap saja tidak bisa terbuka.


Lalu Azzalea menggedor dan berteriak, berharap ada orang diluar yang bisa membantunya membuka pintu itu.


"Buka!"


"Yang diluar tolong buka pintunya!"


"BUKA!"


Tapi sama sekali tidak ada yang membukanya, karena ruang uks ini terletak paling sudut dari lingkungan kelas sehingga jarang sekali ada orang yang lewat terlebih ini sudah jam pulang sekolah.


Setelah lelah berteriak Azzalea mencari ponselnya, ia bisa menghubungi temannya jika ia sedang terkuci diruang uks. Azzalea merogoh semua sakunya tapi tidak ditemukan benda yang ia jari.


"Dimana sih?" gumamnya.


Lalu Azzalea menepuk jidatnya karena ia baru ingat jika ponselnya ia letakkan di laci meja. Padahap biasanya ia selalu membawa ponsel itu kemana pun.


"Apes banget, sih!" keluh Azzalea.


Brak!


Azzalea terlalu kesal hingga ia menendang pintu itu, tapi percuma saja tidak bisa membuat pinty itu terbuka. Karena Azzalea berlawanan arah sehingga ia kesusahan.


Azzalea mengamati ruangan uks itu dengan seksama tapi apa ia tetap tidak bisa keluar karena tidak ada cela sedikit pun. Hanya ada dua pilihan Azzalea keluar lewat pintu atau dia harus keluar lewat jendela yang terlihat tinggi itu.


Numun itu bukan masalahnya saat ini, yang ada dipikiran Azzalea adalah bagaimana ia bisa keluar lewat jendela sedangkan ia memakai rok.


"Awas aja kalau gue ketemu sama orang yang udah berani kunciin gue disini.. habis lo!" kata Azzalea.


......................


Sudah hampir lima belas menit mereka bertiga menunggu kedatangan Azzalea, tapi sudah selama itu mereka tidak menemukan tanda-tanda Azzalea.


Lalu mereka memutuskan untuk pergi ke parkiran siapa tau Azzalea sudah menunggu disana.


Mata mereka bertiga membulat sempurna saat motor milik Azzalea masih terparkir rapi ditempatnya seperti tadi pagi. Itu berarti Azzalea belum pulang, tapi ia dimana itulah yang menjadi tanda tanya untuk mereka bertiga. Karena tidak biasanya Azzalea seprti ini.


"Lea kemana?" pertanyaan itu lolos begotu saja dari mulut tebal Nessa.


"Gue juga gak tau, Nes... tumben banget dia ilang gitu aja," kata Ghea.


"Masa iya Lea diculik?" tanya Nessa.


"Husstt! Jangan ngomong gitu!" kata Cakra.


"Dia ilang kemana sih, tumben banget gak balik-balik. Masa iya dia nyasar?" tanya Ghea.


"Kita cari!" dua kata itu langsung diagguki oleh Ghea dan Nessa.


Mereka tau bagaimana sifat sahabatnya itu jika tidak menyukai suatu pelajaran, Azzalea akan tidur atau pun pergi ke kantin untuk mengisi perutnya seperti saat sekolah menengah pertama. Tapi ia akan kembali setelah istirahat atau bel pulang berbunyi.


Namun kali ini Azzalea tidak seperti itu, membuat ketiga sahabatnya itu mengkhawatirkannya. Terlebih lagi Azzalea tidak membawa ponselnya, sehingga mereka benar-benar kehilangan jejaknya.


"Kita mencar, kalau salah satu dari kita udah nemuin Lea langsung kabarin, oke?" intruksi Cakra.


"OKE!" saut Ghea dan Nessa.


Akhirnya mereka bertiga langsung berpencar mencari disetiap sudut sekolah yang memungkinkan didatangi oleh Azzalea.


Evan yang sedang bermain basket pun terhenti saat ia melihat laki-laki yang bersama bidadarinya tengah kebingungan dam bertanya kepada beberapa siswa lainnya. Evan menajamkan pendengarannya dan ia yakin jika laki-laki itu sedang mencari seseorang.


"Emang dia bisa ilang kemana? Bukannya tadi dia tidur?" batin Evan.


Kemudian Evan pamit kepada teman-temannya, karena ia ingin mencari keberadaan bidadari yang sudah mencuri hatinya.


Evan berlari mengejar Cakra tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu. Terlihat kringat masih menetes dipelipis dan jidat Evan, sesekali ia membenarkan posisi tasnya yang ia gendong dibahu kanannya.


"Lo nyari siapa?" tanya Evan langsung sambil memegang pundak Cakra.


"Bukan urusan lo!" sewot Cakra.


"Gue gak butuh," kata Cakra langsung pergi begitu saja.


"Sombong amat sih, untung lo temennya bidadari gue," gumam Evan.


