
"Kenapa?" pertanyaan itu muncul saat Azzalea terliat khawatir sambil menatap layar ponselnya.
"Kita gak jadi jalan ya, gue mau ke rumah sakit!" jelas Azzalea.
"Siapa yang sakit, Al?" tanya Ghea.
"Oma Lala, kalau kalian mau jalan gak masalah tapi gue gak ikut!"
"Yah gak seru dong kalo Ale gak ikut!" Nessa sedikit cemberut mendengar ucapan Azzalea.
"Besok aja ya Nes!"
"Yaudah batal, besok aja kita jalannya ... semoga oma lo cepet sembuh, Al!" Ghea memeluk erat tubuh Azzalea.
"Jangan lama-lama peluknya," protes Evan sambil menarik lengan Azzalea pelan.
"Apaan sih, Van? Gue kan juga cewek masak cemburu!" kesal Ghea.
"Terserah gue dong," ucap Evan sinis.
"Pacar lo, Al ... Pengen gue bunuh!" gerutu Ghea.
"Silahkan kalau bisa!" Azzalea tertawa puas.
"Jahat banget sih, es ale-ale!" Evan mengacak-acak rambut Azzalea sampai berantakan.
"Evan!" kesalnya.
Dari jauh Gavin dan Rafa datang mendekat menghampiri mereka yang sibuk didepan kelas Azzalea.
"Halo Gheaa!" sapa Gavin sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Ghea bergidik ngeri.
"Apaan sih gak jelas!" gumam Ghea.
"Kalian kenapa lama banget, gue udah jamuran nunggu diparkiran?" tanya Vion yang baru saja datang dengan wajah ditekuknya.
"Batal!" saut mereka membuat Vion kesal, karena ia sudah menunggu sejak bel pulang sekolah tapi acara batal begitu saja.
"Tau gitu gue langsung pulang tidur!" gerutu Vion.
"Beneran batal?" tanya Gavin lemas, gagal sudah rencananya mendekati Ghea.
"Batal, besok mungkin!" saut Nessa.
Mereka semua mengangguk paham lalu bersama-sama berjalan menuju parkiran, sejak tadi Evan merasa ada yang mengawasi mereka tapi saat Evan berbalik tidak ada siapapun disana.
"Apa cuma perasaan gue aja?" batin Evan.
"Kenapa?"
"Gak, udah ayo gue anterin ke rumah sakit!" Evan langsung menarik tangan Azzalea dan bergegas masuk kedalam mobil.
"Van, jangan sampai salah belok! Ingat rumah sakit jangan ke ho—" ucapan Gavin terpotong saat Evan langsung menurutinya.
"Heh, mulutnya dikondisikan! Gue gak kaya lo, ya!" kesal Evan tak terima sedangkan Gavin hanya terkekeh saja. Temannya satu itu memang kadang tidak waras untung saja pintar.
Brak!
Evan membantung pintu mobilnya, bisa-bisanya Gavin berbiacara sepeti itu saat dia bersama Azzalea. Evan hanya takut pacarnya salah paham dengan candaan tidak berfaedah dari Gavin.
"Kenapa marah-marah?" tanya Azzalea polos.
"Gak kok!"
"Kalau gak iklas nganterin bilang, biar gue naik taxi aja dari pada marah-marah!"
"Iklas sayang, astaga!" Evan mencoba meyakinkan Azzalea, entah kenapa hari ini semua orang sedang menguji kesabarannya.
"Tuh kaya gitu iklas?"
Evan menatap Azzalea lekat, lalu mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas membuat sebuah lengkungan.
"Udah ya, gue iklas lahir batin antar jemput lo bahkan 24 jam kalau perlu," kata Evan lembut dengan tatapan teduh yang berhasil membuat Azzalea tenang.
Kemudian Evan menyalakan mesin mobilnya, perlahan mobil itu keluar dari area sekolah. Hanya deru mesin tanpa ada percakapan apapun diantara mereka berdua, membuat Evan lagi-lagi mengalah dan mencoba membuka suara.
"Mau mampir makan siang dulu, gak?"
"Gak usah, belum laper!"
"Oke, jangan sampai lupa makan aja," kata Evan perhatian.
Setelah itu tak ada lagi percakapan apa pun diantara mereka berdua hingga sampai ditempat tujuan.
Setelah menemukan tempat parkir Evan segera membuka pintu mobilnya dan bergegas menuju sisi mobil tapi sayangnya gadis itu sudah keluar terlebih dahulu.
