
Azzalea sudah berada dikantin, ia menatap semua siswa yang ada untuk mencari seseorang yang tak lain adalah Evan. Tapi sayangnya sampai kesudut-sudut pun ia tak melihat keberadaan Evan, hingga netranya menyipit saat menemukan sahabat Evan, yaitu Vion.
Azzalea langsung menghampiri Vion yang sedang mengantri untuk membayar makanan yang sudah ia beli.
"Vion?" panggil Azzalea.
Merasa terpanggil Vion pun langsung menoleh.
"Weh tumben manggil gue, kenapa?" tanya Vion.
"Evan mana?" tanya Azzalea tanpa basa-basi.
"Cih! Patut lah jadi pacar Evan, sifatnya mirip banget!" gerutu Vion sambil milirik Azzalea.
"Dimana?" ulang Azzalea tak sabar.
"Ruang osis, lo mau kesana? Kalau iya bawa ini titipan Evan!" perintah Vion sambil menyodorkan kresek pada Azzalea.
"Hmmm!" tanpa pamit Azzalea langsung pergi begitu saja membuat Vion menggeleng tak percaya.
"Cih, dingin banget tuh cewek! Kenapa Evan bisa sebucin itu sih sama tuh cewek?" gumam Vion.
Sedangkan Azzalea sudah bergegas menuju ruang osis, entahlah hatinya sedikit gundah dan tak tenang. Pikirannya hanya tertuju pada Evan saja sejak tadi, bahkan Azzalea sudah mengabaikan Ghea dan Nessa yang lebih dulu mengajak ke kantin.
"Evan gak aneh-aneh, kan?" batin Azzalea.
Sampai belokan didekat ruang osis, Azzalea membulatkan kedua bola matanya. Ia melihat Evan sedang berdebat dengan Elena, beberapa kali Evan menyuruh gadis itu pergi tapi tetap saja ia kekeh untuk menemani Evan. Bahkan Elena sampai memeluk tubuh Evan dari belakang saat Evan akan berjalan masuk ke ruang osis.
"Van, lo putusin aja Azzalea! Lo sama gue aja, Van. Gue itu tulus sayang sama lo, Van! Gue mohon sama lo, ya Evan," rengek Elena sambil memeluk erat pinggang Evan.
"Lepasin, Len!" Evan memcoba melepaskan pelukan itu tapi Elena tetap tidak mau bahkan ia sudah membenamkan wajahnya pada punggung lebar Evan.
"Len, lep—"
"Lepasin pacar gue!" seru seorang gadis yang tak lain adalah Azzalea, ia sudah jengah menjadi penonton saat ini.
"Zaa? Lo disini? Lo jangan marah ini semua gak seperti yang lo lihat!" jelas Evan panik, sedangkan Elena tersenyum semirik karena ia akan membuat Azzalea merasa dikhianati dan akhirnya memutuskan Evan.
"Ini seperti yang lo liat kok, jadi gue harap lo sadar diri dan jauh-jauh dari Evan! Karena Evan itu punya gue!" tegas Elena.
Azzalea melipat kedua tangannya didepan dada, ia masih mencoba sabar dengan apa yang dilakukan Elena.
"Van?" panggil Azzalea.
"Lo tau kan kemaren gue bilang apa? Gue orang nya cemburuan loh!" Azzalea menaikkan sebelah alisnya tatapannya berubah tajam dan penuh kebencian.
"Gue bisa jelasin Za! Serius ini gak seperti yang lo liat!" jelas Evan sambil melepaskan pelukan Elena dengan kasar, awalnya Evan masih mentolerin perbuatan Elena karena tidak ingin kasar dengan perempuan tapi setelah melihat Azzalea didepan matanya Evan sudah tak perduli lagi dia melukai perempuan atau tidak.
"Evan sakit!" rengek Elena, sambil memegang ujung seragam Evan.
Azzalea langsung berjalan mendekati Evan dan menepis tangan Elena, entahlah Azzalea tak suka sesuatu miliknya disentuh orang lain.
"Mungkin Evan gak berani kasar sama lo, karena lo perempuan! Tapi gue berani kok sama lo," kata Azzalea dengan tatapan permusuhan yang terlihat jelas.
"Terus kenapa, lo mau apa?" tantang Elena.
