Evanzza

Evanzza
Sedang Jatuh Cinta



Azzalea kini sudah berada didalam kelas, untung saja jam kosong sehingga ia tidak dimarahin karena sudah sangat telat masuk ke dalam kelas. Dafa dan Cakra sedang asik duduk lesehan dipojokan kelas, mereka bersama siswa lainnya sedang bermain game.


Azzalea pun langsung memanfaatkan kesempatan itu, ia langsung cerita tentang virus yang dibilang Azzam beberapa waktu lalu kepada Ghea dan juga Nessa.


"Ghe, gue pengen cerita deh!" Azzalea yang duduk dibangkunya sambil menepuk bahu Ghea.


"Hmm, apa?" tanya Ghea memutar tubuhnya menghadap Azzalea begitu juga dengan Nessa yang penasaran apa yang akan sahabatnya itu ceritakan.


"Ale mau cerita apa sama kita?" tanya Nessa.


"Tapi janji dulu jangan bilang siapa-siapa!" pinta Azzalea serius.


"Jangan-jangan lo habis di apa-apain sama Evan di uks?" seledik Ghea karena tidak biasanya Azzalea bersikap seperti ini.


"Ngawur lo!"


"Lah lo bilang rahasia, apalagi lo habis berduaan kan di uks sama Evan? Pasti ada sesuatu kan, hayo ngaku!" paksa Ghea.


"Gue gak ada sesuatu, Ghea! Lo mah viktor mulu deh," ketus Azzalea.


"Hehe maaf-maaf, kan gue cuma nanya aja kenapa lo jadi sewot gitu sih?" tanya Ghea.


"Viktor apaan?" tanya Nessa.


"Itu loh pelajaran matematika, lo mah jarang belajar jadi gak paham kan," kata Ghea sambil terkekeh.


"Masa sih, kok Nessa lupa?" yanya Nessa sambil mengingat-ingat pelajaran matematika itu.


"Udah-udah, kembali ke laptop! Eh maksud gue kembali ke topik utamanya," kata Azzalea.


"Garing tau gak lawakan lo, Le!" tapi tetap saja Ghea terkekeh sendiri.


"Jadi apa yang lo mau ceritain?" tanya Gjea mode serius.


"Kata Azzam gue kena virus," kata Azzalea serius.


"Virus, virus apa? Lo positif?" tanya Ghea kaget.


"Gak lah, bukan itu!" sanggah Azzalea.


"Emang Virus apa?" tanya Nessa.


"Gue kena virus C, gitu kata Azzam!"


"Emangnya apa yang lo rasain?" tanya Ghea yang penasaran, bisa jadi apa yang dimaksud virus c itu sama dengan pemikiran nya tapi Ghea ingin mematikannya terlebih dahulu.


"Jantung gue kadang tuh tiba-tiba ngajak dugem, Ghe! Nah kata Azzam, gue terinfeksi virus c gitu... gue kemarin mau cek, tapi gue takut kalau beneran sakit parah gimana? Mana Azzam bilang kalah virus itu bisa melukai tanpa luka gitu," kata Azzalea dengan wajah paniknya.


Sedangkan Ghea pun sudah tahu arah pembicaraan mereka kemana.


"Kenapa malah bocil yang peka, lo nya gak peka sama sekali, Le!" batin Ghea.


"Terus gimana dong, Ghe, Nes?" Gue beneran takut!" Azzalea memegang dadanya sendiri.


"Hari ini udah ngajak dugem belum?" tanya Ghea pada Azzalea.


"Masih siang, gak mungkin ngajak dugem, Ghea!" protes Nessa.


"Maksud gue itu, jantung lo udah berdetak lebih cepat dari biasanya? Kapan, dimana, dan sama siapa?" tanya Ghea sangat teliti.


Azzalea pun mengangguk, "Tadi jantung gue ngajak dugem lagi," kata Azzalea.


"Dimana? Lagi sama siapa?" tanya Ghea semakin penasaran.


"Tadi habis dari uks, sama siapa nya lo harusnya tau kan gue tadi sama siapa, Ghe?" kata Azzalea sambil menatap Ghea serius.


"Ciee cieee, ada yang mulai leleh nih!" goda Ghea sambil mencolek dagu Azzalea.


"Apaan sih, leleh apa nya? Gak jelas banget!" gerutu Azzalea.


"Es kali yang leleh," celetuk Nessa.


