
“Manager Wang?” aku tersentak kaget sekali saat mendapati manager Wang telah berada tak jauh dariku.
Dan kini dia malah berjalan mendekat ke arahku. Aku semakin kebingungan dan gugup.
“Sepertinya kau baru saja diantarkan oleh seseorang?” tanyanya lagi menyelidik kepadaku.
Aku benar-benar bingung harus bagaimana menjawabnya? Apa sebaiknya aku berbohong saja? Tidak. Sekali kau berbohong kau akan mengulanginya lagi dan lagi. Berbohong itu ibarat candu yang sulit sekali menghilangkannya ketika kau telah merasakannya. Maka dari itu aku sangat tak suka dibohongi. Jadi aku harus bagaimana menghadapinya???
“Ah.... itu...” aku bingung harus menjawab apa. “Ah manager... selama tiga hari aku cuti, apakah banyak pekerjaan menantiku?” aku mengalihkan topik pembicaraan dari siapa yang mengantarku ke kantor beralih ke pekerjaanku di kantor.
Jadi aku tak berbohong. Aku hanya menghindari pertanyaannya. Cerdik sekali.
“Ahhh untuk pekerjaanmu... sepertinya tak ada masalah karena selama kau mengambil cutu, Ling membantu pekerjaanmu dengan baik.” Dia tersenyum manis nan meneduhkan.
'Sadar Mei... kau sudah menjadi istri orang lain.' Aku berusaha mengontrol diriku sendiri agar aku tak tertarik kepadanya lebih jauh lagi.
“Ahh... sykurlah...” aku tersenyum lega nan canggung. "Dia memang rekan kerja terbaik." Aku menyanjung Ling dan tertawa canggung kembali.
Kami pun berjalan beriringan menuju lift. Canggung. Aku merasa sangat canggung. Sesekali kami saling beradu lirikan. Kenapa semua terasa aneh begini? tidak seperti biasanya. Aku bahkan merasa sangat nyaman saat manager Wang begitu cuek padaku. Dengan begitu aku tak merasa gugup. Tapi kalau dia care seperti ini, aku benar-benar semakin tak nyaman.
“Bagaimana liburan singkatnya?” tanyanya memecah keheningan setelah memasuki lift yang hanya ada kami berdua di dalam sana.
Nah... aku terkejut kembali mendapatkan pertanyaan yang tak pernah ku pikirkan dan aku antisipasi sebelumnya.
Sepertinya... Aku memang harus berbohong untuk saat ini. 'Maafkan aku Tuhan.' Aku merasa bersalah.
“Ah... baik... suasana desa sangat asri dan nyaman. Hingga membuatku jadi enggan kembali lagi ke kota.” Ucapku berapi-api meyakinkan tentang liburanku ke sebuah desa.
Padahal nyatanya aku malah menikah dan menginap di sebuah hotel bersamanya.
'Maafkan aku Jin.' Aku mendesah dalam hati menyadari betapa besarnya kesalahanku kali ini padanya. Tapi... toh semua orang juga tak tau kalau aku adalah istri dari Feng Jinyi. Setau mereka Jin telah menikah itu saja. Mengenai siapa istrinya, Jin dan keluarga benar-benar tertutup rapat karena khawatir jika kehidupanku akan terganggu.
Aku bisa menerimanya. Tentu saja...
“Benarkah? Kalau begitu lain kali sepertinya kau harus mengajakku untuk pergi ke sana.” Dia tersenyum ke arahku meyakinkan.
Deg!!
Hatiku terkejut sesaat mendengar
permintaannya. Bagaimana bisa???
Manager Wang. Kenapa kau membuat segalanya jadi serumit ini??? Atau aku lah yang membuat segalanya menjadi rumit?? Ya Tuhan... ampunilah dosaku. Sekali lagi aku semakin merasa berdosa kepada Tuhan.
“Eumm... kalau manager pergi ke desa bersamaku, bagaimana nanti dengan perasaan orang yang manager sukai? pastinya semua akan terasa tak nyaman kan??” Aku mencoba bertanya namun dibalik pertanyaanku, aku berharap dia akan mengurungkan niatnya untuk ikut ke desa. Karena semua itu adalah fiktif saja.
“Dia? Sepertinya dia juga masih belum merespon perasaanku. Jadi... mungkin ke desa bersamamu adalah ide yang bagus untuk pendekatan dengannya.” Ucapnya berbinar-binar membayangkan keberhasilan usahanya.
“Ahh... demikian? Jadi... dia akan ikut pergi?” tanyaku antara sedih dan senang yang bercampur aduk menjadi satu.
“Tentu saja... kalau kau pergi dia juga akan ikut pergi.” jawabnya yakin yang membuatku mengangguk mengerti.
