
"Baru pulang?" suara berat itu menghentikan langkah kaki Evan. Senyum yang terliat dibibirnya semakin melebar tak kala melihat siapa yang menegurnya.
Evan tak langsung menjawab ia memilih ikut duduk disebelah yang papa sambil mematap dengan penuh kebahagian.
"Obat kamu habis?" tanya Papa Rayhan sambil menatap aneh sang anak.
"Papa nih sama anak sendiri masa kaya gitu! Evan tuh lagi bahagia!" jelas Evan sambil terus menyunggingkan senyumnya.
"Lah kamu dari tadi senyam-senyum sendiri, kalau obat habis bilang sama papa nanti bakal papa kasih gratis!"
"Ah! Terserah papa mau ngomong apa yang jelas Evan lagi bahagia pake banget!"
"Menang undian?" tanya sang papa.
"Lebih dari itu, pah!"
"Apa?"
"Evan udah direstuin sama camer!"
"Apa! Kamu mau nikah sama siapa? Kenapa gak bilang sama papa, mau jadi anak durhaka!"
"Siapa yang mau nikah?" tanya Evan polos.
"Lah itu tadi camer?"
"Kan baru camer pah, Evan baru resmi jadian sama cewek yang waktu itu," kata Evan sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Jangan bilang kamu?" tanya Rayhan sambil menaikkan alisnya.
"Yap! Evan udah resmi jadi ketua osis sesuai permintaan papa dan Evan juga sudah resmi jadi pacar ale-ale!" seru Evan sambil memeluk sang papa karena bahagia.
Sedangkan Papa Rayhan pun hanya bisa menepuk bahu Evan dan tersenyum ia ikut bahagia melihat putra semata wayangnya bisa mendapatkan seseorang yang dicintai.
"Kamu beneran suka sama dia atau cuma main-main?" tanya Papa Rayhan.
"Beneran lah pah, kalau gak kenapa Evan harus capek-capek nurutin tantangan papa? Padahal Evan bisa langsung pacaran aja kan? Tapi Evan gak mau, Evan gak mau pas lagi sayang-sayang nya terus papa pindahin Evan. Gak masalah Evan nunggu sampai hari ini yang penting bisa sama dia!" jelas Evan bersungguh-sungguh.
Papa Rayhan begitu gemas dengan anak laki-laki nya ini, ia terlihat begitu dewasa dan bertanggung jawab.
"Wah anak papa udah pinter banget soal cinta, tapi ingat jangan pernah kamu sakiti hati perempuan! Kalau emang gak suka jangan pernah kasih harapan apapun, paham?"
"Beres pah!"
"Kalau ada masalah langsung diselesain baik-baik, jangan ego nya yang diduluin!"
"Iya-iya papa, Evan akan inget semua nasehat papa!"
"Besok aja main kesini, papa mau tau perempuan seperti apa yang udah buat anak papa sampai seperti orang gila," kata sang papa sambil tertwa.
"Boleh diajak kesini?"
"Boleh dong, atau kamu gak mau restu dari papa sama mama?"
"Mau lah pah, kalau bisa dinikahin hari ini juga Evan gak akan nolak!"
"Heh, sekolah dulu yang bener! Kamu pikor nikah itu enak?"
"Enak kan pah!" polos Evan.
"Astaga! Kamu ini mirip banget sama mama kamu, udah sana mandi bau!" usir sang papa karena tak ingin melanjutkan pembahsan yang belum cukup umur buat Evan.
Evan pun beranjak dari duduknya, lalu menatap sang papa dengan tatapan penuh arti.
"Evan pengen nikah muda pah! Kaya novel yang selalu ale baca itu, ketos bucin dengan scret wife! Kaya nya seru, satu sekolah bareng istri!"
"EVAN! SEPERTI KAMU BUTUH PERIKSA KE RUMAH SAKIT!" teriak sang papa karena Evan langsung berlari menuju kamarnya setelah mengatakan itu.
"Astaga Rayya anak kamu itu bikin kepala pusing," gerutu Papa Rayhan sambil berkacak pinggang. Kemudian ia berlalu menuju dapur untuk mengambil segelas air, ia perluh banyak-banyak bersabar dengan sang anak.
"Punya anak kok kelakukannya kaya gitu, kalau mertuanya galak jadi apa dia?" demgus Papa Rayhan sambil menenggak segelas air putih.
