WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 31 JEALOUS (part II)



 


“Mei.... !” Jin berjalan mengejar sembari memanggil namaku.


Akhirnya dia mengejarku juga. Namun, karena terlanjur kesal aku tak mau berhenti berjalan dan malah semakin mempercepat langkah kakiku. Bahkan menoleh ke arahnya pun tidak.


“Mei tunggu!” Jin mempercepat jalannya.


Tidak, sepertinya dia setengah berlari karena suaranya terdengar semakin mendekatiku.


“Mei... kau kenapa?” Jin akhirnya mampu mengejarku dan menarik tanganku hingga akhirnya aku terhenyak berbalik spontan ke arahnya.


Aku tak menjawabnya. Aku menatap ke arahnya geram. Sangat geram. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Jahat sekali.


Aku hanya menatapnya sinis untuk beberapa saat kemudian melepaskan tanganku darinya secara paksa seraya berbalik berjalan dengan cepat pergi meninggalkannya lagi.


Namun lagi dan lagi Jin mampu mengejarku dan menarik tanganku tanganku kembali. Sepertinya kekesalanku sudah mencapai puncaknya. Ubun-ubunku serasa mendidih ingin meledakkan kepalaku.


“Aku tak apa-apa.” Jawabku lagi dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Jin pada lenganku.


Tapi sayangnya aku tak mampu melepaskannya karena cengkeramannya begitu kuat tak seperti sebelumnya.


Bibirku berkata aku tak apa-apa, namun nyatanya perasaanku sangatlah kesal.


“Kau bilang, kau tak apa-apa tapi kau marah sekali dan pergi begitu saja.” Dia menggapai sebelah tanganku hingga kini keduanya berada dalam genggamannya.


“Jangan sentuh aku!” Aku berusaha melepaskan tanganku lagi, kali ini berhasil.


Aku pun langsung memukulnya dan mendorongnya agar menjauh sehingga dia sedikit tersentak kebelakang.


Aku melakukannya dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Aku kembali berjalan menjauhinya.


“Mei... kau kenapa?? katakan padaku.” Jin mencoba mengejarku dan berusaha menggapai tanganku kembali. “Mei dengar dulu...!”


“Aku tak mau dengar!" Aku berteriak tanpa menoleh ke arahnya.


"Mei.... Kau cemburu." Kali ini Jin hanya berjalan di belakangku tanpa berusaha untuk menggapai tanganku seperti sebelumnya.


"Aku tak cemburu. Aku tak cemburu!!! ” Aku mengulangi kata-kataku sembari menutup kedua telingaku dengan tangan dengan memejamkan mata membuktikan bahwa aku benar-benar tak mau mendengarkannya.


Dan aku bersikukuh bahwa aku tak cemburu. Cemburu apanya? Masa iya aku cemburu? Aku hanya kesal saja. tapi aku kesal karena apa ya? Aku sendiri juga bingung menjelaskan bahkan pada diriku sendiri. Intinya aku kesal.


“Mei... kau cemburu? Kau cemburu kan mei?” Jin tersenyum girang sembari mengikutiku.


Aku masih terdiam. Aku tak mau menjawab. Tapi aku mulai berpikir lagi. Apa mungkin aku benar-benar cemburu pada Jin? Bukankah ini tidak mungkin??


Tapi tak tau kenapa, tiba-tiba aku malah menangis meraung seperti bayi. Dan Jin pun akhirnya menarikku dalam pelukannya.


“Pergi.... aku bilang!” aku mendorong Jin lagi sembari meraung tak karuan. Benar-benar seperti orang tengah kesurupan.


“Shhhhh....” Jin mencoba menenangkanku serta menarikku paksa dalam pelukannya dan memelukku erat sehingga aku yang meronta pun tak dapat berbuat apa-apa selain menangis dalam pelukannya.


“Kau jahat sekali. Kau mengajakku ke sini hanya untuk menunjukkan padaku kalau kau akan bertemu dengan perempuan lain yang lebih sempurna dariku.” Aku terus meraung dalam pelukannya.


Seperti dé javu. Ku rasakan dia sesekali menciumi ubun-ubun kepalaku dan semakin mengeratkan pelukannya padaku.


