WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 19 PERNIKAHAN



Akhirnya pagi menjelang. Semalaman aku tak dapat tidur dengan nyenyak. Pikiranku terus melanglang buana entah ke mana.


Aku beranjak duduk setelah mataku terbuka.


Apakah ini hanya sebuah mimpi?? aku akan menikah hari ini?? Aku tak mempercayainya. Semua terasa tak nyata.


Meskipun begitu aku tetap beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap. Karena pagi ini, aku dan Jin harus pergi ke kantor pencatatan sipil.


Dan untuk resepsi. Sore harinya keluarga Jin dan Keluarga ku sudah menyewa sebuah Ballrom di sebuah hotel. Namun kami hanya mengundang sekitar 50 orang terdekat saja dan pernikahan kami dibuat se-private mungkin sehingga tak akan ada awak media yang meliput.


Bukan karena tak mau mempublikasikan pernikahan keluarga Feng, tapi karena Jin tak mau istrinya menjadi konsumsi publik. Cukup mengesankan.


Aku begitu tegar pagi ini tidak seperti kemarin yang menangis dan menangis. Bahkan dengan hati yang lapang aku memilih baju dan bersiap sendirian dinkamar.


Memakai atasan putih berwarna putih berlengan di bawah siku yang ku padankan dengan rok maxi navy selutut. Ku ikat sedikit rambutku ke atas dan menyisakan poni bang.


Aku menatap bayanganku di cermin.


"Zhang Xiumei... Semangat!!" Aku menyemangati diriku sendiri.


Setelahnya aku keluar kamar untuk menuju dapur. Aku menatap meja makan yang sudah penuh oleh beberapa makanan kesukaanku. Aku menatap ke arah ibuku yang yang tengah sibuk mencuci sesuatu di wastafel.


Tiba-tiba aku ingin sekali memeluk ibuku. Akhirnya aku pun berjalan ke arahnya yang tengah sibuk di depan wastafel kemudian memeluknya dari belakang erat.


Ibuku sedikit tersentak karena terkejut aku tiba-tiba sudah memeluknya.


"Ada apa sayang?" Tanya ibuku parau.


Apakah ibuku menangis? Dengan cepat-cepat dia membersihkan matanya dengan celemek memasaknya yang belum dilepaskan.


Ibuku menangisiku ??


"Aku ingin memeluk ibu. Biarkan aku seperti ini." Ucapku terguguk pada akhirnya.


Terdiam. Kami hanya terdiam dan hanya terdengar isakan-isakan kecil yang keluar dari mulut kami.


"Kakak... Kakak ipar sudah datang." Huan memberitahu padaku yang tengah memeluk ibu di dapur.


Dengan cepat aku dan ibu membersihkan pipi masing-masing kemudian menoleh ke arah Huan yang masih terpaku menatapku.


"Jangan menangis lagi, mengerti? Ibu gak rela jika putri kesayangan ibu harus menangis. Percayalah sayang... ini yang terbaik untukmu." Ucap ibuku kemudian mencium keningku sayang.


Aku tak menjawabnya dan hanya mengangguk mengiyakan. Ku coba mengambil napas dalam beberapa kali berusaha menahan gejolak hatiku yang ingin terus menangis.


Huan kemudian berjalan mendekatiku dan ibu. Terkejut. Karena tiba-tiba dia memelukku erat.


"Kakak jaga diri baik-baik. Aku menyayangimu. Kalau kakak ipar jahat padamu panggil saja aku." Ucapnya sungguh-sungguh.


Aku kemudian mendongak ke arahnya karena dia lebih tinggi dariku.


"Anak baik. Teruslah jadi anak baik." Ucapku padanya kemudian ku rengkuh wajahnya dan mengecup keningnya lama.


Ini.... seolah aku akan pergi ke belahan bumi lain dan tak akan pernah bertemu dengan Huan lagi.


Aku dan Huan kemudian berjalan ke ruang makan dan duduk dengan tenang di sana. Sedangkan ibuku menemui Jin yang tengah bercengkerama dengan ayah di ruang tamu.


“Makan dulu nak...!” ibuku mengajak Jin untuk ikut sarapan bersama. Dan sarapan lajang terakhirku. Karena makan siang nanti... aku sudah menjadi istri orang.


Aku masih terdiam tak bersuara sepatah kata pun di samping Huan yang sudah dari tadi duduk di sana. Jin yang semula bercengkerama dengan ayahku masuk ke ruang makan beriringan bersama dengan ayah.


Tenang. Kami tak segera mengangkat sumpit maupun sendok. Kami seolah tengah fokus pada pikiran masing-masing.


