Evanzza

Evanzza
Dasar Mesum



Azzalea sudah sampai di rooftop sekolah ia malas mengikuti pelajaran, memang seperti itulah kebiasaannya jika tidak suka dengan mata pelajaran yang ada.


Padahal sudah berulang kali Azzalea mendapatkan nasehat dari Azka yang tidak boleh meniru hal buruk saat ia sekolah dulu, tapi seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itu peribahasa yang sangat cocok untuk Azzalea, karena tak hanya paras dan sifatnya saja yang mirip Azka bahkan tingkah lakunya pun hampir sama.


Azka sampai lelah menasehati putrinya itu, mau bagaimana lagi Azzalea seorang perempuan yang harusnya bersikap seperti layaknya perempuan yang feminimin dan penurut tapi itu tidak berlaku untuk Azzalea.


Lihatlah saat ini baju seragam yang ia kenakan sudah keluar dibagian belakang atau memang sengaja dipakai seperti itu. Dasi yang seharusnya dipakai dibiarkan tersimpan rapi disaku seragamnya, bahkan ia tak peduli saat rambutnya sudah berantakan karena tertiup angin.


Beberapa kali Azzalea terlihat mengumpat tidak jelas, ia sangat kesal dengan laki-laki yang selalu menganggunya itu.


"Dasar batu! Bikin mood gue makin buruk aja!" monolog Azzalea sambil menendang sebuah botol belas.


"Evan, gue tandain nama lo!" sudut bibir Azzalea terlihat tersenyum namun senyuman itu membuat siapa saja menjadi takut.


"Udah batu! Tukang maksa lagi, ada ya orang kaya gitu," gumam Azzalea lagi.


Ia duduk disalah satu kursi yang memang sudah ada sejak dulu, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Lalu menatap langit biru yang terlihat cerah tanpa ada awan sedikit pun.


"Ditambah dua cabe itu tadi makin buruk mood gue, awas aja gue bales kalian berdua berani banget kunciin gue di UKS " monolog Azzalea saat mengingat Elena dan juga Andini lah yang sudah mengunci Azzalea didalam UKS.


"Cih, sayang banget tadi gak gue rekam aja tuh mulut cabe waktu ngomong!" kesal Azzalea yang tiba-tiba saja berdiri dari duduknya sambil berkacak pinggang.


"Eheem," ucap seseorang yang berada dibelakang Azzalea.


Salah satu tangannya ia masukkan kedalam saku celana osisnya, perlahan berjalan mendekati Azzalea yang tengah menatapnya bingung.


"Gue pikir di rooftop ada hantunya eh ternyata ada malaikat," ucapnya seraya berdiri tepat dihadapan Azzalea.


Jika orang lain yang digombali seperti itu pasti ia sudah terbang dan banyak kupu-kupu yang keluar dari hatinya, tapi tidak dengan Azzalea. Azzalea bersikap biasa saja dan tetap dingin apalagi melihat kedatangan seseorang yang baru dilihatnya.


Ia menelisik wajah cantik Azzalea yang membuatnya terpesona dalam hitungan detik.


Azzalea pun tidak takut atau pun merasa terpesona akan ketampanan orang yang sedang berdiri didepannya saat ini, bahkan hidungnya bisa mencium wangi parfum yang orang itu pakai.


"Siapa?" tanya Azzalea sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Gue? Orang lah ya kali setan," jawabnya seraya terkekeh sendiri dengan jawabnnya.


"Nama," singkat Azzalea.


"Mana gue tau nama lo, kita aja baru ketemu!" ucapnya sambil tersenyum manis menatap wajah cantik Azzalea.


"Cih, nama lo siapa?" tanya Azzalea.


"Nah gitu dong kalau ngomong jangan sekata aja, gue kan gak paham!" jelasnya seraya mengulurkan tangan pada Azzalea.


"Kenalin gue Gavin Cavanaf, lo bisa panggil gue Gavin!"


Azzalea hanya menatap tangan yang masih menggantung diudara itu, tidak ada niatan untuk membalas uluran tangan Gavin.


"Hmm," saut Azzalea kemudian duduk kembali.


Sedangkan Gavin hanya tersenyum canggung sambil menarik kembali tangannya yang tak disambut oleh Azzalea.


"Lo ngapain disini, ini kan masih jam pelajaran?" tanya Gavin.


