WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 60 TAKUT



Saat salad yang aku makan semalam di rebut paksa oleh Jin, saat itu juga aku mulai merasakan mual kembali dan akhirnya muntah-muntah tiada henti. Hingga akhirnya aku tertidur hingga pagi ini. tidak... ini tidak pagi lagi, ini sudah menjelang siang karena jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


 


Saat aku membuka mata Jin sudah tidak ada. Ku lihat di atas nakas terdapat nampan berisi bubur dan susu yang masih hangat. Jadi kemungkinan Jin belum begitu lama pergi. Di sana ada sebuah note yang tertempel di gelas susu.


Perlahan ku ambil dan ku baca.


 


“Sayang buburnya di makan ya.... aku pergi dulu. Aku mencintaimu. Hanya kamu. Setelah makan hubungi aku, aku akan pulang. Ayo kita ke dokter. Aku sudah menghubungi Ling memberitahumu untuk tak masuk kerja karena kau tengah sakit. Jadi jangan khawatir.” Aku membaca note itu.


 


Aku tersenyum awalnya tapi kemudian cemberut lagi setelah membaca kata dokter. Kenapa aku begitu takut sekali mendengar kata itu. Tapi meskipun begitu aku mau juga meminum susu hangat yang Jin persiapkan untukku.


Setelah meminumnya ku letakkan kembali gelasnya ke atas nampan. Namun ketika aku membuka penutup mangkuk bubur, sepertinya aromanya tak aku suka.


Aneh. Bukankah ini sungguh aneh, tak biasanya aku seperti ini. Kenapa hidungku jadi sensitif sekali.


Akhirnya rasa mualku yang sempat mereda kembali lagi karena mencium bau bubur tadi. Dengan cepat-cepat aku menutup kembali bubur itu.


Mulutku kembali merasa hambar dan ingin muntah lagi. Aku ingin menahannya tapi akhirnya aku tak mampu dan berlari ke kamar mandi untuk muntah di sana. Hanya air yang keluar karena aku sama sekali tak mau makan.


Perutku bagian bawahku benar-benar terasa sangat kaku dan sedikit kram. Perlahan aku merabanya karena sepertinya ada yang aneh. Ternyata tidak hanya rasanya yang kaku, tapi perut bawahku benar-benar terasa tegang tak seperti biasanya.


“Apa mungkin?” Aku langsung berpikir tentang hamil.


Tapi dari literatur yang aku baca, hamil trimester pertama itu gejalanya muntah di pagi hari. Sedangkan aku tidak hanya di pagi hari. Bahkan tengah malam pun juga muntah. Tapi.... kalau datang bulan... sepertinya aku sudah lama melewatkannya. Karena siklusnya harusnya terjadi dua minggu yang lalu.


Jadi??? Aku berpikir di dalam kamar mandi tentang kemungkinan apa yang akan terjadi. Antara senang jika itu memang benar dan sedih jika ternyata aku sakit yang lainnya. Maka dari itu... aku benar-benar takut jika Jin mengajakku pergi ke dokter.


Perlahan aku terduduk lemas di toilet dan merenung bagaimana seharusnya.


Di saat aku merenung, samar-samar aku mendengar ponselku berdering. Bergegas meskipun dalam keadaan lemas dan pusing aku keluar dari kamar mandi untuk menerima pangilan di ponselku.


“Halo...” sapaku pelan.


“Nak apa kau baik-baik saja? Jin bilang kau tengah sakit? Apakah sudah ke dokter? Sudah diminum obatnya? Bagaimana bisa sampai sakit? Apa Jin yang membuatmu sakit? Apa....”


“Ibu.... aku baik-baik saja.” Aku memutus pertanyaan ibu mertua yang memberondong bak peluru teroris.


Ya... ibu mertua menghubungiku. Pasti Jin yang tengah memberitahunya. Dasar Jinyi. Apa dia tak takut jika ibunya akan khawatir seperti ini? ibuku saja tak aku berikan kabar karena aku tak mau beliau khawatir.


“Apakah ibu di sana juga baik-baik saja?” tanyaku padanya.


Saat aku hendak menjawabnya tiba-tiba perutku bergejolak lagi. Benar-benar tak bisa di kontrol. Rasanya benar-benar seperti dikocok dengan sangat kencang.


“Ibu... aku... ukk...” Akhirnya aku akan muntah Juga. Spontan aku langsung meninggalkan ponselku dan berlari menuju kamar mandi lagi.


“Mei???? Kau baik-baik saja sayang??? Mei???” suara ibu mertua terdengar samar-samar dalam kepanikan.


Sedangkan aku masih di kamar mandi muntah lagi. Dan ini sudah yang kesekian kalinya. Sebenarnya ada apa dengan diriku?


Ya Tuhan... rasanya benar-benar tak nyaman sekali. Apa iya sebaiknya aku ke dokter saja?


“Mei???” ibu mertua terdengar samar\-samar memanggilku. Dengan lemas aku berjalan menuju tempat tidur lagi untuk mengambil ponselku dan memulai berbicara lagi dengannya.


“Mei??” ibu mertua memanggil lagi.


“Ya bu... maaf...” ucapku parau karena baru saja mengerahkan seluruh tenagaku.


“Sayang..... kau baru muntah.... Apakah dari kemarin kau seperti ini?? Mei.... apa mungkin?” Ibu mertua memberondong pertanyaan lagi.


“Mungkin apa bu?” tanyaku padanya penasaran.


“Dulu.... saat ibu mengandung Jin, pada trimester pertama ibu sama sekali tak mau makan dan hanya muntah saja. Jangan-jangan kau juga..... tengah hamil???” suara ibu mertua terdengar terkejut dengan perkataannya sendiri. Antara percaya dan tidak jika aku hamil.


Sontak hal itu membuatku berpikir keras. Aku terdiam tak menanggapi apa yang ibu mertuaku katakan karena pikiranku terus melayang memikirkan apa yang harus aku lakukan.


Pertanyaan ibu mertuaku sama seperti apa yang aku pikirkan.


Tak berapa lama kami mengakhiri sambungan telpon. Aku ingat pesan terakhir sebelum ibu mertuaku menutup pembicaraan di antara kami.


Ketika aku berkata aku takut jika ternyata aku tidak hamil bagaimana? Ibu mertua mengatakan dengan sabar, “Aku mengerti perasaanmu. Tapi lebih baik dicek terlebih dahulu untuk memastikan, jika ternyata apa yang kau takutkan benar terjadi... tak apa. Nikmatilah waktu bulan madumu dan jangan terlalu dipikirkan.” Ucapnya lembut.


Jadi.... Aku harus bagaimana???


Aku menghela nafas panjang memantabkan hatiku. Ok... aku akan periksa ke dokter dan sekarang aku beranjak bersiap.


Aku memoleskan bedak tipis dan shimer tint seperti biasa agar tak terlihat pucat. Kemudian aku mengambil backpack kecil yang biasa aku kenakan. Meskipun aku merasa benar-benar sangat pusing tapi aku masih bisa meng-handle-nya.


Aku tak mau menghubungi Jin. Jadi aku akan pergi ke dokter sendiri. Selain itu, jika nanti periksa ke dokter bersama dengan Jin dan ternyata aku sakit parah Jin pasti akan sangat terpukul. Jadi sebaiknya aku pergi sendiri.


Jika nanti hasilnya buruk, maka aku akan menyimpannya sendiri.


 


***