“Ini... adalah pagi terakhir sebelum kau menjadi istri orang. Ibu dan ayah merasa sangat lega bisa merawatmu hingga kau menjadi wanita yang tangguh dan kuat seperti ini. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu... padahal baru kemarin kau masih dalam perutku. Kini kau sudah akan menikah. Kau harus menjadi istri yang baik, mengerti.” Ibuku mulai menangis sembari memberikan pesan padaku.


“Ibu...” aku pun mulai ikut menangis dan memeluk ibuku erat. Jin hanya terdiam menatap kami.


“Aku hanya bisa berpesan.” Ayahku mencoba menggapai tangan Jin untuk digenggamnya. “Dia adalah anak perempuan kami satu-satunya. Anak perempuan kami yang paling kami sayangi. Jangan pernah kau sakiti dia. Jagalah dia, sayangilah dia seperti kami menyayanginya. Cintai dia seperti kami mencintainya. Bahagiakan dia... karena kebahagiaannya adalah kebahagiaan kami juga... Jangan biarkan dia menangis... karena air matanya adalah air mata kami juga. Sekarang.... Sudah saatnya aku pasrahkan dia kepadamu sepenuhnya. Ayah percayakan semuanya padamu.” Ayahku terisak pelan sembari semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Jin dan menepuk-nepuknya beberapa kali.


Aku yang mendengar pesan ayah kepada Jin malah menangis semakin menjadi. Apakah, setiap pernikahan selalu seperti ini? penuh dengan kata-kata yang menyedihkan dan menyayat hati.


“Ayah... aku berjanji akan melakukan semua yang ayah minta. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik agar Mei bahagia.” Jawab Jin tegas namun begitu sendu. Ayah dan Jin pun berpelukan erat.


Apakah dia benar-benar berjanji pada ayahku? atau semua hanyalah sandiwara?


“Kak ipar... meskipun kakakku ini sangat menyebalkan. Tapi dia benar-benar kakak terbaikku. Kalau janjimu kau ingkari, kau akan ku jadikan barbeque. Ingat kata-kataku." Huan mengancam dengan mengacungkan sumpitnya.


Sontak kami yang semula mengharu biru langsung tertawa sambil menahan tangis.


“Aku berjanji padamu.” Jin tersenyum tipis sembari menepuk pundak Huan kemudian memeluknya.


Akhirnya kami pun berpamitan dan berpelukan erat sebelum pergi. Karena, setelah dari pencatatan sipil kami akan langsung pergi ke Hotel untuk bersiap. Jadi ini adalah pertemuan terakhir kami dengan keluarga sebelum aku dan Jin benar-benar menikah.


Seperti mimpi. Buku kecil berwarna merah sudah berada di tangan kami. Kami sudah disahkan dalam hukum. Terpaku. Aku tak menyangka aku benar-benar telah memiliki buku ini. Dan mulai detik ini, aku bukan lagi Zhang Xiumei tapi kini aku menyandang status sebagai nyonya Feng sehingga kini aku adalah Feng Xiumei.


Aku benar-benar tidak mempersiapkan pernikahan ini sama sekali. Semua telah diurus dan dipersiapkan oleh ibu Jin dan ibuku. Bahkan gaun, aku tak melakukan fitting sama sekali.


Kini aku tengah duduk sendirian menghadap sebuah meja rias besar di salah satu sudut ruangan di sebuah hotel. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Semua benar-benar seperti mimpi.


“Permisi... nona apakah anda sudah siap?” seorang perempuan masuk ke dalam ruangan di mana aku berada dan berjalan menghampiriku. Aku tak menjawabnya dan hanya mengangguk. Karena rasanya bibirku sangat kelu.


Perlahan perempuan itu mulai menyapukan brush di wajahku. Hingga alis... bibir... dan mataku... semua tak luput dari sapuan tangannya. Saat aku membuka mata, aku begitu terkejut melihat pantulan di cermin.


Bayangan seorang wanita yang aku tak mengenalnya. ‘Apakah itu aku?’ aku bertanya dalam hati tak percaya.


Rambutku kemudian mulai ditatanya sedemikian rupa. Setelahnya perempuan itu membantuku memakaikan gaun putih nan simple tapi terlihat elegan dengan aksen manik-manik kecil. Terakhir... sebuah tudung dipakaikan dirambutku.


Lagi.... aku merasa tertegun dengan bayangan yang kini berada di depanku. Aku benar-benar tak mengenalinya.