"Kepo!" saut Azzalea, ia bahkan tak menatap Gavin sedikit pun.


"Gue disini didepan lo. kalau ngomong itu lihat orangnya langsung," kata Gavin.


"....."


"Gue dikacangin, serius ini gue dikacangin woy!" batin Gavin.


"Balik ke kelas lo!" perintah Davin.


"Lo mau balik ke kelas atau gue hukum?" tanya Gavib yang masih didiamkan Azzalea.


"Oke kalau lo tetap diam berarti lo milih dihukum!" lanjut Gavin.


Gavin menarik tangan Azzalea dan membawanya turun kebawah, tentu saja hal itu membuat Azzalea berontak tapi sayangnya genggaman tangan Gavin lebih kuat sehingga Azzalea kesusahan untuk melepaskannya.


"Lepasin!" kesal Azzalea.


"Salah sendiri lo gak nurut sama gue," kata Gavin sambil tersenyum manis, tapi senyuman itu terlihat mengerikan.


"Lo siapa?" tanya Azzalea.


"Kan tadi kita udah kenalan, masih belum jelas juga?" tanya Gavin yang sudah mengentikan langkahnya.


"Cih, siapa lagi orang gak jelas ini!" batin Azzalea.


Gavin menatap Azzalea yang tengah kesal, bisa dipastikan Azzalea sedang mengumpatinya didalam hati.


"Keluarin aja jangan dibatin nanti jadi jerawat loh!" ledek Gavin.


"Gak jelas!" dengus Azzalea.


"Lo mau dijelasin dimana? Disini atau..?" Gavin sengaja menggantungkan ucapannya tapi bisa dipastikan Azzalea paham kelanjutannya.


Terlebih lagi Gavin semakin mendekatkan wajahnya pada Azzalea, gadis itu sebenarnya bisa saja menghajar Gavin saat ini tapi ia urungkan. Karena teringat akan pesan Azka yang tidak mengizinkan Azzalea berkelahi jika tidak ada hal mendesak. Azka melakukan itu hanya tidak ingin anaknya terluka sedikit pun.


"Dasar mesum!" Azzalea mendong tubuh Gavin hingga ia mundur dua langkah, Gavin yang melihat itu pun semakin tersenyum bahagia.


Niat hatinya hanya ingin menggertak gadis didepannya ini saja, tapi ia tidak menyangka jika gadis didepannya itu betani menolak dan berkata kasar padanya.


"Lo bilang gue apa, mesum?" tanya Gavin yang sudah melangkah mendekati Azzalea.


"Mau gue kasih tau, mesum yang lo bilang itu seperti apa?" tanya Gavin sambil tersenyum jahil, bahkan ia sudah mengungkung Azzalea hingga tak bisa kemana-mana karena dibelakangnya terdapat dinding.


Mereka saat ini berada di tangga paling bawah yang biasa digunakan untuk naik dan turun ke rooftop sekolah.


Azzalea semakin kesal saat melihat wajah Gavin tersenyum penuh arti, ingin sekali Azzalea memukul adik Gavin itu agar ia bisa lepas dari kungkungan Gavin. Tapi belum sempat Azzalea melakukan itu ada suara yang membuat mereka berdua menoleh.


"Kalian ngapain?" tanya Rafa ia adalah salah satu anggota osis yang tak lain adalah teman Gavin.


Azzalea dan Gavin pun menoleh, dilihatnya Rafa sedang berkacak pinggang menatap kedua orang yang ada didepannya.


"Lo disuruh cari anak yang bolos malah asik mojok!" ketus Rafa sambil menatap tak suka Gavin.


"Cih, ganggu aja sih lo, Raf! Gue juga lagi urusin anak yang bolos," kesal Gavin karena kesenangannya diganggu.


"Bolos gara-gara lo ajak mojok?" tanya Rafa sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Mana ada mojok, yang ada gue udah mati kedinginan kalau mojok sama dia," kata Gavin sambil melirik Azzalea.


DUK!


"Awwhhh!"


Azzalea sengaja menginjak kaki Gavin hingga ia mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya yang sakit.


"Rasain!" ketus Azzalea, lalu ia melangkah menjauhi Gavin.


Baru beberapa langkah tangannya sudah dicekal oleh Gavin lagi.


"Lo gue hukum!" tiga kata dari Gavin membuat Azzalea cengoh.


...----------------...