Sedangkan Evan yang sudah berada didalam kamar tengah bersenandung ria, lalu ia teringat belum mengabari Azzalea jika sudah sampai dirumah.
"Oh iya, ponsel mana? Gue belum ngabarin ayang!"
Evan sibuk mencari ponselnya disaku seragam namun tak ditemukan juga, kemudian beralih pada tas sekolahnya tak juga ditemukan. Karena kesal Evan menuang semua isi yang ada didalam tas itu hingga terlihat benda yang ia cari.
Lalu ia bergegas mengotak-atik ponselnya itu, dengan gerakan cepat satu pesan singkat sudah terkirim.
...♡♡♡♡...
^^^^^^Evan ^^^^^^
^^^"Ayang aku udah sampai rumah ini mau mandi dulu biar wangi!" ^^^
Ale-Ale
^^^Evan ^^^
"Ayang jangan dingin-dingin gitu lah, nanti aku sakit loh! Kamu harus tanggung jawab kalau aku sakit,"
Ale-Ale
"Kalau sakit kan tinggal suruh ngobatin mama kamu, dia kan dokter!"
^^^Evan ^^^
"Aku gak mau, soal nya obat ku tuh cuma kamu doang ale-ale!"
Ale-Ale
"Bucin, katanya mau mandi?
^^^Evan ^^^
^^^Bucinnya sama kamu doang, Ale! Oke aku mandi dulu, kamu jangan lupa makan!" ^^^
...♡♡♡♡...
Setelelah pesan itu hanya di baca saja oleh Azzalea, Evan segera bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitasnya.
Sedangkan Azzalea yang sedang tiduran diatas ranjang hanya bisa berguling kesana-kemari sambil membaca ulang pesan chat yang dikirimkan Evan. Bahkan senyuman manis terlihat disudut bibirnya itu, pipinya sudah merah merona.
"Hah, meleyot kan gue!" gumam Azzalea sambil berguling kembali dan...
Bruk!
"Aaaahhh!"
"Pinggangku! Sakit sekali," teriak Azzalea sambil memegangi pinganggnya.
Perlahan ia berpegangan pada pinggiran ranjang untuk berdiri sambil salah satu tangannya terus memegang pinggang yang sakit.
Seumur-umur baru kali ini jatuh dari atas tempat tidur apalagi hanya karena pesan singkat yang dikirim oleh Evan.
"Cih, untung gak ada yang tahu! Bisa malu kalau samapi ada yang liat!" gumam Azzalea.
"Aku lihat kak!" suara itu membuat Azzalea langsung berbalik dan menatap kearah pintu kamarnya.
Disana ada sang adik tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu.
"Lihat apa?"
"Lihat semuanya dari mulai kakak senyum-senyum sambil lihat ponsel lalu berguling kesana-kemari kaya cacing kepanasan, habis itu jatuh ke lantai!" ledek Azzam sambil terkekeh.
Azzalea yang mendengar itu menjadi malu sendiri, ia kira sudah menutup pintu ternyata belum dan alhasil ia ditertawakan oleh sang adik.
"Anggap aja gak liat apa-apa, oke! Udah sana keluar, ganggu orang aja hih!"
Lalu Azzalea menatap ponselnya kembali dan senyuman manis terukir kembali disudut bibirnya, bahkan tak segan gadis itu memeluk erat ponselnya.
"Dasar virusnya sudah menyebar sampai ke nadi ya!" ejek Azzam.
"Apa sih berisik!"
"Bucin!" ledek Azzam.
"Biarin! Bucin sama orang yang tepat gak ada salahnya kan?"
"Yakin orang yang tepat, nanti cuma dighosting aja?"
Azzalea sudah berdiri dari duduk nya, ia menatap tajam sang adik. Bisa-bisanya bilang seperti itu pada kakaknya padahal dia sendiri juga mendukung sang kakak bersama Evan.
"Sebernya kamu itu saudara apa musuh, sih!" kesal Azzalea yang sudah berdiri didepan Azzam.
Azzam hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Azzam kan cuma nanya kak! Sewot amat sih!"
"Bodo amat! Udah sana keluar, ganggu orang aja!" Azzalea mendorong tubuh Azzam hingga sampai diluar lalu membanting pintu itu dengan sangat kasar.
"Adek gak ada akhlak! Kalau gue dighosting beneran gimana coba? Tapi, itu gak mungkin kan?"
"Lo gak mungkin ghosting gue kan, Van?" monolog Azzalea.
...----------------...
^^^ ^^^