
Bagaikan luka yang terkena air garam, begitu terasa perih dan nyeri ketika melihat seseorang yang kita sayangin dekat dan akrab dengan orang lain. Rasanya seakan ada ribuan pedang yang menusuk relung hati yang paling dalam, sesak seoalah tak ada lagi oksigen disekitar.
Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memerah, langkah kakinya begitu cepat untuk menghampiri pujaan hatinya. Apalagi ia tidak bisa dihubungi sejak tadi.
Set!
Evan menarik pergelangan tangan Azzalea hingga gadis itu menabrak dada bidang Evan. Alen yang ada disitu pun hanya diam dengan wajah dinginnya, ia ingin tahu ada hubungan apa diantara keduanya.
Cekalan Evan begitu kuat hingga pergelangan tangan Azzalea sedikit memerah, Azzalea bahkan meringis kesakitan.
"Lepasin!" Azzalea berusaha menjauh dari Evan, ia tak nyaman dengan posisinya saat ini. Jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya, tapi sayangnya egonya yang terlalu besar membuat Azzalea tak ingin berdekatan dengan Evan.
"Dari mana aja, Za?" tanya Evan sambil menatap manik mata Azzalea tajam. Terlihat jelas jika Evan sedang menahan amarahnya.
"Kenapa ponsel lo gak aktif! Kenapa gak ada dikelas? Gue dari tadi nyariin lo!" seru Evan tanpa melepaskan cekalannya bahkan seolah mempererat agar Azzalea tidak kabur lagi.
"Sakit, Van!" sentah Azzalea, dengan wajah kesalnya.
Tanpa basa-basi Alen langsung saja melepaskan cekalan Evan dengan kasar.
Alen mendorong tubuh Evan hingga ia mundur beberapa langkah. Hal itu semakin membuat Evan terbakar amarah. Ada hubungan apa dianatara keduanya dan sejak kapan Azzalea begitu akrab dengan laki-laki lain? Banyak pertanyaan yang terngiang - ngiang dikepala Evan.
"Dia kesakitan!" ucap Alen sambil menatap tajam Evan.
"Bukan urusan lo!" Evan pun tak kalah tajam menatap Alen apalagi Azzalea adalah kekasihnya, ia tidak rela jika Azzalea dekat dengan laki-laki lain.
"Ikut gue, Za!" perintah Evan sambil menatap Azzalea sendu.
Azzalea yang masih teringat dengan foto itu pun mengurungkan niatnya ikut bersama Evan, hatinya masih sakit meski ia ingin tahu kebenarannya.
"Ikut aku, ya? Jangan kaya gini, jangan ilang-ilangan... aku khawatir tau!"
Azzalea masih diam membisu, ia tidak tega melihat wajah khawatir Evan. Namun, Azzalea masih kekeh dengan pendiriannya.
"Aleeaaa!" panggil Evan sekali lagi, membuat Azzalea tersadar dari pikirannya.
Tak ada jawaban, bahkan uluran tangan Evan pun tidak dihiraukan oleh Evan. Evan menghembuskan nafasnya kasar, tanggung jawabnya sebagai ketua osis masih banyak ditambah kekasihnya yang sedang merajuk membuat Evan benar-benar kesulitan.
Tanpa pikir panjang Evan langsung pergi meninggalkan Azzalea tanpa sepatahkata, pikirannya benar-benar kalut. Ia hanya ingin mendapatkan semangat dan suport dari kekasihnya. Tapi siapa sangka harapannya pupus begitu saja.
"Vaan!" Lirih Azzalea, hatinya tak tega.
"Siapa?" tanya Alen penasaran.
"Bukan urusan lo!" ketus Azzalea.
"Semua tengang lo jadi urusan gue!" Tegas Alen dengan wajah tak berdosanya.
Azzalea yang sudah berjalan pun seketika menghentikan langkah kakinya, ia berbalik menatap Alen tajam. Dia tak habis pikir dengan laki-laki didepannya itu. Sudah cukup masalah Evan yang membuat pikirannya kacau, ini ditambah Alen.
Alen hanya tersenyum tipis melihat wajah terkejut dari Azzalea. Dengan lembut tangannya mengusap pucuk kepala Azzalea.
"Urusin dulu bayi gedemu!" ucap Alen sambil mengacak-acak rambut Azzalea.
Alen meninggalkan Azzalea yang masih diam pikirannya masih berkelana entah kemana.