"Kenapa gak nunggu gue bukain?"
"Gue bukan gadis manja!"
"Tapi gue seneng manjain lo!" saut Evan tak mau kalah.
"Terserah, Fan!"
"Van bukan Fan!" protes Evan.
"Iya-iya, kipas angin!" Azzalea terkekeh sambil mencari ruang rawat sang oma, untung saja sang papa berbaik hati memberi tahu ruangannya jika tidak ia malas untuk bertanya pada resepsionis.
Evan tak menjawab ia lebih memilih diam dan mengerucutkan bibirnya sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada, bahkan Evan sudah berjalan terlebih dahulu didepan Azzalea padahal ia tak tahu ruangan mana oma Azzalea dirawat.
"Cie ngambek!" goda Azzalea, gadis itu suka sekali jika melihat Evan yang seperti ini. Evan akan berubah layaknya anak kecil yang tak mendapatkan mainnan yang ia mau.
"Ngambek aja terus biar gue cari pacar baru!"
Evan yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Azzalea tajam, selangkah dua langkah Evan mendekati Azzalea.
Gadis itu yang awalnya tertawa kini diam membisu menatap kedua manik Evan yang terlihat seperti ada kobaran api.
"Butuh pemadam kebaran?" tanya Azzalea yang semakin membuat Evan kesal.
Azzalea tak bisa pergi kemana-mana lagi karena ia sudah terkunci oleh pergerakan Evan, Evan menyudutkan Azzalea pada dinding rumah sakit.
"Apa sih, Van! Minggir gak, malu tau kalau dilihat orang bisa salah paham," ucap Azzalea sambil menoleh kekanan dan kiri.
"Biarin! Biarin pada salah paham terus dinikahin sekalian!" Evan tersenyum semirik menatap kedua manik gadisnya.
"Gue gak bercanda, Van!"
"Yang bercanda juga siapa?"
"Minggir ih!" Azzalea mendorong tubuh Evan tapi sayangnya tubuh itu seperti dinding rumah sakit yang tak bergeser sedikit pun padahal Azzalea sudah berusaha keras mendorongnya.
Wajah Evan terus mendekat hingga hembusan nafas Evan menyapu wajah cantik Azzalea, membuat gadis itu menahan nafas karena berdebar.
Tapi kegiatan Evan mengerjahili Azzalea harus terhenti saat suara bariton itu terdengar jelas ditelinga Evan dan Azzalea.
"Kalian ngapain?" tanyanya dengan penuh penekanan.
Dengan cepat Evan langsung menjauhkan tubuhnya dari Azzalea, ia melihat tatapan mengerikan dari calon mertuanya.
"Ha-halo om?" sapa Evan panik, sedangkan Qzzalwa hanya terkekeh saja melihat perubahan sikap Evan yang sangat cepat itu.
"Halo-halo emang lagi telepon?" ketus Azka, papanya Azzalea.
"Kalian ngapain tadi? Mau macem-macem ya?" selidik Azka.
"Nggak, om! Kita lagi diskusi nyariin ruangan oma, iya kan Za?" Evan menatap gadisnya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya agar Azzalea mau diajak kompromi.
Azzalea semakin terkekeh melihat tingkah Evan saat ini, kemudian ia langsung menggandeng lengan sang papa agar tidak marah lagi.
"Bener pah, mana berani dia macem-macem sama Ale! Kan ada papa yang selalu jagaun Ale," ucap Azzalea.
"Bagus deh, pokoknya kalau dia macem-macem langsung tinggalin aja!" saran sang papa.
"Siap pah!" Azzalea menoleh kebelakang sambil menjulurkan lidanya pada Evan.
"Bagus, anak papa gak boleh ditindas apalagi sama cowok kaya dia!"
"Tinggalin aja," ucap Azzalea menggoda Evan yang terlihat kesal.
"Cih, awas aja lo es ale-ale! Gue buat lo cinta mati sama gue biar gak bisa hidup tanpa gue!" batin Evan sambil mengikuti langkah ayah dan anak itu.
Sesekali terdengar decakan kesal Evan saat Azzalea lebih perhatian dengan sang papa dan mengabaikan dirinya sebagai pacar.
"Belum jadi suami udah kalah saing sama camer!" gerutu Evan.
...----------------...
Yok vote gratisnya buat Evan sama Es Ale-Ale!