WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 29 HEART BEAT



“Nah... makanan sudah siap.” Jin menyajikan makanan terakhir yang ia buat tepat di depanku.


“Eoh...?” aku melihat tiga hidangan istimewa di depan mataku.


Meskipun bentuknya sedikit terlihat acak-acakan tapi sepertinya makanan yang dia buat sangat menggoda selera. Karena aku merasa sangat lapar barangkali.


“Ayo cobalah...!” Jin duduk di depanku mempersilahkan aku untuk makan lebih dulu.


Dengan senang hati, perlahan ku ambil sesuap dan menyuapkannya ke mulutku. Aku terdiam beberapa saat mencoba mengecap menikmati masakannya. Aku tak berbohong, rasanya memang enak, hanya bentuknya saja yang terlihat aneh.


“Ini.....” aku tak buru-buru melanjutkan kalimatku.


Aku memiringkan kepalaku sejenak. Ku lihat ekspresi Jin yang khawatir namun terlihat sangat imut. Apa? Aku bilang imut? Sejak kapan aku berpikir dia imut? Benar-benar ada yang tak beres dengan otakku kali ini.


“Tidak enak ya?” dia bertanya dengan perasaan khawatir.


DEG!


Kenapa dia terlihat sangat imut sekali di saat seperti ini.


Siapa pun tolong. Jauhkan kucing ini dariku.


“Siapa bilang tidak enak? Ini.... sangat enak malah.” Ucapku kemudian sembari menyuapkan lagi ke mulutku.


Aku tersenyum padanya kemudian yang disambut oleh senyumnya kembali.


“Benar kan aku bilang?!” dia membanggakan diri lega. Aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu. “Ini... coba ak...” Jin mengambilkan sepotong daging dan menyodorkan ke mulutku agar aku memakannya.


Aku bingung... ada perasaan aneh menjalar ke ubun-ubun ku. Namun akhirnya meskipun agak ragu, aku tetap membuka mulutku untuk menerima suapan darinya. Dia menyuapkan secara perlahan. Namun mataku malah terfokus pada raut muka seriusnya saat akan menyuapiku.


Kenapa aku jadi begini? Ini benar-benar ada yang salah dengan diriku.


“Bagaimana?” Suara Jin mengejutkanku.


“Um.... yang ini sangat enak. Benar-benar sangat enak.” Ucapku berapi-api.


Memang yang ini benar-benar sangat enak. Aku ketagihan lagi dan makan sebanyak mungkin.


 


Aku sama sekali tak menyadari jika Jin sedari tadi hanya memperhatikanku dan sama sekali tak makan apa pun.


“Pelan-pelan makannya.” Ucapnya lembut dengan terus menatapku yang entah tatapan macam apa itu yang tak mampu aku artikan.


"Hu um." Jawabku masih dengan lahapnya makan tanpa memperhatikan Jin.


Kemudian aku tersadar jika dia sama sekali tak makan apa pun.


"Kau tak makan?" Tanyaku padanya bingung karena ternyata sedari tadi hanya aku yang makan.


"Melihatmu makan, sudah membuatku merasa kenyang." Ucapnya pelan sembari tersenyum.


"Hei... mana bisa begitu. Kau juga harus makan." ucapku sembari menyodorkan sesuap makanan di mulutnya.


Mau tak mau akhirnya dia membuka mulutnya dan ikut makan. Dengan senang hati aku menyuapkan padanya bergantian setelah aku menyuapkan pada mulutku sendiri.


Semua berjalan dengan sangat natural dan begitu alami. Tak ada kecanggungan di antara kami. Atau mungkin karena aku tak menyadari apa yang telah ku lakukan.


“Tau begini seharusnya kau saja yang memasak setiap hari?” tanyaku acuh dengan tetap melahap masakannya dan kemudian menyuapkan lagi padanya.


“Ish... mana bisa begitu.” Dia kembali cemberut. Dan aku hanya menyambutnya dengan tawa di sela makanku.


Tiba-tiba tangannya menyentuh ujung bibirku. Aku terdiam. Jantungku kembali berdegub sangat kencang. Aku terpaku pada matanya yang terus menatapku. Matanya yang selama ini aku pikir begitu tajam dan kaku kini ku rasakan sangat lembut dan teduh.


"Sudah menikah, tapi masih seperti bayi." Ucapnya masih dengan posisi membersihkan bibirku.


