
Setelah makan malam, aku masuk ke dalam kamar lagi untuk melakukan sesuatu. Ya... perang telah di mulai, jadi aku harus mempersiapkannya.
Pertama, aku menyiapkan semua peralatan make up yang aku punya. Tidak banyak, tapi aku punya.
Kedua, aku mulai menyapukan segala sesuatunya mengikuti beauty vlogger yang ada di media sosial. Tidak sulit ternyata mengikutinya. Yang aku lakukan hanya harus membersihkan muka terlebih dahulu, kemudian memakai primer, berikutnya memakai foundation. Terus dilanjutkan dengan concealer, lalu bedak.
Step berikutnya aku harus menggambar alis, sedikit kesulitan namun akhirnya aku bisa melakukannya. Setelahnya eye shadow aku sapukan dengan kuas ke pelupuk mataku kiri dan kanan bergantian.
Ternyata ribet juga. Masih ada step berikutnya, harus pakai eye liner dan maskara agar mata terlihat lebih tegas. Untuk mempercantik mata sepertinya sudah selesai.
Sekarang pipiku juga harus diberikan blush agar terlihat makin cantik. Aku pun memakaikannya di pipi kiri dan kanan.
Setelah blush on selesai, diberikan shimer sedikit biar terlihat flawless. Terakhir aku memakai lipstick yang belum pernah aku pakai.
Aku menatap kaca melihat bayanganku lama.
“Kok sepertinya aneh begini?” aku bergumam sendirian. Tapi aku sudah mengikuti semua tahapan yang diberikan oleh beauty vlogger yang aku lihat di video.
“Tidak... aku terlihat lebih cantik.” Ucapku senang kemudian berlari kecil menuju almari untuk mengambil baju.
Aku sama sekali tak punya baju yang terlihat dewasa. Sedikit putus asa menyusupi perasaanku. Tiba-tiba aku teringat saat hari pernikahanku waktu itu. Saat itu ibuku pernah memberikan gaun malam. Namun aku tak pernah memakainya.
Menyadari aku mempunyainya, aku bergegas mencari gaun malam itu.
Betapa senang hatiku setelah menemukannya. Dengan sigap aku langsung memakainya.
Namun tak sesuai dengan harapanku. gaun ini benar-benar membuatku merasa tak nyaman. Potongan dadanya rendah sekali. Hingga membuat dadaku begitu terbuka.
Tapi tak apa, dengan ini aku sudah bisa menyaingi Fei kan? Tidak. Aku tak mau jika Jin direbut olehnya. Aku harus bisa membuat Jin tetap di sisiku.
Maka dari itu, aku memulai peperangan ini dari hal yang paling simpel saja. Sebenarnya tidak sesimpel yang aku kira. Ini bahkan terlalu ribet. Sesaat aku merasa begitu puyus asa. Tetapi aku memcoba memantabkan hatiku agar aku berpikir optimis.
Aku menghela nafas panjang kemudian perlahan aku keluar kamar menemui Jinyi yang tengah berkutat dengan tabletnya di ruang tamu.
Sepertinya, cara berjalanku pun harus terlihat sexy juga. Jadi aku berjalan mendekati Jin dengan meliuk-liuk bak pohon kelapa duterpa angin di pinggir pantai.
Ku lihat Jin tengah menggapai gelas minum di depannya dan mulai menenggaknya, matanya kemudian tertuju padaku yang semakin mendekatinya. Aku pun langsung tersenyum padanya dengan senangnya.
“Uhuk....uhuk....” Jin tersedak hingga menyemburkan air dalam mulutnya ke mana-mana.
Aku bingung, kenapa dia tersedak? Mungkin karena aku yang terlihat lebih cantik sehingga dia sangat terpana.
Setelah batuknya mereda Jin meletakkan tabletnya dan mendekatiku.
“Mei sayang... apa kau mau ikut pertunjukan opera Cina?”
Deg!
Pertunjukan opera Cina? Kemudian aku mengingat bagaimana para pemain opera berlaku. Mereka memakai bedak yang sangat putih, alis, mata, hidung dan bibirnya semua terlihat tebal dan berlebihan. Lebih seperti hantu karena terlihat menyeramkan. Kemudian mereka berjalan sambil menari-nari...
Tidak! Jadi aku seperti pemeran opera?
Sontak aku langsung malu dan marah yang bercampur menjadi satu.
Jadi... Perangku telah gagal. Aku kembali putus asa. ternyata Fei lebih pintar dalam hal ini. Aku harus bagaimana???
Aku mengusap lipstik merah merona dibibirku dengan punggung tanganku sembari berlari menuju kamar.
Bodohnya aku. Memakai make up saja aku tak bisa. Aku menangis sesenggukan menangkupkan wajahku di meja rias dengan keadaan wajahku yang semakin kacau karena aku mengusap-usapnya dengan punggung tanganku.
