Evanzza

Evanzza
Tidak bisa memilih



"Gue tau harusnya gue gak kaya gini, tapi kenapa sulit!"


"Kenapa gue sulit buat iklasin lo bersama orang lain, Al .... Kenapa rasanya sakit banget disini?" ia menepuk-nepuk dadanya beberapa kali.


"Gue udah berusaha keras buat lupain lo, lupain perasaan ini ... Bahkan gue udah bersikap biasa aja, tapi tetap aja gak bisa, Al. Sakit banget saat lihat lo tersenyum bahagia bersamanya."


"Gue tahu harusnya gue gak kaya gini, harusnya gue dukung lo, suport lo tapi gue gak sanggup! Hah!"


"Gue harus gimana, Al? Kasih tau gue, gimana biar gue bisa buang jauh-jauh perasaan ini. Ini terlalu menyiksa, Al!"


Ia terus saja berteriak tiada hentinya, terlihat jelas jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Baju seragam yang sudah keluar, ranbut acak-acakan. Ini bukan Cakra, karena terlihat sangat berbeda.


"Kenapa gue harus memiliki rasa sama orang yang gak bisa membalas perasaan gue?"


Disaat Cakra meluapkan emosinya, ia sampai tak menyadari jika ada seorang cewek yang terusik dengan semua teriakan Cakra. Padahal gadis itu sedang mencari inspirasi untuk lukisan yang akan dia buat.


"Siapa sih itu orang, berisik banget! Ganggu aja, kalau patah hati jangan kesini lah kaya orang mau bunuh diri aja!" kesalnya sambil meletakkan alat lukis ditempatnya kembali.


"Eh tunggu dulu, jangan-jangan dia mau bunuh diri lagi? Mana gak ada orang lagi," gumam gadis itu sambil menoleh kesamping kanan dan kiri, tak ada siapapun selain dirinya dan juga Cakra.


"Kalau dia beneran bunuh diri gimana? Gue gak mau jadi saksi!" monolognya, apalagi ia melihat Cakra sudah berjalan beberapa langkah kedepan membuatnya semakin panik, karena mereka sedang berada dikawasan perbukitan yang banyak pohon pinus disisi kanan dan kiri.


"HEI! TUNGGU JANGAN LOMPAT!" teriak gadis itu sambil berlari ke arah Cakra.


Gadis itu langsung memeluk Cakra dari belakang karena ia tak tahu harud berbuat apa untuk mencegah Cakra bunuh diri.


"Gue tau hidup lo berat, perasaan lo bertepuk sebelah tangan! Tapi tolong jangan berpikiran sempit, harusnya lo sadar masih banyak orang yang sayang sama lo!" teriaknya sambil membenamkan wajahnya pada punggung Cakra.


"Lepasin!"


"Gak, gue gak akan biarin ada mati didepan gue!"


"Mati?" tanya Cakra bingung.


"Iya, gue gak akan biarin lo bunuh diri dihadapan gue! Gue gak mau jadi saksi dan harus berurusan sama polisi!" teriaknya.


"Lepasin!"


"Gak, pokoknya gak mau!"


"Hmm lepasin! Lo udah gak waras, ya? Siapa juga yang mau bunuh diri?" tanya Cakra sambil mencoba melepaskan lengan gadis itu dari lengannya.


"Gue gak mau bunuh diri!" lanjut Cakra.


"GAK MAU! Gue tau ini cuma akal-akalan lo aja kan, bilangnya gak mau bunuh diri suapaya gue lepasin tapi pas gue beneran lepasin lo nya langsung lompat!"


"Cih! Pemikiran dari mana itu?"


"Gue lihat difilm-film pasti seperti itu!"


"Astaga, ini bukan film! Ini dunia asli, jadi lepasin gue gak akan bunuh diri .... Gue janji!" tegas Cakra.


"Beneran?" tanyanya.


"Bener," jawab Cakra.


Lalu perlahan gadis itu melepaskan pelukannya, tetapi tangannya tetap memegang ujung seragan Cakra. Ia takut Cakra berubah pikiran dan lompat begitu saja.


