
Evan tengah duduk dibangku yang ada dipinggir lapangan, tangannya sibuk mengusap jidatnya yang penuh dengan keringat. Haus dan panas itulah yang Evan rasakan sekarang, setelah hampir dua jam mereka bermain basket. Evan meneguk air meneral yang sudah dibelikan oleh Vion tadi.
"Bagi gue dong, Van!" rengek Vion sambil mengulurkan tangannya, ia juga sedang haus.
"Cih, manja ambil sendiri kagak bisa?" walaupun menggerutu namun tetap saja Evan mengambilkan botol minuman yang masih bersegel pada Vion.
"Thanks!" Vion langsung membuka tutup botol itu dan menenggaknya hingga setengah, sisa air yang ada didalam botol ia gunakan untuk membasuh wajah dan rambutnya karena gerah.
"Ke kamar mandi sana, mandi sekalian!" usul Evan yang melihat Vion seperti itu.
"Mandi bareng sama lo?" tanya Vion penuh arti sambil menatap Evan.
"Ya gak gitu konsepnya ngab!" Evan melemparkan botol minuman yang masih ada ditangannya.
Bugh!
Botol minuman itu berhasil Vion tangis dengan tangannya sehingga tidak mengenai wajah tampannya itu.
"Wah kdrt lo, untung aset berharga gue gak kena! Bisa jomblo selamanya gue kalau ke gores sediki saja!" protes Vion sambil berdiri dari duduknya.
"Halah, gak ke goreng aja juga gak ada yang mau!" cibir Evan sambil terkekeh.
"Bukan gak ada yang mau, cuma gue lagi malas ngurusin cinta-cintaan kaya gitu ribet! Apalagi kalau udah bucin kek lo, bahaya!" jelas Vion, ia mengambil ponsel yang ada didalam tas. Namun perhatiannya teralihkan saat mendengar ponsel bergetar tapi bukan miliknya.
"Gue bucin, aja dia belum tertarik apalagi kalau gue cuek makin jauh aja!" curhat Evan yang memang seperti itu kenyataannya.
"Ponsel lo, ngab! Geter mulu dari tadi," kata Vion yang sudah duduk disebelah Evan.
Evan pun langsung mengambil ponselnya dan benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan masuk.
Evan sampai melonpat karena bahagia, pesan dan panggilan itu dari bidadarinya, Azzalea.
"Lo kenapa? Menang lotre?" tanya Vion bingung.
"Lebih dari itu," kata Evan dengan mata berbinar.
Vion yang penasaran pun ikut melihat layar ponsel Evan, disana terdapat pesan masuk dari Azzalea yang menanyakan keberadaan Evan. Dan juga beberapa kali panggilan tak terjawab. Ada satu pesan lagi yang membuat alis Vion terangkat.
"Azzam? Adiknya Azzalea kah?" tanya Vion kepo.
"Iya, adek ipar gue!" seru Evan bahagia.
Belum sempat Evan membalas ponselnya berdering lagi, Evan menatap Vion serius seolah bertanya angkat tidak. Vion pun mengangguk sebagai jawababnya, lalu ia ikut menempelkan telinganya pada ponsel Evan.
"Minggir dulu," seru Evan sambil mendorong kepala Vion.
"Cih, dasar pelit!" gerutu Vion, sedangkan Evan sudah terfokus pada ponslenya.
"Halo?"
"Dimana? Kenapa baru diangkat sih!" kesal Azzalwa dari seberang sana.
"Disekolah, habis main basket! Tumben telepon kenapa?" tanya Evan.
"Ke rumah sakit sekarang juga, udah ditungguin Azzam!"
"Azzam? Azzam, kenapa emang nya? Dia baik-baik aja kan?" tanya Evan terlihat panik.
"Udah buruan kesini, dan satu lagi!"
"Apa?" tanya Evan sambil menaikkan sebelah alisnya, ia bahkan sempat melirik Vion.
"Gak pake lama!"
Tut!
Evan hanya menatap ponselnya yang sudah gelap, lalu ia menatap Vion dengan tatapan bingung.
"Gue mimpi gak sih, Vi?" tanya Evan.
Vion pun berinisiatif mencubit pipi Evan dan ternyata sakit, itu berarti Evan tidak bermimpi.
"Sakit, oe! Mimpi apa gue semalam bisa di telepon sama bidadari?" gumam Evan.
"Mimpi nenel lampir kali, yang berubah jadi bidadari," celetuk Vion asal.
"Udahlah, gue mau ke rumah sakit dulu! Bye, bye spion!" Evan langsung berlari menuju parkiran sambil menenteng tas ranselnya.
"Nama gue Vion, buka. spion! Cih, kebiasaan banget suka ganti nama orang sesuka hati! Dasar Elephant!" gerutu Vion.