Sedangkan disisih Azzalea ia masih berusaha keluar dari dalam uks sambil menyusun bangku dibawah jendela. Ia gunakan bangku itu sebagai pijakan akan bisa keluar walaupun lewat jendela yang cukup tinggi.


Bahkan Azzalea sudah tidak perduli dengan penanpilannya yang kusut dan sedikit berantakan.


Azzalea membuka jendela saat ia sudah berpijak pada bangku tadi, lalu ia mendorong jendrla itu agar terbuka.


"Turun sakit, gak turun laper!" monolog Azzalea sambil melihat kebawah.


Ya setelah Azzalea membuka jendela dilihatnya tak ada bangku atau semacamnya agar Azzalea bisa turun. Apalagi dari jendela turun kebawah tinggunya hampir dua meter dan jika jatuh ia akan langsung jatuh pada lantai kramik yang keras.


"Bodo amat, lah!" gumam Azzalea yang akhirnya nekat keluar lewat jendela.


Tangannya memegangi jendela agar terus terbuka, satunya ia gunakan untuk mendorong tubuhnya agar keluar begitu juga dengan kakinya.


Badan Azzalea sudah setengah keluar dan setengahnya masih berada didalam ruangan uks. Dan perkitaan Azzalea benar saja ia akan terjatuh karena tidak bisa seimbang terlebih lagi ia memakai rok yang membuatnya sangat sulit bergerak.


"Pasrah aja gue!" batin Azzalea.


Tapi siapa sangka ia tidak merasakan sakit sama sekali saat jatuh, bahkan tubuhnya terasa mengambang diudara.


Perlahan mata Azzalea terbuka, dilihatnya lantai keramik itu namun tubuhnya tidak merasakan sakit sedikit pun.


"Gue melayang?" tanya Azzalea.


"Iya lo kaya pesawat yang gagal lepas landas," suara itu membuat Azzalea menoleh.


Terlihat wajah laki-laki yang ia temui di kantin tadi sedanf mematap Azzalea dengan menyunggingkan senyuman disudut bibirnya.


Posisi mereka saat ini sangat aneh, itu menurut pikiran Azzalea. Azzalea seperti sebuah guling yang sedang ditenteng, bagaimana ia tidak merasa sepeti itu jika posisinya memang seperti itu.


Kedua tangan laki-laki itu melingkar erat dipinggang Azzalea, sedangkan tubuh Azzalea menghadap kebawah. Ia merasa kesal dan bersyukur karena wajah cantiknya tidak jadi mencium lantai kramik.


"Turunin gue!" perintah Azzalea dingin.


"Turunin, ya? Oke!" kata laki-laki itu.


Dengan hati-hati ia menurunkan Azzalea dengan kaki yang lebih dulu, lalu setelah Azzalea bisa berdiri tegah ia melepaskan tangannya dari pinggang Azzalea.


"Mak—" belum sempat Azzalea mengucapkan terimakasih laki-laki itu sudah memotong terlebih dahulu.


"Gue gak butuh ucapan terimakasih," katanya membuat kedua alis Azzalea menyerkit.


Laki-laki itu paham jika Azzalea bukan orang yang suka basa-basi dan malas dengan orang yang banyak omong, sehingga dia langsung mengatakan keinginannya.


"Lo cukup bilang siapa nama lo?" ucapnya lagi.


"Azzalea!" singkatnya langsung pergi.


Namun tangannya dicekal dengan kuat membuat Azzalea sampai berbalik tepat didepan laki-laki itu.


"Gak sopan kalau kenalan seperti itu," ucapnya masih dengan semyuman yang sama.


Azzalea tidak paham maksud orang dihadapannya saat ini, namun saat orang itu mengulurkan tangannya membuat Azzalea paham betul maksud perkataannya.


Dengan terpaksa Azzalea menerima uluran tangan itu.


"Gue Marchel Kavindra," kata laki-laki itu sambil menjabat tangan Azzalea.


"Azzalea Lestyana," kata Azzalea.


Belum sempat Azzalea menarik tangannya ia sudah dikejutan dengan kehadiran seseorang yang memeluknya dari belakang, terlihat jelas ia sangat panik dan juga khawatir.


"Lo gak apa-apa, kan?" tanyanya.


Dibelakang laki-laki itu masih ada seseorang yang terus mengikuti hingga bertemu dengan Azzalea. Orang itu mengepalkan tangannya hingga terlihat kemerahan.


Sedangkan Marchel yang masih menjabat tangan Azzalea pun terlihat kaget dan juga bingung, tapi setelah itu ia tersenyum jahat kearah orang yang berada di belakangan laki-laki yang memeluk Azzalea.


Marchel terlihat puas saat melihat orang itu kesal dan terlihat marah tapi tidak bisa melakukan apapun.


...----------------...


Jangan buat hatiku resah saat kau tiba-tiba menghilang tanpa jejak! ~ Cakra Aji