WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 103 TERANCAM (Part II)



Aku tak tau harus berbuat apa. Fei terus berjalan mendekatiku secara perlahan dengan mengacungkan gunting yang dipegangnya ke arahku.


"Fei... maafkan aku, kami saling mencintai. Jadi... tolong mengertilah... ku mohon janganlah kau seperti ini." Aku merasa simpati tapi juga merasa ketakutan.


Yang ada di pikiranku bukanlah takut aku mati, tapi aku takut jika anakku... tidak. Aku tak bisa membayangkannya.


"Apa katamu? Saling mencintai? Jinyi adalah milikku. Dia terpaksa menikahi mu ******! Jinyi seharusnya menjadi milikku.... MILIKKU SATU-SATUNYA!!!". Fei tiba-tiba menangis histeris. "Dan bayi itu..." Fei dengan cepat berubah mood dan menatap ke arah perutku tajam, matanya nanar mengancam menyiratkan kebencian.


Akan tetapi bibirnya tersungging sinis sehingga aku tak bisa mengerti apa yang sebenarnya dirasakannya.


"BAYI ITU HARUSNYA ADA DALAM PERUTKU!!" Teriaknya kencang sembari meraih benda-benda yang ada di sekitarnya dan langsung membantingnya.


Aku semakin terpaku tak berdaya. Kakiku seolah lumpuh. Aku benar-benar merasa sangat sulit untuk melawannya atau bahkan lari menjauh darinya.


Ponselku? Iya, ponselku ada di meja di belakang Fei. Bagaimana aku mengambilnya? Dalam kepanikan aku berpikir keras. Cepat atau lambat Fei akan mencelakai ku juga. Tapi aku benar-benar tak ingin jika bayiku terluka. Setidaknya, biarkan aku melahirkan dia dengan selamat.


"Tidak... kau yang harus mati. Bukan aku... aku tak mau mati." Fei tiba-tiba berubah pikiran dan menyeringai mengancam ku.


Sebenarnya Kenapa dengan diriku??? kenapa aku sama sekali tak melakukan apapun dan hanya berdiam diri menunggu diri dilukai oleh Fei.


Aku tak yakin dia bisa membunuhku, tapi aku yakin dia mampu melukaiku.


Ahh... benar. Aku ingat sekarang. Bukankah aku telah menginstall aplikasi pintar diponselku? Hanya dengan berteriak maka ponselku akan mengenali suaraku dan bekerja.


"TOLONG!" Aku berteriak kencang mengucapkan kode pada ponselku. Semoga ini bisa bekerja. "FENG JINYI!" lagi aku meneriakkan nama Jinyi berharap agar ponselku langsung mencari kontak Jinyi dan menghubungkannya.


Dan aku melirik ke arah ponselku yang berada di belakang Fei tengah berkedip. Syukurlah. Ponselku bekerja dengan baik.


Sekarang adalah... berharap Jin menerima panggilan darurat ku.


"Kenapa kau berteriak Hah?? Mau meminta tolongJinyi? Percuma kau berteriak. Sebelum dia pulang... Kau sudah tidak bisa lagi melihatnya. Sekarang berikan BAYIKU!" Fei kini berhasil menyergap ku dan menjambak rambutku serta mengunciku dalam dekapan tangannya yang memegang gunting.


"Akkk...." Aku merintih. "Fei... jangan seperti ini ku mohon." Aku benar-benar tak berdaya, Fei benar-benar tak main-main dengan kata-katanya.


Pergerakan ku sangat terbatas. Aku tak bisa bergerak dengan gesit seperti saat sebelum aku mengandung. Untuk berbalik menyerangnya saja aku rasa sangat lemah.


"Aku harus seperti ini. Kau telah merebut segalanya. Jinyi... aku tak bisa hidup tanpa Jinyi." Ucapnya tiba-tiba menangis. "Dan bayiku. Berikan bayiku. Aku yang seharusnya mengandung bayi itu." Emosi Fei benar-benar mengalami fluktuasi.


Sepertinya dia benar-benar mengalami tekanan mental.