"Udah, Za! Jangan cari masalah sama orang gak penting," bujuk Evan sambil menghadang tubuh Azzalea agar tidak berbuat kasar pada orang, karena Evan tahu persis bagaimana kekuaan Azzalea.
"Lo belain dia, Van?" tanya Azzalea.
"Gak say—"
"Len, lo bisa diam gak sih! Jangan memperkeruk keadaan, gue masih diem karena mandang lo temen gue!"
"Tapi, Van? Gue gak mau jadi temen lo, gue mau jadi pacar lo, Van!" Elena mencoba memeluk Evan lagi tapi gerakannya terhenti saat Azzalea mencekal pergelangan tangan Elena lalu memelintirnya kebelakang membuat Elena meringis kesakitan.
"Sshh, lepasin sakit!"
"Gue udah bilang sama lo, mungkin Evan gak berani sakitin lo ... Tapi, gue berani!" bisik Azzalea yang terdengar mengerikan ditelinga Elena.
"Sakit, lepasin!"
"Sakit, ya? Lalu lo pikir gue gak sakit gitu lihat pacar gue lo peluk-peluk kaya tadi? Lo kira gue gak tau kejadian sebenarnya kaya gimana?" setelah mengatakan itu Azzalea langsung mendorong tubuh Elena hingga tersungkur dilantai.
"Udah Za, jangan sampai lo di panggil BP gara-gara berantem!" Evan langsung menarik pergelangan tangan Azzalea mengajaknya masuk kedalam ruang osis yang tidak ada siapa pun.
Azzalea hanya diam saja dan menurut, ia meletakkan kantung kresek yang ia bawa diatas nakas. Lalu dengan kasar duduk dikursi depan meja Evan, ia masih terlihat kesal dan cemburu pastinya. Perasaan gundah dan tidak tenangnya tadi ternyata karena hal ini.
"Za, lo percaya kan sama gue?" tanya Evan.
"Hmmm!" saut Azzalea cuek.
"Tadi itu Elena dateng kesini, tau-tau masuk gitu aja terus pas gue usir dia langsung meluk gue! Gue gak balas pelukannya kok, gue udah berusaha lepasin tapi dia makin eratin pelukannya ... Lo tau sendiri kan? Gue gak bisa kasar sama cewek, apalagi gue ketua osis!" jelas Evan panjang kali lebar.
"Hmmm!"
"Lo marah sama gue?"
"Hmm!"
"Jangan hmm doang, Za! Jangan cuekin gue kaya gini," kata Evan dengan wajah gusar.
"Gue percaya kok sama lo," kata Azzalea yang membuat Evan tersenyum lebar.
"Serius, lo gak marah kan sama gue?" Evan sudah beranjak dari duduknya dan mengambil kursi agar bisa duduk berhadapan dengan Azzalea tanpa penghalang meja.
"Hmmm,"
"Makasih sayang! Gue beruntung banget punya pacar pengertian kaya lo!" Evan menggenggam erat kedua tangan Azzalea.
"Tolong jaga kepercayaan gue, Van! Gue lihat semuanya makanya gue percaya sama yang lo bilang dan lo udah jujur sama gue, tapi gue gak tau kalau gue datang terlambat mungkin gue beneran salah paham sama lo!"
"Iya gue janji!"
"Bisa jaga jarak sama cewek lain kalau gak ada kepentingan?"
"Bisa! Gue gak akan deket-deket sama cewek selain lo," kata Evan sambil tereenyum.
"Anak baik!" tangan Azzalea tanpa sadar mengusap pucuk kepala Evan dan tanpa sengaja mata mereka saling bertemu dan terpaku untuk beberapa saat.
"Eheem! Kok lo bisa tau gue disini?" tanya Evan memutuskan kontak mata itu lebih dulu.
"Dari Vion, maka nya ponselnya jangan disilent dong!" kesal Azzalea sambil membuang wajahnya ke arah samping.
"Iya-iya maaf ibu negara, tadi itu habis rapat ponselnya gue silent terus lupa sampai sekarang," kata Evan, ia gemas melihat wajah Azzalea yang sedang tersipu bercampur kesal.
"Kebiasaan!" gerutu Azzalea.
...----------------...
Like, coment dong kakak" semua :)