
Sudah dua hari di sini sepertinya nafsu makanku mulai membaik, mualku juga sudah mulai berkurang, kepala pening juga tidak sesering kemarin-kemarin. Hanya saja muntah masih terjadi. Tapi dokter Zhao mengatakan itu tak apa-apa.
Efek kehamilan setiap orang itu berbeda, yang bisa dokter Zhao lakukan adalah memberikan vitamin dan suplemen serta obat untuk mengurangi intensitas mual muntah yang berlebihan. Serta pemberian nutrisi melalui cairan infus adalah cara terbaik karena aku sama sekali tak mendapatkan makanan yang cukup.
Aku akan berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan paling tidak selama satu minggu untuk pemulihan. Jadi... ibu, Huan dan Jin akan bergantian menemaniku. Sebenarnya aku tak apa jika ditinggalkan sendiri. Tapi Jin dan ibuku takut jika kejadian sebelumnya terulang lagi dan akan mencelakai diriku dan janinku.
Terlalu protektif, tapi aku syukuri saja.... tandanya mereka menyayangiku kan? Tapi tetap saja merasa tak nyaman. Tak nyaman karena membuat mereka khawatir berlebihan.
“Halo keponakanku...!” Sapa Huan langsung menyentuh perutku perlahan saat datang menggantikan ibuku sampai Jin pulang dari kantor nanti.
“Aku baik-baik saja Jiu Jiu.” Ucapku menirukan suara bayi menjawab salam Huan.
Karena merasa lucu akhirnya kami tertawa bersamaan.
“Ahh.... tak menyangka kakak akhirnya akan punya anak juga. Akhirnya aku ada yang memanggil jiu jiu juga. Bukankah ini sangat menakjubkan?” Huan masih tak percaya dengan mengusap perutku perlahan-lahan.
“Jangankan dirimu yang tak mengalaminya. Aku saja yang mengalaminya juga tak percaya. Padahal sepertinya baru kemarin kita berkenalan dengan keluarga Feng. Iya kan?” Aku menyetujui pemikiran Huan dan balik bertanya.
“Nah.... itu! dan sepertinya kakak cepat sekali terpikat dengan kakak ipar. Apa karena kakak ipar yang sangat tampan atau karena kakak ipar yang pantang menyerah membuatmu menyukainya?” Huan tertawa lebar.
“Aishh.... Kau ini. Mau aku pukul kau menggodaku seperti itu?” Ancamku pada Huan sembari mengangkat tangan seolah ingin memukulnya.
“Jangan bigitu kak, tak boleh kakakku sayang... kasian Little Feng, pasti dia akan sangat sedih karena ibunya terlalu galak.” Ucap Huan masih menggodaku.
“Little Feng lebih mengerti aku dari pada kamu.” Aku mengusap perutku senang. "Tapi sebenarnya Jin bahkan tak pernah menggodaku sekalipun. Kenapa aku bisa tergoda padanya?" Aku bertanya pada Huan tapi lebih seperti bertanya pada diriku sendiri.
Tapi... ada kalanya aku merasa tergoda, saat bersamanya, saat diciumnya dan saat-saat yang lainnya. Hingga aku merasa begitu nyaman bersamanya. Tatapan matanya yang seolah selalu menyihirku ketika menatapku. Mungkin itu yang membuatku mulai menyukainya. Tapi untuk lebih spesifiknya aku sulit menjelaskan. Tapi aku mampu merasakan perbedaannya.
Aku menjawab pertanyaanku sendiri dalam benakku tanpa aku lahirkan ke Huan.
“Kalau saja kakak tau, kemarin saat kakak pendarahan dan pingsan, Kakak ipar... dia tak henti-hentinya menangis. Apalagi... setelah dia menerima kotak dari pak Huang, dia malah menangis semakin menjadi. Seolah kakak mati saja. Melihatnya benar-benar sangat menyedihkan sekali. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri yang tak menyadari tentang kehamilanmu.” Huan bercerita sembari mengupaskan buah apel untuk diberian padaku.
“Benarkah?” aku bertanya tak percaya.
Apa memang benar Jinyi sampai sesedih itu? Berarti... kemarin bukan hanya aku yang merasa sangat sedih dan ketakutan. Berarti... Jin benar-benar mencintaiku. Jin benar-benar tulus mencintaiku. Perlahan senyumku mengembang, menyadari betapa Jin menganggapku sangat berarti baginya.
