WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 16 PERHATIAN (part II)



Aku masih memikirkan perkataan manager Wang tentang perasaannya. Sepertinya dia benar-benar menyukai gadis itu. Betapa hebatnga dia sampai mampu membuat seorang manager Wang yang begitu cuek dan kaku bisa berubah menjadi orang yang ramah dan penuh senyum.


 


“Kau melamun lagi?” Ling mencubit pipiku pelan membuyarkan lamunanku dan membuatku merengut ke arahnya.


“Kau ini! memggangguku yang tengah berpikir saja." Gerutuku padanya.


"Berpikir apanya? jelas-jelas pandanganmu kosong." Ling terkikik pelan.


"Ya... apa proposal advertisment skincare itu sudah di acc?” aku balik bertanya pada Ling mengalihkan topik pembicaraan.


“Hei... aku bertanya padamu, tapi kau malah balik bertanya. Dasar!” Ling menggerutu sebal. “Masih diteliti ketua Team.” Akhirnya dia menjawab juga.


Tring!!


“Waktunya istirahat sejenak.” Sebuah pesan ku terima membuatku ternganga dibuatnya.


Ada angin apa ini? Aku masih tercengang tak percaya. Jin mengirimiku pesan singkat? Setelah beberapan detik tercengang akhirnya aku kembali pada kesadaranku seraya melihat jam pada ponsel. Benar saja, ternyata sudah waktunya makan siang.


“Apa ini? kenapa kaku sekali caranya berkirim pesan. Tidak bisa basa basi apa?” Aku tersenyum aneh pada ponselku sembari menggerutu.


Aku tak sadar jika Ling memperhatikanku yang tengah tersenyum-senyum aneh.


“Ya Tuhan.... Anak ini... kalau syndrom cupid sudah mulai menempel ya seperti ini. Kewarasannya patut dipertanyakan. Aku rasa kau mulai menyukainya.” Ling berkata padaku lirih.


“Apa??” ku alihkan pandanganku dari ponsel ke arah Ling yang baru saja bergumam tak jelas. “Aku... menyukai siapa?” aku balik bertanya meminta penjelasan.


“Ck ck... Itu bahkan hanya sebuah pesan singkat yang kaku. Tapi bibirmu tersenyum mengembang sampai selebar ini seolah baru mendapatkan gaji dobel.” Ling mempraktekan bagaimana aku tersenyum.


“Aku? Tidak... aku hanya lucu membaca pesannya.” Aku tertawa pelan menampik tuduhan Ling.


“Ahh... terserah kau saja, kau juga akan terus menyangkalnya. Aku lapar... aku mau makan.” Ling melenggang pergi meninggalkan ku sendiri di meja kerjaku dengan kesal.


Aku berpikir sejenak, bagaimana aku harus membalas pesan singkat darinya? Karena aku berpikir bahwa pesan darinya bukanlah sebuah kalimat yang mengharuskan aku menjawabnya. Ya pesannya bukan sebuah kalimat perintah atau juga bukan sebuah kalimat tanya. Jadi aku harus bagaimana? Apa sebaiknya aku biarkan saja dan tak menggubrisnya? Atau aku harus membalsanya?


Pikir-pikir, akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan saja dan tak membalasnya. Aku kemudian tertawa lirih merasa sangat lucu.


“Tak pergi makan siang?” sebuah suara mengejutkanku yang tengah memainkan ponsel sembari tersenyum-senyum sendiri.


“Ahh... manager?” aku langsung berdiri untuk menyapanya.


“Ayo kita makan siang dulu, tugas bisa dilanjutkan lagi nanti.” Ajaknya sembari tersenyum.


“Manager duluan saja, aku akan mengirim email ke klien dulu.” Aku mencari alasan untuk menghindarinya.


“Baiklah, kalau begitu... aku pergi duluan, nanti jangan lupa makan siang.” Dia berpesan sembari tersenyum kemudian pergi meninggalkanku.


"Hufh...." Aku menarik napas lega.


Dan anehnya aku tiba-tiba merasa tak nyaman telah mendapatkan perhatian darinya. Padahal, aku dulu sangat mengharapkannya.


