Evanzza

Evanzza
Pantes buat gue?



"Gosip apa?" tanya Evan penasaran.


Sejak pulang sekolah Evan belum mengcek ponselnya lagi, ia hanya membuka aplikasi hijau itu untuk mengajak Vion bertemu tanpa berniat melirik grub chat yang memang ramai.


"Perebutan hati seorang gadis berwajah datar, cih!" Vion mendengus setelah membaca sebuah kalimat yang ada dibawah sebuah foto.


"Gosip soal kalian yang berebut anterin pulang cewek patung itu!" ketus Elena sambil meletakkan ponselnya diatas nakas dengan kasar.


"Cewek patung?" tanya Evan tidak tahu pasti siapa yang dimaksud.


"Bidadari, lo," kata Vion sambil menunjukkan ponselnya yang berisi foto dimana ada sang ketos dan juga dirinya ditambah satu lagi yang tak lain adalah Kevin. Sayangnya gadis itu lebih memilih pulang bersama sahabatnya yaitu Cakra.


"Hmmm," dengus Evan sambil meletakan ponsel milik Vion.


"Gue kan udah bilang berapa kali sama lo, Van... dia itu gak baik buat lo, dia itu cuma cewek murahan yang berlagak sok dingin padahal aslinya kaya uler!" Elena lagi-lagi mencoba menghasut Evan tapi sayangnya Evan tidak akan percaya dengan perkataan gadis itu.


Bagaimana bisa Azzalea dibilang cewek murahan yang suka gonta-ganti cowok, sedangkan saat didekati Evan pun ia tidak merespon. Padahal Evan adalah salah satu cogan disekolah mereka.


"Terus lo yang pantes buat gue, gitu?" tanya Evan sambil menatap Elena dengan tatapan menusuk.


"Gue, gue gak—"


"Cih, gue niatnya kesini buat cari hiburan... buat hilangin penat, tapi apa? Gue makin dibuat emosi dengan omonga lo yang gak masuk akal!" kesal Evan.


"Kalau dia cewek murahan seperti kata lo, terus apa hubungannya sama lo?" Evan menujuk wajah Elena yang tengah terduduk sambil menatapnya nanar.


"Asal lo tau, gue suka sama dia! Dan gue gak perduli mau dia murahan atau apa sepeti kata lo itu, gue gak perduli! Apalagi gue belum lihat dengan mata kepala gue sendiri!" bentak Evan.


Hancur pasti, hati perempuan mana yang tidak sakit saat mendengar orang yang ia sayangi mencintai orang lain.


"Van?" lirih Elena yang merasa bersalah sudah membuat Evan marah, ia tak pernah melihat Evan sampai semarah ini. Atau memang Elena belum tahu betul sifat Evan.


Evan tak menyauti panggilan Elena, ia memilih berdiri dari duduknya. Sebelum ia benar-benar beranjak ia sempat mengatakan sesutau yang membuat hati Elena semakin sakit.


"Oh, ya! Satu hal lagi, jangan pernah ikut campur urusan gue meskipun lo gue angggap sebagai teman!"


Setelah mengatakan itu Evan benar-benar pergi tanpa menyentuh makanan yang ia pesan.


"Van, lo jangan ginu dong... dia gak sengaja bilang kaya gitu," kata Vion yang mengikuti langkah kaki Evan.


"Terserah! Gue gak perduli, gue gak suka ya, Vi.. kalau ada yang jelekin orang yang suka."


"Tapi dia kan belum tentu suka sama lo, Van! Dia bahkan gak perduli sama kehadiran lo, gue bilang kaya gini karna gue takut lo sakit hati sebelum dapatin cintanya!" jelas Vion yang sangat perduli dengan Evan, terlebih lagi Vion pernah mendengar cerita dari orang tuanya tentang kisah Rayhan walaupun tidak mendetail.