"Yap! Seratus buat lo, Ness!" Ghea mencubit kedua pipo Nessa gemas.


"Es apa?" tanya Azzalea masih belum paham.


"Gue mau nanya serius sama lo, ini soal penyakit lo sudah sampai tahap mana?" jelas Ghea, Azzalea pun mengangguk.


"Lo pernah gak kepikiram sama seseorang, bahkan lo sampai terbayang-bayang wajahnya?" tanya Ghea.


Azzalea pun langsung mengingat Evan, ya orang itu yang selalu memgusik hari-harinya bahkan sampai ke dalam pikirannya.


"Lo pernah gak senyum sendiri gara-gata baca pesan gak pentingnya?" lanjut Ghea.


Tanpa sadar Azzalea pun mengangguk sebagai jawaban.


"Dan yang jelas lo kalau deket dia jantung lo pasti ngajak dugem? Terus kaya ada getaran-getaran rasa yang belum pernah lo rasain sebelumnya?"


"Kok lo tau sih, Ghe?" tanya balik Azzalea, sedangkan terlihat senyum mengembang disudut bibir Ghea.


"Fiks! Lo emang udah terkena virus c, Ale!" kata Ghea antusias.


"Hah, lo serius? Terus gue harus gimana dong?" tanya Azzalea panik.


"Gak harus gimana-gimana sih! Cukup nikmatin aja samapi lo bener-bener sadar dengan perasaan lo," jelas Ghea.


"Perasaan apa?" tanya Azzalea bingung.


Ghea menggerakan jari telunjuknya agar Azzalea mendekat dengannya, Azzalea yang paham pun langsung menurut saja.


"Perasaan cinta, lo sedang jatuh cinta sama orang yang udah buat jantung lo berasa dugeng," bisik Ghea yang membuat Azzalea menggeleng tak percaya.


"Heh, lo kalau bercanda jangan serius gitu lah!" protes Azzalea yang sudah duduk kembali ke bangkunya.


"Lah gue emang serius ya, Ale-ale!"


"Lo kok ngikutin dia sih manggil gue ale-ale mulu," kesal Azzalea.


"Terserah lo, yang jelas yang gue bilang tadi serius!" Ghea lalu membalik tubuhnya melihat kedepan karena ada guru piket yang memberikan tugas kepada mereka.


"Masa iya gue jatuh cinta sama Evan?" gumam Azzalea sambil membuka bukunya.


"Lo ngomong apa, Al?" tanya Cakra.


"Hah apa? Gue gak ngomong tuh!" elak Azzalea, dia tak mau Cakra tau apa yang ia gumamkan tadi.


Lalu mereka memgerjakan tugas yang akan dikumpulkan sebelum jam istirahat. Tapi sayangnya Azzalea tak bisa fokus, ia terus kepikiran dengan perkataan Ghea itu.


Karena Azzalea terus menyangkal perasaan yang mulai muncul itu, ia tak menyukai Evan bahkan ia sangat benci dengan Evan karena selalu mengganggu dan menggodanya. Sehingga mana mungkin ia bisa jatuh cinta pada Evan, mustahil kan? Itulah yang selalu Azzalea terapkan dalam hatinya. Tapi sayangnya beberapa hari ini fakta yang dibilang Ghea adalah apa yang ia rasakan, semua itu benar. Jadi ia harus bagaimana, apalagi sifat Evan yang baik kesemua orang bisa membuat orang salah paham dengan kebaikannya.


Mungkin Azzalea tidak akan menerima Evan, karena belum jadi pacarnya saja ia sudah memiliki banyak musuh. Apalagi jika sudah memiliki hubungan dengan Evan, bisa-bisa semua fans nya akan memburu Azzalea. Dan Azzalea paham betul pada fans fanatik yang selalu ada disekitaran Evan.


Tanpa sadar Azzalea mendengus, terasa berat semu yang ia pikirkan sekarang ini. Satu lagi apakah sang papa akan mengizinkan nya pacaran? Mungkin saja boleh dan mungkin saja tidak, mengingat sikap papa Azka yang terlalu over protektif kepadanya.


Entahlah Azzalea membuang jauh-jauh semua pikiran itu, ia tak mau memikirkannya. Kepalanya bisa pusing jika terus memikirkannya.


"Jatuh cinta denganmu itu musibah!" batin Azzalea.


...----------------...