
"Cak, gue mau kasih tau lo sesuatu," kata Azzalea sambil menatap Cakra dengan serius.
Cakra menghentikan gerakan tangannya yang akan menyalakan mesin mobilnya, lalu ia menatap Azzalea.
"Apa!" tanya Cakra.
Azzalea menatap dalam kedua manik mata Cakra, membuatnya menjadi gusar dan salah tingkah. Ia sangat penasan masalah apa yang akan Azzalea bicarakan.
"Apa dia akhirnya sadar soal perasaan gue dan mau membalas perasaan gue?" batin Cakra.
Azzalea memegang kedua bahu Cakra, sehingga mereka berdua saling berhadapan. Cakra yang diperlakukan seperti itu semakin digugup bahkan bulir keringat muncul dipelipisnya.
"Kok gue jadi deg deg an, sih?" batin Cakra.
"Gue udah tau siapa orang yang kunciin gue di uks," kata Azzalea.
"Hah! Apa?" tanya Cakra, pikirannya mendadaj menjadi kosong karena apa yang Cakra pikirkan tidaklah sama dengan apa yang diucapkan Azzalea.
"Gue udah tau siapa tersangka yang kunciin gue di uks," ulang Azzalea sambil menatap Cakra, ia penasaran dengan reaksi Cakra.
"A-apa, lo tau siapa orangnya?" tanya Cakra setelah bisa menguasai dirinya yang blank.
Azzalea mengangguk penuh keyakinan.
"Lo kasih tau gue siapa orangnya, biar gue kasih pelajaran dia!" geram Cakra.
"Sayangnya gue gak punya bukti," keluh Azzalea sambil menyandarkan kepalanya pada pintu mobil.
"Hah! Terus tau dari mana kalau orang itu yang kunciin lo?" tanya Cakra.
"Mereka bilang sendiri," kata Azzalea.
"Kok bisa?"
Cakra menatap Azzalea dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, ia sudah salah paham dengan apa yang akan dikatakan Azzalea. Lalu ditambah lagi dengan Azzalea yang tahu siapa pelaku penguncian di UKS kemaren dan apa dia bilang tersangkanya bilang sendiri, mana bisa seperti itu.
"Terus lo mau apain mereka?" tanya Cakra sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Balas dendam lah!" saut Azzalea santai.
"Caranya?" tanya Cakra sekilas melirik gadis disebelahnya itu yang masih sibuk dengan camilannya.
"Nanti lo juga tau," ucap Azzalea sambil tersenyum penuh arti.
Kalau sudah seperti itu Cakra hanya bisa diam dan melihat apa yang akan Azzalea perbuat. Dia juga akan menjadi pelindung terdepan saat terjadi sesuatu yang tak dinginkan pada Azzalea. Jangan salah Azzalea termasuk anak badgirl hanya saja untuk saat ini belum terlihat.
Setelah percakapan itu tidak ada lagi percakapan apapun yang berarti, mereka diam dalam pikirannya masing-masing hingga sampai didepan rumah Azzalea.
"Lea?" panggil Cakra.
"Hmmm."
"Lo gak mau turun?" tanya Cakra.
"Udah sampai?" tanya Azzalea sambil melihat kesamping Cakra yang sudah terlihat gerbang rumahnya.
"Yaudah gue masuk dulu, makasih tumpangannya, Cak!" setelah itu Azzalea langsung keluar dari mobil Cakra.
Ia menoleh sekilas sambil melambaikan tangannya, lalu berlarian kecil seperti anak kecil untuk masuk kedalam rumah. Cakra yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, dimana wajah dan tingkah laku Azzalea yang dingin tadi. Karena semua itu berbuah ketika ia masuk kedalam rumah.
Setelah cukup puas mengamati Azzalea, akhirnya Cakra memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Disepanjang perjalanan pikirannya tak bisa lepas dari Azzalea, terlebih lagi tadi ada beberapa anak yang berniat mengantar Azzalea pulang.
"Gue aja belum dapetin hati dia, udah muncul saingan aja sih!" monolog Cakra.
"Gue gak mau lo sampai kenapa-kenapa, Le... gue akan terus jagain lo sama seperti waktu kita kecil, yang apa-apa lo pasti cariin gue atau Dafa." gumam Cakra.
Tapi lagi-lagi Cakra merasa kesal, dadanya bergemuruh saat kejadian dilapangan tadi terlintas dipikirannya lagi. Beberapa kali ia memukul stang mobilnya sendiru untuk meluapkan kekesalan yang ada dihatinya. Ia tidak rela jika Azzalea diperlakukan manis oleh laki-laki lain, apalagi didepan matanya secara terang-terangan.
"S h i t!!" umpat Cakra.