Aku benar-benar merasa sangat senang membayangkannya.
“Eum... sepertinya dia benar-benar menyayangimu.” Huan meyakinkanku sembari memberikan apel yang telah di kupasnya.
"Beruntung kakak mendapatkan lelaki sebaik dia. Kalau aku yang jadi kakak, saat diperkenalkan pertama kali dengannya, aku akan langsung menikahinya saat itu juga. Tak seperti kakak yang pake tarik ulur macam benang layang-layang. Baru bilang iya, besoknya bilang gak mau, terus besoknya bilang mau. Haduuuuh.... Mamamu ini.... Sok jual mahal." Huan mengusap-usap perutku lagi seolah-olah bicara dengan Little Feng.
"Ya! Zhang Xiuhuan. Di awal seolah kau bangga padaku, tapi kenapa semakin ke belakang semakin menjatuhkanku?" Ku jewer telinga kanannya.
"Aaa....duduh.... Kakak.... ingat lagi hamil." Dalam kesakitannya Huan mengingatkanku akan kehamilanku sehingga aku sontak melepaskan jeweranku padanya.
"Maafkan mama sayang.... Xiao Jiu emang bandel. Entah kamu cewek atau cowok... jangan bandel macam Xiao Jiu. Mengerti?" Ucapku pelan lemah lembut ke arah perutku.
Aku yang melihat Huan seperti itu hanya bisa tertawa. Perlahan aku mulai memakan apel itu. Apa ini karena Huan yang mengupaskan atau karena apelnya yang memang enak. Aku benar-benar menyukainya.
“Enak?” tanya Huan berbinar-binar. “Aku membelinya saat perjalanan ke mari.” Ucap Huan senang.
“Kau memang calon Jiu jiu yang baik.” Ucapku menyanjungnya.
“Eyyy.... Tadi kau bilang aku bandel sekarang kau bilang aku baik, dari dulu aku selalu baik padamu. Kau saja yang selalu galak padaku.” Huan mencibir hingga membuatku semakin tertawa.
“Kak... Kalau seandainya.... Kak Jin berbohong padamu tentang suatu hal, apa kau akan marah padanya?” Huan tiba-tiba menanyakan pengandaian yang sontak membuatku menghentikan makan apel yang dia berikan.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku menyelidik.
“Heyy.... aku Cuma bertanya, seandainya.... Lagi pula kau sangat menyayanginya kan sekarang?” Huan seolah menyembunyikan sesuatu namun kemudian dia berusaha menghiburku.
“Kau tau aku paling tak suka di bohongi?” Aku balik bertanya pada Huan serius.
Sejurus kemudian aku melihat Huan begitu kebingungan.
“Tidak akan ada yang membohongimu, apa lagi kakak ipar.” Dia kemudian tersenyum meyakinkan. “Tapi kak... kau akan memaafkannya kan jika itu terjadi?” Dia kemudian bertanya lagi khawatir.
“Kau ini kenapa Huan?” Aku kembali menyelidik padanya.
“Aku kan hanya bertanya... jangan di ambil serius. Ahhh... aku lupa kalau ibu hamil itu akan benar-benar merasa sensitif. Bahkan bercanda pun akan dianggap serius.” Huan celingukan merajuk.
Ah... benar juga kata Huan....mungkin karena hamil itu moody jadinya aku mudah terpancing. Baiklah... aku akan mengabaikan saja gurauan Huan yang seolah serius itu.
“Tapi kau seperti serius.” Aku menggumam hampir tak terdengar oleh Huan.
Tok... tok....
Ketukan di pintu ruanganku mengejutkan kami berdua. Kami pun menoleh ke arah pintu bersamaan.
“Masuklah!” Huan memberikan izin.
Pintu perlahan terbuka....
“Mei....” Ling berteriak ingin menangis melihat kondisiku.
Melihatnya datang aku merasa sangat senang, Tapi... kesenangan itu tiba-tiba berubah menjadi ketidak nyamanan setelah melihat seseorang di belakang Ling yang tersenyum padaku.
“Bagaimana keadaanmu Zhang Xiumei?” Dia membawa sebuket besar bunga lili dan sekeranjang besar buah-buahan menyapaku dengan senyuman khasnya.
“Ma...manager Wang?"
***