
"Lo yakin Evan gak pernah nyatain perasaannya sama lo?" tanya Ghea.
Mendengar pertanyaan Ghea membuat Azzalea mencoba mengingat sesuatu sepertinya ada suatu hal yang terlupakan.
"Ya, Al! Kali aja lo lupa kan?" imbuh Dafa sambil memaikan sedotan yang ada didalam gelas minumannya.
Semakin Azzalea berusaha mengingat semakin ia lupa akan sesuatu.
"Arrgh! Entah gue lupa serius," kata Azzalea frustasi.
"Kak Evan mah sering bilang saranghae sama kakak, kan?" tanya Azzam.
Deg!
Seketika pikiran Azzalea kembali pada beberapa bulan lalu dimana ia belum sedekat ini dengan Evan.
BRAK!
"Apa si, Ghe! Bikin jantungan aja!" kesal Cakra, pasalnya ia sampai terpelonjat kaget.
"Hp lo!" pinta Ghea, gadis itu tak memperdulikan kekesalan Cakra dan Dafa.
"Ghea mah suka ngangetin, untung Nessa udah biasa," celetuk Nessa sambil terkekeh.
Tangan Azzalea terulur mengambil sebuah benda pipi yang ada didalam tasnya, belum sempat ia berikan pada Ghea gadis itu lebih dulu merebutnya dengan paksa.
"Apaan sih, Ghe!" gerutu Azzalea.
Ghea sibuk membuka benda pipi itu, hingga senyum manis terukir disudut bibirnya membuat mereka semua menatap aneh Ghea.
"Sehat, Ghe?" tanya Cakra.
"Sehat pake banget! Nih, lo lupa sama ini, Al?" tanya Ghea menunjukkan gambar Evan yang tengah menyatukan ujung ibu jari dan jari terlunjuknya membentuk sebuah love.
"Oh iya gue inget, sebelum ini Evan pernah bilang sama gue kalau dia cinta sama gue, tapi ada sesuatu yang harus dia lakukan dulu," kata Azzalea dengan wajah bebinar.
"Apa?" tanya mereka semua kompak.
"Gue gak tau, dia cuma bilang kalau gue harus nunggu dulu gitu." jelas Azzalea.
"See! Berarti dia beneran suka sama lo," kata Ghea mengembalikan ponselnya pada Azzalea.
"Tapi itu udah lama, kan?" tanya Cakra.
"Bisa aja sekarang perasaannya udah berubah ... Soal hati tidak ada yang tau, kan?" lanjut Cakra.
"Lo mah kompor, Cak! Bilang aja cemburu," kata Dafa sambil terkekeh.
"Tapi yang dibilang Cakra bener, kalau perasaan dia udah berubah gimana? Maka nya sampai sekarang dia gak nyatain perasaannya lagi ke gue?" tanya Azzalea, wajah nya terlihat putus asa dan sedih.
"Nyatain aja dulu!" semua orang melirik pada gadis yang sejak tadi hanya sibuk makan saja.
"Gue cewek, Nes! Masa bilang suka duluan, malu!" tolak Azzalea.
"Sekarang banyak kok cewek yang bilang suka duluan sama cowok, dari pada dia hilang diambil orang," ucap Nessa, kadang gadis ini bisa bersikap dewasa juga.
"Iya kalau diterima kalau gak? Mau ditaruh dimana muka ku ini?" gerutu Azzalea.
Apa yang dibilang Nessa tak salah, tapi Azzalea adalah seorang perempuan yang harusnya diperjuang kan bukan memperjuangkan. Apalagi soal perasaan harusnya ia menerima ungkapan cinta bukan yang memberi pernyataan.
"Yauda mending lo sama gue aja, yang udah jelas suka sama lo dari dulu sampai sekarang," kata Cakra sambil memang wajah tanpa dosa.
"Lo ngungkapin perasaan apa hibur doang sih, Cak!"
Cakra mengusap gemas rambut Azzalea, meski Cakra sudah merelakan bila gadis itu bersama Evan tapi tidak bisa dipungkiri jika ia masih menyimpan perasaan itu untuk Azzalea. Cinta monyet yang berubah menjadi cinta tulus.
Kemudian mereka asyik dengan berbagai cerita, ditambah lagi Cakra membawakan oleh-oleh untuk mereka semua membuat suasana sedih itu berubah menjadi lebih hangat lagi.
Sedangkan dimeja sebelah paea orang tua senang melihat kedekatan anak mereka hingga terbesit niatan untuk menjodohkan mereka.
"Ka, gimana kalau kita besanan?" tanya Bobo sambil menatap Azka yang sedang menenggak es jeruknya.
