WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 99 MENGACAU



"Ok, kalau begitu... ayo kita pergi!" Aku beranjak berdiri.


Jin dan Huan terlihat kaget melihatku yang tengah berdiri tegap.


"Ke mana?" Tanya Huan dan Jin bersamaan dengan raut wajah yang terlihat kebingungan.


"Menjalankan rencana A tentu saja." Ucapku pada akhirnya.


"Rencana A?" Mereka berdua lagi-lagi bertanya secara bersamaan.


"Kenapa?? Kau sudah tak mau lagi memperjuangkan cintamu?" Aku sedikit kesal dengan Huan yang otaknya masih belum terkoneksi.


"Apa????" Huan terkejut, dia benar-benar tak menyangka aku akan secepat itu mengambil keputusan.


"Kalau tak mau ya sudah...." Aku beranjak duduk kembali.


"Tunggu kak.... Aku mau! Ayo kita pergi!" Huan spontan berdiri dengan sangat yakin.


Wajahnya kemudian menyunggingkan senyum yang sangat cerah.


Drt.... drt...


Ponsel Jin bergetar, dengan sigap Jin menerima panggilan itu.


"Iya pak Huang?" Jin membuka percakapan. "Ahh..... Baik.... baik... aku akan ke sana sekarang." Ucap Jin sembari menutup panggilan telfon itu.


Aku menoleh ke arah Jin.


"Kenapa?" Tanyaku menyelidik pada Jin.


"Maaf Mei aku tak bisa ikut kalian menjalankan rencana A... Ada kejadian mendadak di kantor dan aku harus segera ke sana. Tak apa kan sayang?" Jin terlihat menyesal.


"Baiklah... tak apa. Hati-hati... jalanan licin." Ucapku padanya.


"Kalian yang harus berhati-hati... Baiklah... aku pergi dulu. Sampai nanti." Ucap Jin kemudian mengecup keningku dan segera beranjak pergi.


"Terus kita bagaimana ke sana?" Tanya Huan bingung.


"Kau tadi ke sini naik apa?" Tanyaku gemas.


"Naik bus yang berhenti di depan sana. Dan aku berlari ke sini." Huan dengan polosnya menjelaskan.


"Sekarang... ayo kita naik taksi." Ucapku sembari berdiri kembali.


Tak berapa lama kita telah sampai di sebuah café bergaya klasik di pusat kota.


"Apa kau yakin ini tempatnya?" Tanyaku ragu-ragu pada Huan.


"Lihat... GPS-nya mengatakan dia ada di sini." Ucapnya yakin sembari menunjukkan ponselnya padaku.


"Baiklah mari kita masuk." Ucapku sembari memakai kacamata dan membenahi syal rajut tebal yang ku ikatkan ke leherku hingga menutupi separuh wajahku.


"Tunggu... kakak mau apa? kenapa kau bertingkah seperti mata-mata begitu?" Huan merasa tak habis pikir dengan diriku.


"Memang iya. Kita harus melihat situasinya dulu, baru kita mengacau." Aku menjelaskan pada Huan.


"Ah... aku mengerti." Huan kemudian memakai maskernya yang menggantung di lehernya.


Kami pun kemudian mengendap-endap mencari-cari di mana Ling berada. Dan secara bersamaan aku dan Huan menemukan Ling yang tengah duduk tegang di depan seorang pria yang sangat tampan.


Ya... dia tampan sekali. Sepertinya dia juga berpostur tubuh sangat baik.


"Apa kau yakin??? Pria itu tampan sekali." Aku berbisik pada Huan.


"Apa-apaan kakak ini. Aku ini adikmu. Kenapa kau tega sekali menjatuhkan kepercayaan diriku ke dalam palung mariana?" Huan kesal.


Aku merasa jengah mendengar rengekannya.


"Jangan berlebihan. Kau memang tidak ada apa-apanya dengan dia. Sepertinya dia juga seorang pengusaha muda. Atau paling tidak... dia telah bekerja dengan gaji yang tinggi. Dan kau??? Kau masih anak kecil." Aku meremehkan Huan.


"Terus..... terus saja kau menjatuhkanku..." Huan semakin kesal. "Kakak lihat saja. Tujuh tahun lagi akau akan jadi seperti kakak ipar. Kak Ling tak akan pernah menyesal karena telah menungguku." Ucap Huan yakin.


"Haiii......" Aku menarik napas panjang. "Justru aku mengkhawatirkan dirimu dari pada Ling. Aku telah mengenal Ling dengan baik, dia akan sangat setia pada orang yang disayanginya. Jika dia menunggumu, aku khawatir kau yang akan meninggalkannya." Ucapku panjang lebar pada Huan khawatir.