Aku benar-benar merasa tersihir olehnya. Apa aku mulai menyukainya? Ahhh... tidak mungkin. Aku bahkan baru mengenalnya belum genap dua bulan. Memangnya bisa menyukai orang secepat itu? Tidak, aku masih menyukai manager Wang kan? Tapi aku merasa tak nyaman dengannya sekarang. Apa iya aku masih menyukai manager Wang?


“Kalau makan pelan-pelan... belepotan kan jadinya.” Ucapnya lagi-lagi mengejutkan diriku yang pikiranku entah berkelana ke mana.


Detik berikutnya matanya yang tajam meneduhkan beralih menatap ke arah bibirku.


“Ehm...” aku buru-buru tersadar dan melepaskan diri dari tangannya yang tengah menyentuh bibirku hangat.


DAG DIG DUG


Jantungku berdegub sangat kencang dan tak beraturan. Kami berdua kemudian saling merasa canggung.


Aku buru-buru mengalihkan pandanganku pada gelas yang terisi air minum penuh yang berada di depanku lalu segera mengambilnya dan meminumnya dengan sekali teguk.


Suasana canggung akhirnya kembali normal.


Tak berapa lama kami telah menyelesaikan makan malam yang sudah sangat terlambat. Jin akhirnya makan juga meskipun tak sebanyak diriku. Aku mulai membereskan semuanya dan membawanya ke wastafel dapur untuk mencucinya.


“Jangan... biarkan aku saja.” Jin mendekatiku dan menarikku minggir dari wastafel. “Kau istirahat saja dulu, kau kelihatan lelah hari ini.” ucapnya lembut sekali.


“Tidak, biar aku saja.” ucapku sembari mendekati wastafel lagi dan memulai membuka keran air.


“Baiklah...” ucapnya akhirnya namun malah mendekatiku dan membantuku mencuci.


Aku begitu terkejut. Aku benar-benat tak bisa santai dengan keadaan ini. karena apa? Karena jantungku sedari tadi tak dapat bekerja dengan normal.


“Mei...” panggilnya pelan.


“Eum?” aku masih tetap fokus dengan cucianku.


“Aku tak mau jika kau menangis seperti itu lagi.” Ucapnya yang sontak membuatku menghentikan kegiatanku dan menoleh ke arahnya.


Dia perlahan juga menghadapku. Kami saling bertatapan untuk beberapa lama. Kemudian perlahan tangannya memegang kedua pundakku lembut.


Ada semilir angin yang tiba-tiba menerobos merasuki hatiku.


“Aku memang suka saat kau tertawa atau menangis di depanku, karena aku berpikir bahwa kau tidak menutupi image mu dengan bertingkah seolah kau sempurna di depanku. Tapi... ketika kau menangis seperti itu... aku merasa sangat sakit, karena aku tak tau apa yang tengah terjadi pada dirimu. Dan semakin membuatku sakit karena aku tak tau harus berbuat apa.” Kenapa ucapannya membuatku merasa ingin menangis lagi begini?


 


“Jadi... jika kau ada suatu masalah, kau bisa menceritakannya padaku. Kau bisa membaginya denganku. Jika aku tak bisa membantumu keluar dari masalah itu, setidaknya aku mau ikut merasakan sedih seperti apa yang kau rasakan. Pundakku... selalu siap kapan saja jika ingin kau pinjam. Aku sudah berjanji kepada Ayah dan ibu mertua serta Huan untuk menjagamu dan tak akan membuatmu menangis. Jadi... bantu aku memenuhi janjiku pada mereka. Eum?” Jin mengatakan seluruh isi hatinya padaku.


 


Aku menatap manik matanya dalam sembari berpikir beberapa saat. Aku benar-benar tersihir oleh kata-kata Jin yang begitu menentramkan. Namun hatiku masih tak karu-karuan. Aku bimbang. Mataku sepertinya ingin mengeluarkan sesuatu lagi.


Perlahan... Aku meraih tangan jin yang berada di pundakku kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. Lama... aku bingung harus berkata apa. Tapi... Aku menatapnya kembali seraya mengangguk menyetujui apa yang Jin inginkan.


“Terimakasih...” ucapku pelan hampir tak terdengar. Bahkan untukku sendiri.


Mata kami saling bertemu, senyum tipis pun mulai mengembang di bibir kami.


 


***