“Terus kenapa kau mengacuhkanku? Kenapa? Kenapa? Kenapa kau berpelukan dengannya?? Kenapa? Kenapa? Kenapa kau jahat sekali...” Aku masih meraung-raung.


Sebenarnya aku berpikir bahwa aku di sini sangat egois juga. Betapa tidak? Aku menuntut Jin untuk jujur kepada semua orang yang ditemuinya. Sedangkan aku? Boro-boro untuk jujur, Ling bahkan aku ancam agar tidak bermulut besar.


“Baiklah.... maafkan aku.... aku tidak akan mengacuhkanmu lagi eum?” ucapnya sontak menyihirku lagi. Aku pun mulai tenang dan akhirnya aku luluh juga.


“Dengar...” kedua tangannya yang semula mendekapku dalam pelukannya kini beralih merengkuh wajahku. “Dengarkan aku.... aku sudah pernah bilang kan beberapa waktu lalu. Mau seperti apa pun dirimu, entah kamu nanti berubah menjadi lebih gendut? Entah kamu sangat kecil? Atau kamu yang sangat pendek? Kau tetap istriku satu-satunya. Tidak ada yang lain. Dan aku tak akan pernah menikah dengan yang lain. Selain dirimu.” Jin meyakinkanku.


Kata-kata ini... kenapa malah membuatku semakin terisak.


"Ehh... apa mengucapkan sesuatu yang salah?" Jin kebingungan melihatku mulai menangis lagi.


"Percaya padaku. Maafkan aku yang telah mengacuhkanmu. Jika kau tak menyukaiku bertemu dengan perempuan lain. Aku tak akan melakukannya." Jin mengimbuhkan.


Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Aku tak cemburu padanya. Tapi kenapa aku tak mau dia bertemu dengan wanita lain yang lebih sempurna.


Perlahan ku beranikan diri untuk menatap matanya. Kenapa sinar matanya berubah lagi. Bahkan ini lebih teduh dari yang sebelumnya.


Lama kami saling menatap satu sama lain. Aku mencoba melihat lebih dalam pada matanya. Kenapa aku merasa bahwa Jin benar-benar mengatakannya dengan tulus.


Tatapan mata kami semakin dalam dan dalam seolah menyelami pikiran masing-masing. Sampai akhirnya...


Chup....


Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku hangat. Namun kali ini entah ada apa dengan diriku. Aku bahkan memejamkan kedua mataku dan meresapi rasa yang tersalurkan melalui kecupan itu.


Aku merasakan betapa hangatnya sentuhannya hingga membuat hatiku berdesir. Sentuhannya yang semula.ringan dan lembut, kini berubah menjadi semakin dalam dan dalam.


Ini kesalahan. Kenapa aku sangat menikmatinya? Aku bahkan menyukainya. Seolah aku tak mau melepaskannya. Tapi Ku rasakan sentuhannya semakin lama semakin memudar. Deru napasnya menyapu lembut pipiku. Hingga akhirnya aku pun berusaha membuka mata.


Tapi aku malu. Aku tak berani menatap matanya. Dia menatapku dan mengusap lembut pipiku yang basah oleh air mataku lembut. Aku mulai tersadar sehingga ku rasakan pipiku mulai memanas karena rasa tersipu dan malu dengan apa yang terjadi baru saja.


“Ayo kita pulang...” ucapan Jin kenapa terdengar menjadi sangat lembut sekali.


Aku tak menjawabnya dan hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum tipis yang tertahan.


Sret!


Tanganku di genggamnya saat kami mulai melangkah beriringan membuat sensasi aneh di hatiku.


Jin sepertinya dia melupakan sesuatu. Dia sebelumnya berkata ingin memberitahuku akan sesuatu. Namun karena aku merajuk, akhirnya dia melupakannya. Dan juga aku pun lupa ingin menanyakannya.


Tapi sebenarnya apa yang merasukiku? Bukankah aku menyukai manager Wang. Tapi kenapa aku begitu terlena oleh Jin? Padahal sudah jelas aku tak menyukainya.


 


***