Tapi rasanya tak mungkin bisa mempersatukan manager dengan wanita yang dia suka karena pergi ke desa itu adalah karanganku saja. Aku sendiri tak tau bagaimana keadaan desa itu bagaimana? karena sejak kecil aku telah tinggal di Beijing.
Keluarga ayahku ada di Beijing, sedangkan keluarga ibuku ada di Nanjing. Jadi aku tak tau desa sama sekali selain melalui media.
Pintu lift pun akhirnya terbuka setelah sampai di lantai di mana team kami bekerja. Dan yang paling mengejutkan adalah Ling yang sudah berada di depan pintu lift tersenyum ceria. Sudah ku duga dan aku juga sangat yakin jika dia pasti telah menungguku.
“Selamat pagi manager?” Ling menyapa manager Wang dengan senyum cerianya.
“Pagi..." Manager Wang balik menyapa. "Ngomong-ngomong Lingfei, kau menunggu siapa?” tanyanya kemudian merasa heran karena Ling sudah standby di depan pintu lift dengan senyum cerianya.
“Tentu saja Mei manager. Dia kan baru saja mengambil cuti untuk berlibur ke desa. Jadi aku menunggunya di sini untuk meminta oleh-oleh darinya.” Jawab Ling sekenanya. "Ayo Mei!" Ling menarik lenganku kemudian langsung menyerobotku pergi dari hadapan manager Wang hingga aku terhuyung hendak terjatuh.
Ini sebuah kebetulan atau memang kontak batin dan pikiran antara aku Dan Ling memanglah kuat? kapan aku memberitahu tentang liburan ke desa? Kenapa dia tepat sekali memberi alasan.
“Ya? Apa kau gila? Kalau kau ketahuan telah berbohong bagaimana? Kau kan bilang sendiri akan melupakan manager Wang? Tapi kenapa kau masih saja berada sangat dekat dengannya? Bahkan sangat dekat? Kalau nanti suamimu tau bagaimana?” Ling ketakutan membayangkan rumah tangga kami yang tiba-tiba berakhir.
Dan lagi... dia tau aku yang sedikit melakukan kebohongan. Ling nyerocos tak karuan menceramahiku agar aku tak salah dalam mengambil langkah. Namun, Ling melakukannya dengan suara yang sangat rendah sehingga tidak akan ada orang yang bisa mendengarnya. Bahkan aku saja tidak begitu mendengarnya.
“Sudah? Apa kau ini seorang cenayang?” tanyaku padanya setelah lelah mendengar ocehannya.
Tapi Ling hanya mendengus kesal tak menjawabku.
"Aku sudah menebak apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan manager Wang." Ucapnya sembari memasang wajah skeptisnya.
“Aku tak mendekatinya Ling... aku bahkan menghindar darinya. Tapi.... anehnya beberapa hari ini dia seolah tengah menungguku di lobi. Karena setiap pagi saat aku datang, dia selalu berada di lobi. Terus bagaimana? Aku harus berbuat apa?” aku balik bertanya pada Ling bingung.
“Jadi? Manager Wang selalu menunggumu di lobi?” Ling sedikit terkejut dan ternganga tak percaya.
“Aku tak bilang begitu. Hanya saja... dia sepertinya malah sering memperhatikanku sekarang. Aku harus bagaimana Ling?" Aku mulai merajuk pada Ling.
"Tapi dia bilang padaku bahwa dia sedang menyukai seseorang. Jadi aku rasa dia hanya butuh teman untuk mencurahkan isi hatinya saja.” Aku begitu kebingungan namun detik berikutnya langsung kembali bersemangat menceritakan manager Wang yang mulai suka pada seseorang.
“Ya Tuhan Mei.... kenapa kau tak peka sama sekali sih?” Ling geregetan padaku. "Sudahlah... tensiku jadi tinggi gara-gara kau." Ucapnya sembari meninggalkanku yang masih mencoba memahami penuturan Ling. Dan juga masih tak mengerti apa yang Ling maksudkan dengan kata "tidak peka?"
Hari pertama masuk bekerja setelah aku menikmati masa cutiku yang "TAK TERLUPAKAN" adalah... benar-benar tak bersemangat sama sekali.
Aku terus saja memikirkan perkataan Ling yang mengatakan bahwa aku sama sekali tak peka. Peka. Peka. Peka. Kata itu terus terngiang di telinhaku.
Aku sendiri juga bingung kenapa aku tak bisa jujur pada manager Wang kalau aku sudah menikah.
Tapi apa masalahnya? Toh manager Wang cuma menginginkanku sebagai tempat curahan isi hatinya karena dia sedang jatuh cinta. Sebenarnya, bukan karena aku tak jujur. Karena aku pikir memang belum saatnya saja memberitahu semua orang. Secara Jin juga memilih tak memberitahukan siapa istrinya.
Jadi itu tak masalah kan?
“Tak apa... kita sekarang berteman.” Ucapku pada diri sendiri meyakinkan.
***