“Mei....” terdengar suara Jin masuk ke kamar dan memanggil namaku. “Sayang maafkan aku.” Ucap Jin kemudian menyadari jika perkataannya tadi telah menyinggungku.
“Tak apa, sini.... lihat aku.” Ucap Jin menarik tanganku agar aku mengangkat wajahku dan melihat ke arahnya.
“Tak mau....” dengan terguguk aku mencoba bertahan. Aku malu sekali.
“Sayang... “ Jin menarikku lagi sehingga aku berbalik ke arahnya dan menunduk menatapnya yang berjongkok di bawahku.
“Aku.... hanya.... ingin terlihat cantik... di... depanmu...” ucapku terisak. "Aku...." aku tak bisa melanjutkan dan malah menangis lagi.
“Mei.... ushh....” Jin dengan lembutnya menenangkan aku dengan mengusap pipiku lembut. “Sayang... Kau tak perlu melakukan itu. Kau sudah lebih dari cantik di mataku. Aku suka Mei yang seperti biasanya. Berpakaian seperti biasanya, berjalan seperti biasanya. Bagiku... Mei yang seperti itu lebih dari cantik dari bidadari manapun. Eum?”
“Aku takut kau akan tergoda wanita lain. Aku.... aku....” aku tak bisa melanjutkan kalimatku dan malah menangis histeris meraung-raung seperti anak kecil.
“Dengar sayangku.... Aku sudah punya Kamu di sisiku, kenapa aku harus tergoda dengan yang lain lagi? Bahkan istriku sudah sangat cantik, kenapa aku harus tergoda dengan mereka yang kecantikannya di bawah standar istriku? Coba? Tak masuk akal kan?” Jin menrayuku seperti merayu anak TK yang tengah merajuk dengan ibunya ku rasa.
Tapi kenapa akhirnya aku luluh juga.
Perlahan Jin meraih kapas dan Micellar water yang masih berserakan di meja, beberapa detik, dia membaca tulisan dalam kemasannya. Kemudian menuangkannya ke kapas yang sudah dia ambil sebelumnya.
“Sini aku rapikan...” Jin perlahan mulai membersihkan wajahku dari make up- make up laknat itu. Bikin malu saja.
“Benar begini kan cara membersihkannya?” meskipun sudah dia lakukan dengan mengusap wajahku. Akan tetapi dia masih ragu-ragu karena takut melakukan kesalahan lagi.
Melihat ekspresinya yang ragu-ragu membuat jantungku berdebar lagi. Dia terlihat sangat imut sekali. Aku hanya membalasnya dengan anggukan sesaat.
“Dan lagi.... kau tak perlu berpakaian seperti ini agar terlihat seksi. Mau memakai apa pun, pakaian bagaimana pun, bagiku kau sudah sangat seksi." Jin masih mencoba menenangkanku. Namun aku malah tersipu-sipu tak karuan.
"Tak percaya?” Jin terkejut melihat ekspresiku yang malu-malu. Dia berpikir aku tak mempercayainya.
"Buktinya.... aku selalu menginginkanmu saat kau berada di sampingku.” Ucapnya kemudian.
Ku lihat telinganya mulai memerah. Ini berarti dia benar-benar jujur. Karena.... aku sudah sangat hafal dengan tingkah Jin. Ketika dia malu, telinganya akan langsung memerah.
Dan akhirnya aku tersenyum juga.
“Benar kan apa yang kamu bilang?” Tanyaku lagi memastikan.
Jin tidak menjawab dan hanya terus memandangku... teduh dan dalam sekali.
“Mau bukti yang nyata?” Jin bertanya padaku tak percaya.
“Hu um.” Aku mengangguk.
SREEEET!!
Jin langsung berdiri dan mengangkatku dalam gendongannya membuatku terkejut dan langsung mengeratkan tanganku pada lehernya.
“Ya... Apa yang akan kau lakukan?” Aku bertanya ragu-ragu.
“Kau bilang kau mau bukti yang nyata kan?” Jin mengerling nakal kemudian membawaku berjalan menuju tempat tidur.
“T...**...tapi Jin....” Belum selesai memberontak Jin sudah menciumku lembut bergantian dari bibir ke leher hingga ke tulang selangkaku.
Yah.... baiklah... aku percaya.... aku pun akhirnya tak bisa menolak juga. Bahkan tanganku bergerak semakin mengeratkan pelukanku di lehernya.
Siapa yang mampu menolak sentuhannya yang begitu memabukkan? Tidak ada. Makanya aku tidak akan membiarkannya menyentuh siapa pun selain diriku. Karena dia sekarang adalah milikku.
Jadi perang ini siapa yang memenangkannya? Aku atau Fei?
***