"Fei... tidak ada gunanya kau melakukan ini. Ini akan semakin menyulitkan mu. Ku mohon berhentilah." Aku memohon lagi dengan suara bergetar karena dia semakin erat mengunciku sehingga aku merasa kesakitan.


"Akk..." Ku rasakan ujung gunting itu menekan leherku.


Dia benar-benar ingin membunuhku?


"Fei...." Suaraku parau menahan nyeri di leherku karena tekanan guntingnya.


Dia tak menggubris ku malah semakin kuat menekankan ujung gunting ke leherku. Perlahan tangan kirinya beralih ke perutku dan merabanya.


"Xiumei... Bayi ini harus menjadi milikku, kau tau itu kan??? ini bayiku...." bisiknya sembari meraba perutku.


"Tidak Fei... jangan lakukan itu. Ku mohon... jangan anakku." Aku yang tak bisa berbuat apa-apa hanya pasrah dan memohon.


"Anakmu kau bilang? DIA ANAKKU!!! AKU YANG SEHARUSNYA MENGANDUNGNYA BUKAN KAU!!! BERANINYA KAU BERKATA INI ADALAH ANAKMU??? SEHARUSNYA INI ADALAH BUAH CINTAKU DENGAN JINYI." Fei berteriak emosi lagi dan kini semakin menekankan ujung gunting pada leherku dan sebelah tangannya mengunci tanganku semakin erat.


"Akkkk...." Kali ini rasanya lebih nyeri. Nyerinya semakin tak terkontrol. Ada rasa perih menyusup di antara rasa nyeri itu.


Tidak. Dia benar-benar berniat menusukkan gunting itu ke leherku. Aku merasakan sesuatu yang basah mengalir dari ujung gunting yang menekan leherku dan kemudian diikuti rasa yang semakin sakit dan nyeri.


Beberapa saat kemudian aku mencium bau besi yang bercampur dengan anyir menusuk hidungku. Bau darah. Dia telah berhasil melukaiku.


Darah itu kemudian mengalir ke dadaku. Aku hanya memejamkan mataku pasrah sembari menahan perih yang semakin terasa.


"FEI HENTIKAN!!!!" seseorang masuk dan berteriak ke arah kami.


"Jinyi...???" Aku membuka mata kembali dan melirik ke arah suara parau.


Napasnya terengah-engah. Dia benar-benar kembali.


"Fei... tolong jangan lakukan itu... lepaskan Xiumei." Jinyi terlihat sangat panik melihatku dalam keadaan seperti ini.


"Tidak! Aku tak mau melepaskannya." Fei semakin menusukkan gunting itu ke leherku.


"Akkkk......."


"JANGAN!!!! Kumohon...." Jinyi semakin panik melihat aku yang semakin kesakitan.


"Jinyi sayangku... dia harus mati... agar kau bisa bersamaku." Fei menyeringai.


"Kau gila! Akkk...." Aku mengumpat padanya namun mendengar umpatan ku dia malah semakin menekankan gunting itu semakin dalam.


Aku rasa saking nyeri dan sakitnya aku sudah merasa kebas pada leherku.


"Tidak.... Fei... jangan lukai dia ku mohon." Jin mendekat ke arah kami perlahan.


"Jangan mendekat! Atau dia semakin ku siksa?" Gertaknya.


Jin menoleh ke arahku benar-benar panik. Aku hanya menatapnya saja. Seandainya ini memang akhir dari hidupku. Setidaknya, aku bisa melihat wajah Jin untuk yang terakhir kalinya.


Fei sepertinya sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Jin. Namun kemudian dia menyadari bahwa itu hanyalah sebuah rayuan.


"Tidak... kau berbohong!" Teriaknya.


"Aku tak berbohong... ayo... kemarilah Lepaskan Xiumei!" Jin berjalan semakin mendekat sembari mengulurkan kedua tangannya dan memberikan isyarat agar Fei mendekat ke arahnya. "Kau percaya padaku?? Ayo... lepaskan dia." Lagi Jin meyakinkan.


Fei tertegun beberapa saat.