Evan, penampilannya terlihat sangat berbeda dari biasanya. Wajah kusut seperti pakaian yang belum dietetika, tatapannya kosong seolah sedang memikirkan negara yang masalahnya tidak ada habisnya. Langkah kakinya terasa berat bahkan ia sudah menyeret tas sekolah yang biasa ia gendong dibahunya.
Rayya yang melihat itu pun menjadi heran, ia tak pernah melihat anaknya seputus asa seperti saat ini.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Rayya sambil menghampiri anaknya itu.
"...."
"Sayang?" panggil Rayya lagi tapi tetap saja tak ada suatan dari Evan. Bahkan mamanya yang ada didepan mata seolah tak terlihat.
"EVAN!" bentak Raya, yang akhirnya membuat sang anak tersadar.
"Eh iya mah, kenapa?" tanya Evan.
"Kamu sakit?" Rayya sudah mengecek suhu padan Evan dengan punggung tangannya tapi tidak panas lalu kenapa sang anak seperti ini.
"Gak panas kok, kamu kenapa?" tanya Rayya.
"Evan gak apa-apa. mah!" Evan berusaha keras tersenyum didepan sang mama, tqpi tetap saja perasaan ibu lebih kuat dan ia tahu jika anaknya sedang mimiliki masalah.
"Bilang sama mama, ada apa? Siapa tau mama bisa bantu?" bujuk Rayya.
Evan menghela nafaenya berat setelah itu ia menceritaian semuanya kepada sang mama perihal ia menerima tantangan sang papa demi bisa menjalan hubungan dengan seseorang yang ia suka. Tapi sayangnya tak hanya Evan saja yang menyukainya melainkan banyak saingan baru yang bermunculan, membuat hati Evan sedikit goyah dan ingin menyerah. Tapi sayangnya semakin ia ingin menyerah rasa ingin bersama gadis itu semakin kuat.
"Anak mama udah gede rupanya," kata Rayya sambil mengusap kepala Evan.
"Kan emang udah gede mah, udah SMA ini," protes Evan.
"Iya, yang udah gede... jadi kamu lagi jatuh cinta sama cewek yang cuekin kamu waktu itu?" tanya Rayya.
Evan pun mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi saingannya banyak banget. mah!" seru Evan.
"Apalagi syarat dari papa!" lanjut Evan dengan lemas.
"Justru saingan banyak itu bukti kalau perempuan itu pantas diperjuangkan, apalagi kamu bilang perempuan itu dingin dan susah didekati kan? Itulah tantanganmu, buat dia lihat keberadaanmu." nasehat Rayya.
Evan diam menatap sang mama dengan mata berbinar, memang benar yang diucapkan Rayya. Kata-kata seolah memiliki sihir tersendiri untuk Evan, sehingga ia memiliki semangatah yang tadi sempat hilang.
"Nah sekarang tinggal kamu, Van...bagaimana usaha mu buat dapetin hati dia dan buat dia milih kamu dari semua sainganmu!" Rayya tersenyum simpul kepada anak semata wayangnya itu.
Rayya tak menyangka jika anak laki-lakinya sudah sebesar ini dan sudah mulai menyukai lawan jenisnya.
"Tapi mah," rengek Evan sambil merebahkan kepalanya pada pangkuan sang mama.
"Kenapa lagi?" tanya Rayya, tangannya mengusap lembut rambut Evan.
"Evan gak yakin bisa jadi ketua osis, papa kasih saran kenapa kaya gitu sih?" gerutu Evan.
"Mungkin papa pengen kamu belajar tanggung jawab, gak hanya tanggung jawab diri sendiri tapi orang lain juga... kamu tau kan manfaan ikut osis itu banyak banget." jelas Rayya.
Evan mengangguk sebagai jawaban, matanya mulai terpejam, ia merasa damai dan nyaman saat rambutnya diusap-usap oleh sang mama.
"Mama yakin kamu pasti bisa penuhin syarat dari papa," kata Rayya sambil mengusap lengan Evan.
"Evan gak akan nyerah!" Evan membuka matanya.
Ia sudah puas bermanja-manja dengan sang mama, kemudian Evan memutaskan untuk masuk kedalam kamarnya.
"Pasti beruntung banget orang yang bisa dapetin hati dia," guman Evan sambil menatap langit-langit kamarnya, kali ini ia sudah tiduran diatas ranjangnya sendiri.
...----------------...
..."Aku gak masalah jika banyak saingan yang harus aku hadapi, tapi yang jadi masalahnya jika hatimu bukan untukku!" ~Evan Anggara~...
...--------------------------------...
yok Like coment vote karya author dong! Kasih semangat buat Evan dapetin Ale, atau biarkan Ale sama yang lain saja :v