Evanzza

Evanzza
Mau Tanggung Jawab



Evan pun bisa bernafas lega saat mereka benar-benar menghilang dan tak kembali lagi, tapi sayangnya jantungnya terus mengajak ribut sejak tadi. Evan berniat memberi tahu Azzalea jika sudah aman, tapi siapa yang menyangka saat ia menoleh jidat Azzalea ada didepannya dan tanpa sengaja bibirnya menempel pada jidat Azzalea.


Cup!


Untuk beberapa saat mereka tertegun seolah sang waktu sedang bercanda dengan mereka, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya bahkan kini Azzalea mampu mencium aroma khas mint dari tubuh Evan. Kebisuan itu semakin terasa canggung saat menyadari apa yang sudah Evan lalukan terlebih mereka berdua hanya bisa diam terpaku dengan mata yang saling menatap. Antara kaget dan canggung menjadi satu sehingga mereka tidak tau harus berbuat apa. Hingga akhirnya Azzalea memutuskan untuk menyudahi keheningan itu.


"Minggir!" ketus Azzalea sambil mendorong tubuh Evan sehingga ia yang masih dialam lain pun terhuyung kebelakang.


Jujur saja Azzalea baru pertama kali sedekat ini dengan laki-laki selain papanya dan juga sahabat-sahabatnya. Hal itu membuat Azzalea sedikit merasa aneh apalagi wangi tubuh Evan yang seolah mampu menyihirnya untuk merasakan kenyamanan.


"So-sorry, gue gak sengaja, Za!" Evan baru tersadar saat Azzalea mendorong tubuhnya.


Azzalea hanya diam ia sibuk merapikan rambutnya, lalu melangkah melewati Evan. Ia sempat berhenti sambil menatap Evan tajam, lalu melanjutkan langkahnya dengan sengaja Azzalea menabrakkan bahunya pada bahu Evan hingga membuat Evan lagi-lagi terhuyung kebelakang karena tidak siap dengan perlakuan Azzalea yang tiba-tiba.


Evan hanya bisa diam sambil menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin menjauh. Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh bibir yang ia gunakan untuk mencium kening Azzalea. Ya walaupun ciuman tak sengaja tapi mampu membuat tubuh Evan panas dingin.


"Bibir gue," gumam Evan, ada sedikit senyum yang tertahan pada sudut bibirnya.


Tapi sedetik kemudian Evan terlihat marah-marah sambil memukul bibirnya yang sudah berani mencium kening Azzalea.


Ciuman tak sengaja yang membuatnya merana.


Puk!


Puk!


"Cih bodoh bodoh! Kenapa lo lakuin itu, kalau Azza makin jauh gimana gara-gara ilfeel sama gue!" Evan meruntuki kebodohannya itu.


"Tapi itu kan gak sengaja! Iya gue gak sengaja," gumam Evan sambil mengusap bibirnya dan tersenyum.


Orang yang melihat Evan saat ini pasti akan berfikir jika Evan memiliki gangguan jiwa karena hanya selang beberapa detik saja sikapnya sudah berubah begitu cepat, dari mulai marah-marah sampai tertawa sendiri.


"Gue harus gimana dong?" monolog Evan sambil menatap depan dimana Azzalea sudah tidak terlihat.


Kemudian Evan memutuskan untuk kembali ke kelasnya, jam pelajaran sudah dimulai sejak tadi itu artinya ia sudah terlambat masuk. Tapi tidak jadi masalah karena Evan akan beralaskan sedang bertugas mengingat ia adalah salah satu anggota osis.


Langkah kakinya terlihat sangat pelan, bayangan tadi selalu menghantui pikiran Evan. Bahkan sesekali ia tersenyum saat mengingat sudah mencium kening Azzalea. Hingga mata tajamnya menangkap sosok yang sejak tadi membuat pikirannya terganggu.


Terlihat seorang gadis tengah berdiri didepan ruang kelas sambil menjewer kedua telinganya. Bisa dipastikan ia sedang dihukum, mungkin karena terlambat masuk kelas.


Evan menatap gadis itu dengan senyum yang mengembang langkah kakinya yang lambat tiba-tiba berubah menjadi sangat cepat, kaki itu sedikit berlari untuk menghampiri seorang gadis.


Evan berdiri tepat dihadapan Azzalea, ia menatapnya dalam diam sedangkan gadis yang ditatap terlihat tidak suka.


"Ngapain?" ketus Azzalea.


"Mau lihat bidadari," kata Evan tanpa dosa.


"Pergi!" perintah Azzalea.


Bukannya pergi Evan tetap setia sambil memandangi makhluk ciptaan-Nya itu.


"Gila!" Azzalea memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Lo yang udah buat gue gila," gumam Evan yang masih bisa direngar oleh Azzalea.