Setelah semuanya selesai, aku duduk sendirian di atas sofa sembari memegang buket bunga white monarch yang cantik yang sangat serasi dengan gaun yang aku kenakan. Aku sangat yakin, jika gaun ini adalah pilihan ibuku, karena ukuran dan semuanya sangat sesuai dengan karakterku.


Aku hampir menangis fapi sebisa mungkin aku menahannya.


Tok... tok... tok...


Seseorang mengetuk pintu ruangan. Tanpa ku jawab pintu itu telah terbuka dan seseorang yang sangat berarri dalam hidupku berjalan memasuki ruangan.


“Ayah....” aku berdiri menyambut ayahku. Namun aku dan ayah malah saling berpelukan dan menangis sesenggukan.


“Putri kecilku telah dewasa... jadilah istri yang baik eoh?” ayahku berpesan. Aku tak mampu menjawabnya dan hanya mengangguk berulang kali. “Jangan menangis... make up mu nanti luntur.” Ayah berusaha bergurau agar kami berhenti menangis.


Aku tertawa dan menangis bercampur jadi satu. Kemudian dia mengusap pipiku lembut dan mencium keningku hangat.


“Kau benar-benar cantik.” Ucapnya berkali-kali. "Kau tau ayah sangat mencintaimu. Jadi maafkan ayah sayang. Percayalah, ayah tak akan membuatmu terluka. Biarlah waktu yang menjawabnya." Ucap ayahku sangat sedih.


Lagi... Aku hanya mengangguk padanya sembari terisak.


“Mei...!” suara Ling mengejutkan kami.


Ayah kemudian mengusap matanya dengan sapu tangan dan mencium keningku lagi kemudian beranjak keluar.


“Mei... kau cantik sekali... aku iri padamu. Sahabatku... kenapa kau menikah lebih dulu...” tiba-tiba Ling memelukku dan menangis.


“Aku tak mengundang siapa pun kecuali dirimu. Jadi nanti... buket ini aku lempar padamu agar kau segera menyusulku.” Aku mengusulkan sembari terisak pelan.


“Memangnya bisa seperti itu?” dia mencoba menahan tangisnya dan kemudian tertawa. Aku pun demikian.


Tak berapa lama Huan masuk dengan membawa kameranya. Kami pun berfoto-foto bersama.


Dan setelah sesi foto di ruang tunggu usai. Kini sunyi kembali. Semua telah pergi dan menunggu di ballroom.


Make up artist yang tadi mendandaniku kini kembali dan merapikan make up ku yang telah luntur oleh air mata dan tak berapa lama seseorang datang ke ruangan kembali.


“Ayo sayang... semua sudah menunggu.” Ayahku datang menjemputku.


Tiba-tiba aliran darahku serasa berhenti. Jantungku serasa mau meledak. Aku merasa sesak. Ya Tuhan... rasanya tak bisa digambarkan. Berjalan pun aku merasa sangat lemas. Perlahan ku gamit lengan kiri ayah dengan kuat.


Rasanya tidak seperti tadi saat menandatangani dokumen di pencatatan sipil. Ini terasa lebih membuatku gugup dan takut.


Sebelum pintu ballroom terbuka ayah menggenggam erat tanganku. Dia mencoba menahan tangisnya.


“Percayalah nak... hidupmu akan bahagia.” Ucapnya sebelum akhirnya pintu benar-benar terbuka.


Ayah dengan tegap mengangkat kepalanya menatap lurus ke depan. Aku mendengarnya terisak pelan. Tubuhnya juga bergetar.


Aku tak melihat siapa saja undangan yang hadir. Orang pertama yang terlihat oleh mataku adalah Jin yang tengah berdiri di Altar mengenakan setelan tuxedo yang sangat cocok untuknya.


Saat berjalan ku lirik ibuku yang tengah menangis di samping ibu Jin dan ayahnya. Hatiku serasa semakin pedih. Tanpa terasa kami sudah berdiri di depan Jin. Dengan senyumnya yang menyambut kami, Jin mengulurkan tangannya padaku. Ayah menatapku sejenak kemudian mengangguk dan memberikan tanganku pada Jin. Aku benar-benar merasa bahwa aku akan jatuh pingsan.


Sumpah dan janji-janji yang kami ikrarkan telah disaksikan semuanya. Semua terucap dengan jelas. Aku bahkan tak mempercayai jika aku telah mengatakan semuanya. Semua janji tanpa terkecuali. Aku sadar sepenuhnya.


Kami telah diberkati, Jin kemudian mencium keningku lembut bersamaan dengan isakanku pelan.


Di mata Hukum... dan Tuhan... kami sudah benar-benar menjadi pasangan yang telah disahkan.


 


***