Disisih lain, Azzalea sedang menatap layar ponselnya dengan bingung. Karena nama yang tertera pada layar ponselnya sudah berganti. Pantas saja sejak tadi Azzalea tidak menemukan nomor Evan ternyata sudah berganti nama.
"My husband," gumam Azzalea menatap layar ponselnya.
"Giamana, Al? Evan bisa kesini?" tanya sang mama.
"Hah? Ah, iya bisa mah! Dia habis main basket, lagi otw kesini," kata Azzalea sambil berjalan mendekat ke arah bankar Azzam.
"Syukurlah, papa juga masih rapat belum bisa kesini... jadi nanti kita pulang duluan aja kalau papa belum selesai," jelas mama Azkia.
"Lo juga tinggal pulang aja kenapa ribet harus manggil kipas sih!" gerutu Azzalea menatap tajam sang adik.
"Biarin kak, Evan itu asyik orangnya... ramah banget gak dingin kaya kulkas dua pintu yang ada didepan Azzam ini," ejek Azzam sambil melirik Azzalea.
"Bilang apa barusan? Cepet ulangin!" kesal Azzalea sambil mencubit pipi Azzam gemas.
"Ahh ampun kak! Mentang-mentang Azzam gak bisa balas jadi main cubit aja, Mama!" teriak Azzam sambil mengadiu pada sang mama.
"Azzalea, jangan ganggu adik kamu! Dia masih sakit, nanti ngambek susah dibujuknya," ucap mama Azzalea sambil menata barang-barang Azzam.
"Cih, tukang ngadu!"
"Biarin, lihat aja nanti kalau kak Evan udah dateng... infeksi virus kakak pasti kambu lagi," ledek Azzam dengan wajah seriusnya.
"Si al an! Ini bocah kenapa peka banget sih," gerutu Azzalea.
Tak selang berapa lama Evan pun sudah sampai dirumah sakit, ia langsung menuju ruang rawat yang Azzam tempati. Evan langsung masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali, dan dia langsung disambut oleh suara Azzam yabg terlihat senang.
"Kak Evan!"
"Halo jagoan kakak, udah boleh pulang?" tanya Evan yang langsung mengusap kepala Azzam, Azzam pun mengangguk.
"Cih, mulai caper!" ejek Azzalea.
"Sirik aja sih!" kesal Azzam, sedangkan Evan pun hanya terkekeh saja melihat perdebatan kakak beradik itu.
"Loh nak Evam sudah sampai?" tanya Mama Azkia yang baru saja masuk, ia baru kembali dari ruangan dokter yang menangani Azzam.
"Baru aja tan," kata Evan sambil mencium punggung tangan mama Azkia.
"Maaf ya, ngerpotin! Azzam gak mau pulang kalau buka kamu yang nganterin," kata Mama Azkia, ia melihat penampilan Evan yang masih mengenakan baju basketnya dibalut dengan hoodie saja.
"Gak ngerpotin kok tan, Evan malah seneng bisa bantu Azzam!" jelas Evan, mama Azkia pun mengangguk senang.
Kemudian setelah semuanya siap mereka berjalan menuju parkiran yang sudah ada mobil milik keluarga Azka bersama sang supir. Evan pun membantu memasukkan barang-barangnya kedalam bagasi.
"Kakak ikut ke rumah, ya!" pinta Azzam.
"Iya kakak ikutin mobil Azzam dari belakang ya? Soalnya kakak bawa motor sendiri, masa ditinggal lagi," kata Evan lembut.
"Yaudah kakak bareng sama kak Ale aja, dia bawa helm tapi gak bawa motor!" celetuk Azzam yang memang peka.
"Azzam!" teriak Azzalea tak terima.
"Emang motornya dimana?" tanya Evan.
"Bengkel," jawab Azzalea sekenanya.
"Yaudah Azzam duluan sama tante, nanti kak Evan sama kak Ale nyusul dibelakang!"
"Siap!" Azzam terlihat begitu bersemangat membuat Azzalea memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Mah, Ale bareng sama mama aja ya! Kan masih muat itu," kata Azzalea sambil menunjuk kursi depan.
"Jalan, Pak!" Azzam menyuruh pak sopir itu segera berangkat dan mengabaikan ucapan Azzalea.
"Kamu bareng sama Evan aja, adik kamu memang suka iseng!" teriak sang mama sebelum tak terlihat lagi.
"Ihh mama!"
"Udah yuk naik, atau kita jalan-jalan dulu?" tanya Evan.
"Langsung pulang," kata Azzalea yang sudah duduk manis dibelakang Evan.
"Pegangan!" pinta Evan.
"Gak, lo modus mulu!" gerutu Azzalea.
"Modus sama calon istri gak masalah, kan?" tanya Evan sambil terkekeh.
"JANGAN MIMPI UDAH SORE!" teriak Azzalea karena Evan tidak akan mendengar jika berbicara perlahan.
...----------------...