"Lu Feiyue adalah gadis yang baik. Dia selalu memberiku hadiah saat aku berulang tahun. Lebih mengerti aku dari yang lainnya. Bahkan hal-hal kecil yang tak ku sadari dia lebih tau. Suatu ketika, aku tengah mengalami kesulitan. Tapi dia selalu sedia untukku. Jadi... ayolah lepaskan dia." Jin masih berusaha meyakinkannya.


"Kau...??" Sepertinya kali ini Fei mulai terlena oleh ucapan Jin. Dan perlahan... ku rasakan kuncian tangan dan gunting yang telah menusuk leherku semakin merenggang.


Bagus. Inilah kesempatanku.


SREK!!!


Entah kekuatan dari mana? Sebelumnya aku yang merasa sangat lemah kini tiba-tiba merasa sangat bertenaga dan berbalik mengunci Fei dalam dekapanku.


Sebelah tangannya aku kunci ke belakang tubuhnya dan sebelah tangannya lagi yang memegang gunting aku kuncikan ke lehernya sendiri.


"Mei???!!" Melihatku melakukan itu Jin malah terpana dan tidak cepat-cepat membantuku.


"Sayang apa yang kau lakukan? bantu aku!" Aku menyadarkan Jin.


"Ahh... maaf..." Dia pun tersadar dan segera menolongku.


"Brengsek... lepaskan aku!" Fei meronta dan dengan sigap Jin mengambil alih posisiku.


"Sayang...??" Paniknya sembari mengunci kedua tangan Fei.


"Aku tak apa, hanya luka kecil." Ucapku parau sembari memegang leherku yang terus berdarah.


Padahal dari bekas ujung guntingnya, mungkin lukanya sedalam 2 cm, beruntungnya bagian samping leherku bukan bagian depan. Kalau bagian depan kemungkinan aku sudah... entahlah.


Tak berapa lama ku dengar derap beberapa langkah kaki mendekat ke arah kami.


"Maaf.... kami terlambat." Ucap salah satu dari mereka yang ternyata adalah detektif Song.


Dua orang lainnya kemudian mendekat dan memborgol Fei.


"Jin.... lepaskan aku. Bukankah kau mengajakku untuk pergi. Jin..." Fei memohon.


"Maafkan aku... aku membohongimu demi istriku." Jin memberikan penjelasan.


"Bawa dia!" Perintah detektif Song.


"Siap!" Jawab polisi yang menahan Fei secara bersamaan.


"Jin... jangan lakukan ini padaku. Aku sangat mencintaimu Jin.... Lepaskan aku!" Fei meronta dan berteriak.


Kedua polisi itu kemudian membawa Fei paksa. Namun saat Fei berjalan melewati ku.


"DASAR PEREMPUAN SIALAN!!!!" Tiba-tiba Fei lepas dari kedua polisi itu dan menyerang ku dengan mendorongku hingga aku jatuh tersentak ke belakang.


BRUGH!!!


"Akkhh...." Lagi... aku merintih.


"MEI!!!?" Jin berteriak spontan mendatangiku dan membantuku duduk bersandar padanya.


Dengan sigap kedua polisi itu langsung membawa Fei kembali.


Aku langsung merasakan sesuatu keluar dari jalan lahir ku.


"Air???" Aku bertanya pada diriku sendiri lirih.


Aku tidak pee atau apa pun,. kenapa ada air keluar?? Kemudian aku menyadari sesuatu.


"Jin... ketuban.... ketubanku pecah." Ucapku terbata-bata karena tiba-tiba aku merasakan kontraksi samar.


"Apa???" Jin terkejut.


"Sepertinya Nyonya Feng akan melahirkan." Detektif Song yang masih ada di dekat kami memberitahu Jin dengan nada suara yang sama paniknya dengan Jin.


"Akh...." Lagi... kontraksi itu terasa sedikit lebih kuat.


"Mei??? Bertahan sayang aku akan membawamu." Ucapnya seraya mengangkat ku dalam gendongannya.


Melahirkan? Bukankah usia kehamilanku masih 34 Minggu???


Tiba-tiba perasaan takut langsung menyusupi hatiku.


'Bertahanlah Nak!' Ucapku dalam hati sembari menahan rasa nyeri dan kontraksi yang semakin lama semakin intense.


***