Evanzza

Evanzza
Terinfeksi Virus C



Azzalea yang mendapat kabar dari sang mama segera bergegas menuju rumah sakit tanpa memberi tahu sahabatnya, ia sangat panik karena sang mama tidak menjelaskan keadaan Azzam. Sang mama hanya menyuruh Azzalea mampir ke rumah sakit setelah pulang sekolah karena Azzam terkena musibah. Mau bagaimana pun Azzalea tetap sosok kakak yang sangat menyayangi adiknya terlepas dari perdebatan mereka setiap hari.


Azzalea langsung tancap gas menuju rumah sakit, pikirannya sudah tak karuan karena sang mama tidak bisa dihubungi setelah mengirimkan pesan singkat itu pada Azzalea. Tak butuh waktu lama, motor sport Azzalea sudah memasuki lingkungan rumah sakit. Lalu ia mencari tempat untuk memarkirkan motornya, setelah itu Azzalea bergegas menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan dimana Azzam dirawat.


Sedangkan didalam kamar Azzam terlihat tenang saja, mereka tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Azzam lebih memilih tidur karena pengaruh obat sedangkan Evan ia bermain game pada ponselnya. Orang tau Azzam tadi berpamitan untuk mengambil beberapa barang yang diperlukan Azzam, sehingga mereka meminta Evan untuk menemani Azzam terlebih dahulu.


BRAK!


Evan yang tengah bermain ponsel pun terpelonjat kaget sampai-sampai ponselnya terjatuh.


"Masuk tinggal masuk aja gak usah—" kesal Evan karena sudah dua kali ia kaget padahal belum ada satu hari, bisa-bisa ia terkena serangan jantung mendadak jika berlama-lama disini. Tapi suara Evan terlihat melemah saat ia tahu siapa yang mendobrak pintu itu.


"Didobrak pintunya, eh ale-ale ngapain disini?" tanya Evan lembut.


Azzalea juga terlihat kaget saat mendapti Evan didalam ruangan yang katanya ruangan Azzam. Tanpa sepatah kata Azzalea langsung keluar begitu saja dan mengecek ulang apa kah benar ruang yang ia masuki milik Azzam.


"Bener kok, tapi kenapa dia yang ada didalam?" gumam Azzalea, pasalnya wajah yang ia lihat pertama kali adalah Evan bukan adiknya.


"Positif thingking aja mungkin mereka satu ruangan!" Azzalea meyakinkan dirinya sendiri kemudian masuk lagi kedalam ruangan.


"Ale-ale! Ngapain nyusul gue sampai sini, kangen ya sama gue?" sapa Evan begitu Azzalea masuk lagi kedalam ruangan.


"Ngarep!"


"Emang, gue pengennya lo kangen sama gue,gimana dong?" kata Evan sambil terkekeh.


"Cih, gak akan!" saut Azzalea lalu menelisik seluruh ruangan, ia menemukan seseorang yang sedang tertidur pulas diatas bankar.


"Azzam!"


Azzalea segera menghampiri bangkar itu, ia melihat sang adik tengah tertidur dengan tangan dan kaki yang terbalut perban dan wajahnya ada sedikit luka.


"Bocil, lo kenapa bisa sampai kaya gini sih?" tanya Azzalea sambil mengamati luka yang ada pada wajah Azzam dan juga tangannya.


"Jangan bilang lo, kulkas dua pintu? Eh maksud gue kakaknya Azzam?" tanya Evan.


Azzalea mendelik kesal pada Evan yang mengatainya kulkas dua pintu.


"Iya gue kakaknya!" judes Azzalea.


Plak!


Evan memukul kepalanya sendiri bagaimana ia bisa lupa jika mereka berdua bersaudara padahal sudah jelas tadi Evan melihat mama Azkia disini dan bilang jika Azzam adalah putranya, otomatis Azzalea juga anaknya mama Azkia. Entah apa yang Evan pikirkan sehingga membuatnya sedikit lemot.


"Kok gue gak sadar, sih! gumam Evan.


"Emang kapan lo pernah sadar?"


Azzam yang merasa tidurnya terganggu pun langsung bangun, ia melihat wajah kakaknya yang sedang kesal bercampur dengan khawatir dan sedih.


"Kak!" panggil Azzam.


"Zam, mana yang sakit bilang sama kakak! Terus kenapa bisa sampai kaya gini? Ada yang parah gak? Udah dicek semua belum?" Azzalea benar-benar mirip dengan sang papa ketika mengkhawatirkan orang terdekatnya.


"Dih, nanya nya udah kaya kreta gak ada jedanya sama sekali... kalau ngomong juga jangan cepet-cepet gitu, susah pahamnya!" gerutu Azzam.


"Ohh masih bisa marah-marah berarti amam semua kan?" tanya Azzalea sambil mencubit pipi Azam.


"Ih kakak nih apa-apa sih! Aman dari mana sakit tau gak, nih liat tangan kanan Azzam sampai digips gara-gara ada yang retak." jelas Azzam sambil menunjukkan tangan kanannya didepan wajah Azzalea.


"Bagus dong, biar gak main game mulu... makanya jadi anak jangan suka iseng sama kakak, kan ini akibatnya," kata Azzalea.


"Gak ada hubungannya, kak!" protes Azzam, Evan hanya diam saja sambil menyaksikan intrasi kakak beradik itu.


