
"Hallooo.... Kak Tian." Aku memanggil nama seseorang yang terhubung di seberang sana sembari menangis.
"Mei???? Ada apa??? Kenapa kau menangis???" Wang Tian terdengar khawatir dan terkejut di seberang sambungan.
Tidak. Kenapa aku menghubunginya? ini salah... Meskipun marah dengan Jinyi, seharusnya aku tak boleh menghubungi manager Wang.
Tapi... aku sudah mengatakan kalau aku hanya menganggapnya sebagai kakak seperti dulu. Jadi ini tak masalah bukan?
Tetap saja aku menyesal mengapa Wang Tian yang aku hubungi. Aku harus bagaimana??
"Halooooo Mei???? Kau tak apa-apa kan? Jawab aku. Mei????" Manager Wang benar-benar panik sekali.
"Eum... aku.... tak apa-apa... Aku hanya memgiris bawang." ucapku mencari-cari alasan dengan suara parau.
"Tidak... kau sedang dalam masalah. Katakan kau ada di mana sekarang?" Sepertinya aku benar-benar telah salah langkah.
"Tidak aku baik-baik saja.... manager... eum... kak Tian aku hanya ingin tahu kabarmu karena sudah 1 bulan kita tidak bertemu." Aku masih mencari-cari alasan.
"Apakah benar begitu?" sepertinya dia tidak yakin dengan apa yang aku katakan.
"Iya... ini aku sambi memasak. Makanya aku menangis. Soalnya aku mengiris bawang." Aku masih berbohong.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi.... apa aku bisa meminta kita untuk bertemu? Kau ada di mana sekarang?" Bingo! Manager Wang mencoba menjebakku. Itu artinya dia masih mengkhawatirkan aku.
"Eum... aku.... di...." Aku bingung bagaimana harus menjawabnya.
Pikiranku tiba-tiba langsung teringat taman bunga yang Jin beli beberapa minggu setelah kita menikah. Sepertinya di sana adalah tempat yang paling aman.
Seperti sebuah pepatah, 'Kalau kau bersembunyi maka bersembunyilah di tempat yang tidak aman, karena sebenarnya itu adalah tempat paling aman.' Jadi aku akan ke sana saja. Karena Jin pasti tidak akan menduga jika aku akan datang ke sana.
"Mei???" Manager Wang memanggilku karena aku lama terdiam. Dari nada suaranya sepertinya dia masih panik dan khawatir.
'Manager Wang? kau masih benar-benar peduli padaku. Maafkan aku telah menyakitimu.' Aku hanya membatin.
"Zhang Xiumei????" sekali lagi dia memanggiku.
"Iya.... Bisa temui aku di suatu tempat? aku akan memberikan kunci lokasinya." ucapku pada akhirnya.
"Baiklah... Aku tutup sambungannya." Ucap manager Wang sebelum menutup sambungan telepon kami.
Ragu. Namun aku akhirnya memberikan kunci peta lokasi di mana tempat tujuanku.
Jin sepertinya menghubungiku lagi. Namun tetap aku abaikan saja. Karena aku benar-benar kesal dengannya.
"Pak, bisa antar saya ke Ichiyuan Hills?" Aku bertanya pada sopir taksi.
"Baik bu." Jawab sopir itu dengan mengangguk pelan.
Setelah sampai, Aku hanya duduk termenung disebuah bangku tua yang berada di ujung jalan setapak yang membelah taman bunga.
Aku mengingat kembali ketika aku merasa kesal pada Jinyi karena dia bertegur sapa dan berpelukan dengan perempuan yang namanya sudah aku lupa.
Aku ingat sekali. Bagaimana Jinyi memperkenalkanku sebagai istrinya. Aku merasa senang mengingat hal itu. Tapi kini aku juga merasa marah mengingat bagaimana mereka membuatku menikah dengan Jinyi.
Kenapa mereka harus berbohong? mereka tidak tau atau tak mau peduli jika kebohongan kecil yang mereka lakukan akan melukai hatiku dan akan berefek sangat besar untuk kehidupanku.
Aku benar-benar mencintai Jinyi, tapi aku juga benar-benar marah dengannya. Aku yakin dia pasti tau tentang rencana pernikahan sebelumnya.
Tapi.... Aku benar-benar bingung dan tak mengerti. Kenapa?
Jinyi.... Aku ingat bagaimana saat SMA dia memperlakukanku di sekolah. Tapi kenapa dia mau saja menerima perjodohan antara kami? Karena hutang? Ya... tentu saja itu sebabnya. Dia sudah mengatakan sendiri di depanku sebelum aku pergi. Meskipun... dalam hati kecilku meragukan jika aku dinikahkan karena hutang.
Jadi aku hanya sebuah pelunasan hutang? Jadi.... apakah selama ini Jinyi juga tak mencintaiku? Ya Tuhan... kenapa pikiranku bahkan sampai sejauh ini?
"MEI???" sebuah suara mengejutkanku.
Tentu saja itu bukan Jinyi. Itu adalah suara manager Wang.
Aku pun menoleh ke arah suara dan berlari memeluknya. Dan menangis sesenggukan dalam pelukannya.
Tapi sayangnya itu hanya lamunanku saja. Jadi aku hanya menatapnya dan tersenyum kecut mengekspresikan isi hatiku.
"Kau baik-baik saja?" Manager Wang langsung duduk di sampingku. Matanya melirik ke arah tas besar yang aku letakkan di bawah kursi. "Tidak... kau sedang tak baik-baik saja." Dia terlihat sedih dan menatapku lekat.