Tak terasa jam bekerja telah usai. Aku pun berjalan keluar kantor hendak kembali ke rumah. Aku menoleh ke sana ke mari mencari-cari sesuatu. Lebih tepatnya mencari-cari seseorang. Tapi sepertinya yang aku cari-cari tak terlihat.


‘Hey... Apa yang aku pikirkan? Mana mungkin dia benar-benar menjemputku.’ Aku bergumam dalam hati dan menarik nafas panjang. Anehnya aku sangat berharap dia datang menjemput.


Akhirnya ku langkahkan kakiku menuju halte bus yang berada di dekat kantor. Dan kebetulan halte saat itu tidak begitu ramai.


Dan tumbennya bus yang biasa aku naiki tak datang juga, atau mungkin sudah lewat sesaat ketika aku belum beranjak ke halte.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku dan seseorang terlihat keluar dari pintu kemudi mobil itu.


“Masih menunggu bus?” sebuah suara dari sesosok pria yang sudah lama mengusik mimpiku.


“Manager Wang?” aku menyebut namanya tak percaya jika dia menghampiriku.


“Umm... aku sedang tidak ada acara lain, bagaimana kalau aku antar kau pulang?” antara percaya dan tak percaya, dia menawarkan padaku untuk mengantarkanku pulang.


Wow... ini kemajuan. Tapi.... Kenapa aku tak senang? Ok, apakah uni tidak apa-apa? Setidaknya aku belum menikah kan? jadi aku masih bebas mau bagaimana saja.


Akhirnya ku putuskan untuk berdiri dan berjalan mendekatinya. Tapi...


Srettt!!!


Seseorang menarik tanganku membuatku begitu terkejut.


 


“Dia akan pulang bersamaku!” sebuah suara dari pria yang tak asing sudah berada di dekatku.


Deg!


Jantungku mulai kacau. Bagaimana ini??


Ini... benar-benar situasi yang sangat tidak aku harapkan. Kenapa ini harus terjadi sekarang? Satu adalah calon suamiku dan satu adalah pria impianku. Ya Tuhan, aku mau menghilang saat ini juga.


“Kau siapa?” tanya manager Wang menyelidik kepada Jin. Dan ini tentunya sangat gawat.


Karena saking cueknya manager Wang atau bagaimana? Dia sama sekali tak mengenali Jinyi. Padahal wajahnya sering wara wiri di media. Dan ini sama sepertiku juga.


“Ahh.... manager... maaf... aku akan pulang bersamanya. Selamat berakhir pekan.” Aku langsung berbalik menarik lengan Jin untuk pergi menjauh sebelum Jin lebih dulu menjawab pertanyaan dari manager Wang dengan ‘Aku calon suaminya.’ Tidak... Bisa-bisa semua menjadi gawat.


Apa ini? apakah aku berniat selingkuh dari Jin? Ah... tidak... bukan begitu... aku hanya saja belum siap jika orang lain tau jika aku akan menikah dengannya.


Aku sangat memaklumi jika manager Wang tak mengenali Jin itu siapa. Soalnya... manager Wang dulu orangnya benar-benar sangat cuek. Dan entah beberapa hari ini dia berubah menjadi sangat manis.


“Kenapa?” Jin bertanya kepadaku yang menggamit lengannya untuk beranjak pergi dari tempat itu cepat-cepat.


Aku tak menjawabnya dan terus menariknya menuju ke mobilnya.


“Dia siapa?” dia bertanya lagi namun tetap tak ku jawab sampai akhirnya kita sudah memasuiki mobilnya.


“Dia? Manager Team kami.” Ucapku cuek sambil mengenakan sabuk pengaman.


Jin belum mengenakan sabuk pengamannya dan masih terus menatap menyelidik ke arahku. Karena sepertinya dia tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


"Ayo kita pergi!" Senyumku dengan sangat canggung padanya sembari memberikan kode kepadanya untuk segera pergi. Jin pun khirnya menyerah dan mulai menginjak pedal gasnya perlahan.


 


***