Azzam melirik Evan yang tersenyum sambil menatap lekat Azzalea, bisa dipastikan siapa pun yang melihat itu tau jika Evan memiliko rasa pada Azzalea.


"Oh iya, kenalin kak... ini kakak baru Azzam, dia yang udah nolongin Azzam," kata Azzam sambil menatap Azzalea dan Evan bergantian.


"Gak usah ke—"


"Kita udah kenal kok, Zam! Malah kita temenan, ya gak ale-ale?" tanya Evan sambil menarik turun kan alisnya.


"Cih, itu Ghea sama Nessa ya bukan gue!"


"Jadi kalian udah saling kenal atau belum?" bingung Azzam.


"Sudah!"


"Belum!"


Canggung itulah yang dirasakan mereka berdua sekarang ini. Evan tidak suka berlama-lama dalam kecanggungan ini sehingga ia memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit.


Setelah Evan mengambil tasnya ia segera keluar tapi sayangnya ia harus berhadapan dengan Azzalea yang baru keluar dari dalam kamar mandi.


Tab!


Evan bergeser ke kiri Azzalea juga kekiri, lalu Evan bergeser ke kanan Azzalea juga ke kanan. Evan menaikan sebelah alisnya sambil menatap Azzalea.


"Heh! Es ale-ale, lo gak bolehin gue keluar ya?" tanyanya dengan percaya diri pasalnya pintu keluar bersebelahan dengan pintu kamar mandi.


"Oh gue tau, lo gak mau jauh-jauh dari gue kan? Takut kangen kan kan?" lanjut Evan dengan percaya dirinya.


"Gak, ya! Lo aja yang ngikutin gue!" Azzalea tak terima dituduh seperti itu.


"Bilang iya juga gak masalah sih, gue malah seneng kok!" celetuk Evan.


"Teraerah, gue duluan lo jangan ngikutin!"


Akhirnya Azzalea bergser ke kanan tapi Evan juga ikut ke kanan, hal itu semakin membuatnya kesal saja. Apalagi sekarang ia begitu dekat dengan Evan membuatnya teringat dengan gambar yang dikirimkan Ghea tadi pagi.


"Cukup! Lo diem aja disini!" perintah Azzalea, Evan pun mengangguk menurutinya.


Pada akhirnya Azzalea bisa menyingkir dari hadapan Evan, Evan sudah berdiri didepan pintu sambil memegang hendel pintu lalu ia berbalik menatap Azzalea.


"Gue mau cari minum dulu, lo nitip apa?" tawar Evan.


"Gak usah," saut Azzalea.


"Hmmm, satu lagi," kata Evan membuat Azzalea yang sibuk dengan ponselnya menatap Evan bingung, "jangan kangen, gue gak akan lama kok!" Evan mengerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum manis. Setelah itu ia benar-benar tak terlihat lagi karena sudah keluar dan menutup pintu.


"Hah! Apa itu tadi, astaga!" gumam Azzalea sambil memegangi dadanya.


"Atau jangan-jangan gue punya penyakit? Harus cek mumpung dirumah sakit," monolog Azzalea sambil memegangi jantungnya yang berdegup begitu kencang.


"Tapi takut, kalau beneran punya penyakit berbahaya gimana?" monolog Azzalea, bahkan ia sudah mondar-mandir tidak jelas didekat bangkar Azzam.


"Kenapa sih kak?" tanya Azzam lagi-lagi tidurnya terganggu.


"Kaya nya kakak ada penyakit serius deh, Zam!"


"Penyakit apa?" Azzam menaikkan sebelah alisnya, penyakit apa yang dimaksud oleh kakaknya itu karena setahu Azzam mereka tidak memiliki riwayat penyakit serius.


"Jantung kakak serasa ngajak dugem!"


"Hah?"


"Ah itu maksudnya detaknya cepet banget sampai kakak bisa denger," jelas Azzalea.


"Emang kakak habis ngapain?" tanya Azzam.


"Gak ngapa-ngapain sih, cuma Evan tadi pamit ke beli minum gitu!"


"Lalu?"


"Dia cuma bilang 'jangan kangen' gitu!"


"Habis kak Evan bilang gitu, jantung kakak berasa mau dugem?" Azzalea pun mengangguk, wajahnya sudah terlihat serius ia takut jika benar memiliki riwayat penyakit serius.


"Azzam tau kakak sakit apa," ucap Azzam sambil tersenyum menampilan deretan giginya.


"Sakit apa? Bahaya gak? Terus harus gimana?" tanya Azzalea panjang lebar sambil mematap Azzam.


"Penyakit berbahaya kalau bertepuk sebelah tangan, tapi lain lagi kalau tepukannya bersambut!"


"Lo ngomong apa sih, Zam! Apa hubungannya tepuk tangan sama penyakit kakak!" kesal Azzalea.


"Ada, soalnya kakak sudah terinfeksi virus berbahaya, dapat melukai tanpa luka!" celetuk Azzam menggoda sang kakak.


"Hah, separah itu?" tanya Azzalea, Azzam pun mengangguk dengan serius padahap ia sudah menahan agar tidak teratwa. Bisa-bisanya Azzalea percaya dengan apa yang ia bicarakan.


"Kakak udah terkena Virus C!" kata Azzam serius, sedangkan wajah Azzalea terlihat kaget anatar percaya dan tidak dengan ucapan Azzam.


...----------------...


Percayalah virus itu mampu membuat mu bahagia dan juga melukai tanpa luka! Virus itu dinamakan, virus Cinta! - Azzam