Aku masih terdiam tak menjawab pertanyaannya. Pikiranku masih berkelana entah ke mana. Aku merasa aku ingin sendiri tapi aku juga membutuhkan teman. Tapi di lain sisi aku merasa jika aku menghubungi manager Wang sebagai teman itu juga salah.
"Mei???" Dia memanggilku yang masih terdiam.
Ya... aku hanya teridiam dan menatap ke arah perutku serta mengusap-usapnya yang mulai membuncit dengan pelan.
Aku benar-benar merasa bersalah pada janinku. 'Maafkan mama nak.' Ucapku dalam hati sembari mengusapnya.
"Ya.. aku... sedang ada masalah dengan Jin." Tangisku kemudian pecah. Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan kesedihanku ini.
"Ushh..... tenanglah....!" Wang Tian tanpa ragu mencoba menenangkanku dengan mendekatiku dan memelukku ringan serta menepuk-nepuk pundakku pelan.
"Tenanglah Mei, ingat.... kau tak boleh terlalu setres. Kau tengah mengandung sekarang. Kasihan janinmu." Wang Tian masih memelukku ringan dan menepuk-nepuk pundakku.
Aku tak membalas ataupun menolak pelukannya dan aku hanya menunduk menangis dan menangis.
Lama.... ku keluarkan semua air mataku hingga aku merasa lelah. Sampai akhirnya aku mulai merasa tenang dan tenang secara perlahan.
Setelah aku merasa tenang, Dia melepaskan pelukan ringannya kemudian berdiri melihat sekeliling.
"Taman ini.... mengingatkanku akan masa lalu..." ucapnya sembari mengambil setangkai bunga cosmos yang kecil. "Apakah ini milik Jinyi?" Dia bertanya kemudian.
Aku hanya mengangguk memberikan jawaban.
"Sayang sekali taman di bukit kecil di belakang sekolah sudah digusur dan dijadikan pemukiman." Wang Tian merasa sedih.
"Kau tahu? Kau sungguh beruntung menikahinya. Karena.... sepertinya dia sangat mencintaimu." Wang Tian mendekatiku lagi.
"Kakak.... Aku tak yakin dengan apa yang kakak katakan." Aku mulai meragukan perasaan Jinyi.
"Tak yakin?" Mata manager Wang memicing keheranan dengan jawabanku.
"Aku... entahlah...." Aku tak bisa menjelaskan lebih detil.
"Mei.... Aku sudah merelakanmu bersamanya. Karena.... kalian begitu saling mencintai. Aku bisa melihat dari mata kalian. Awalnya... aku berharap bisa mengalihkan perasaan itu kembali padaku, nyatanya... perasaanmu lebih kuat padanya." Dia menunduk, ada sinar kesedihan di matanya.
Aku mengakui, aku benar-benar cinta mati dengan Jin.
"Jika Jinyi melakukan kesalahan yang disengaja, pasti itu semua ada alasannya kenapa dia melakukannya." Dia mengimbuhkan.
'Iya... dan itu alasannya menyakitkan hatiku.' Aku berucap dalam hati.
"Sebaiknya.... aku antar kau pulang, eum? Kasihan Jinyi pasti tengah mencarimu. Kalau ada masalah, kau tak harus pergi dari rumah. Jika kalian saling mencintai, semua bisa diselesaikan dengan baik-baik kan?." Ucapnya kemudian.
Antara percaya dan tidak. Manager Wang... benar-benar telah melapangkan hatinya untukku, bahkan dia telah memberikan saran bagaimana seharusnya aku dan Jin berlaku.
Melihatnya seperti itu membuatku menangis lagi.
"Kenapa?" Dia kebingungan karena reaksiku.
"Manager...."
"Aku lebih suka kau memanggilku dengan sebutan saat kau menelpon. Karena aku merasa lebih dekat denganmu." Ucapnya dengan tersenyum.
"Baiklah...." Aku ikut tersenyum.
"Sebenarnya.... Aku pernah mengancam Jin tentang dirimu." kata-kata ini mengejutkanku.
"Mengancam?" Aku ingin meyakinkan pendengaranku.
"Ya... aku berkata padanya, Kalau sampai dia berbuat salah padamu sehingga membuatmu menangis, Aku tak akan pernah melepaskanmu dan akan merebutmu darinya. Tapi sepertinya.... jika aku merebutmu pun... Kau malah akan semakin menderita, karena orang yang kau cintai adalah Jin bukan aku." Manager Wang mengucapkannya dengan tersenyum namun ada raut ketegangan.
"Maafkan aku." ucapku lagi.
"Hei... santai saja. Seharusnya kau senang karena aku sudah menyerah." Dia berucap seolah-olah dia begitu tegar.
Nayatanya, aku bisa melihat dari wajahnya bahwa dia sangat merasa tersakiti.
"Ayo aku antar kau pulang..." Tawarnya sekali lagi.
"Tidak, aku tak mau pulang. Apa kak Tian bisa mencarikan aku flat kecil saja? Sepertinya aku butuh waktu untuk sendiri lebih dulu untuk beberapa saat." Aku menatapnya tulus.
Dia menghela napas panjang. Sigh.
"Baiklah... tetapi... Jika Jin mencarimu, aku akan katakan padanya di mana kau berada." Dia memberikan pilihan.
"Please! Jika aku sudah merasa baikan aku akan menghubunginya sendiri." Ucapku padanya dengan memelas.
Dia hanya menatapku sendu dan tak tau lagi harus bagaimana membujukku.
Bagaimana pun... aku ingin sendiri beberapa saat. Karena hatiku benar-benar merasa sakit.
Aku masih egois akan diriku sendiri.
***