"Soal tadi gue beneran gak sengaja, gue gak tau kalau keni—"


"Cukup! Jangan dibahas!" Azzalea memperingati Evan, ia tak ingin mendengar persoalan tadi. Baginya itu hanya angin lalu saja dan tak ingin memikirkannya terlalu jauh. Walaupun tak bisa dipungkiri jika kejadian tak sengaja itu membuat jantungnya berdebar, namun Azzalea mengira ia sedang sakit.


"Gue mau tanggung jawab kok!" jelas Evan.


"Hah?" bingung Azzalea mendengar pernyataan Evan yang sedikit ambigu itu.


"Gue bakal tanggung jawab kalau lo kenapa-kenapa, setelah ciuman tadi," kata Evan yakin.


"Ini anak otaknya ketinggalan dimana sih? Emang habis ciumanan bisa hamil, kenapa pake acara tanggung jawab segala!" batin Azzalea sambil menatap tajam Evan.


"Jadi lo gak perluh sungkan sama gue!" Evan mengerlingkan sebelah matanya menatap Azzalea.


"Kenapa ada yang sakit?" tanya Evan sambil mendekat dan memegang jidat Azzalea.


Plak!


"Jauhin tangan lo!" ketus Azzalea.


Entah kenapa Azzalea selalu merasa kesal dan emosinya selalu muncul saat bersama Evan.


"Jangan dingin-dingin sama calon suami," celetuk Evan sambil terkekeh.


Candaan itu berhasil membuat bula mata Azzalea membulat dengan sempurna, sudah cukup kejadian tadi dipojokan sekolah jangan sampai ia khilaf dan menghajar manusia didepannya ini.


Bugh!


Azzalea memukul wajah Evan yang belum sembuh dari lukanya kemarin karena masih terlihat beberapa lebam diwajahnya dan kini Azzalea menambah sebuah karya seni diwajah Evan.


"Kalau lo ngomong kaya gitu lagi, habis lo!" tegas Azzalea.


Tak ada amarah dari Evan, ia malah tersenyum sambil memegangi sudut bibirnya yang sudah memerah.


"Gak masalah, gue anggap ini sebagai tanda sayang lo ke gue," kata Evan dengan tengilnya.


Belum sempat Azzalea membalas perkataan Evan dari arah pintu terlihat seorang guru tengah menatap mereka dengan tajam.


"Kalian ngapain ribut-ribut didepan kelas!" gertaknya.


Mereka berdua menoleh bersamaan, tak ada niatan untuk Azzalea menjawab pertanyaan itu. Ia sudah terlalu kesal dengan salah satu angota osis yang ada dihadapnnya saat ini.


"Lagi pedekate, bu!" saut Evan tak lupa tawa renyahnya menghias bibir tipisnya itu.


"Ini masih jam perlajaran kenapa masih kluyuran!"


"Saya habis patroli sama yang lainnya bu," elak Evan.


Bu Arum pun mengamati Evan dari atas hingga bawah, memang ia sedang mengenakan almamater osis. Jadi alasan itu memang masuk akal, sedangakn Azzalea yang tahu persis menatap Evan dengan malas.


"Cih, tukang bohong!" cibir Azzalea.


"Yaudah sana balik ke kelas kamu, ngapain masih disini!" bentak Bu Arum.


"Eh iya bu, jangan marah-marah masih pagi nanti laper lagi loh!" celetuk Evan dengan wajah tanpa dosa.


"KAMU!" Bu Arum sudah terbawa emosi melihat tingkah siswanya ini yang benar-benar menguras energi.


"Buat calon kamu bidadariku, aku balik kelas dulu ya! Jangan kangen," kata Evan sambil mengacak rambut Azzalea dengan gemas lalu ia berlari secepat kilat untuk menghindari omelan dari Bu Arum.


"Gak akan!" dingin Azzalea sambil merapikan rambutnya.


"Kamu juga yang bener kalau dihukum, jangan pacaran!" Bu Arum menatap tajam Azzalea yang tidak menjalankan hukumannya.


"Loh, kok saya yang disalahin bu!" protes Azzalea.


"Kamu bukan jalanin hukuman saya malah ribut pacaran!" geram Bu Arum.


"Saya ga—"


BRAK!


Bu Arum menutup pintu kelas dengan kesal, ia tidah habis pikir dengan anak sekolah zaman sekarang yang semakin seenaknya saja dan susah diatur. Dan apa tadi berani-beraninya siswanya itu menasehatinnya agar tidak marah-marah, mengingat perkataan Evan membuatnya semakin kesal saja.


Sedangkan Azzalea yang berdiri diluar kelas masih saja menggerutu tapi ia tetap melaksanakan hukumannya.


"Untung guru, kalau bukan tau deh jadi apa!" kesal Azzalea.


...----------------...


Rasa ini yang sudah membuatku terlihat seperti orang gila, bayangkan saja aku bisa tertawa bahkan kesal sendiri hanya saat mengingat mu! ~Evan Anggara ~