Uhuk!
Azka pun langsung tersedak mendengar tawaran yang diberikan Bobo secara tiba-tiba, untung saja ia hanya tersedak es jeruk jika sedang makan pedas pasti sangat sakit.
"Kita besanan, kalau dilihat-lihat si Azza cocok gitu sama Cakra," kata Bobo sambil menatap meja dimana kedua anak itu berada.
"Gimana?" tanya Bobo lagi sambil mematap Azka.
"Terserah Ale mau sama siapa, aku gak akan paksa dia ... Kalau pun dia mau sama tempung itu juga gak masalah!" jelas Azka.
"Cakra, Ka! Bukan tepung, kebiasaan banget suka rubah nama orang!" Attaya terkekeh setelah mengatakan itu.
"Tepung Cakra!" saut Devan terbahak-bahak.
"Putih, lembut ya?" imbuh Bobo, ia tak marah anaknya dipanggil seperti itu.
"Atau sama Dafa aja, bagaimana calon besan?" tawar Ciko sambil terkekeh.
"Tawarin aja semua!" geram Azka.
"Mau ikut nawar eh anak nya perempuan mana bisa," kata Devan sambil terkekeh.
"Kalau kita besanan pasti lucu, orang tuanya sahabatan anaknya pasangan!" Bobo sudah membayangkan bagaimana nanti bila Azzalea bisa bersama Cakra.
"Ya masa kita cuma muter disini aja, biarin mereka cari sendiri. Kita sebagai orang tua cuma bisa dukung!" bijak Devan seperti biasa.
"Bener tuh, kata Devan! Bosen liat wajah kalian terus," canda Attaya.
"Eh tapi gimana kalau besannya Azka nanti musuhnya sendiri? Bakal lucu itu," celetuk Bobo tiba-tiba, orang ini sampai sekang tak pernah berubah. Ada saja pikiran nyeleneh yang muncul.
"Nah bener tuh, kali aja anaknya Kevin cowok!" celetuk Attaya terkekeh.
"Atau gak si Siska?" Devan ikut menimpali sambil menaik turunkan alisnya.
"Gimana kalau si ketos? Dia kan saingan Azka dulu?" tanya Ciko yang membuat mereka semua mengangguk setuju kecuali Azka.
"Gak akan gue restuin!" tegas Azka dengan wajah garangnya.
"Kenapa? Kali aja gak dapat papa nya dapet anak nya?" tanya Bobo sambil terkekeh.
"Ya pokoknya gak boleh!" tegas Azka.
"Mode papa posesif!" ejek Attaya.
"Gue gak mau Ale ketemu sama mereka, cukup dulu aja gue yang penuh drama dapetin Azkia," kata Azka sambil mengingat kisah masa putih abu-abu nya.
"Jodoh gak ada yang tau, Ka!" Bobo masih saja menggoda Azka yang sudah tak bersahabat itu.
"Kaya gak ada orang lain aja," kata Azka.
"Terserah kita cuma bercanda aja, jangan dibawa hati ... Bawa kepelaminan aja kalau bener nanti!" tawa mereka pecah semua melihat wajah kesal Azka, sudah lama mereka tak sebagia ini. Kapan lagi bisa mengejek seorang CEO perusahaan ternama.
"Kalau lo ngomomg lagi, perusahaan lo besok bangkrut!" ancam Azka pada Devan dan Bobo.
Secara bersamaan Devan dan Bobo langsung menggerakan tangannya seolah sedang mengunci mulut mereka rapat-rapat, padahal sebenarnya mereka sedang menahan tawa agar tidak pecah.
"Kalau gak si Azzam aja sama anak gue yang kecil," saut Ciko.
"Azzam masih SMP, astaga kalian ini kenapa sih?" protes Azka.
"Supaya pertemanan kita semakin erat lah, Ka! Apalagi coba?" tanya Attaya bersemangat.
"Terserah, yang jelas meraka gak gue izinin nikah muda!"
"Biar nikmatin masa-masa remaja dulu, nikah itu gak seenak kelihatannya!" lanjut Azka.
Ini lah yang mereka suka dari Azka sejak dulu, walaupun terlihat tidak perduli dan menyerahkan semuanya pada sang anak tapi ia tetap memperhatikan hal-hal sekecil apapun agar anaknya merasa senang tak seperti dirinya dulu. Bairlah orang mengira Azka bucin atau bahkan posesif sekali pun tak masalah, asal keluarganya aman dan bahagia.
...----------------...
Azzalea Lestyana Aldric
Evan Anggara Mahardika