"Gue cuma ngambil ponsel gue yang jatuh," kata Cakra, memang benar ponselnya jatuh dari saku seragamnya saat dirinya sedikit menunduk.


"Ohh, gue kira lo mau itu," kata gadis itu pelan, ia malu sudah salah paham terhadap Cakra.


Cakra langsung duduk disebelah gadis itu tanpa alas apapun, ia tak perduli celananya kotor.


"Gak capek berdiri?" tanya Cakra, gadis itu langsung ikut duduk disamping Cakra.


"Sorry, gue kira lo mau bunuh diri," kata gadis itu sambil melirik sekilas Cakra.


"Hmmm, jadi lo denger semua?" tanya Cakra dan gadis itu mengangguk sebagai jawaban.


"Gue gak ahli soal percintaan kaya gitu, tapi kalau lo butuh temen buat denger semua unek-enek lo, gue bisa!" gadis itu tanpa ragu menepuk punggung Cakra beberapa kali tanpa rasa canggung sedikit pun.


"Nanti lo bocorin lagi kalau gue cerita sama lo?" canda Cakra.


"Heh, lo pikir gue ban yang bisa bocor? Tenang sama gue semua aman!"


Melihat kejujuran yang gadis itu pancarkan membuat Cakra terkekeh, ia baru sadar ada gadis menarik dan seru selain Azzalea. Mungkin selama ini ia hanya fokus pada satu orang saja hingga ia tak menyadari begitu banyak orang dengan berbagai karakter.


"Lo kok ketawa sih? Remehin gue?" tanya gadis itu.


"Bukan, lo lucu mirip seseorang!"


"Siapa? Orang yang udah buat lo patah hati ya?" tebaknya seratus persen benar.


"Ya begitulah!" saut Cakra sambil menatap depan terlihat langit biru cerah dengan sedikit awan, angin bertiup sedang membuat siapa pun enggan beranjak.


"Tapi jangan samain semua cewek, karena mirip bukan berarti sama kan?"


Cakra menatap gadis itu yang tengah menatapnya, sebuah mata bening berwarna coklat mirip dengan miliki Azzalea. Namun kedua mata ini seolah memiliki ketulusan yang bisa membuat siapa saja yakin.


"Eh nama lo siapa?" tanya Cakra yang sadar mereka belum berkenalan sejak tadi.


"Chaca Pelangi Parawansha, biasa dipanggil Chaca aja!" gadis yang bernama Chaca itu mengulurkan tangannya lalu disambut oleh Cakra.


"Gue Cakra! Lo ngapain disini?"


"Lagi cari inspirasi buat lukis, eh gak tau nya ketemu orang yang lagi patah hati!" ledek Chaca.


"Hmm, gue suka sama orang tapi dia nya suka sama orang lain," ucap Cakra sendu.


"Udahlah, lo gak perluh lupain dia atau hapus dia dari hati lo ... Biarkan dia tetap memiliki tempat tersendiri dihati lo!" jelas Chaca.


"Lo harus berdamai dengan perasaan lo, Cak! Karna itu satu-satunya cara supaya lo bisa iklas menerima semuanya."


"Perlahan waktu akan merubah rasa sakit lo sebagai kekuatan yang gak akan pernah lo bayangin sekali pun dan lo harus ingat satu hal!" lanjut Chaca.


"Apa?"


"Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta, tapi kita bisa memilih siapa yang patut untuk kita perjuangkan!" seru Chaca sambil menatap langit biru.


Mendengar perkataan Chaca membuat Cakra sedikit lebih tenang dan juga sadar jika tak semua orang bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Mungkin ada orang yang lebih memilih dicintai dari pada mencintai karena mereka sudah pernah terlalu dalam memberikan seluruh peradaannya pada orang yang salah.


"Makasih!"


"Buat apa?"


"Makasih lo udah dengerin keluhan gue dan nasehatin gue .... Ya meskipun mungkin nanti gue galau lagi, tapi gue sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Thanks ya!" Cakra tersenyum tulus lalu dibalas oleh Chaca.


Hingga tak terasa mereka melewati waktu sampai siang hari, Cakra mengajak Chaca untuk makan siang sebagai ucapan terimakasihnya.


...----------------------...