Evan mengehentikan langkah kakinya, ia berbalik sambil menatap sahabatnya sejak kecil itu. Evan membuang nafasnya kasar, ia tahu betul jika Vion sangat perduli dengannya tapi mau gimana lagi hatinya seakan tidak terima saat ada yang menjelekkan Azzalea didepannya dan itu sudah yang sekian kalinya.


"Gue akan buat dia suka sama gue dan bertekuk lutut di hadapan gue! Gue beneran sayang sama dia, Vi... gue akan berjuang buat dapetin hatinya." jelas Evan dengan mantap sambil menatap Vion.


"Hah!" Vion menarik nafasnya panjang, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi dengan sahabatnya itu.


"Bener kata orang, jatuh cinta buat orang jadi buta... ya buta dengan semua nasehat dan pandangan orang lain, yang ada dipikirannya cuma orang yang ia suka!" batin Vion.


"Hiks hiks hiks, lo jahat banget sama gue, Van!"


"Lo sampai bentak gue cuma gara-gara cewek itu, apa bagusnya dia sih, Van?" monolog Elena.


"Gue gak akan biarin lo dimilikin orang lain, Van! Kalau gue gak bisa milikin lo, berarti gak ada satu orang pun yang bisa milikin lo!" Elena mengatakan itu sambil menatap nanar keluar jendela dimana Evan dan Vion tengah berdebat disana.


"Gue akan kasih cewek itu pelajaran, biar dia tau siapa gue," ucap Elena sambil tersenyum tipis.


Elena hanya bisa menatap kepergian Evan dengan motor sportnya, ada rasa tak rela saat ia tahu orang yang ia sukai lebih memilih orang lain.


"Len," panggil Vion.


Elena yang merasa namanya dipanggil pun langsung menoleh, dilihatnya Vion sudah duduk didepannya lagi.


"Maafin, Evan... dia cuma lagi banyak masalah aja, makanya marah-marah kaya gitu." jelas Vion.


"Iya, gak apa-apa kok!" saut Elena dengan lemah lembut.


"Gue heran sama lo, Van... ada cewek cantik dan baik kaya gini kenapa lo malah milih cewek dingin itu yang udah mirip kaya patung es!" batin Vion menatap Elena yang terlihat kecewa.


Vion belum tau dengan sikap aslinya Elena, karena ia akan bersikap layaknya seoramg putri yang lemah lembut dan baik hati. Tapi nyatanya itu hanya covernya saja.


"Lo kesini naik apa?" tanya Vion basa-basi.


"Gue bawa mobil kok, oh iya Evan pergi kemana?" tanya Elena penasaran.


Vion mengendihkan bahunya, ia tidak tahu Evan pergi kemana.


"Entah, mau nenangin diri... mungkin," ucap Vion yang membuat Elena semakin penasaran.


"Emang Evan ada masalah apa?" tanya Elena.


"Evan itu gak boleh pacaran kalau—" mulut Vion tiba-tiba tertutup rapat saat ia menyadari ada yang salah dengan ucapannya.


"Oh Astaga, kenapa gue hampir keceplosan... itu kan rahasia, bisa habis gue kalau sampai bener-bener keceplosan," batin Vion.


"Kalau apa?" tanya Elena penasaran.


"Kalau... kalau nilainya jelek! Ya itu kalau nilainya jelek dia gak diizinin pacaran," elak Vion sambil tertawa canggung, sebisa mungkin Vion berusaha membuat Elena percaya dengan perkatannya.


"Eh, masa sih? Evan kan udah pinter?" tanya Elena tak percaya.


"Biasanya anak dokter kan dituntut buat nilai bagus semua biar bisa ikutin jejak orang tuanya," jelas Vion dengan serius.


Elena hanya mengangguk saja, apa yang Vion ucapankan memang ada benarnya sehingga Elena tidak curiga lagi.


"Hast! Untung percaya," batin Vion sambil meminum jusnya.


...----------------...