Huan terkejut mendengar pernyataanku yang meragukannya. Sigh. Dia ternganga tak percaya.


"Wuaaahhh.... kakak benar-benar...."


"Maka dari itu kau harus berjanji padaku." Aku memutus perkataan Huan.


"Kalau begitu... Kau di sini saja, serahkan semuanya padaku." Ucapku meyakinkannya.


Huan tak menjawab dan hanya mengangguk. Aku pun melepaskan kacamata dan menarik napas beberapa kali sebelum berjalan menuju meja di mana Ling dan pria kencan butanya berada.


"Ya Tuhan.... Ling? Kau di sini???" Ucapku tiba-tiba setelah berada di dekat mereka.


Ling dan pria itu terlihat terkejut melihatku.


"Mei??" Ling tak percaya melihatku.


"Kebetulan sekali...." Aku tertawa nyaring.


Terlihat dengan jelas sekali kalau Ling dan pria kencan butanya merasa kesal karena kehadiranku.


"Ibu hamil?? kenapa kau ke sini? bukankah kau seharusnya beristirahat di rumah?" Ring berkata sambil menggeretakkan giginya, alisnya terangkat ke atas memberikan kode bahwa aku tak boleh mengganggunya.


"Ah.... benar... Aku sedang menginginkan mi Hitam, makanya aku datang ke sini." Ucapku pura-pura bodoh dan langsung duduk di kursi yang berada di antara mereka.


Ling terlihat menggigit bibir bawahnya sembari memejamkan mata menahan kesal.


"Tunggu.... apakah di sini ada hidangan mi hitam?" Pria itu bertanya padaku heran.


Benar saja, ini adalah cafe bergaya Italia. Mana ada mi hitam di sini? Bodoh sekali aku.


Aku melirik ke arah Ling yang menatap tajam ke arahku yang rasanya sangat menusuk ke dadaku. Pasti dia sangat marah. Ini mengerikan.


"Ah.... begitulah... biasa orang hamil maunya ini tapi yang dibeli itu." Jawabku sekenanya.


Tujuanku adalah mengacaukan kencan buta mereka. Jadi aku harus membuat si pria merasa kesal dan pergi.


"Mei...."


"Apa aku boleh duduk di sini? Kau tau kan Ling aku tak mau kesepian?" Aku memasang wajah memelasku merayu Ling.


Aku melirik gelas air putih di dekat pria itu masih penuh. Aku pun langsung melancarkan aksiku.


"Ya Tuhan.... aku baru menyadari kalau kau tampan sekali. Boleh aku minta foto? Orang bilang kalau hamil harus sering melihat foto orang tampan atau cantik. Aku minta foto ya?" Ucapku manja nan merajuk.


Pokoknya aku mau membuatnya sangat jengkel.


"Umm... bo... leh..." Ucapnya ragu-ragu dan tersenyum hambar.


Sepertinya dia sudah mulai risih. Ling pun menyadarinya.


"Mei..." Ling mencoba menghentikanku yang sudah mulai beraksi mengambil foto pria itu dengan ponselku.


Aku mengambil semua sisi, bahkan beberapa wefie juga.


"Mei..." Ling lagi-lagi mencoba mengentikanku.


"Sebentar lagi Ling, dia tampan sekali." Aku menampik tangan Ling dan ini adalah kesempatanku membuat air putih itu tumpah mengenai pria itu.


Prang.... glontang....


"Ya Tuhan....!" Aku pura-pura memekik menyesal.


Sepertinya aku patut mendapatkan piala Oscar karena aktingku yang menawan.


"Maaf.... maaf.... Aku tak bermaksud..." Ucapku berpura-pura menyesal dengan memegangi pahanya yang basah.


'Maafkan aku Jin... kali ini saja aku berbuat begini.' Rintihku dalam hati.


Pria itu semakin risih.


"Yu Wenli... maafkan Mei... dia tidak sengaja." Ling membelaku.


"Tidak... tak apa.... eum... sebaiknya aku undur diri dulu." Pria itu langsung beranjak berdiri dan berpamitan.


"Tunggu.... Apakah kita bisa bertemu lagi lain waktu?" Ling bertanya pada pria itu.


Ling sangat menantikan kencan ini. Aku benar-benar merasa kasihan pada Ling sebenarnya. Tapi... apa boleh buat. Aku harus melakukannya. Demi adik dan juga sahabtku.


"Maaf... sepertinya tak ada lagi lain kali." Ucap Pria itu lagi. "Permisi." Pamitnya.


Ling terdiam menatap kepergian pria itu. Tentu saja, dia pasti merasa sangat sakit dan sedih karena kencan butanya gagal. Padahal pria itu benar-benar sangat tampan.


***